
Sementara ditempat lain...
Disaat Maira sedang merasakan kebahagiaan yang baru, berbeda lagi dengan Ervan. Dia benar benar terlihat kacau dan kusut. Duduk merenung didalam kamar nya seraya memandangi foto Maira yang dibingkai dengan indah.
Ervan benar benar masih tidak menyangka jika Maira sudah menikah dengan dokter Danar. Penjelasan dari Putri dan Nindi siang tadi membuat Ervan begitu terpukul dan hancur.
Ternyata selama dua bulan ini Maira sudah menikah. Dan saat dia menghilang satu bulan kemarin adalah karena dia yang menikah dengan dokter Danar. Sungguh Ervan tidak menyangka dengan kenyataan ini.
Dia tidak menyangka jika Maira akan tega mengkhianati cinta mereka.
Tapi penjelasan Putri dan Nindi tadi mengatakan jika Maira menikah karena terpaksa. Dia juga sebenarnya masih ingin melanjutkan hubungan mereka, dan akan berpisah dengan dokter Danar setelah tiga bulan pernikahan nya. Tapi nyatanya, Maira kecewa karena Ervan yang tidak bisa tegas dan membela nya didepan Erika. Dan malah meminta Maira untuk berjuang mencari restu orang tuanya. Tentu saja itu membuat Maira menyerah dan lebih memilih dokter Danar.
Ervan tidak terima, dia masih begitu mencintai Maira. Tapi orang tuanya benar benar tidak merestui hubungan mereka.
Papanya baru saja selesai dioperasi karena penyakit jantung nya, dan keadaan nya cukup buruk saat ini. Dokter Danar adalah dokter yang bertanggung jawab dengan penanganan papa Ervan.
Dan yang membuat Ervan tidak berdaya adalah, papanya malah meminta Ervan untuk bertunangan dengan Erika. Bagaimana Ervan bisa memperjuangkan cintanya jika begini????
Papa nya meminta dia bersama Erika. Sedangkan Maira malah sudah menikah dengan dokter Danar.
Apa Ervan harus merelakan cintanya???
Kenapa sesakit ini.
Dua tahun mereka menjalin hubungan, tentu saja sudah membuat hati Ervan begitu terpaut dengan Maira. Tapi jika mereka memaksa bersama, mereka hanya akan bertengkar setiap hari.
"Maira...." lirih Ervan seraya tertunduk dan menangis tanpa suara.
Hubungan mereka cukup rumit, dan mungkin dia memang harus merelakan cintanya. Apalagi Ervan tahu jika dokter Danar memang orang baik, dan cocok untuk membimbing Maira. Asal Maira bahagia, mungkin Ervan akan belajar untuk menerima, daripada bersama nya, Maira hanya akan bersedih setiap hari.
...
Keesokan harinya....
Maira dan dokter Danar sudah pulang kembali kerumah kecil mereka.
Keadaan Maira sudah cukup pulih. Dia juga tidak merasa sakit kepala dan lemas lagi.
Jadi dia memaksa dokter Danar untuk pulang saja. Maira benar benar tidak suka berada dirumah sakit. Lagipula, bukan kah dokternya bisa dibawa kemana mana sekarang?
Saat ini Maira sedang duduk diatas tempat tidur, dia sedang memperhatikan dokter Danar yang masih nampak sibuk menerima telepon dari rumah sakit.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan baru bagi Maira memperhatikan dokter Danar tanpa bosan. Apapun yang dokter Danar lakukan, baik sedang diam ataupun sedang sibuk, rasanya benar benar enak dipandang. Kenapa Maira baru sadar ya, jika dokter Danar memang benar benar tampan dan sangat sangat tampan.
Ah, Maira jadi tidak menyangka jika dia bisa memiliki suami seperti dokter Danar. Apalagi setelah dia membuka hatinya dan mulai menerima dokter Danar, semua jauh terasa berbeda. Lebih terasa indah dan.......
"Suka sekali liatin suami nya sampai begitu" ucapan dokter Danar langsung membuat Maira terkesiap kaget.
"Terkejut kan" kata dokter Danar yang tertawa melihat wajah bengong Maira.
Dokter Danar langsung duduk disamping Maira dan masih mengotak Atik ponselnya.
"Lagi sibuk ya mas" tanya Maira yang kembali memandang wajah dokter Danar.
"Enggak kok, cuma mau ngasih tahu dokter pengganti, supaya jangan teledor untuk mantau keadaan tuan Gani" jawab dokter Danar.
"Tuan Gani?" tanya Maira. Dia seperti pernah mendengar nama itu. Apa mungkin???
"Iya, ayah Ervan. Mas gak pulang karena harus mengoperasi dia. Jantung nya bermasalah dan harus cepat dioperasi" jawab dokter Danar.
Maira langsung mengangguk pelan, pantas saja semalam Ervan ada dirumah sakit. Ternyata karena papa nya masuk rumah sakit.
"Jadi sekarang gimana keadaan nya?" tanya Maira
"Pasti capek gak tidur dan istirahat, eh malah sekarang harus ngurusin Maira" ucap Maira
Dokter Danar tersenyum dan mengusap wajah Maira dengan lembut.
"Malah capek nya hilang lihat kamu datang. Apalagi nangis ajakin mas untuk pulang" jawab dokter Danar.
Maira langsung mengerucutkan bibirnya sekilas dan memalingkan wajahnya yang merona. Dia jadi malu sendiri mengingat kelakuan nya semalam.
"Jangan ngilang tanpa kabar lagi makanya. Nanti Maira bisa buat heboh satu rumah sakit. Kayak tadi tuh, mereka kayak lihat artis aja." ungkap Maira
Dokter Danar tertawa kecil dan mengangguk pelan.
Ya, lagi lagi saat mereka pulang tadi. Satu rumah sakit bahkan memandang Maira dengan aneh. Mereka masih tidak menyangka jika dokter Danar sudah menikah, dan yang lebih tidak menyangka adalah dokter idaman mereka menikah dengan gadis muda yang jauh dari kata Solehah.
Maira sampai malu dan begitu canggung ditatap begitu oleh orang orang rumah sakit.
"Mas gak akan ngilang lagi tanpa kabar. Paling kalau ngilang, ya cuma kerumah sakit doang" jawab dokter Danar seraya merebahkan tubuhnya disamping Maira.
Maira masih begitu canggung sebenarnya berdekatan dan tidur berdua seperti ini. Tapi entah kenapa, berada didekat dokter membuatnya benar benar nyaman sekali.
__ADS_1
Bahkan Maira langsung melingkarkan tangan nya diperut dokter Danar yang memeluk pinggangnya.
"Masih gak nyangka kalau udah nikah sekarang" gumam Maira seraya menikmati aroma maskulin yang begitu menenangkan dari tubuh dokter Danar.
Dokter Danar tersenyum seraya mencium pucuk kepala Maira.
"Mas malah gak nyangka, gadis kecil yang berani marah marah dipesta ulang tahun bos besar hari itu jadi istri mas sekarang" balas dokter Danar.
Maira terkesiap dan langsung mendongak memandang dokter Danar.
"Lupa pasti" kata dokter Danar seraya tertawa kecil.
"Marah marah dipesta bos besar? bukan nya itu waktu aku masih umur lima belas tahun ya. Di Palembang?" tanya Maira
"Masih ingat ternyata" gumam dokter Danar.
Maira langsung beranjak dan duduk dengan tegak. Dia memandang dokter Danar yang masih berbaring dengan lekat.
"Mas kok tahu, emangnya mas ada disitu?" tanya Maira
"Ya, bahkan mas yang nolongin gadis kecil itu waktu hampir kejatuhan lampu meja" jawab dokter Danar.
"Mas kakak ganteng itu??" seru Maira begitu terkejut.
Dokter Danar terkekeh melihat wajah terkejut Maira.
"Iya... kamu aja tega banget lupain kakak ganteng kamu kan" ucap dokter Danar
Maira langsung tertawa dan bahkan langsung memeluk tubuh dokter Danar tiba tiba. Membuat dokter Danar terkesiap kaget mendapat perlakuan mendadak dari Maira.
"Aaahh kenapa gak ngomong, Mai nyariin tahu sesudah pesta itu. Tapi gak pernah ketemu lagi" kata Maira dengan manja seraya merebahkan kepala nya didada dokter Danar.
"Gimana mau ketemu, mas kan memang udah harus balik ke Jakarta. Tapi sekarang kita kan udah dipertemukan lagi" kata dokter seraya mengusap kepala Maira.
Maira mendongak dan memandang wajah dokter Danar dengan sendu.
"Maafin Maira ya mas. Maira udah jahat banget jadi istri selama ini. Suka ngelawan, suka ngebentak, bahkan marah marah gak jelas" ungkap Maira.
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk pelan. Dia menarik Maira dan membawanya kedalam pelukan.
"Untuk apapun yang sudah terjadi. Mas sudah memaafkan kamu sayang" jawab dokter Danar
__ADS_1