Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kekesalan Putri


__ADS_3

Bukan cuma sekali atau dua kali Maira meminta permintaan yang aneh aneh pada kedua sahabatnya. Tapi sudah tidak terhitung lagi. Bahkan terkadang Nindi dan Putri sampai mengeluh melihat Maira yang semakin hari semakin menjadi.


Jika kemarin dia meminta Ervan untuk menyanyi, hari ini Maira meminta Putri untuk kerumah nya. Tidak tahu apa lagi yang diinginkan Maira pada nya, sungguh Putri sudah benar benar lelah.


Dan yang membuat Putri heran adalah, pagi pagi sekali dia sudah dibangunkan oleh ibunya dan disuruh pergi kerumah Maira. Dia dijemput oleh supir Maira yang diperintahkan oleh dokter Danar.


Sungguh Putri benar benar kesal pada sahabatnya ini. Bahkan dia sama sekali belum mandi dan mencuci wajah nya.


Putri berjalan masuk kedalam rumah Maira masih dengan wajah kusut dan penampilan yang acak acakan. Dia hanya mengenakan piyama tidur saja serta kerudung masuk nya. Ya, sebagai info, Putri juga sudah memutuskan untuk berhijab sekarang.


Putri masuk kedalam dan langsung disambut oleh Bu Ijah.


"Assalamualaikum bu" sapa Putri


"Waalaikumsalam.. Eh non Putri udah Dateng. Udah ditungguin non Maira sama non Nindi dikamar tamu" ucap Bu Ijah


Putri mengusap mata nya dan menutup mulutnya yang menguap sejenak.


"Hoammm... Nindi juga ada Bu" tanya Putri dengan wajah yang benar benar masih mengantuk.


"Ada, baru aja sampai non. Kamar yang didekat tangga ya. Ibu mau nyiapin sarapan dulu" ujar Bu Ijah.


"Iya Bu" jawab Putri.


Dia langsung berjalan menuju kamar yang dimaksud. Dengan berkali kali menutup mulutnya yang terus menguap. Sungguh, ini hari libur dan Putri ingin sekali tidur sampai siang setelah shalat subuh tadi. Tapi Maira malah mengganggu waktu tidur nya saja.


Memang menyebalkan.


Putri mengetuk pintu sejenak, dan teriakan Maira yang menyuruh nya masuk langsung membuat Putri membuka pintu.


Terlihat Nindi dan Maira yang sedang berbaring diatas ranjang besar itu. Bahkan Nindi juga masih memakai piyama tidur nya.


Astaga...


"Kamu keterlaluan banget deh Mai... masak iya jemput masih jam enam begini" gerutu Putri yang juga langsung merebahkan tubuhnya disamping mereka.


"Gak baik tahu anak gadis tidur nya sampai siang. Susah jodoh entar" sahut Maira.


"Mana ada. Kak Dika aja yang gak tahu kapan ngelamar. Padahal aku udah ngasih kode iya" ucap Putri terdengar kesal.


Nindi dan Maira langsung tertawa mendengar nya.


"Aku karena ingin cepat dilamar malah lebih pagi datang nya Put" sahut Nindi.


"Emang mau ngapain sih. Jangan minta yang aneh aneh kamu" tuding Putri


Maira berdecak dan mengusap perutnya yang sudah membuncit.


"Aku pengen lihat kamu di dandani sama Nindi" jawab Maira.


Putri langsung lemas mendengar itu. Jika Maira tidak sedang hamil. Sudah ingin Putri Gibas kepala nya.


"Cuma didandani doang Mai. Kenapa gak entar siang aja sih" gerutu Putri.


Nindi langsung terbahak melihat wajah kesal Putri.


"Kayak nya kamu lagi pms ya Put" ucap Nindi dengan lucu


"Emang, kalau gak mikir calon keponakan, udah pengen aja aku remes itu muka" sahut Putri.


Maira dan Nindi kembali terkekeh geli melihat kekesalan Putri. Sepertinya Putri memang sedang tidak baik baik saja.


"Jangan dong, jahat amat. Aku kan cuma minta kamu diam aja hari ini. Kamu juga gak pernah dandan. Jadi aku cuma kepengen lihat kamu dandan. Nindi juga udah mau ngurus salon mama nya. Jadi pas kan, kalau dia sambil belajar dan kamu model nya" ungkap Maira.


"Iya, it's ok. Tapi kenapa pagi banget. Aku mau tidur dulu hari ini Maira" rengek Putri begitu frustasi.


"Yaudah sih tidur aja disini. Apa susahnya " jawab Maira dengan begitu santai.


"Ya Allah.... memang menguji iman banget punya teman modelan kamu. Mudah mudahan aja anak kamu gak nular kegilaaan ibunya" ucap Putri begitu lelah.


"Enggak kok, anak aku nanti mirip ayah gantengnya" sahut Maira


"Lagian kenapa coba gak kelonan aja sama dokter Danar. Pagi pagi udah gangguin orang" kata Putri lagi. Rasa kantuk nya sudah menghilang sekarang. Berganti dengan rasa kesal yang luar biasa.


"Mas Danar udah pergi" jawab Maira


"Dia pergi dan kamu gangguin aku" sahut Putri.


"Gak ada lagi yang bisa aku ganggu" jawab Maira dengan tawa kecil nya.

__ADS_1


Dan Putri akhirnya hanya bisa pasrah.


Hari Minggu waktunya dia libur, tapi hari ini dia malah harus bekerja keras karena Maira.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Mereka langsung sarapan bersama sama. Nasi goreng Bu Ijah cukup enak hingga bisa membuat mood Putri menjadi lebih baik. Sedangkan Maira, dia hanya makan salad buah dan susu hamil nya saja. Sampai saat ini, dia belum bisa memakan nasi. Aneh sekali memang.


Dan setelah sarapan bersama, Putri kembali dibawa Maira kekamar tamu tadi. Dia duduk didepan meja rias sedangkan Nindi mulai mempoles wajahnya dengan begitu serius.


Yah, Nindi sangat berbakat dalam hal rias merias. Bahkan dibeberapa kali kesempatan mereka sering meminta bantuan Nindi untuk merias wajah. Apalagi Maira, saat menghadiri acara pernikahan teman dokter Danar dia memang selalu memakai jasa Nindi.


Maira berbaring diranjang seraya memperhatikan Nindi dan Putri. Namun sejak tadi tangan nya juga tidak lepas dari ponsel nya.


"Hoaammm ngantuk banget deh aku" gumam Maira seraya menutup mulutnya dengan tangan.


"Awas aja kamu tidur. Untuk apa coba aku dirias begini" sahut Putri


Maira tertawa dan langsung berjalan mendekat kearah nya.


"Biar cantik. Aku pengen lihat kamu cantik hari ini" ucap Maira.


"Emang selama ini aku gak cantik gitu". dengus Putri.


Dan kali ini Nindi dan Maira tertawa bersama.


"Cantik kok, cuma kan kamu gak pernah make up yang sedikit tebal. Jadi hari ini aku mau buat wajah kamu berubah" ujar Nindi


"Yes... supaya yang melihat jadi tambah cinta" sahut Maira pula .


"Apaan tuh. Jangan bilang muka ku mau dipajang disosmed. Aku aduin beneran nih sama suami kamu Mai" protes Putri.


Maira tertawa dan menggeleng.


"Enggak enggak .... yaelah .. ngancam aja sih aunty galak ini" jawab Maira seraya tangannya yang mencuil dagu Putri.


Putri hanya mendengus dan kembali memandang ke cermin didepan nya.


"Aku tidur dulu ya guys, entar kalau udah selesai, bangunin" ujar Maira


"Enak banget deh lu Mai" ucap Putri yang semakin kesal


"Gak baik tidur pagi Mai. Lupa pesen dokter Danar, masih juga jam delapan. Mending kamu ambilin pakaian nya aja. Biar cepat selesai" ujar Nindi.


"Aaahh makin besar perut, makin besar ngantuk nya" jawab Maira yang langsung beralih kearah pintu keluar.


"Mesti pakai pakaian juga?" tanya Putri


"Iya dong, biar makin sempurna" sahut Nindi.


Dan benar saja, satu jam kemudian Putri sudah selesai dimake up dan sekarang Nindi sedang memakai kan dia hijab.


"Cantik banget deh sahabat aku" ucap Maira yang baru masuk kedalam kamar itu.


Putri memandang Maira dengan pandangan heran.


"Rapi amat, mau kemana kamu" tanya Putri yang melihat Maira sudah memakai gamis bordir nya yang bewarna maron.


"Ya buat foto lah, sayang tahu kamu udah cantik tapi gak diabadikan" jawab Maira yang langsung memoles wajahnya sendiri.


"Ribet amat deh Mai" gumam Putri.


"Oke, selesai" ucap Nindi yang memandang puas hasil karyanya kali ini.


Putria langsung memandang kearah cermin. Dan tanpa sadar dia langsung tersenyum tipis melihat penampilan nya sendiri.


"Cantik kan" ucap Nindi


"Lumayan. Pangling aku" sahut Putri


Membuat Maira dan Nindi langsung tertawa.


"Oke, sekarang giliran aku" kata Nindi yang langsung memoles wajahnya sendiri.


Putri menghela nafas jengah. Entah apa yang di inginkan kedua sahabatnya ini. Dan dia yakin, jika ini pastilah keinginan Maira yang selalu saja meminta aneh aneh.


Hampir lima belas menit Putri menunggu Nindi dan Maira. Hingga kini kedua sahabatnya itu sudah nampak cantik dan anggun Dengan balutan gamis bewarna senada. Maira dengan perut buncitnya semakin menambah auranya yang memikat. Sedangkan Nindi, dia benar benar anggun dengan gamis itu. Bahkan meski dia memakai hijab yang panjang, tapi tetap saja tidak menutupi keindahan wajahnya.


"Yuk foto" ajak Maira langsung


"Oke" Nindi langsung meletakkan ponsel nya diatas meja dan membuat pengaturan disana. Dengan cepat mereka langsung berbaris dengan gaya yang anggun.

__ADS_1


"Senyum Put" seru Nindi, membuat Putri dengan terpaksa langsung tersenyum.


click


Satu foto yang cukup memuaskan langsung tertera diponsel Nindi.


"Wow... cantik banget" gumam Nindi


"Langsung kirim" ujar Maira


"Kirim kemana?" tanya Putri curiga.


"Suami ku lah. Siapa lagi" jawab Maira.


Putri hanya menghela nafas dan ingin duduk kembali, bahkan tangan nya sudah ingin membuka hijab yang melilit dileher. Sungguh mengganggu dan sesak.


"Eh jangan dibuka dulu" sahut Nindi tiba tiba.


"Kenapa, kan udah selesai" ucap Putri


"Yuk kita pergi, udah selesai tuh. Mas Danar udah didepan" ajak Maira


"Kemana?" tanya Putri yang semakin bingung dan heran.


"Udah ikut aja" Maira dan Nindi langsung menarik tangan Putri dan membawanya keluar rumah.


"Aaahh Mai, Nin, entar dulu. Kalian mau bawa aku kemana" tanya Putri yang menggeleng kuat.


Tapi Maira dan Nindi langsung menarik tangan nya dengan kuat.


"Pergi, bersenang senang" jawab Maira.


"Ishh awas aja deh kalau aneh aneh" gerutu Putri yang akhirnya hanya bisa pasrah.


Dan benar saja, didepan rumah sudah ada dokter Danar yang terlihat rapi. Dia juga memakai kemeja bewarna merah maron seperti warna pakaian Maira.


"Kalian mau kondangan, kompak banget pakaiannya " sindir Putri


"Iya dong, nama nya saling cinta emang harus kompak" sahut Maira


Dia mendekat pada dokter Danar dan langsung mencium punggung tangan suaminya.


"Masha Allah... cantik sekali" ucap dokter Danar


Maira tersenyum simpul mendengar itu.


"Huh... udah dong dokter, kami yang jomblo ini langsung baper lihat nya" sahut Nindi


Dokter Danar tersenyum dan menggeleng pelan saja.


"Kita pergi sekarang?" ajak dokter Danar


"Yuk" sahut Maira dan Nindi


"Mau kemana sih?" tanya Putri


"Udah naik aja. Tinggal ngikut " ujar Nindi yang langsung membukakan pintu untuk Putri.


Sedangkan dokter Danar membukakan pintu mobil untuk Maira.


Putri menghela nafas jengah, dia kesal karena dia merasa seperti dipermainkan. Sudah dimake up setebal ini, dan sekarang entah mau dibawa kemana.


Dan akhirnya dia lebih memilih diam.


"Udah selesai semua kan mas?" tanya Maira pada dokter Danar


"Sudah, aman" jawab dokter Danar yang fokus pada kemudian nya.


Maira memperhatikan dokter Danar dengan lekat. Hari ini dia terlihat begitu tampan dengan kemeja maron ini. Terlihat bersih dan berbinar.


Ah Maira jadi semakin cinta


"Kenapa lihatin mas begitu?" tanya dokter Danar


"Mas ganteng banget" jawab Maira


Dokter Danar langsung tertawa dan mengusap pucuk kepala Maira dengan lembut.


Sedangkan kedua orang yang duduk dibelakang hanya bisa diam dan tersenyum getir saja melihat mereka.

__ADS_1


__ADS_2