
Putri memandang Nindi dengan lekat. Bahkan bukan hanya Putri, melainkan mama Nindi dan juga Brian yang masih ada disana.
Mereka benar benar terpukul ketika mengetahui jika ternyata Nindi mengalami amnesia akibat kecelakaan yang menimpanya kemarin. Benturan keras dikepala nya membuat Nindi gegar otak ringan. Namun efek yang ditimbulkan begitu parah hingga membuat Nindi tidak bisa mengingat apapun sekarang.
"Dokter, apa amnesia Nindi akan bertahan lama?" tanya Brian. Suara nya terdengar begitu getir. Bahkan mama Nindi sudah menangis dalam rangkulan Putri sekarang.
Nindi sudah tertidur lagi, karena keadaan nya yang masih begitu lemah.
"Belum bisa dipastikan mas. Tapi melihat keadaan cidera dikepala nya, mungkin ini hanya amnesia yang bersifat sementara saja. Kalian bisa membantu nona Nindi untuk mengingat memori nya yang hilang" jawab dokter itu.
"Beneran cuma sementara saja dokter?" tanya mama Nindi.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk.
"Jangan khawatir Bu, mudah mudahan ini hanya bersifat sementara. Saya juga belum bisa memastikan. Hanya saja, untuk saat ini kita jangan memaksa nya untuk mengingat. Cidera dikepala nya cukup serius. Takut terjadi sesuatu pada kesehatan nona Nindi" ujar dokter itu lagi.
"Baik dokter" jawab mama Nindi dengan pasrah.
Brian menoleh pada Nindi yang tertidur. Apa dengan begini dia tidak akan melihat senyum menggoda Nindi untuk nya seperti dulu lagi???
Kenapa membayangkan nya saja sudah membuat hati Brian merasa pedih.
"Jika begitu saya permisi dulu nyonya. Biarkan nona Nindi beristirahat. Keadaan nya masih begitu lemah" ujar dokter itu lagi.
"Iya dokter, terimakasih " jawab mama Nindi.
Dan setelah dokter itu keluar dari ruangan Nindi. Mereka semua langsung duduk disofa yang ada didalam sana. Duduk dengan wajah yang benar benar terpukul.
"Pihak kampus sudah mengecek cctv yang ada ditempat kejadian. Dan memang Erika yang sudah berusaha mendorong Maira dan Nindi. Tapi Nindi berusaha untuk menolong Maira, hingga Nindi lah yang terjatuh kebawah. Dokter Danar sudah melaporkan kejadian ini pada pihak yang berwajib. Dan sekarang tinggal keputusan dari Tante dan keluarga yang ingin seperti apa. Apakah Tante ingin gadis itu dipenjara karena sudah membuat Nindi seperti ini?" tanya Brian setelah beberapa lama mereka saling terdiam.
"Tante ikut saja mana baik nya nak. Perlakuan gadis itu memang sudah keterlaluan. Dia bahkan hampir membuat Maira kehilangan janin nya, dan sekarang membuat Nindi terbaring dan lupa ingatan seperti ini" jawab mama Nindi.
"Penjara aja deh kak. Biar kapok. Aku gak terima Nindi begini karena dia" sahut Putri pula. Dia benar benar membenci Erika sekarang, mungkin jika tidak ada polisi, ingin rasanya Putri yang mencincang cincang tubuh gadis kurang ajar itu.
Brian menghela nafasnya sejenak.
"Nanti kita bicarakan dengan dokter Danar ya Tante. Sepertinya Maira juga belum sehat untuk diajak bermusyawarah atau dimintai keterangan" ungkap Brian
"Iya nak, Maira masih tertekan. Dia merasa bersalah karena menyelamatkan dia, Nindi jadi seperti ini" jawab mama Nindi.
Brian mengangguk pelan dan kembali memandang Nindi.
Entah bagaimana kedepan nya nanti. Brian sangat berharap jika ingatan Nindi akan pulih dengan cepat.
Padahal Brian sudah berniat, jika dia ingin memberi kejutan untuk Nindi jika dia sadar. Tapi jika melihat keadaan nya yang sekarang, bagaimana mungkin kejutan itu terlaksana. Jika Nindi saja sudah tidak lagi mengingat nya.
__ADS_1
...
Malam harinya...
Semua orang sudah berkumpul didalam ruangan Nindi.
Termasuk dokter Danar dan juga Maira.
Maira nampak menahan Isak tangis nya saat melihat kondisi Nindi yang sudah tidak lagi mengenali nya. Rasa bersalah nya semakin besar sekarang.
"Maira, udah dong. Jangan nangis terus. Ini bukan salah loe" ucap Putri yang duduk disamping Maira.
"Gue sedih lihat keadaan Nindi Put" ucap Maira. Mereka berbicara dengan sangat pelan, meski semua orang masih mendengar
"Kita bantu dia buat sembuh, itu guna sahabat. Kalau cuma nangis gak ada guna nya juga" sahut Putri.
"Lo kejam banget sih" gerutu Maira.
"Habisnya capek gue lihat Lo nangis terus. Kalau sampai Lo stres, kasian anak Lo, puyeng dia didalem sana. Hargai lah pengorbanan Nindi yang udah nyelametin Lo" ujar Putri.
Maira kembali menahan Isak tangis nya mendengar itu.
"Kenapa malah nangis lagi sih" Putri benar benar lelah melihat ini.
"Gue gak bisa berhenti Put. Gue juga capek nangis Mulu" sahut Maira dengan kesal.
"Maaaass.... kak Brian marahin Maira" adu Maira pada dokter Danar yang sedang memeriksa Nindi.
Mata Brian langsung terbuka lebar mendengar itu.
Dokter Danar menoleh kearah mereka, dan langsung memandang Brian yang nampak tersenyum cnaggung.
"Brian..." tegur dokter Danar.
"Maaf mas" sahut Brian yang langsung tertunduk pasrah.
Maira langsung melengos dan mengusap wajahnya dengan kasar. Sedangkan Putri hanya bisa menghela nafas jengah.
Maira sejak hamil memang selalu membuat orang kesal. Apalagi ketika hatinya sedang tidak baik seperti ini. Hanya dokter Danar saja yang sabar menghadapi sikap nya.
Sedangkan Nindi yang masih diperiksa oleh dokter Danar, hanya melirik Maira dan Putri dengan pandangan datarnya, yang nampak kosong dan bingung.
Mama menemani Nindi diatas ranjang, seraya dokter Danar yang masih memeriksa luka dikepala nya.
Ya, dokter Danar mengambil alih urusan Nindi. Mau bagaimana pun, dia berhutang nyawa pada sahabat Maira ini. Dan ini juga permintaan Maira yang ingin dokter Danar menangani Nindi. Meski ini memang bukan tugas nya. Dokter Danar adalah dokter spesialis penyakit dalam, dan bukan dokter umum. Tapi karena permintaan Maira dan Putri, dia jadi mengambil alih pekerjaan dokter sebelumnya.
__ADS_1
"Masih sakit sekali kepala kamu?" tanya dokter Danar. Suara nya cukup lembut dan tenang. Khas seorang dokter. Dan sangat berbeda ketika dia datang kekampus pagi tadi. Dokter Danar terlihat berbeda. Dan itu yang membuat Brian dan Putri tidak habis Fikir.
"Sakit dokter" jawab Nindi dengan pelan.
Dokter Danar membalut perban lagi dikepala nya dengan hati hati.
"Jangan banyak bergerak dulu ya. Jangan memikirkan apapun juga. Kamu harus istirahat sampai luka kamu pulih" ujar dokter Danar.
"Apa saya bisa mengingat lagi?" tanya Nindi seraya memandang dokter Danar dengan lekat.
Semua orang yang ada disana memandang Nindi dengan pandangan sedih dan iba. Apalagi Brian, dia terlihat begitu terpukul.
"Insha Allah bisa... tapi untuk sekarang. Kamu hanya harus fokus untuk pemulihan cidera dikepala. Urusan ingatan, itu pasti akan pulih dengan sendirinya" jawab dokter Danar dengan senyum teduh nya.
Nindi langsung menoleh pada mama nya yang masih duduk diam dan begitu sedih.
"Mama" panggil Nindi. Yang sudah diberi tahu jika wanita ini adalah mama nya.
"Iya nak" sahut mama yang berusaha untuk tersenyum.
"Jangan bersedih" ujar Nindi.
Mama tersenyum kembali dan mengangguk.
"Mama enggak sedih sayang. Mama cuma rindu sama anak mama" jawab mama
Nindi tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Dia kini menoleh pada dokter Danar yang sudah kembali ketempat Maira dan Putri.
"Mereka sahabat Nindi?" tanya Nindi. Bahasanya saja sudah berubah, dan bahkan dia berbicara dengan begitu lembut.
"Iya Nin, kami sahabat kamu. Aku Putri, dia Maira. Sahabat kamu yang paling cengeng" jawab Putri yang kini beranjak dari duduk nya dan diikuti oleh Maira.
"Pantas saja sejak tadi kamu menangis terus" ucap Nindi pada Maira.
Maira ingin menangis lagi, tapi Putri langsung menyikut lengan nya.
"Maaf ya, aku memang cengeng. Dan kamu yang selalu buat aku tertawa dulu" jawab Maira.
"Benarkah?" tanya Nindi.
Maira langsung mengangguk dengan cepat. Seraya dia yang kembali menghapus air matanya.
"Lalu dia siapa?" tanya Nindi yang memandang kearah Brian
deg
__ADS_1
Brian mematung, dan bukan hanya Brian, namun semua orang yang ada didalam sana.
Apa yang harus mereka jawab sekarang???