Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Bimbing Maira Terus Ya


__ADS_3

Keesokan harinya ...


Pagi yang indah untuk hati yang baru. Ya, istilah itu memang sudah cocok disematkan untuk Maira sekarang.


Dia baru saja bangun dari tidur nya, hari sudah pukul enam lewat. Dan dia baru saja bangun. Kenapa tidur nya bisa nyenyak sekali ya, dan kenapa juga dokter Danar tidak membangunkan nya.


Maira mulai beranjak dan duduk dipinggir ranjang. Memperhatikan kamar yang sudah rapi. Dokter Danar pasti sedang berada didapur sekarang. Ah, suaminya itu memang sangat rajin.


Maira jadi senyum senyum sendiri jika mengingat manis nya dokter Danar sekarang. Panggilan sayang yang keluar dari mulut dokter Danar selalu membuat Maira merasa aneh. Ada rasa malu, senang dan.... tak bisa diungkapkan.


Apalagi dengan kehangatan yang diberikan oleh dokter Danar, pelukan nya, ciuman nya. Aaaaaa Maira langsung menggeleng dan mengusap wajah nya yang memerah. Sialan memang, kenapa dia malah seperti seseorang yang sedang jatuh cinta lagi. Atau mungkin dia memang sudah jatuh cinta pada dokter Danar.???


Oh my God


Maira langsung berlari kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Jika terus memikirkan dokter Danar tidak akan ada habis nya. Bahkan sekarang dia merasa dia selalu ingin ada didekat suami tampan nya itu. Dan lagi, masalah bersama Ervan bahkan sedikitpun tidak lagi dia ingat. Ya ampun.


Setelah membersihkan diri dan sedikit berhias, Maira langsung menyusul kedapur. Dan benar saja, dokter Danar sedang berdiri dan membuat sesuatu disana. Membuat teh mungkin, karena makanan sudah tersaji di atas meja.


Maira tersenyum dan langsung memeluk dokter Danar dari belakang. Rasanya benar benar nyaman. Walaupun sebenarnya dia malu, tapi sungguh, dia memang selalu ingin dekat dan memeluk dokter tampan ini. Rasanya benar benar nyaman dan tenang.


Dokter Danar sedikit terkesiap mendapat pelukan dari Maira. Dia tersenyum dan mengusap lengan Maira yang melingkari perut nya.


"Sudah bangun" ucap dokter Danar. Dia sedang mengaduk teh hijau yang dia buat.


"Kenapa gak bangunin Maira" tanya Maira seraya memejamkan matanya dan menghirup aroma maskulin dari tubuh suaminya. Maira sangat betah seperti ini.


"Sengaja, kamu kan lagi gak shalat. Lagi pula juga libur hari ini kan" jawab dokter Danar.


Dokter Danar melepaskan pelukan Maira dan membalikkan tubuh nya. Meraup wajah Maira dan mengecup kening nya dengan lembut.


"Besok Maira udah boleh masuk kuliah kan?" tanya Maira seraya mendongak memandang wajah tampan suaminya.


"Kamu udah ngerasa baikan?" tanya dokter Danar


Maira langsung mengangguk dengan cepat.


"Udah, besok mas kerja. Maira sepi dirumah kalau gak kuliah" jawab Maira.


Dokter Danar tersenyum dan meraih teh nya, membawa kemeja dan diikuti oleh Maira.

__ADS_1


"Tapi hari ini mas juga mesti harus kerumah sakit sayang. Mas harus lihat keadaan tuan Gani" jawab dokter Danar seraya menuangkan teh untuk Maira.


"Lama?" tanya Maira.


"Belum tahu. Kalau kamu sepi, kamu ajak saja dua teman kamu itu kerumah" ujar dokter Danar seraya duduk dikursi nya.


Maira menghela nafasnya sejenak dan mengangguk pasrah. Padahal dia masih ingin terus berduaan dengan dokter Danar. Tapi dokter Danar malah sibuk. Dan lagi lagi masih berurusan dengan Ervan. Menyebalkan memang.


"Jangan cemberut gitu. Insha Allah, Minggu depan kalau gak ada halangan mas ajak kamu jalan jalan" kata dokter Danar


Maira tersenyum dan mengangguk.


"Maira pengen kemesjid tua yang waktu itu lagi" jawab Maira


"Boleh" jawab dokter Danar.


"Tapi boleh gak, ajak Putri sama Nindi. Mereka harus bisa dapetin hidayah juga biar gak nakal terus" ucap Maira seraya tertawa kecil


Dokter Danar mendengus senyum dan mengangguk.


"Iya, ajak aja mereka. Tapi kan hidayah bukan berarti dari mesjid itu sayang" ucap dokter Danar memandang lucu Maira.


"Gak tahu deh, cuma waktu disana, Maira ngerasa berbeda aja mas. Lebih tenang dan kayak bisa memahami sesuatu aja. Lagian tempat nya juga enak buat nenangin diri." ungkap Maira


Dokter Danar tersenyum dan mengangguk pelan.


"Disana rumah Allah, jelas kamu bakalan dapetin ketenangan yang gak terhingga. Apalagi ketika kamu beribadah yang memang dari hati. Tapi yang harus selalu kamu ingat, hidayah itu datang nya dari hati kita. Kita yang menjemput dan mencari. Insha Allah, dimana pun itu, Allah pasti kasih jalan" jawab dokter Danar


"Iya mas. Maira kadang malu, udah sebesar ini tapi gak tahu apa apa soal agama. Bahkan shalat aja setelah nikah sama mas. Kalau gak, Maira shalatnya cuma kalau ingat" jawab Maira tertunduk sedih.


Dokter Danar mengusap tangan Maira yang ada diatas meja.


"Alhamdulillah, jika bersama mas kamu bisa berubah lebih baik. Kita belajar sama sama untuk cari hidayah Allah ya. Supaya rumah tangga kita selalu diridhoi Allah dan bahagia sampai Jannah nya nanti" ujar dokter Danar.


"Mas mau membimbing Maira terus kan" pinta Maira.


"Insha Allah sayang" jawab dokter Danar dengan senyum teduhnya.


Aaaaa manis dan bahagia sekali hati Maira.

__ADS_1


Ya Allah, dia memang benar benar beruntung bisa bertemu dengan dokter Danar.


Tampan, sabar, taat dan pasti nya bertanggung jawab. Semoga Maira bisa menjadi istri yang baik untuk dia nantinya.


Pagi itu, mereka sarapan bersama. Hingga pukul delapan, dokter Danar pamit untuk pergi kerumah sakit. Meski hari Minggu, namun dia harus tetap datang kerumah sakit. Tuan Gani, ayah Ervan, kondisi nya masih lemah, dan masih membutuhkan penanganan dokter Danar.


Maira melambaikan tangan nya saat mengantar kepergian dokter Danar.


Bahkan sampai dokter Danar pergi dan tidak lagi nampak didepan pagar.


"Sayuuuuur !!!!" teriak Amang tukang sayur yang lewat didepan pagar rumah Maira.


"Sayur mang" seru ibu ibu komplek tetangga Maira.


Mereka lagi lagi berkerumun didepan pagar rumah.


Dan entah kenapa, melihat itu, Maira jadi berinisiatif untuk belanja dan memasak untuk dokter Danar.


"Coba aja deh" gumam nya yang langsung berlari kedalam rumah untuk mengambil dompet nya. Dan setelah itu dia langsung keluar mendapati tukang sayur.


"Waahh neng Maira ya, kok baru kelihatan" sapa Bu Joko, ibu berbadan gemuk yang pernah berbincang dengan dokter Danar dulu.


"Iya Bu, kan saya kuliah" jawab Maira.


"Masih seger banget ya. Pinter ih dokter ganteng milih istri. Kayak masih perawan terus. Seger aja bawaan nya" sahut Bu Bambang, ibu berbadan kurus.


Maira langsung tertegun dan tersenyum getir mendengar itu. Dia memang masih perawan kan? haha


"Huss kamu ini. Nama nya istri dokter, ya memang seger terus lah. Dokter Danar pinter ngerawat istri. kamu aja yang gak bisa jaga badan" ucap Bu Joko


"Huh, gimana mau jaga badan. Setiap hari harus mikirin beras abis sama gas abis. Maka nya badan saya kurus begini. Kalau dikasih uang banyak mah, saya ya bisa kayak neng Maira ini" jawab Bu Bambang.


Maira dan amang tukang sayur langsung tertawa mendengar itu. Ya ampun, curhatan emak emak sekali memang. Maira jadi bingung kan mau memasak apa.


"Kok malah curhat toh buk. Oalah" gumam amang tukang sayur.


"Bukan curhat mang, ini realita kehidupan. Biar neng Maira yang masih muda harus siap mental nanti" jawab Bu Bambang.


Sungguh ya, Maira dibuat bingung sekarang. Dia bahkan tidak sampai berfikir jauh kesana. Saat ini saja, dia bahkan masih baru belajar membuka hati. Astaga...

__ADS_1


__ADS_2