Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Cerita Disiang Hari


__ADS_3

Ervan duduk di bangku taman kampus dengan pandangan mata yang memandang jauh kearah gedung fakultas nya. Setelah mengantar Erika pulang, dia langsung kembali kerumah untuk berganti baju dan juga mengambil perlengkapan kuliah nya.


Hari ini dikampus ada ujian, jadi mau tidak mau dia harus datang.


Tapi sungguh, fikiran Ervan benar benar tidak fokus saat mengerjakan ujian nya tadi. Fikiran nya malah selalu terfokus pada Erika. Dia masih benar benar tidak menyangka dengan apa yang dia lihat hari ini.


Seorang Erika tinggal dirumah kecil dan kumuh bersama dua orang anak jalanan.


Rasanya seperti tidak mungkin, tapi itulah yang terjadi.


Dan lagi, apa dia sudah tidak tinggal dirumah orang tuanya lagi?


Tapi kenapa?


Sudah beberapa kali saat Ervan mengantarkan ayahnya untuk cek up dirumah sakit, Ervan tidak pernah melihat Erika menjenguk ayahnya. Bahkan Ervan hanya melihat Erika sekali waktu itu. Itu juga dia tidak terlihat dari ruangan ayahnya, melainkan dari tempat penebus obat.


Astaga...


Kenapa Ervan jadi memikirkan dia sekarang.


Ervan menggelengkan kepala nya dengan pelan. Rasa penasaran ini benar benar membuat hatinya terusik, tapi untuk mencari tahu, buat apa???


Sudahlah, dari pada memikirkan hal yang bukan urusan nya lebih baik dia pergi kerumah sakit untuk mengambil obat ayahnya yang sudah habis.


...


Sementara dirumah sakit...


Hari ini adalah jadwal Maira untuk cek kandungan nya. Dia ditemani Nindi hari ini, gadis itu selalu saja ada untuk Maira. Dia berkata jika dia kesepian sekarang, apalagi saat Putri yang sudah mulai dipingit dan Maira yang sudah tidak lagi bisa pergi kemana mana.


Nindi jadi kuliah sendiri. Dan itu benar benar membuatnya tidak betah berlama lama berada di kampus.


Saat ini Maira sudah berbaring diatas ranjang pemeriksaan. Dokter Danar duduk dengan setia disamping nya. Sedangkan dokter Kemala mulai melakukan pemeriksaan.


"Bayi kalian cukup aktif, lihat wajah nya mulai terlihat" ungkap dokter Kemala yang sedang melakukan prosedur USG diperut Maira.


"Alhamdulillah... Masha Allah" gumam dokter Danar dengan wajah yang begitu berbinar. Dia duduk di samping Maira dan memandang lekat layar monitor yang menunjukkan pergerakan bayi mereka.


"Masih didalam perut aja udah kelihatan bibit unggul nya. Keren ih, Masha Allah" ungkap Nindi yang juga terlihat begitu antusias.


Dokter Kemala hanya tersenyum mendengar itu. Dia juga bahagia melihat kebahagiaan dokter Danar dan juga Maira. Meski jauh disudut hatinya, masih saja selalu merasa ada yang aneh. Seperti perih, tapi tidak terluka.


Bagimana cara menjelaskan nya? Dia pun tidak tahu.


"Usia kandungan sudah memasuki Minggu ke tiga puluh. Maira harus rajin bergerak ya, tapi jangan sampai berlebihan" ujar dokter Kemala yang kembali menutupi perut Maira. Dokter Danar dengan sigap membantu Maira untuk duduk.


"Tapi kaki Maira masih sering bengkak jika dibawa berjalan terlalu lama. Apa itu tidak apa apa?" tanya dokter Danar.


Dokter Kemala tersenyum dan menggeleng pelan.


"Tidak apa apa, selama itu tidak berlebihan dan tidak disertai keluhan yang lain. Hanya bengkak saja kan Maira?" tanya dokter Kemala.

__ADS_1


"Iya dokter, kenapa bisa gitu ya?" tanya Maira.


"Itu disebabkan karena bertambahnya volum cairan dan darah selama masa kehamilan. Tidak apa apa, itu hal yang wajar dan sering dialami oleh ibu hamil lain nya" jawab dokter Kemala. Dia sama sekali tidak ada memandang dokter Danar, bahkan menjawab pertanyaan nya juga pada Maira.


Tidak tahu kenapa, rasanya memang berbeda. Dokter Kemala sudah berusaha untuk menerima dan bersikap profesional, tapi nyatanya, terkadang perasaan ini tetap saja berbeda.


Ya Allah... ampunkan lah dia. Setiap malam, dalam setiap doanya dokter Kemala hanya berharap jika perasaan yang ada dihatinya untuk dokter Danar segera dihapuskan dan diganti dengan perasaan untuk menerima takdir yang tercipta untuk dia.


Dan dokter Danar sebenarnya tahu itu. Dia tahu jika dokter Kemala pasti terluka. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa membawa Maira pada dokter lain. Hanya dokter Kemala yang dia percaya, dan jika dokter Danar membawa Maira pada dokter lain, itu sama saja dengan dia yang terlihat menghindar kan.


"Jangan terlalu banyak makan yang mengandung banyak garam ya. Harus sering jalan pagi juga supaya kamu dan bayi kamu sehat" ujar dokter Kemala lagi


"Iya dokter. Terkadang, setiap pagi bawaan nya ngantuk terus. Gak bisa ditahan, apalagi kalau lagi sendirian dirumah. Mau tidur terus" jawab Maira.


Dokter Kemala langsung tersenyum mendengar itu.


"Maira sih emang begitu dokter. Kalau enggak diingetin, gak akan bisa lepas dari bantal" adu Nindi


"Tidak boleh dong. Harus banyak bergerak supaya nanti lahiran kamu bisa lancar" sahut dokter Kemala.


"Nindi sok tahu emang" gerutu Maira


"Emang tahu kok aku. Ya kan dokter, pasti begitu tuh ulah Maira dirumah" kini Nindi beralih pada dokter Danar yang tersenyum dan mengangguk pelan.


"Sepertinya bayi kami buat ibunya jadi malas" jawab dokter Danar


"Bukan bawaan bayi deh kayak nya. Emang Maira aja yang mageran" sindir Nindi.


Nindi hanya terbahak saja melihat wajah kesal itu.


"Yasudah, yang terpenting harus bisa jaga emosi dan kesehatan ya. Banyak minum air putih supaya tidak cepat lelah." ujar dokter Kemala lagi.


"Siap dokter. Saya punya alarm setiap saat" ucap Maira seraya melirik dokter Danar.


Dokter Kemala tersenyum dan melirik dokter Danar sekilas.


"Suami istri memang harus bekerja sama. Apalagi ini juga kehamilan pertama. Pasti sedikit merepotkan" jawab dokter Kemala.


"Huh... saya kapan ya ngerasain begini" gumam Nindi tiba tiba.


"Jodoh kamu masih otw, lagi cari modal buat masa depan" sahut Maira


"Iya yakan. Nunggu satu tahun setengah lagi" gumam Nindi tanpa sadar.


Namun sedetik kemudian dia langsung terkesiap dan memandang dokter Kemala dengan canggung.


Astaga kelepasan kan...


"Sudah tidak sabar ya?" tanya dokter Kemala memandang lucu pada Nindi. Gadis yang diminati oleh adik nya.


"Hehe... bukan gitu dokter. Cuma yah tidak bisa dijelaskan" jawab Nindi dengan tawa canggung nya.

__ADS_1


"Jika berjodoh, pasti ada jalan" ucap dokter Kemala


"Iya dokter. Masih berusaha untuk memperbaiki diri, supaya bisa menjadi yang terbaik untuk jodoh saya nanti. Kalau dia benar menjadi takdir saya, saya pasti senang dan bersyukur sekali. Tapi jika tidak, mungkin sudah ada yang lain yang sudah dipersiapkan untuk saya" ungkap Nindi


"Begitu kan dokter?" Nindi malah meminta pendapat dokter Danar. Membuat dokter Kemala jadi merasa aneh sekarang.


"Benar... Allah pasti sudah mempersiapkan yang terbaik untuk umatnya. Hanya tinggal menunggu waktu dan menerima. Tetap berdoa untuk meminta yang terbaik seraya terus memperbaiki diri lagi" jawab dokter Danar.


"Bagaimana jika kita sudah memperbaiki diri tapi jodoh kita jauh dari Allah?" tanya Nindi pula.


"Kamu nyindir?" tanya Maira yang merasa tersinggung.


Dokter Kemala langsung tertawa melihat Maira sedangkan Nindi malah tersenyum simpul dan menggeleng.


"Kamu kan beda Mai. Kalau jodohnya seperti dokter Danar yang tahu agama, sudah jelas kita bisa belajar dari dia. Nah kalau suami yang jauh dari agama bagaimana?" tanya Nindi pula.


Dan pertanyaan Nindi ini membuat dokter Kemala juga langsung menoleh pada dokter Danar. Sepertinya pertanyaan ini juga membuat dia penasaran.


Jodoh kan tidak ada yang tahu.


"Yang pertama, kamu bisa mengajak dia untuk bersama sama belajar menuju jalan Allah. Jika dia memang mempunyai niat yang baik Insha Allah dia pasti mau dan bersama kamu untuk belajar." ungkap dokter Danar


"Tapi jika tidak????" tanya Nindi lagi.


Dokter Danar tersenyum tipis mendengar itu.


"Jangan dipaksa. Tugas suami adalah membimbing istri menuju ke surga Nya. Tapi jika seorang suami tidak bisa seperti itu, maka kamu hanya perlu meraih surga kamu sendiri" jawab dokter Danar.


"Susah dong dokter" keluh Nindi.


Mereka jadi tanya jawab sekarang. Bahkan dokter Kemala sudah duduk dengan baik dan mendengarkan percakapan ini, begitu pula dengan Maira.


"Tidak juga. Surga seorang istri itu cukup mudah untuk diraih. Kamu ingat kisah Asiyah dan Fir'aun?" tanya dokter Danar


Nindi langsung mengangguk dengan cepat.


"Asiyah ahli surga dan Fir'aun ahli neraka" jawab Nindi


Membuat dokter Danar langsung mendengus senyum dan mengangguk.


"Dia tidak bisa meraih surga bersama suami nya. Karena suami nya adalah penentang Allah dan rasulnya. Tapi Asiyah bisa meraih surga nya sendiri. Dia tetap menjadi istri yang baik, melayani suami nya dengan baik dan memuliakan suaminya bak raja. Tapi dia juga patuh dan taat dengan perintah Allah. Itu sudah cukup, tidak perlu mempermasalahkan suami yang tidak bisa membimbing kamu ke jalan Allah. Tugas seorang istri cukup taat pada suami dan cari surga sendiri." ungkap dokter Danar


"Jadi intinya surga istri ada pada suami? Begitukah?" tanya dokter Kemala pula.


Dokter Danar mengangguk pelan.


"Ya, surga istri ada pada suami. Memang tidak mudah ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi percayalah, jangan berfikir jika untuk meraih surga harus memiliki suami yang tinggi agama nya. Tidak, bukan seperti itu. Seorang istri hanya perlu memuliakan suami mau bagaimana pun perilakunya. Dan jika seorang istri bisa berbuat seperti itu dengan hati yang ikhlas, insha Allah, dia bisa memasuki pintu surga dari manapun yang dia mau" jawab dokter Danar


Dokter Kemala dan Nindi langsung tersenyum haru mendengar itu.


Bagi mereka yang belum menikah, mungkin itu terdengar mudah. Hanya perlu berbakti dan memuliakan suami tapi sudah bisa meraih surga.

__ADS_1


Tapi kenyataan nya, tidak semudah itu. Hubungan berumah tangga tidak semudah mengucapkan nya. Banyak istri yang menjadi kufur nikmat karena suami yang tidak mengerti. Banyak istri yang mengeluh karena suami yang tidak perduli, dan begitu banyak istri yang berdosa hanya karena dia merasa lelah dengan sikap suami, dan akhirnya malah membangkang karena merasa jika apa yang mereka lakukan tidak sebanding dengan apa yang suami berikan.


__ADS_2