Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Tidak Bisa Marah


__ADS_3

Maira menatap tajam Ervan yang kini telah berada dihadapan nya. Pemuda itu tertunduk dan menghela nafasnya dalam dalam. Ervan memandang Maira dengan wajah memelasnya, namun Maira sudah terlanjur begitu kesal sekarang. Bisa bisanya Ervan pergi berdua bersama Erika dan mengabaikan nya sejak semalam.


Saat ini mereka sudah berada diarea parkiran pusat perbelanjaan itu. Maira membawa Ervan kesana karena tidak ingin pertengkaran mereka dilihat oleh banyak orang. Sedangkan kedua sahabat Maira menghalangi Erika yang ingin menghalangi Ervan bertemu dengan nya.


"Maira, dengerin penjelasan aku dulu" pinta Ervan untuk yang kesekian kalinya. Maira mendengus dan melipat kedua tangan nya didepan dada seraya memandang Ervan dengan kesal.


"Penjelasan apalagi Van? Aku tuh capek ya, dari dulu selalu dia yang cari masalah. Dan kamu bisa bisa nya malah jalan sama dia disini, nomor kamu gak bisa dihubungi sama sekali. Kamu selingkuh sama dia?" tuding Maira begitu kesal, wajahnya memerah menahan amarah


"Jangan berfikiran yang enggak enggak dong Mai. Mana mungkin aku selingkuh sama dia. Kamu kan tahu aku cintanya cuma sama kamu" sahut Ervan


"Lalu kenapa kamu bisa jalan sama dia? Padahal kamu tahu kalau aku benci banget sama cewe gatel begitu" kata Maira begitu ketus. Dia benar benar tidak terima, padahal kenyataan nya dia lebih parah dari pada Ervan, dan sekarang dia melupakan itu.


"Maira.. ponsel aku jatuh waktu aku naik motor semalam sore. Kamu bisa tanya Ciko kalau gak percaya, semalam aku bareng dia sampai malam tadi"ungkap Ervan. Namun Maira hanya mendengus gerah dan memalingkan wajahnya. Ciko adalah sepupu Ervan, dan cukup dekat juga dengan Maira.


"Erika datang kerumah bareng mamanya siang tadi, dia minta aku buat temani dia cari kado untuk papanya yang ulangtahun besok. Aku gak enak nolaknya, kamu kan tahu mama aku sama mama dia temen baik" ungkap Ervan


Maira kembali memandang Ervan, namun masih dengan wajah kesalnya, namun Ervan segera meraih tangan Maira dan menggenggam nya dengan lembut.


"Aku gak mungkin khianati kamu Maira, aku sayang banget sama kamu" ucap Ervan begitu serius


"Aku tuh bener bener gak suka sama dia Van. Kamu kan tahu dia dari dulu selalu berusaha untuk deketin kamu. Aku takut kamu luluh dengan semua usaha dia" kata Maira dengan mata yang berkaca kaca. Antara kesal dan cemburu membuat dadanya seperti terbakar amarah. Kenapa dua lelaki dalam hidupnya hari ini benar benar menjengkelkan????


"Dua tahun Mai. Dua tahun aku bisa jaga hati aku buat kamu walau dia terus ganggu hubungan kita. Aku cuma minta kamu percaya sama aku, aku gak mungkin berpaling hanya untuk Erika" ucap Ervan


"Orang tua kamu gak suka sama aku, suatu saat mereka pasti lebih milih Erika untuk jadi pasangan kamu" sahut Maira dengan wajah cemberutnya


"Kamu cinta sama aku kan?" tanya Ervan begitu serius, dan Maira langsung mengangguk pelan


"Kalau gitu kamu harus bantu aku buat yakinin mama dan papa tentang hubungan kita" pinta Ervan.


Maira terdiam dan memandang Ervan dengan sedih. Sejak dulu orang tua Ervan memang sudah tidak menyukai hubungan mereka. Apalagi Maira yang cuma orang biasa sedangkan mereka adalah pengusaha yang cukup terkenal. Bagai langit dan bumi sebenarnya, ditambah lagi sekarang sudah ada dokter Danar dikehidupan Maira. Ujian cintanya begitu besar bukan???


"Gimana caranya?" Maira langsung tertunduk dengan sedih. Dia bahkan tidak tahu bagaimana hubungan nya dengan Ervan jika mengingat semuanya


Ervan tersenyum tipis, dia langsung menjulurkan tangan nya dan ingin mengusap wajah Maira. Namun tiba tiba seruan seseorang langsung membuat mereka berdua terkesiap kaget.


"Maira..."


Maira langsung menoleh kearah orang itu dan menjauhkan dirinya dari Ervan. Mata Maira terbelalak lebar saat melihat seseorang yang kini telah berdiiri dihadapan mereka adalah dokter Danar.


"Dokter Danar" gumam Maira dan Ervan bersamaan


Jantung Maira langsung berdetak dengan cepat dan terasa berdenyut sakit hingga wajah nya kini menjadi pucat dan terperangah. Bagaimana mungkin dokter Danar bisa ada disini?? Dan entah kenapa Maira menjadi salah tingkah dan begitu gugup sekarang. Padahal sebelum nya ketika dia melihat dokter Danar dengan wanita berhijab itu dia sudah meyakinkan hatinya jika dia tidak akan takut lagi untuk bertemu Ervan kapanpun. Tapi sekarang, melihat dokter Danar ada dihadapan nya dia malah takut. Apa dia takut jika Ervan tahu tentang hubungan mereka? Atau takut karena hal lain???


Maira sedikit meringis dan meraba tengkuk nya ketika melihat dokter Danar yang memperhatikan mereka begitu serius. Tidak ada wajah teduh yang selalu Maira lihat, kini hanya wajah datar yang dilihat oleh Maira, dan itu membuat nya sedikit gugup


"Dokter sedang apa disini?" tanya Ervan pada dokter Danar.  Ervan memang mengenal dokter Danar, karena memang dokter Danar adalah dokter yang mengurus tentang penyakit ayahnya


"Saya ingin menjemput is....." ucapan dokter Danar langsung terhenti saat Maira langsung melompat dan membungkam mulut nya

__ADS_1


"Aaaaaa.......dokter mau menjemput berkas berkas ayah dulu kan, berkas nya ada dirumah. Ayo dokter saya antar. Kebetulan ketemu disini, heehe...." ucap Maira dengan tawa canggung dan terdengar begitu dipaksakan. Dia segera menarik lengan dokter Danar. Dokter tampan itu memicing menatap Maira dengan kesal, sedangkan Ervan memandang aneh Maira yang terlihat panik dan begitu gugup


"Emm...Van. Aku duluan ya, besok kita bicarain lagi" kata Maira pada Ervan. Setelah itu dia langsung menarik lengan dokter Danar menjauh meninggalkan Ervan yang masih terdiam bingung


"Ada apa dengan Maira" gumam nya. Ervan hanya menggelengkan kepala nya dan kembali kedalam untuk menemui Erika bersama kedua sahabat Maira. Tidak ada kecurigaan sama sekali dihatinya karena dia tahu jika dokter Danar memang dokter yang menangani ayah Maira sewaktu masih hidup. Meski sebentar, tapi Ervan tahu dokter Danar orang yang seperti apa. Tidak sembarang gadis bisa dekat dengan dokter itu, apalagi gadis seperti Maira.


Ya, dia tidak tahu saja kenyataan yang sebenar nya, dan jika dia tahu, entah bagaimana reaksi nya.


...


Saat ini Maira sudah berada dijalan pulang bersama dokter Danar. Dokter tampan itu masih diam dan tidak ada berbicara sama sekali sejak tadi. Dia hanya fokus pada kemudinya, tatapan matanya memandang datar jalanan didepannya dan sama sekali tidak ada menoleh kearah Maira. Begitu pula dengan Maira yang hanya memandang lurus kedepan. Suasana begitu hening karena mereka terdiam dengan fikiran mereka masing masing, sampai tiba tiba Maira mengingat sesuatu.


"Astaga, motor gue kan masih tinggal dicafe" gumamnya yang langsung menepuk dahinya sekilas. Maira langsung menoleh kearah dokter Danar yang masih tidak bergeming


"Dokter" panggil Maira. Namun dokter Danar hanya diam dan mengedipkan matanya sekilas


"Dokter" seru Maira sekali lagi, namun dokter Danarn masih tetap diam, membuat Maira mulai kesal. Dia kembali ingin membuka mulutnya namun tiba tiba...


"Biar saja" ucap dokter Danar tiba tiba membuat Maira sedikit terkesiap dan memandang nya dengan bingung


"Apa nya yang biar aja?" tanya nya namun dokter Danar kembali diam


"Dokter turuni saya dicafe Gloria, motor saya ada disana" pinta Maira seraya menunjuk jalan pertigaan didepan mereka. Namun lagi lagi dokter Danar tidak mengindahkan nya. Bukannya mengantar Maira kearah jalan sebelah kiri, namun dia memutar setirnya kesebelah kanan dimana arah perumahan mereka berada.


"Lah....kenapa malah pulang siih!!!" gerutu Maira. Dia memandang dokter Danar dengan kesal


Melihat dokter Danar yang hanya diam, Maira langsung melengos dan memalingkan wajahnya yang kesal. dia tahu jika dokter tampan ini pasti sedang marah. Dan pasti akan kembali menceramahi nya jika sudah tiba dirumah nanti. Awas saja jika dia berani marah, Maira tidak akan tinggal diam, dia juga bisa marah, karena bukan hanya dia yang salah hari ini.


Maira turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam, sedangkan dokter Danar kembali masuk kedalam mobilnya untuk memasukkan mobil kedalam garasi. Tidak ada senyum atau pandangan teduh seperti biasa. Wajahnya hanya datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun, membuat Maira sebenarnya merasa aneh.


Maira menghempaskan tubuhnya diatas sofa sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya. Dia harus memberitahukan sahabatnya jika dia sudah pulang duluan, jangan sampai mereka kebingungan mencari keberadaan nya disana.


Namun tiba tiba matanya melirik dokter Danar yang berjalan melewatinya dan langsung masuk kedalam kamar. Mata Maira mengerjap perlahan dan kembali menoleh keponselnya yang berdering. Ada panggilan atas nama Nindi disana, dan itu bisa membuat perasaan nya yang beberapa detik tadi menegang bisa sedikit relaks.


Maira langsung mengangkat panggilan itu, dan dapat dia dengar suara omelan Nindi dan Putri dari seberang sana. Entah racauan apa saja yang Putri dan Nindi sampaikan, kepala nya menjadi bertambah pusing sekarang. Tapi jika langsung dimatikan kedua sahabatnya itu pasti akan semakin mengomel.


"Besok gue jelasin, ada keadaan darurat makanya gue balik duluan. Sorry guys" sahut Maira pada kedua sahabatnya. Tidak lama dia menerima panggilan itu karena suara dokter Danar langsung mengejutkan nya. Maira segera memutuskan panggilan itu takut kedua sahabatnya akan mendengar suara dokter Danar.


Maira menoleh kearah dokter Danar yang sudah berdiri dihadapan nya saat ini. Tampaknya dokter itu sudah mandi dan berwudhu, kelihatan rambut dan wajahnya masih basah dan begitu segar


"Mandilah, Kita shalat" ujar nya pada Maira


"Dokter duluan aja" sahut Maira


"Maira" ucap dokter Danar begitu dalam dan sedikit penekanan


Maira langsung berdecak kesal dan beranjak dari duduk nya dengan malas


"Pemaksa banget" gerutu Maira

__ADS_1


Dokter Danar langsung masuk kembali kedalam kamar mendahului Maira, membuat Maira lagi lagi memandang nya dengan bingung


"Datar amat tu muka" gumam Maira


Tanpa banyak berkata, Maira langsung menyambar handuk dan pakaian gantinya lalu segera masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan dokter Danar terlihat mempersiapkan sajadah dan mukenah untuk Maira gunakan.


Tidak lama, sekitar lima belas menit kemudian Maira sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dia langsung mendekat kearah dokter Danar yang kini tengah duduk dan memainkan bulir bulir tasbih ditangan nya. Matanya terpejam namun bibirnya tampak tidak berhenti menyebutkan asma Allah.


Mata dokter Danar terbuka saat dia merasa Maira telah siap untuk menjadi makmum. Dokter Danar berdiri dan menoleh sebentar kearah Maira yang tampak sangat cantik dengan balutan mukenahnya. Dan tentu saja, hati yang sejak tadi membara kini sudah mulai mendingin kembali. Dokter Danar menarik nafasnya dalam dalam, dia mulai melantunkan doa dan iqomat untuk memulai mengingami Maira. Lantunan takbir yang keluar dari mulut dokter Danar benar benar mampu membuat Maira terhipnotis dengan kekaguman yang tanpa dia sadari.


Empat rakaat sore itu mereka lakukan dengan begitu khusyuk, membuat hati yang sejak siang memanas kini tampak sama sama lebih tenang. Dan Maira benar benar merasakan nya. Jika biasanya dia akan menangis, marah dan uring uringan jika melihat Ervan bersama Erika, namun saat ini, dia tidak merasakan itu semua. Dia hanya merasakan ketenangan yang begitu dalam dan entah kenapa ada sedikit rasa bersalah yang tidak bisa dia jelaskan.


Seperti biasa yang memang sudah menjadi kebiasaan, dokter Danar menjulurkan tangan nya pada Maira, dan langsung disambut oleh Maira, dia meletakan punggung tangan dokter Danar didahinya. Namun saat Maira ingin melepaskan nya, dokter Danar masih menahan tangan Maira dalam genggaman nya. Maira memandang bingung pada tangan itu dan kembali menoleh memandang dokter Danar.


"Maira..." panggil dokter Danar begitu lembut. Maira langsung mengerjapkan matanya sekilas mendengar panggilan itu bahkan kini dia memandang dalam wajah tampan dokter Danar yang sudah kembali teduh dan menenangkan


"Kamu sudah menikah, kamu harus tahu dan bisa menjaga batasan dengan lelaki lain. Saya tahu kamu masih menyukai dia, tapi saat ini kamu milik saya, kamu istri saya. Dan saya tidak suka kamu masih menjalin hubungan dengan dia" ungkap dokter Danar dengan bahasa dan nada yang begitu lembut, tangan nya belum juga melepaskan tangan Maira


"Lalu bagaimana dengan dokter sendiri. Bukankah tadi dokter juga bersama wanita lain?" tanya Maira seraya berusaha untuk melepaskan tangan nya, namun dokter Danar masih menahan tangan itu.


"Kamu melihatnya?" tanya dokter Danar, dan kali ini dia melepaskan tangan Maira


"Dokter melarang saya untuk bertemu Ervan, tapi dokter sendiri berduaan dengan wanita lain diluar sana" kata Maira begitu ketus


Dokter Danar langsung tersenyum melihat wajah kesal Maira


"Dia Kemala. Satu satunya teman wanita saya sejak tiga tahun yang lalu. Dia anak pemilik rumah sakit tempat saya bekerja" ungkap dokter Danar. Maira hanya terdiam memandang dokter Danar. Entah kenapa, dia tidak ingin mendengar apapun penjelasan dokter tampan itu karena menurutnya tidak penting. Tapi kenyataan nya, dia masih tidak juga beranjak dari tempat nya.


"Sehari sebelum saya tahu jika saya akan menikahi kamu, saya pernah berjanji pada Kemala untuk menyimak hafalan surahnya. Dan hari ini, saya hanya datang untuk menepati janji saya" ungkap dokter Danar lagi


"Ini hari terakhir saya menemani dan mengajarinya. Kamu tidak perlu khawatir" ujar dokter Danar


Maira langsung mendengus dan menghela nafas gerah


"Tidak penting juga. Mau setiap hari jumpa saya tidak akan melarang. Apa urusan nya dengan saya" sahut Maira yang langsung beranjak dan membuka mukenah nya.


Dokter Danar hanya tersenyum saja dan terus memperhatikan Maira


"Maira.." panggil dokter Danar lagi.


Maira menoleh kearahnya sekilas dan kembali melipat mukenahnya


"Jika saya menemukan mu bersama Ervan hanya berdua dilain waktu. Maka jangan salahkan saya jika semua orang akan tahu tentang hubungan kita" ujar dokter Danar.


Maira langsung tertegun dan menoleh kepada dokter Danar yang kini sudah berdiri seraya membuka kopiah dan sarung nya


"Saya tidak akan melarang kamu bertemu dengan siapapun. Tapi sekali lagi saya ingatkan, kamu sudah menikah. Dan harus bisa menjaga jarak dengan lawan jenis" kata dokter Danar lagi


Maira hanya diam dan langsung mendudukkan tubuhnya didepan meja riasnya. Tidak tahu kenapa, tapi ada sedikit gelisah didalam hatinya. Ingin marah, tapi tidak bisa. Ingin membantah, dia juga tidak mampu.

__ADS_1


.....


*Jangan lupa dukungan kalian ya guys. Like,koment dan Vote. Gift juga jangan lupa. hehe


__ADS_2