Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Niat Baik Ervan


__ADS_3

Dirumah sakit ...


Ervan seperti biasa menemani ayah nya untuk cek up. Kali ini dia hanya pergi berdua saja, karena mama nya sedang ada urusan penting dengan bisnis catering nya. Jadi Ervan yang mengantar tuan Wira untuk konsultasi dengan dokter Danar.


Dia duduk disamping ayahnya yang baru saja selesai diperiksa oleh dokter Danar.


"Sudah jauh lebih baik tuan. Anda hanya perlu menjaga pola makan dan juga jangan banyak fikiran" ujar dokter Danar. Tangan nya menuliskan sesuatu di berkas pemeriksaan tuan Wira.


"Yah bagaimana saya tidak banyak fikiran dokter, perusahaan terbengkalai saat ini. Dan Ervan sama sekali tidak bisa diharapkan " keluh tuan Wira


Ervan langsung berdecak kesal mendengar itu. Sedangkan dokter Danar malah tertawa pelan melihat wajah kesal Ervan.


"Papa... Ervan juga sedang belajar" sahut Ervan.


"Belajar hanya seminggu sekali, bagaimana bisa" jawab tuan Wira.


"Untung Ervan datang" sahutnya nya lagi.


"Lihatlah dokter, sungguh Ervan benar benar membuat penyakit saya bertambah parah" kata tuan Wira lagi.


Dokter Danar tersenyum seraya memandang tuan Wira dan Ervan bergantian.


"Sepertinya Ervan hanya masih ingin bersenang-senang tuan. Benar kan Van?" tanya dokter Danar pada Ervan.


"Tidak juga dokter. Hanya saja saya masih ingin menikmati suasana dikampus sebelum saya terjun kedunia bisnis" jawab Ervan.


"Alasan saja kamu. Kamu memang tidak sayang papa mu ini" ucap tuan Wira.


"Kalau tidak sayang, Ervan tidak akan mau ikut kemana papa pergi seperti ini" gerutu Ervan


"Menjawab saja kamu jika papa bilangin. Huh... dokter, sepertinya saya butuh bantuan anda" kini tuan Wira memandang dokter Danar kembali.


Dokter Danar yang sedang menulis langsung menoleh kearah nya.


"Bantuan apa tuan?" tanya dokter Danar.


"Saya ingin anda mengajari Ervan untuk menjadi lebih baik dokter. Saya benar benar ingin melihatnya mendalami ilmu agama agar dia tidak nakal dan membangkang lagi" pinta tuan Wira.


Dan kali ini bukan hanya dokter Danar yang terkejut mendengar permintaan tuan Wira, melainkan juga Ervan.


"Papa..." Ervan nampak tidak enak sekarang. Namun dokter Danar malah tersenyum. Dia meletakkan pena nya diatas meja seraya memandang tuan Wira dan Ervan bergantian.

__ADS_1


"Kalau untuk masalah itu, saya mohon maaf sebelumnya tuan. Itu bukan keahlian saya" ucap dokter Danar begitu lembut.


"Tapi saya bisa melihat jika anda cukup baik dalam hal itu dokter" ungkap tuan Wira.


Ervan jadi canggung sekarang.


"Saya masih perlu banyak belajar tuan. Hal itu sebenarnya datang dari hati masing masing. Tidak pun dengan saya, tapi jika Ervan mau berubah, dia pasti bisa melakukan nya sendiri." kini dokter Danar melirik pada Ervan yang nampak tersenyum getir.


"Hmh jika dengan keinginan Ervan sendiri, sepertinya cukup sulit" gumam tuan Wira.


"Papa selalu menganggap remeh Ervan" sahut Ervan yang terlihat tidak suka.


"Ervan itu sebenarnya udah mulai coba untuk berubah. Mungkin kalau gak niat, sampai sekarang Ervan gak akan mau menemani papa disini" ungkap Ervan.


Tuan Wira nampak terdiam


"Saya itu udah coba untuk berubah dokter. Saya juga ingin berubah lebih baik lagi. Saya sadar saya nakal dan sering berbuat dosa. Tapi sejak ....." perkataan Ervan langsung terhenti, dia jadi tidak enak untuk melanjutkan perkataannya.


Tapi dokter Danar lagi lagi tersenyum dan mengangguk tenang.


"Jangan sungkan, lanjutkan" pinta dokter Danar. Dia sudah tahu apa yang Ervan maksud.


"Sejak Maira lebih memilih bersama dokter, dari situ pula saya sudah berniat untuk merubah diri saya lebih baik. Saya sadar, jika yang perempuan butuhkan adalah lelaki baik yang bukan hanya baik dari segi penampilan tapi juga akhlak nya" ungkap Ervan.


"Sejak saat itu, saya mulai menjalankan kewajiban yang telah lama saya tinggalkan..Awalnya terasa sulit dan hanya karena ingin mendapatkan imbal balik dalam hal itu. Tapi semakin hari, saya semakin merasa berbeda. Ada sesuatu yang terasa harus saya jaga untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna lagi" ungkap Ervan


Dokter Danar mengangguk pelan. Dan kini dia menoleh pada tuan Wira.


"Tuan bisa dengar sendiri bukan. Tidak pun karena saya, Ervan memang sudah mempunyai niat yang baik" ucap dokter Danar


"Papa tidak menyangka nak" kata tuan Wira begitu terharu.


"Sebenarnya Ervan sudah dari lama ingin berkata ini pada papa. Tapi Ervan malu" ucap Ervan dengan senyum getirnya.


"Kenapa harus malu. Papa malah senang dari pada kamu keluyuran tidak jelas bersama Ciko" sahut tuan Wira.


"Iya.. maka dari itu, Ervan itu ingin mencari seseorang yang bisa mengajari Ervan tentang ilmu agama" ucap Ervan


"Nah pas... kenapa tidak dengan Dokter Danar saja" ujar tuan Wira.


Namun dokter Danar maupun Ervan langsung menggelengkan kepala mereka. Membuat tuan Wira heran melihat mereka.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya tuan Wira seraya memandang dokter Danar dan Ervan bergantian.


Ervan memandang dokter Danar dengan canggung, begitu pula dengan dokter Danar.


Tidak mungkin kan...


Astaga...


"Papa... istri dokter Danar sedang hamil besar saat ini, dan dokter Danar pasti tidak punya banyak waktu untuk mengajari Ervan" ungkap Ervan.


Tuan Wira langsung tertegun mendengar itu.


"Bukan saya menolak tuan. Tapi sepertinya Ervan memerlukan seseorang yang lebih baik dari saya. Jika tuan mau, mungkin saya bisa menghubungi seseorang untuk mengajari Ervan berhijrah" ujar dokter Danar.


Tuan Wira langsung mengangguk tanpa fikir panjang. Dia lupa, jika istri dokter Danar adalah kekasih Ervan dulunya. Astaga, benar benar mereka ini.


Alasan saja tidak enak dan tidak pantas, padahal yang sebenarnya adalah mereka tidak ingin berkumpul bersama dalam satu atap.


Lucu sekali.


"Jika begitu, saya mau dokter. Selagi saya belum wisuda, saya ingin menghabiskan waktu untuk belajar" ucap Ervan lagi


"Alhamdulillah... nanti akan saya beritahu orang nya ya. Untuk sekarang, kamu hanya perlu menjaga lisan dan pandangan. Itu hal yang diutamakan untuk kita kaum lelaki" ujar dokter Danar.


"Tentu dokter. Saya juga sudah banyak membaca buku tentang itu. Terimakasih, semoga saja saya bisa menjadi seperti dokter. Yang mengerti dan bisa membimbing wanita nya dengan baik" harap Ervan.


"Kamu sudah punya pilihan?" tanya tuan Wira.


Ervan tersenyum dan menggeleng.


"Setidaknya belajar menjadi lelaki yang baik dulu. Benarkan dokter" ucap Ervan.


Dokter Danar langsung mengangguk.


"Ya, perbaikilah diri dan dekatkan lagi dengan Allah SWT. Maka semua akan dipermudah. Kamu pasti akan dipertemukan dengan jodoh terbaik kamu" jawab dokter Danar.


"Aamiin.. terimakasih dokter, terimakasih untuk semuanya." ucap Ervan.


"Untuk apa berterimakasih kepada saya. Saya tidak ada melakukan apapun" ucap dokter Danar.


"Saya berterimakasih karena kedatangan dokter dalam kehidupan kami, membuat semua terasa lebih bermakna. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah kita" ungkap Ervan.

__ADS_1


Dokter Danar langsung mendengus senyum mendengar itu.


"Semua sudah Allah yang mengatur. Kita hanya bisa menerima dan menjalankan apa yang sudah Dia tetapkan" ucap dokter Danar terdengar begitu bersahaja.


__ADS_2