Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kebimbangan Hati


__ADS_3

Mata Maira mengerjap indah memandangi sebuah bangunan yang berdiri kokoh namun begitu menawan. Sebuah bangunan tua dengan kubah besar bewarna putih. Diatasnya berdiri lafadz Allah yang begitu agung menjulang dengan indah.


Entah kenapa meskipun dia seorang yang sangat jauh dari agama, tapi hatinya selalu saja takjub dengan setiap ukiran indah ini, apalagi dengan segala suasana yang begitu menenangkan seperti ini. Apa ini berarti karena masih ada sedikit iman didalam hatinya???? Entah lah, hanya Allah yang tahu.


"Maira, ayo kita shalat dulu. Waktu shalat sudah terlewat jauh" ajak dokter Danar yang mengejutkan lamunan Maira.


Dokter Danar memberhentikan mobil yang dia kendarai disebuah masjid tua namun cukup besar dan sangat indah. Begitu jauh dari rumah dan kampus Maira, sehingga Maira tidak pernah melihat ada masjid seindah ini. Atau karena dia yang memang tidak pernah memperhatikan hal hal seperti ini???


"Tapi saya gak bawa mukenah dokter" ucap Maira.


Dokter Danar yang sudah berjalan mendahuli Maira langsung membalikkan tubuhnya. Dia tersenyum dan menggeleng pelan.


"Tidak apa apa, didalam banyak mukenah yang sudah disediakan. Kamu tinggal memakai nya saja. Ayo" ajak dokter Danar lagi.


Maira mengerjapkan matanya sekilas dan mengangguk pelan. Dia langsung berjalan mengikuti langkah dokter Danar. Menaiki satu persatu anak tangga yang sudah nampak berlumut dipinggiran sisinya, batu dan semen nya juga sudah banyak yang terkelupas, namun itu yang menambah kesan estetik nya. Dikiri kanan tangga lebar itu juga terdapat tanaman tanaman yang membuat sekitaran mesjid itu menjadi segar dan sejuk ditengah hari yang mendung ini.


Ah... Maira sangat menyukai tempat ini. Setelah tadi mood nya berantakan, kenapa sekarang setelah ada disini rasanya sungguh berbeda???


Maira mengikuti dokter Danar menuju tempat berwudhu. Hanya dipisahkan oleh dinding batu saja. Maira membuka jaketnya dan juga sepatu yang dia kenakan dan meletakkan semua barang barang nya diatas meja batu yang berbentuk bulat.


Tempat berwudhu itu sangat bersih, lantai nya dibuat seperti tumpukan batu batu kali yang berwarna hitam. Sangat estetik.


Ada beberapa pasang sendal jepit yang tersedia disana, mungkin untuk para pendatang yang ingin berwudhu seperti Maira. Ya, kebetulan sekali, Maira langsung saja memakai nya.


Maira mengamati sekeliling nya, sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang baru selesai shalat. Mungkin karena waktu shalat djuhur sudah terlewat setengah jam. Pantas saja dokter Danar terlihat terburu buru sekali.

__ADS_1


Maira mulai menghidupkan air kran, mencuci tangan nya dan membasuh wajahnya terlebih dahulu. Rasanya begitu segar, hingga bisa meringankan segala beban dan rasa pusing dikepala nya. Apalagi ketika basmalah mulai dibaca dan Maira mulai mengambil wudhu. Membasuh satu persatu bagian tubuhnya. Ya Allah, mungkin dosa Maira sudah begitu banyak, hingga terkadang dia tidak mampu mengingat betapa tenang hatinya setelah terkena air ini.


Setelah selesai berwudhu, Maira kembali memunguti barang barang nya dan keluar dari tempat itu. Dia sudah melihat dokter Danar yang berdiri didepan sana, sepertinya dokter Danar menunggunya.


"Sudah?" tanya dokter Danar.


Maira hanya mengangguk saja.


"Dipakai lagi jaket nya ya" ujar dokter Danar seraya meraih tas dan sepatu yang ditenteng Maira.


Maira mengernyit bingung dan memandangi dokter Danar.


"Kenapa memang nya?" tanya Maira.


"Tidak enak masuk kedalam masjid dengan baju kamu yang seperti itu. Masih ada beberapa takjelis ma'lim yang sedang mengaji" jawab dokter Danar.


Dan tanpa banyak berkata, Maira langsung memakai jaket nya membuat dokter Danar tersenyum memandangi Maira. Terkadang istrinya ini begitu patuh, namun terkadang, dia benar benar harus menahan hati melihat keras kepalanya Maira.


"Ayo" ajak dokter Danar yang langsung berjalan mendahului Maira, masih dengan menenteng tas dan sepatu Maira. Namun tidak lama dia meletakkan sepatu Maira disamping sepatu nya dibatas suci masjid itu.


"Mau shalat jamaah atau sendiri?" tanya dokter Danar saat mereka sudah ada didalam masjid.


"Sendiri aja deh. Itu masih banyak orang didepan" jawab Maira.


"Yasudah, mukenah nya disudut sana. Dan ini tas kamu" kata dokter Danar seraya menyerahkan tas Maira tanpa bersentuhan sedikitpun.

__ADS_1


Maira mengangguk, setelah meraih tasnya dia langsung menuju ketempat saff wanita. Ada dua orang juga yang sedang shalat disana.


Tanpa menunggu apapun Maira segera menjalankan ibadah nya siang itu. Ibadah yang mungkin hanya bersama dokter Danar lah dia menjalankan nya. Jika tidak ada dokter Danar, apa Maira akan seperti ini??? Dia islam, tapi dia tidak pernah menjalankan perintah yang sudah ditetapkan. Keterlaluan bukan???


Tidak sampai sepuluh menit, Maira sudah menyelesaikan shalatnya. Rasanya benar benar tenang, apalagi ditempat baru seperti ini. Tanpa sadar sudut bibir Maira malah membentuk senyum tipis memandangi sajadahnya. Ya Allah, lagi lagi Maira benar benar tidak tahu harus berkata apa dalam mengungkapkan perasaan nya ini. Dokter Danar selalu membawa dia pada kebaikan, tapi kenapa hatinya masih begitu buta. Dia masih tenggelam pada cintanya untuk Ervan.


Sampai kapan mereka akan seperti ini?


Tidak sampai dua bulan, dia sudah harus memutuskan jalan hidupnya. meninggalkan dokter Danar, atau tetap bersama nya???


Maira menghela nafas dengan berat.


Melanjutkan hubungan dengan Ervan hanya akan menambah masalah baru dalam hidup nya karena hubungan mereka yang ditentang. Tapi jika menerima dokter Danar... apa cinta bisa dia dapatkan???


Lamunan Maira tiba tiba buyar saat dia mendengar seseorang mengaji disamping nya. Hanya berjarak tiga saf saja. Maira menoleh, memandang seorang gadis muda yang mungkin seumuran dengan nya. Suara nya begitu indah dan sangat merdu, membuat hati Maira semakin tenang.


Ah, Maira jadi malu. Dia bahkan tidak tahu masih ingat atau tidak dengan huruf huruf itu. Astaga, berdosa sekali dia. Mendapatkan dokter Danar mungkin anugerah untuk gadis nakal sepertinya, tapi dokter Danar yang mendapatkan nya apa bukan sebuah musibah??


Mair langsung beranjak dan membuka mukenah nya. Melipat nya dan meletakkan nya ketempat nya kembali.


Dia berjalan lebih dulu keluar mesjid. Sepertinya dokter Danar belum selesai. Maira memutuskan untuk menunggunya didepan saja seraya memandangi pemandangan area mesjid itu yang cukup indah dan sejuk. Cuaca yang tidak panas juga cocok sekali untuk menikmati hari.


Maira berjalan menuruni anak tangga perlahan, dan memilih untuk duduk disana. Angin segar yang menerpa wajahnya membuat dia benar benar tenang.


Maira menarik nafasnya dalam dalam. Terkadang dia berfikir, entah ada maksud apa Tuhan mengirimkan dokter Danar masuk kedalam kehidupan nya. Apa untuk merubah Maira menjadi baik??? Tapi... Maira masih ingin menikmati masa masa muda dan cintanya.

__ADS_1


Maira menggeleng dan mendengus nafas kembali.


Dia hanya berharap, semoga semua nya bisa berjalan dengan baik, meski entah bagaimana nasib hidupnya nanti.


__ADS_2