
Maira membuka matanya perlahan. Sungguh demi apapun kepala nya benar benar berat dan sangat pusing. Hari ini jantung nya dibuat berolahraga dengan tergesa.
Kenyataan pertama yang membuat dia tidak percaya adalah jika ternyata dia sudah hamil. Dan yang kedua yang membuatnya tidak kalah terkejut ternyata suami nya punya rumah yang sebesar ini.
Ya ampun...
Maira benar benar merasa jika ini adalah mimpi.
"Sayang" panggilan dokter Danar membuat Maira membuka matanya dengan lebar dan memandang kearah dokter Danar yang baru datang dari luar. Ditangan nya membawa segelas air putih.
Mata Maira kembali memandang ruangan itu. Yang sepertinya ini memang kamar. Kamar yang cukup luas dan...... mewah. Kamar dengan warna putih yang mendominasi. Sesuai dengan warna favorit dokter Danar.
"Hei... kenapa hmm. Ada yang sakit lagi?" tanya dokter Danar yang kini duduk disamping Maira.
Maira mendengus memandang dokter Danar.
"Maira merasa ini kayak mimpi tahu mas. Kenapa mas punya rumah semewah ini?" tanya Maira.
Dokter Danar tersenyum dan membantu Maira untuk duduk diatas ranjang.
"Maaf... mas punya alasan sendiri untuk gak ngasih tahu kamu dulu" jawab dokter Danar.
"Bukan masalah itu aja, tapi Maira bingung mas punya uang banyak dari mana. Mas kan cuma dokter" kata Maira lagi. Dia memandang penuh curiga pada dokter Danar. Tapi dokter Danar malah terkekeh dan mengusap wajah Maira dan merapikan rambut nya yang berantakan.
"Pekerjaan mas bukan cuma dokter aja sayang" jawab dokter Danar.
"Lalu apa?" tanya Maira.
"Montir juga, resto juga dan....."
"Montir, jangan bilang showroom mobil yang pernah kita datangi itu punya mas?" tanya Maira dengan wajah yang kembali terperangah. Bahkan dia langsung memotong ucapan dokter Danar.
Dokter Danar mengangguk seraya mengusap wajah Maira lagi.
"Jangan begitu amat muka nya. Jelek" ledek dokter Danar.
buk
Maira langsung memukul bahu dokter Danar dengan kuat.
__ADS_1
"Terus kenapa gak ajak Maira tinggal disini dari dulu coba" seru Maira begitu kesal.
Dokter Danar kembali tertawa dan mengacak gemas pucuk kepala Maira.
"Kalau dulu mas ajak kamu tinggal disini. Pasti sekarang belum tentu kita bisa seperti ini dan punya calon bayi" jawab dokter Danar seraya mengusap perut Maira.
Maira terdiam.
"Kalau kita tinggal dirumah sebesar ini, kamu pasti gak akan mau satu kamar sama mas kan. Kamar dirumah ini banyak, dan kamu juga punya banyak alasan untuk nolak mas. Jadi mas memutuskan untuk kita tinggal dirumah kecil kita, supaya kamu bisa lebih dekat sama mas" ungkap dokter Danar.
Mata Maira menjadi berkaca kaca mendengar itu. Betapa jahat nya dia dulu.
"Tinggal dirumah kecil itu gak ada sekat pemisah diantara kita, jadi mas bisa dengan mudah mendekati kamu dan mengambil hati kamu. Bagaimana jika tinggal dirumah besar seperti ini, jelas semua pasti terasa sulit." tambah dokter Danar lagi.
Maira langsung memeluk dokter Danar dengan manja.
"Maafin Maira ya mas, Maira udah jahat banget sama mas dulu" ucap Maira.
Dokter Danar tersenyum seraya mengusap pundak Maira dengan lembut.
"Enggak apa apa. Mas udah maafin kamu sayang. Kalau gak begitu, kita gak bisa sampai ditahap ini. Terimakasih sudah menjadi istri mas yang paling baik, semoga bisa jadi ibu yang baik juga ya" pinta dokter Danar seraya mengecup dahi Maira dengan lembut.
"Tentu saja mas bahagia, mas kan udah tua. Jadi memang udah kepengen punya anak, apalagi anak dari istri mas tercinta ini" jawab dokter Danar seraya mencubit gemas hidung Maira.
Maira tertawa dan kembali memeluk dokter Danar.
"Tapi Maira takut gak bisa jadi ibu yang baik nantinya mas." ungkap Maira yang malah menjadi sedih lagi.
"Kamu pasti bisa sayang. Buktinya kamu bisa jadi istri yang baik, dan itu berarti kamu juga bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita" ujar dokter Danar.
"Mas bimbing Maira terus ya. Kasih tahu kalau Maira salah" pinta Maira yang mendongak dan memandang dokter Danar lagi.
"Tentu sayang. Kita belajar sama sama untuk jadi orang tua yang baik" jawab dokter Danar.
"Maira berharap kita bisa sama sama terus sampai tua, sampai maut yang memisahkan. Maira gak pengen anak Maira ngerasain apa yang Mai rasa." ungkap Maira. Matanya berkaca kaca sekarang. Dia jadi ingat bagaimana hancur nya dia saat ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah dulu. Bahkan adik nya masih kecil saat itu.
"Insha Allah... kita berdoa terus sama Allah, supaya rumah tangga kita diridhoi dan sampai ke Jannah nya nanti" kata dokter Danar seraya mengusap air mata Maira yang mulai menetes.
"Aamiin" jawab Maira seraya menahan Isak tangisnya.
__ADS_1
"Kenapa menangis sayang?" tanya dokter Danar dengan begitu lembut.
"Maira tiba tiba ingat mama mas" jawab Maira.
Dokter Danar tertegun mendengar itu. Dia juga tidak pernah tahu tentang ibu Maira selama ini. Bahkan sejak dulu.
"Melihat ibu yang senang banget bakal dapet cucu, Maira jadi inget mama. Dia juga bahagia atau enggak denger kabar Maira hamil. Udah bertahun tahun Maira gak pernah ketemu mama" ungkap Maira yang langsung menangis terisak.
Dokter Danar langsung menarik Maira kedalam pelukan nya.
"Kamu mau ketemu mama sayang?" tanya dokter Danar.
Dan Maira langsung mengangguk dalam pelukan dokter Danar.
"Meskipun Maira kecewa, tapi Maira juga rindu" jawab Maira.
Dokter Danar menghela nafasnya sejenak.
"Sayang, hilangkan rasa kecewa kamu. Kita tidak tahu bagaimana dia disana dan apa yang membuat dia pergi. Kamu kan sudah tahu bagaimana kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Tidak selalu manis kan" ujar dokter Danar.
Maira masih diam dan terus menangis dalam pelukan dokter Danar. Entah kenapa tiba tiba dia malah mengingat tentang ibunya yang entah berada dimana sekarang.
"Kamu masih punya mama. Nanti kita cari tahu dimana dia tinggal. Dia pasti senang lihat kamu yang sekarang" ujar dokter Danar.
"Mungkinkah begitu, selama ini dia bahkan gak pernah datang lagi untuk liat Maira sama Rio" jawab Maira seraya melepaskan pelukan nya dari dokter Danar.
"Mungkin dia sibuk atau ada hal lain yang menghambat. Tidak boleh berfikiran yang buruk tentang mama. Berdosa" ujar dokter Danar.
Maira mengerucutkan bibirnya sekilas seraya mengusap air matanya.
"Baik buruk mama, dia tetap mama kamu. Bagaimana pun perlakuan nya, kamu ada karena dia. Dia surga kamu juga sayang. Jika dia tidak datang, maka kamu yang harus mendatangi nya. Ya" kata dokter Danar lagi seraya mengusap wajah Maira.
"Mas mau bantu Maira cari mama" tanya Maira.
"Tentu. Dia juga mama mas kan" jawab dokter Danar.
Maira tersenyum dan mengangguk senang.
Bahagia sekali dia bisa memiliki dokter Danar.
__ADS_1