Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kebun Bunga


__ADS_3

Lamunan Maira langsung buyar saat suara dokter Danar yang memanggilnya. Maira menoleh dan memandangi dokter Danar yang berjalan mendekat kearahnya. Wajah dokter itu selalu teduh dan begitu tenang, senyum nya yang hangat terkadang mampu membuat Maira merasa aneh. Apalagi jika selesai shalat seperti ini, benar kata Nindi, dokter Danar adalah malaikat berwujud manusia. Entah ada keberuntungan apa dia bisa bertemu dengan orang seperti dokter Danar. Rasa bencinya dulu saat dia dijodohkan dengan dokter Danar kini seakan telah musnah, apalagi jika melihat watak dan perlakuan dokter Danar setiap hari nya.


"Kita pergi?" ajak dokter Danar


Maira hanya diam dan beranjak dari duduknya seraya menepuk bokong nya yang sedikit berdebu. Dia langsung mengikuti langkah kaki dokter Danar yang membawa nya pergi berjalan kaki. Maira memandang nya dengan heran, kenapa tidak kearah mobil, melainkan kearah belakang masjid tua itu.


"Saya tidak tahu kamu akan menyukai tempat ini atau tidak, tapi menurut saya, tempat ini adalah tempat yang cocok untuk menenangkan diri disaat hati sedang kacau" ungkap dokter Danar yang terus membawa Maira mengitari masjid tua yang lumayan besar itu.


Maira masih diam, namun matanya memandang kesegala penjuru area masjid itu, yang semakin kebelakang, semakin begitu indah. Masjid itu berada disebuah dataran tinggi namun terdapat seperti danau yang mengelilingi nya. Cukup indah dan segar sekali. Maira bahkan tidak menyangka jika ada tempat seperti ini disudut kota Jakarta.


Disana juga terdapat beberapa aula aula kecil dan juga beberapa tempat yang berisi mahkam, mungkin mahkam mahkam keramat yang sengaja dibuat seperti rumah kecil untuk menjaga nya.


Dokter Danar membawa Maira kepinggiran danau hijau yang begitu cantik, dibeberapa sisi terdapat segerombol bunga bunga teratai yang menutupi atasnya. Namun yang membuat Maira heran adalah ada seperti kolam yang sengaja dibuat disebelah selatan danau itu. Seperti kolam renang, tapi tidak luas, dan juga air itu nampak mengalir kedanau hijau disebelahya. Air kolam itu begitu jernih, Maira dapat melihat jika ada beberapa orang yang berjongkok ditangga dan membasuh wajah mereka disana.


"Air kolam itu tercipta dari sumber mata air yang tidak pernah mengering, air nya cukup segar dan dingin dari pada air danau atau bahkan air pam yang ada disini" ungkap dokter Danar saat tahu jika mata Maira sejak tadi memandangi beberapa orang yang sedang membasuh muka disana.


"Gak pernah mengering" gumam Maira.


"Jika kamu tahu silsilah tentang air zam zam yang ada dimekkah, maka air disini bisa diibaratkan seperti itu. Mata air disini juga mempunyai sejarah tersendiri. Tidak banyak yang tahu, tapi berlebihan jika menganggapnya sama seperti air zam zam, hanya saja dari cerita turun temurun penjaga mesjid ini, dulu ada seorang wanita sholehah yang sedang hamil datang ketempat ini. Dia kehausan, tapi pada waktu itu tempat ini tidak ada sumber mata air sedikitpun. Hanya ada danau hijau yang dulu sangat tidak terawat, air nya masih bercampur dengan ganggang dan benalu yang membuat warna nya menjadi keruh. Namun wanita itu tidak memperdulikan nya, dia percaya jika apa yang sudah tercipta, semua adalah atas kehendak Allah SWT." ungkap dokter Danar.


"Lalu?" tanya Maira yang sedikit banyak nya juga mulai penasaran


"Bukan hanya meminum airnya, melainkan dia juga berwudhu dengan air itu. Dan air dari cipratan dia berwudhu itu mengalir ketempat disebelahnya, air itu tidak pernah lagi mengering, malah semakin lama semakin banyak karena dia membentuk sebuah mata air hingga saat ini" jawab dokter Danar.


Maira terdiam sejenak memandang kolam itu, lalu kembali memandang dokter Danar yang malah lebih senang memandangi danau hijau itu.


"Dokter percaya cerita itu?" tanya Maira


Dokter Danar tersenyum dan menghela nafasnya sejenak.


"Saya hanya percaya jika takdir Allah memang benar. Dan jika air ini memang terjadi karena itu, maka bukankah itu suatu kuasa yang Dia tunjukkan agar kita bisa selalu mengingatnya walau bagaimanapun keadaan kita" jawab dokter Danar.


Maira hanya mengendikkan bahunya saja


"Sama seperti pertemuan kita, tidak ada yang bisa menolak, baik kamu ataupun saya. Siapapun yang masuk kedalam kehidupan kamu, semua sudah di atur oleh Nya. Tidak ada yang bisa menghalangi itu meski bagaimana pun kamu menghindar" ucapan dokter Danar membuat Maira tertegun.

__ADS_1


"Apa dokter tidak pernah menyesal menikah dengan saya?" tanya Maira tiba tiba setelah beberapa saat dia terdiam.


"Tidak" jawab dokter Danar tanpa berfikir.


"Bukankah jika boleh memilih dokter bisa mendapatkan seorang gadis yang lebih baik dari saya? Dokter begitu baik, dokter tahu tentang agama. Tapi dokter malah menerima saya menjadi istri dokter" ungkap Maira.


Dokter Danar langsung tersenyum mendengar Maira berkata seperti itu.


"Saya memang sudah memilih, dan pilihan saya memang jatuh pada kamu Maira" jawab dokter Danar.


Maira langsung memandang dokter Danar dengan lekat.


"Menikah adalah sesuatu yang tidak bisa dipermainkan. Saya hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup saya. Dan ketika almarhum ayah meminta saya menikahi kamu, saya sudah memikirkan semua nya. Memilih menolak atau menerima kamu" ucap dokter Danar.


"Lalu kenapa dokter tidak menolak, bahkan dokter tidak tahu seperti apa nakal nya saya, dokter tidak tahu seperti apa calon istri dokter sendiri. Bukankah menikah harus saling mengenal dulu?" tanya Maira langsung. Namun dokter Danar malah tersenyum dengan wajah teduh nya.


"Saya sudah mengenal kamu sejak dulu, kamu saja yang tidak mengenal saya" jawab dokter Danar.


"Maksud dokter apa?" tanya Maira begitu bingung. Apa pertemuan mereka selama sebulan itu yang dokter Danar maksud? Tidak mungkin kan, lagipula saat itu mereka bertemu hanya beberapa kali, dan itu pun karena dokter Danar yang merawat ayah Maira.


"Dokter kenapa gak dijawab sih" gerutu Maira seraya mengikuti langkah kaki dokter Danar.


"Kamu suka tempat ini?" tanya dokter Danar yang malah mengalihkan pembicaraan, membuat Maira mendengus kesal


"Biasa aja" jawab Maira begitu kesal.


Dokter Danar langsung menghentikan langkah nya dengan tiba tiba dan berbalik arah memandang Maira, namun karena Maira yang tidak memandang kedepan dia malah menabrak dada bidang dokter Danar.


Maira begitu terkejut, dia bahkan hampir terpental karena cukup cepat dia berjalan namun malah menabrak. Dokter Danar dengan sigap meraih lengan Maira saat gadis itu hampir saja jatuh diatas bebatuan yang ada disana.


"Dokter kenapa berhenti gak bilang bilang sih" seru Maira begitu kesal seraya melepaskan tangan dokter Danar dan mengusap kening nya yang sakit.


Dokter Danar tertawa lucu melihat wajah kesal Maira, dia juga mengusap sekilas kening itu


"Kamu jalan gak liat liat kedepan" ucap dokter Danar.

__ADS_1


Maira langsung mendengus kesal


"Gimana mau lihat, jalan nya berbatu gini, kalau saya kesandung gimana" tanya Maira


"Ya palingan kamu jatuh" jawab dokter Danar santai.


Sungguh, rasanya Maira ingin sekali mencakar wajah polos dokter Danar itu. Benar benar menjengkelkan.


"Ngeselin banget jadi orang" gerutu Maira.


Dokter Danar hanya tersenyum saja menanggapi nya. Namun matanya malah melirik kearah pedagang es kelapa muda yang tidak jauh dari kebun bunga itu, tepat dipelataran mesjid tua.


"Saya mau beli es kelapa disana, kamu mau ikut atau duluan kekebun itu?" tanya dokter Danar.


Maira memandang tempat es kelapa itu dan bergantian memandang kearah kebun bunga yang sedikit menanjak diatas sana.


"Langsung kesana aja deh" jawab Maira.


"Yasudah, tapi hati hati ya. Kayaknya jalanan nya nanjak dan licin, habis hujan soalnya" ujar dokter Danar.


"Iya, dokter kebiasaan deh, suka banget bikin saya kayak anak kecil" ucap Maira dengan waah cemberut nya.


"Kamu kan memang masih kecil" ucap dokter Danar seraya mengusap sekilas pucuk kepala Maira


"Yasudah, saya kesana dulu" pamit dokter Danar. Dia langsung pergi meninggalkan Maira yang lagi lagi mematung dengan perlakuan nya. Namun sedetik kemudian dia langsung menggeleng dan menghela nafas pelan.


"Ya Allah... gak tahu deh gimana. Dokter Danar atau Ervan????" gumam Maira begitu frustasi. Akhirnya setelah cukup lama berdiri ditempat itu, Maira pun mulai berjalan menuju kebun bunga itu. Dari bawah pemandangan nya tidak terlalu nampak, namun ketika hampir tiba diatas mata Maira langsung berbinar melihat cantiknya bunga yang beragam warna dan jenis itu tertanam begitu rapi.


Ada bunga dahlia, bunga aster, lavender dengan warna beragam, mawar, begonia dan masih banyak lagi. Bahkan Maira sampai tidak tahu jenis apalagi bunga yang ada disana. Dia bahkan langsung berlari ketengah tengah kebun bunga itu. Hari sedang mendung, dan tentu saja membuat bunga bunga disini begitu segar dan asri. Fikiran Maira yang sempat kalut tadi kini tenang kembali.


"Waw indah banget, Nindi sama Putri pasti seneng kalau dibawa ketempat kayak gini, nenangin banget" gumam Maira yang terus mengelilingi bunga bunga itu. Bahkan tidak jarang dia menciumi aroma bunga yang begitu menyegarkan penciuman.


"Hoaaah ini baru surga dunia" gumam nya lagi. Tanpa tahu seseorang dari kejauhan tengah memandang nya dengan senyum yang begitu teduh.


Ya, dokter Danar, bahagia sekali dia bisa melihat Maira tersenyum lepas seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2