Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Takdir Maira


__ADS_3

Langkah kaki Maira langsung terhenti saat tiba tiba didepan nya berhenti sebuah mobil bewarna putih. Maira segera menghapus air mata yang sejak tadi menetes diwajahnya. Dia mendengus nafas pelan saat tahu yang didepan nya adalah dokter Danar. Entah kenapa dokter ini bisa tahu jadwal kuliah Maira.


Maira melirik kesekitar nya, dimana sudah banyak juga mahasiswa yang pulang siang itu. Dan dari pada dokter Danar yang keluar dari dalam mobil lebih baik dia naik duluan saja.


Maira membuka pintu mobil dan langsung masuk kedalam mobil itu. Dan setelah itu dokter Danar langsung melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.


Tanpa tahu jika ternyata Putri dan Nindi memandangi kepergian Maira. Mereka juga tahu jika yang menjemput Maira adalah dokter Danar.


"Hmh gue tahu gak mudah jadi Maira. Tapi kalau modelan lakik nya kayak dokter Danar begitu, gue takut dia nyesel" gumam Putri.


Nindi langsung mengangguk setuju.


"Bener, apalagi Ervan yang kayak gak serius sama Maira. Dia kalah sama keadaan. Gak bisa tegas" ucap Nindi pula.


"Susah Nin. Dari dulu kan orang tua Ervan emang gak suka sama Maira. Maira bukan siapa siapa sedangkan Ervan pewaris tunggal keluarga nya. Jelas hubungan mereka bakalan ditentang. Apalagi Ervan kalau sama Maira kelakuan nya nakal banget. Suka bolos, dan main sampai gak tahu pulang" kata Putri.


Kini mereka seraya berjalan menuju mobil Nindi yang terparkir rapi diparkiran.


"Iya sih, walaupun mereka saling cinta, tapi ujian hubungan mereka berat. Ditambah lagi ada Erika. Gue gak yakin mereka bisa nikah" sahut Nindi.


"Memang gak mungkin lah. Apalagi Maira juga udah nikah sama dokter Danar. Udah jelas mereka memang gak jodoh" kata Putri


Nindi menghela nafasnya dengan lesu.


"Kapan coba pintu hati Maira kebuka. Sayang banget dokter ganteng gitu dianggurin. Udah jelas dia kelihatan sayang banget sama Maira" ungkap Nindi.


"Cinta buta nya sama Ervan buat dia masih galau. Berdoa aja deh semoga dia sadar" sahut Putri.


"Yah semoga. Gue bahkan gak nyangka kalau sampai sekarang dia udah nikah. Mana sama orang sesempurna dokter Danar lagi. Ya ampun, kebaikan apa coba yang udah Maira lakuin?" gumam Nindi tak habis fikir.


"Bukan karena kebaikan apa yang udah dia lakuin, tapi karena Tuhan tu masih ngasih dia kesempatan buat memperbaiki diri dengan mendatangkan sosok kayak dokter Danar" sahut Putri.


Nindi langsung terbahak mendengar nya. Dia merangkul lengan Putri menuju mobilnya.


"Terus Tuhan bakalan ngirim seseorang yang gimana ya buat kita" gumam Nindi dengan helaan nafas yang berat namun dengan wajah yang berbinar.


Dia jadi membayangkan seperti apa sosok suami nya nanti.

__ADS_1


"Gak usah kebanyakan ngayal deh Nin. Maira udah gak punya orang tua, wajar dia dapet pengganti untuk jaga dia. Nah kita, kita masih punya orang tua dan kita masih harus berjuang dulu" sahut Putri


Nindi langsung mencebikkan bibirnya dengan jengah.


"Capek banget gue. Rasanya pengen cepet nikah, biar gak mikirin pelajaran lagi. Oleng otak gue lama lama. Kalau udah nikah kan enak, cuma mikirin lakik doang" kata Nindi dengan tawa cekikikan nya.


Putri langsung menjitak kepala nya dengan kesal. membuat Nindi langsung berdecak dan mengusap dahinya.


"Gak semudah itu ogeb. Lu gak liat, banyak yang cerai diluar sana karena nikah muda. Nah elo, malah udah kepengen nikah" gerutu Putri.


Nindi langsung tersenyum getir mendengar nya.


Tiba tiba mereka dikejutkan oleh seseorang.


"Put, Nin, mana Maira?" tanya Ervan yang datang mendekat kearah mereka. Bahkan nafasnya masih terdengar tersengal karena dia berlari dari kantin tadi.


"Udah pulang" jawab Putri.


"Kok cepet banget sih. Dimana alamatnya, gue pengen kerumah nya. Dia gak pernah mau ngasih tahu gue dimana dia tinggal" ungkap Ervan.


"Dia tinggal sama sepupunya. Galak banget, kita aja gak berani. Mending gak usah mau tahu deh Lo" sahut Nindi pula.


"Lo masih bisa ketemu dia dikampus Van. Gak usah lagi cari tahu alamat dia. Lo mau Erika juga tahu dan ngelabrak dia?" ucap Putri membuat Ervan langsung terdiam.


"Udah ah, kita balik dulu" Nindi langsung menarik lengan Putri untuk masuk kedalam mobilnya. Jangan sampai mereka kelepasan bicara.


Ervan memandang kedua sahabat Maira dengan bingung. Apa salah nya sebesar itu hingga membuat dia dijauhkan dari Maira. Tidak, tidak bisa begini. Besok Ervan akan bertanya pada Maira. Dia harus membuat Maira tidak mendiamkan nya seperti ini terus menerus.


..


Sementara ditempat lain...


Maira memperhatikan sebuah Showroom mobil yang lumayan besar dan cukup ramai. Dia masih menunggu dokter Danar berbicara dengan seorang lelaki muda, mungkin itu pemilik showroom mobil ini. Apa dokter Danar ingin membeli mobil? Atau menservis mobilnya. Tapi kenapa dia mengajak Maira juga. Benar benar membosankan.


Ditambah lagi dengan semua sales dan karyawan wanita ditempat ini, semua memandang dokter Danar dengan lekat dan penuh kekaguman. Seperti tidak pernah melihat lelaki tampan saja.


Maira yang sedang duduk dikursi tunggu sudah beberapa kali menghela nafasnya. Hari ini mood nya berantakan karena ulah kedua sahabatnya. Ditambah dengan dokter Danar yang mengajak nya ketempat ini.

__ADS_1


"Maira" panggil dokter Danar tiba tiba. Namun karena Maira yang sedang melamun, dia jadi sedikit terkejut dengan panggilan lembut itu.


"Ayo" ajak nya.


"Kemana?" tanya Maira. Nadanya masih saja terdengar ketus.


"Pulang" jawab dokter Danar. Dokter Danar segera berjalan mendahului Maira.


Maira kembali menghela nafasnya, namun dia mengernyit heran saat dokter Danar malah membawa nya kemobil lain.


Mobil sport????


"Ayo" ajak dokter Danar yang membukakan pintu mobil untuk Maira.


"Mobil siapa?" tanya Maira dengan ragu.


"Mobil milik orang showroom. Mobil biasa mau saya servis. Sudah tidak enak bawaan nya. Ayo cepat" ajak dokter Danar lagi.


Maira hanya diam, dan langsung masuk kedalam mobil. Disusul oleh dokter Danar yang juga masuk kedalam mobil, duduk dengan gagah dibelakang kemudi.


Bahkan meski dia sudah masuk kedalam mobil, semua pandangan mata masih tertuju pada mereka.


"Emang boleh apa minjem mobil disini, mana mobil sport lagi?" tanya Maira tidak habis fikir.


"Boleh kok" jawab dokter Danar dengan santai nya.


"Aneh banget. Dokter ngelunjak nih. Milih nya mobil bagus. Lihat tuh semua orang liatin kita dari tadi" gerutu Maira.


Dokter Danar hanya tertawa saja dan mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang cukup terik siang itu.


"Kita pergi kesuatu tempat dulu ya" ajak dokter Danar.


"Kemana?" tanya Maira


"Ada deh, kamu pasti suka" jawab dokter Danar.


"Saya lagi gak mood" ucap Maira

__ADS_1


"Saya tahu, maka dari itu, kamu butuh sesuatu" jawab dokter Danar.


Maira hanya menggeleng dan memandang keluar jendela mobil. Membiarkan dokter Danar mengendari mobil keren itu dengan tenang.


__ADS_2