Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Permintaan Gila Maira


__ADS_3

Sebulan berlalu...


Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang lebih baik. Pertemanan yang sudah terjalin lama dan begitu erat membuat Maira, Putri dan Nindi sudah benar benar bisa saling merasakan satu sama lain.


Mereka tidak akan membiarkan salah satu diantara teman mereka ada yang terluka ataupun bersedih. Perasaan itu sama, sama sama bisa saling merasakan.


Dan begitulah yang terjadi pada beberapa waktu lalu. Disaat Maira bersedih karena perjodohan nya dengan dokter Danar dan juga nasib percintaan nya yang kandas dengan Ervan, Putri dan Nindi selalu ada untuk menemani disetiap kesedihan nya. Mereka tidak membiarkan Maira terpuruk dan bersedih sendirian.


Dan begitu pula ketika Nindi yang di hujat oleh satu kampus karena dia yang berhijrah, Putri dengan sigap memasang badan untuk membela sahabatnya. Apalagi ketika Nindi lupa ingatan dan sakit hampir sebulan, Maira dan Putri dengan begitu setia menemani Nindi hingga sembuh dan pulih kembali.


Dan kini...


Semuanya sudah kembali berjalan dengan baik. Hubungan pertemanan yang tidak akan pernah bisa tergantikan meski mereka sudah memiliki kehidupan masing masing nantinya.


Maira dan Nindi sudah kembali kekampus lagi. Maira masih ingin melanjutkan studi nya yang hanya tinggal satu tahun ini. Dan selagi dia mampu dan perutnya belum terlalu besar, Maira masih ingin menikmati hari hari nya bersama Nindi dan Putri.


Sekarang, tidak ada lagi pandangan sinis ataupun jijik dari para mahasiswi di kampus pada mereka. Semua mahasiswi itu sudah jauh berubah pada mereka. Semua nya bahkan terlihat seperti ingin dekat dengan Maira dan kedua sahabatnya. Apalagi setelah tahu tentang status Maira yang merupakan istri dari dokter Danar, mereka seakan ingin mencari muka.


Maira hanya acuh, karena sejak dulu, teman nya hanya dua. Yaitu Putri dan Nindi. Dan itu sudah cukup untuk nya.


Apalagi sampai sekarang, mereka masih sering membicarakan tentang kedekatan Nindi dan Brian. Maira tidak suka itu.


Erika sudah tidak lagi kuliah disini. Dan sampai sekarang, tidak ada yang tahu dimana kabarnya. Pertemuan terakhir mereka adalah saat Erika yang mendatanginya saat mereka pergi ke mesjid tua sebulan yang lalu. Dan sampai saat ini tidak pernah ada lagi kabar tentang gadis itu.


Sekarang, hari hari Maira jauh lebih tenang dan damai. Meski dengan status yang sudah berbeda, tapi dia juga masih bisa menikmati masa mudanya sebelum menjadi ibu.


Dokter Danar benar benar pengertian padanya. Dan Maira sangat bersyukur untuk itu.


Sedangkan Ervan, meskipun berat, tapi sepertinya dia memang sudah mulai bisa menerima kenyataan ini. Dia bahagia melihat Maira yang bahagia dengan lelaki yang jauh lebih baik dari dia. Lelaki yang bisa membimbing Maira kejalan yang lebih baik.


Ya Ervan ikut bahagia untuk itu. Bukan kah level tertinggi dalam mencintai adalah merelakan seseorang yang dia cinta untuk orang lain yang lebih dari pada dia.


Apalagi sekarang, dia sudah bisa melihat jika perut Maira sudah semakin besar. Rasanya Ervan hanya bisa tersenyum sendu dalam hati.


Maira hanya bisa menjadi pelangi dalam kehidupan nya, yang singgah dengan berbagai warna yang menghiasi hari hari nya. Namun hanya sebentar, bukan untuk waktu yang lama.


...


Saat ini Maira dan kedua sahabatnya sudah berada dikantin kampus. Mereka ingin menikmati waktu makan siang setelah shalat Dhuhur tadi. Maira ingin makan sesuatu yang berkuah dan segar, jadi Nindi dan Putri memutuskan untuk makan bakso di kantin langganan mereka dulu.


Namun saat bakso sudah tersaji dihadapan mereka, Maira malah nampak terdiam dan memandang makanan nya dengan wajah sendu dan bingung.


"Kenapa sih?" tanya Putri


"Malah dilihatin doang. Kalau dingin gak enak tahu Mai" sahut Nindi pula. Ya, sekarang dia sudah cerewet lagi, tidak seperti kemarin yang sangat berbeda.


"Aku pengen makan sambil dengerin orang nyanyi" ucap Maira dengan senyum getir nya.


Putri dan Nindi saling pandang heran.


"Heh, kamu tahu kan kalau di antara kita ini gak ada yang bisa nyanyi" ucap Putri.


Nindi langsung mengangguk dengan cepat.


"Bukan kalian kok, aku juga males dengerin suara kalian" sahut Maira dengan begitu menyebalkan.


"Jadi siapa dong, kamu mau dengerin orang ngamen gitu?" tanya Nindi pula.


Maira menggeleng, namun matanya malah melirik ke ujung sudut luar kantin dimana Ervan sedang makan siang dan berkumpul bersama teman teman nya.


"Mai jangan bilang Lo mau Ervan yang nyanyi disini" tuding Putri dengan mata yang memicing memandang Maira. Dia tahu, arah mata itu ternyata memandang pada Ervan yang sedang bersenda gurau bersama teman teman nya.


Maira tersenyum getir dan mengangguk. Lagi lagi wajah memelas dan tangan yang mengusap perutnya adalah senjata ampuh Maira yang menginginkan sesuatu.


"Maira .... gila emang nih anak" sahut Putri dengan gelengan kepala nya.


"Ini sih keinginan kamu atau anak kamu ha. Curiga deh aku" sahut Nindi pula.

__ADS_1


Mata Maira langsung berkaca kaca memandang kedua sahabatnya. Dan itu membuat Putri dan Nindi langsung menghela nafas jengah.


Jika sudah begini apa lagi yang harus mereka lakukan.


"Maira.... kamu tahu kan kalau Ervan itu udah mati matian berusaha buat ngelupain kamu. Bahkan baru akhir akhir ini aja dia keliatan ketawa dan ceria lagi kayak gitu. Kamu mau buat dia sedih lagi" tanya Nindi yang memang paling mengerti bahasa hati.


Maira semakin menahan Isak tangis nya mendengar itu. Bahkan bibir nya sudah bergetar tidak karuan saat ini.


"Tapi aku kepengen. Aku gak mau makan kalau gak dengerin dia nyanyiii... huuuuuu" ucap Maira yang bahkan dia langsung menumpahkan tangisan nya dengan cukup kuat hingga membuat beberapa orang yang ada di kantin itu langsung memandang pada mereka.


Putri langsung meringis dan memijat kepala nya dengan kelakuan Maira ini. Dia memang benar benar cengeng saat hamil. Apalagi jika tidak dituruti seperti ini.


"Duh Maii... udah dong. Kok malah nangis sih. Kita dilihatin orang loh" ucap Nindi yang langsung beranjak dan segera merangkul Maira, agar tangisan nya bisa diredam dan tidak membuat orang orang dikantin menjadi heboh.


"Aaaahhh iya iya.... diam dulu" seru Putri akhirnya.


Dan benar saja, Maira langsung terdiam meski Isak tangis itu masih terdengar.


"Gue bakal nyuruh Ervan nyanyi, tapi kalau dia mau ya" ujar Putri


Maira langsung tersenyum lebar dan mengangguk dengan cepat seraya mengusap air matanya.


"Tapi harus izin sama dokter Danar dulu" sahut Nindi pula.


Dan kali ini Maira yang nampak terdiam dan tertunduk lesu.


"Apa dia ngizinin" gumam Maira dengan sedih


"Ck, rayu pakaian tangisan Lo tadi" sahut Putri dengan ketus. Namun dia juga langsung beranjak dan berjalan keluar untuk memanggil Ervan yang memang sedang berkumpul bersama teman-teman nya dengan gitar mereka.


Mungkin karena itu yang membuat Maira ingin mendengar Ervan menyanyi.


"Telponin Nin, Ponsel aku di tas" ujar Maira


"Kebiasaan deh" sahut Nindi yang langsung mengeluarkan ponsel dari balik hijab nya, karena memang ponsel itu selalu tergantung di lehernya.


Nindi langsung memvidio call dokter Danar. Karena dokter Danar harus tahu kelakuan istrinya ini.


Lebih tepat nya berpura pura menangis.


"Kenapa sayang???" tanya dokter Danar langsung. Dan panggilan sayang itu selalu membuat Nindi beristighfar selalu.


"Maira pengen makan sambil dengerin orang nyanyi mas" rengek Maira seraya merebut ponsel dari tangan Nindi.


Dan Nindi hanya bisa pasrah saja seraya matanya yang melirik kearah luar dimana Putri masih nampak membujuk Ervan. Sepertinya lelaki itu memang keberatan, nampak dari raut wajahnya.


Maira memang ada ada saja.


"Yasudah, minta tolong Putri sama Nindi untuk Carikan ya, atau mas minta tolong Brian" ucapan dokter Danar membuat Nindi kembali menoleh pada Maira.


Maira langsung menggeleng dengan wajah sedih nya.


Ya Allah... gemas sekali Nindi melihat sahabatnya nya ini.


"Jadi gimana dong?" tanya dokter Danar lagi.


"Maira pengen dengerin Ervan yang nyanyi" ucap Maira dengan begitu manja


Namun Nindi bisa melihat jika dokter Danar nampak terdiam. Meski dia tenang, tapi sebenarnya mereka tahu, jika dokter tampan itu menaruh rasa cemburu pada Ervan. Yang jelas jelas adalah mantan kekasih Maira. Dan sekarang Maira malah meminta nya untuk bernyanyi. Memang ada ada saja.


"Mas gak boleh ya.... huuuuu" Maira kembali menangis membuat dokter Danar diseberang sana nampak terkesiap dan terlihat bingung.


"Dokter ...ya ampun. Ini Maira dari tadi udah nangis terus. Kami bingung dokter. Dilarang malah makin nangis. Gimana dong?" seru Nindi dari balik tubuh Maira


Wajah dokter Danar nampak frustasi, namun akhirnya dia menggeleng juga.


"Yasudah tidak apa apa. Tapi jangan di paksa jika dia tidak mau ya sayang" ujar dokter Danar. Suaranya masih terdengar begitu lembut.

__ADS_1


Masha Allah sekali..


"Kalau dia gak mau, Maira gak mau makan" ancam Maira.


Sungguh demi apapun, mungkin jika itu suami lain Maira sudah akan dijitak dan diseret keluar. Tapi dokter Danar hanya menghela nafas saja.


"Iya iya, coba panggil Ervan nya. Nanti mas yang minta dia untuk nyanyi buat kamu" ujar dokter Danar


"Beneran mas?" tanya Maira begitu girang.


Dokter Danar tersenyum dan mengangguk. Meski didalam hati entah bagaimana rasanya.


Maira langsung mendongak dan ingin berteriak, namun Nindi langsung membungkam mulut nya dengan kuat.


"Jangan teriak juga kali Mai. Malu... ya Allah..." keluh Nindi begitu kesal.


Dokter Danar bahkan sampai menggelengkan kepalanya disana.


"Itu udah datang orang nya. Diem" ujar Nindi.


Maira langsung menghempaskan tangan Nindi dengan kesal


"Iya.... apaan sih" sahut Maira seraya memandang Ervan yang datang bersama Putri dengan gitar ditangan nya. Wajahnya benar benar meragu, namun melihat wajah senang Maira, Ervan hanya bisa tersenyum getir.


"Mai... aku mau nyanyi demi anak kamu, tapi aku gak enak sama dokter....."


perkataan Ervan langsung terhenti saat Maira langsung menyerahkan ponsel Nindi pada Ervan.


Ervan langsung terkejut melihat wajah dokter Danar disana. Dia bahkan langsung tersenyum getir dan begitu canggung melihat itu.


Putri yang meraih ponsel Nindi dan mengarahkan pada Ervan.


"Dokter... bukan saya yang minta" ucap Ervan dengan takut. Membuat Nindi dan Putri langsung terbahak mendengar itu.


"Saya tahu, kamu bisa bantu saya penuhi keinginan Maira kan. sepertinya dia ngidam ingin dengar suara kamu" ujar dokter Danar.


"Dokter gak apa apa?" tanya Ervan dengan ragu, sebab Dokter Danar adalah suami Maira, dan dia adalah mantan kekasih Maira.


Lucu sekali jika saling membantu untuk menyenangkan hati Maira. Astaga...


"Tidak apa apa. Ini keinginan anak saya" jawab dokter Danar


"Iya baiklah, saya juga tidak ingin keponakan saya ileran" sahut Ervan dengan senyum tipisnya. Dokter Danar juga nampak tersenyum dan mengangguk.


aaahh manis sekali, Nindi bahkan sampai terharu melihat nya.


"Terimakasih, saya percaya padamu" kata dokter Danar


"Iya, dokter." sahut Ervan.


"Yeah..... dikasih " seru Maira begitu girang.


Putri langsung duduk kembali di meja nya dengan helaan nafas jengah, begitu pula dengan Nindi.


Dan setelah panggilan pada dokter Danar dimatikan, Ervan segera menarik kursi dan duduk didepan Maira.


"Lagu apa?" tanya Ervan seraya menyetel gitar nya


"Apa aja, yang penting enak" jawab Maira seraya menarik mangkuk bakso nya.


"Awas aja anak kamu mirip aku nanti" ucap Ervan


"Jangan dong, nanti dikira aku selingkuh sama kamu lagi" sahut Maira membuat Ervan langsung terkekeh kecil.


Dan akhirnya, dia sudah seperti pengamen yang sedang mencari uang recehan dikantin itu. Karena bukan hanya Maira saja yang mendengar dia bernyanyi namun semua mahasiswi yang datang kekantin siang itu.


Ervan si pangeran kampus, dengan suara nya yang merdu dan juga perawakan nya yang keren. siapa yang tidak terpikat. Bahkan mereka heran, kenapa Ervan bisa dekat dengan Maira lagi???

__ADS_1


Lagu Raim Laode dari Komang, sebab kau terlalu indah, dinyanyikan Ervan dengan merdu, hingga membuat Maira benar benar senang siang itu. Bahkan dia makan memang sambil menikmati suara merdu Ervan.


Yah, sepertinya ini cukup bagus. Berdamai dengan masa lalu.


__ADS_2