Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Doa Dan Takdir


__ADS_3

Perpisahan itu menyakitkan. Meski dia pergi dengan kebaikan, namun tetap saja, selalu ada kenangan yang tertinggal disetiap waktu nya. Kenangan manis yang selalu membawa pengharapan disetiap helaan nafas, kenangan indah yang selalu membentuk sebuah doa disetiap sepertiga malam.


Ya, harapan dan doa itu masih selalu jelas terukir dengan indah.


Seperti yang pernah seseorang itu pesankan padanya.


Nindi duduk termenung diatas sajadahnya, disepertiga malam yang kesekian kali dia terbangun dan memanjatkan segala harapan dan doa nya disini.


Meminta pengampunan, meminta kasih dan sayang dan meminta kebaikan disetiap perjalanan hidup yang akan dia lalui.


Dan tetap...


Tidak lupa satu nama selalu dia selipkan didalam doanya.


Semua memang Allah yang mengatur, tapi doa, tetap boleh di langitkan bukan....


Nindi menghela nafasnya dengan berat. Seraya dia yang mulai beranjak dari atas sajadah dan membuka mukenah nya. Melipat nya dengan rapi dan meletakkan nya kembali ditempatnya.


Nindi duduk ditepi tempat tidur nya, bukan untuk tidur, namun tiba tiba tangan nya meraih sebuah buku bersampul pink diatas meja.


Buku diary...


Garis bibir itu tertarik hingga membuat sebuah lengkung tipis yang sangat indah.


Lagi .. untuk yang kesekian kali dia membuka buku diary nya. Buku yang pernah ada ditangan Brian, seseorang yang selalu dia sebut dalam setiap doa nya.


*Assalamualaikum...


Maaf karena sudah lancang membuka buku diary ini. Bahkan dengan lancang nya aku juga sudah membaca segala isi hati kamu yang tetulis rapi didalam sini.


Bukan maksud lancang, tapi tertera namaku yang kamu ukir disetiap goresan penamu.


Dan itu berarti bukan aku saja yang lancang kan.


Wahai nona bermata indah yang telah berani menggoda ku dulu, yang telah berani mencuri perhatianku.


Lain kali tolong langitkan saja doa dan harapan mu pada Allah ya, agar setiap lantunan indah yang keluar dari mulutmu bisa sampai pada yang Maha Mendengar disana.


Aku pergi, jauh dan sangat lama.


Jika Allah mengizinkan, aku kembali untuk menjemputmu.


Jika perasaan mu memang sama seperti yang selalu kamu goreskan dalam setiap tulisan mu itu.


Maka jangan lupa langitkan semua nya pada Dia.


Agar ketika aku kembali, kita bisa bertemu bukan hanya sebatas temu.


Brian*.


Nindi tersenyum dan menutup kembali buku diary itu. Meletakan kembali dia atas meja nakasnya.


Sudah dua bulan kepergian Brian ke Newyork, dan selama dua bulan itu mereka tidak pernah saling berhubungan satu sama lain. Dia seperti menghilang ditelan bumi.


Tapi entah kenapa, hati Nindi percaya dengan setiap perkataan yang tertulis didalam buku itu. Dia percaya jika Brian pasti akan pulang untuk menjemputnya kembali.


Dan tugas nya sekarang hanyalah memperbaiki diri untuk lebih baik lagi. Lebih mendekatkan diri pada Allah SWT agar segalanya bisa dipermudah.


..


Sementara dibelahan bumi lain...


Newyork waktu setempat...


Brian baru saja menyelesaikan ibadah shalat ashar nya didalam apartemen. Namun dia masih belum beranjak dari atas sajadah, didepan nya ada Al Qur'an kecil untuk dia mengaji karena memang sore ini tidak ada lagi hal yang harus dia lakukan.


Mulut Brian nampak bergumam melantunkan dzikir, dengan bulir tasbih yang sejak tadi tidak berhenti dia gulir. Lantunan asma Allah dia sebut dengan sangat jelas dan begitu khusyuk, sangat lama hingga dia mulai merasa hatinya tenang kembali.

__ADS_1


Mata Brian terbuka seiring dengan mulutnya yang berhenti bergumam. Mengucapkan istighfar sedalam dalam nya dengan helaan nafas yang cukup tenang.


Tangannya yang masih menggenggam bulir tasbih itu ingin meraih Al Qur'an untuk disimpan kembali ke tempat nya, namun tiba tiba bibirnya malah tersenyum memandang tasbih bewarna hitam metalik itu, tasbih pemberian dari Nindi.


Ya, didalam kotak kecil itu ternyata Nindi memberinya sebuah tasbih dan juga surat. Surat yang membuat Brian tidak akan lagi menghubungi nya selama dia berada disini.


Surat kecil berisikan kata kata indah dari gadis yang tetap dia selipkan namanya pada yang Kuasa.


*Terimakasih untuk segala hal yang telah kakak lakukan selama ini.


Terimakasih karena sudah menawarkan dua pilihan itu.


Tapi maaf...


Aku lebih memilih untuk memperbaiki diri disini seraya menunggu kakak pulang.


Agar ketika kakak pulang nanti, aku sudah menjadi lebih baik, dan bisa menjadi wanita terbaik untuk mendampingi kakak kelak.


Semoga tidak akan ada yang berubah ketika kakak pulang nanti.


Nindi*


Brian tersenyum tipis dan mengusap tasbihnya.


Dua bulan berlalu, dan semua masih sama. Brian disini dua tahun, dan setelah itu dia kembali.


Jika Allah mentakdirkan mereka untuk bersama, Brian berharap jika semua akan dipermudah.


Tapi jika Nindi bukan ditakdirkan untuknya, Brian sangat berharap, gadis itu bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari dirinya.


Seseorang yang bisa menyayangi dan membimbingnya dalam kebaikan.


...


Hari ini adalah acara tujuh bulanan dirumah Maira. Mereka menggelar doa bersama dan mengundang puluhan anak yatim dan juga beberapa sanak saudara terdekat.


Nindi juga sudah ada disana sejak pagi, begitu pula dengan Putri dan Dika bersama orang tua mereka, dan juga dokter Kemala serta kedua orang tuanya.


Acara siang itu berjalan dengan khidmat dan lancar. Doa bersama untuk mengharapkan kebaikan pada Maira dan kehamilan nya. Dan juga acara untuk bisa saling berbagi.


Mama dan Ibu nampak sibuk melayani para tamu sejak tadi, dan kini mereka baru bisa duduk dengan tenang saat acara sudah selesai dan para tamu sudah pulang.


Dokter Danar dan ayahnya, juga Dika sedang mengantarkan kepulangan dokter Kemala dan kedua orang nya kedepan rumah, dan juga tamu tamu yang lain.


Sedangkan Maira duduk bersandar dilantai yang beralaskan karpet.


Dia lelah, meski hanya duduk dan memperhatikan orang orang saja sejak tadi.


"Capek banget kayak nya Mai" ucap Putri yang duduk disamping Maira seraya membawa segelas jus kiwi kesukaan nya.


Maira menerima nya dengan senang hati, karena dia memang sudah benar benar haus sekarang.


"Engap gue, padahal cuma duduk doang. Tapi ngelihat orang ramai berasa ikut capek" jawab Maira.


Dia meminum jus kiwi nya hingga tandas.


"Gak terasa Dedek utun udah tujuh bulan yakan" ucap Putri seraya mengusap perut Maira yang membesar dan terlihat buncit.


"Iya, dan gak terasa juga bulan depan kamu nikah" balas Maira dengan tawa kecil nya. Membuat Putri juga ikut tertawa.


"Aku juga gak nyangka banget Mai bakalan secepat ini, padahal baru juga tunangan, eh udah mau langsung nikah aja" jawab Putri.


"Lebih cepat lebih baik, lagian kan dengan nikah gak buat kuliah kamu terganggu. Kita paling tinggal beberapa bulan lagi udah lulus" ungkap Maira


Putri langsung mengangguk pelan


"Padahal dulu aku kira yang bakalan nikah cepat itu Nindi, tapi nyatanya malah aku" ucap Putri seraya matanya yang memandang kearah Nindi.

__ADS_1


Begitu pula dengan Maira. Nindi sedang bersama para orang tua mereka yang saat ini tengah makan nasi kuning yang tersedia.


Putri sudah selesai, sedangkan Maira, dia tetap tidak suka makan nasi.


"Rencana Allah gak ada yang tahu. Kita doakan aja yang terbaik untuk mereka" ucap Maira


Putri langsung mengangguk pelan.


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika bulan depan dia memang sudah akan menikah dan berumah tangga dengan lelaki pilihannya sendiri.


Padahal selama ini diantara kedua sahabatnya, Putri adalah orang yang paling tidak suka dekat dengan lelaki. Tapi nyatanya, malah dia duluan yang akan menikah dari pada Nindi yang terkenal centil dan nakal.


Lucu sekali memang...


"Uuuhh kenyang banget perut aku." Nindi langsung duduk disamping Maira. Bersandar disofa yang ada dibelakang nya.


"Makan aja kamu, gak takut gemuk" sindir Putri.


"Itu adalah hal yang bisa mengalihkan perhatian dari rasa rindu" jawab Nindi


Maira dan Putri langsung terbahak mendengar nya.


"Baru juga dua bulan. Kamu masih harus menunggu dua tahun lagi loh" goda Maira.


Nindi mengerucutkan bibirnya dan langsung merebahkan kepalanya dibahu Maira.


"Gak papa deh. Aku pasti bisa, aku juga masih banyak belajar untuk jadi lebih baik lagi. Biar jadi istri yang baik untuk dia nanti" ungkap Nindi.


"Gimana kalau seandainya kalian gak jodoh. Takdir Allah gak ada yang tahu Nin, coba fikirkan kemungkinan terburuknya juga" sahut Putri


Maira memandang Putri dengan kesal. Namun Putri malah menggeleng pelan. Nindi juga harus bisa realistis.


Maira yang berpacaran dengan Ervan saja bisa putus dan menikah dengan dokter Danar. Bagaimana dengan Nindi yang tidak mempunyai hubungan apapun, hanya berfokus pada keyakinan dan perkataan saja.


Nindi terlihat menghela nafasnya dalam dalam. Dia menunduk seraya mengusap tangan nya yang tidak gatal.


"Aku udah mempersiapkan hati untuk itu. Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Apalagi kami memang gak ada berhubungan sama sekali. Gak apa apa kalau gak berjodoh, mungkin Allah udah mempersiapkan yang lebih baik untuk kami kan" ungkap Nindi.


Maira langsung mengusap lengan Nindi dengan lembut, bahkan Putri langsung mendengus senyum mendengar itu.


"Serahkan semuanya sama Allah. Jodoh memang ada ditangan nya. Tapi doa juga milik kita. Biar doa tulus kamu dan takdir nya yang berperang diatas sana"


Ucapan dokter Danar langsung membuat ketiga gadis itu langsung memandang padanya.


"Huh... omongan dokter buat saya jadi baper" ucap Nindi yang langsung berpindah ke sebelah Putri. Dan membiarkan Dokter Danar duduk disamping Maira.


"Dokter Danar kan sudah berpengalaman. Buktinya doa nya menang dari pada kekasih Maira dulu" sahut Dika pula.


"Kakak tahu Ervan juga?" tanya Nindi


"Tahu dari mana?" tanya Putri pula.


Dika yang duduk disebelah dokter Danar langsung tertawa kecil.


"Tahu dong, buktinya mas Danar bisa berkata begitu. Artinya dia memang sudah berpengalaman." jawab Dika.


Maira, Putri dan Nindi langsung menoleh pada dokter Danar.


"Beneran itu?" tanya Maira


"Doa itu lebih ampuh dari pada mendekati kamu langsung, Dan ketika yakin, malah kamu sendiri yang datang kan." ungkap dokter Danar


Maira langsung mendengus senyum mendengar itu.


"Berarti gak salah kan kalau berdoa setiap malam untuk meminta hal itu?" tanya Nindi


"Tidak, kamu berhak meminta doa apa saja pada Allah. Dia maha pengasih dan maha pemberi. Hanya saja kamu juga harus selingi dengan niat yang baik untuk memperbaiki diri lagi. Semakin kamu mendekat pada Allah, maka semakin Allah akan memperbaiki hidup kamu" jawab dokter Danar.

__ADS_1


Nindi langsung tersenyum dan mengangguk


"Saya masih selalu berusaha untuk memperbaiki diri dokter" jawab Nindi.


__ADS_2