
Saat ini Maira dan kedua sahabatnya sudah berada disebuah pusat perbelanjaan terbesar dikota itu. Sudah hampir setengah jam mereka berkeliling untuk mencari barang barang yang bagus untuk mereka beli. Namun sejak tadi Maira tampak lebih banyak diam dan melamun. Fikirannya melayang pada satu sosok yang sangat tidak ingin dia fikirkan.
"Mai" panggil Nindi tiba tiba. Maira yang sedang memandang kelantai bawah gedung tampak terkesiap kaget. Dia langsung membalikkan tubuhnya dan memandang Nindi yang memperhatikan nya dengan aneh. Sedangkan Putri hanya diam dan tengah menikmati es krim ditangan nya.
"Lo kenapa sih, melamun mulu dari tadi. Mikirin apa coba?" tanya Nindi
Maira menggeleng pelan dan tersenyum tipis
"Gak ada kok, gue cuma mikirin Ervan aja. Sampai sekarang belum ada kabar itu anak, padahal selagi gue bisa keluar" jawab Maira dengan bibir yang mengerucut kesal
"Udahlah, ngapain juga difikirin, besok juga ketemu. Siang ini kita have fun aja dulu bertiga. Udah lama gak ngumpul. Yuk ah, cari sepatu" Nindi langsung merangkul pundak Maira dan Putri. Dia sangat malas melihat wajah Maira yang melamun saja, padahal niat mereka kan ingin berjalan jalan siang ini. Sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan waktu bertiga.
Maira hanya mengikuti saja. Sebenarnya bukan Ervan yang dia fikirkan, melainkan dokter Danar. Maira begitu penasaran, bersama siapa dokter Danar diresto itu tadi. Apa itu pacarnya??? Tapi bukankah dia sendiri yang bilang harus bisa menjaga sikap, tidak boleh berduaan dengan lawan jenis. Lalu yang dilakukan nya tadi apa??? Maira benar benar tidak habis fikir. Lihat saja nanti, dia tidak akan ragu lagi untuk keluar bersama Ervan.
Ketiga gadis cantik itu mengitari gedung mall dengan penuh semangat. Maira menepis perasaan penuh tanya nya tentang dokter Danar. Dia sudah bisa menikmati waktunya saat ini. Berbelanja, makan, nonton dan hal hal menyenangkan lainnya yang telah lama tidak dia rasakan.
Kebahagiaan nya bertambah dengan ulah kedua sahabatnya yang selalu saja meributkan hal hal kecil dan random, dan itu adalah salah satu hal yang sejak dulu selalu bisa menghibur hati Maira.
"Berisik deh Nin, dari tadi gombalin cowo mulu. Kayak gak punya harga diri lu" ucap Putri begitu kesal melihat kelakuan Nindi yang begitu centil. Sejak tadi saat bertemu dengan pemuda pemuda keren dia selalu saja menegur ataupun menggoda mereka, membuat Putri benar benar frustasi melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini. Untung saja cantik, jika tidak mungkin dia tidak akan pernah mau keluar bersama Nindi lagi.
"Cuma say hai doang. Itu juga sama yang cakep aja" dengus Nindi
"Perasaan semua cowo lu bilang cakep deh Nin" sahut Maira
"Iya, ni anak matanya emang minta diganti baru. Heran gue, dikampus ter Brian Brian, tapi diluar gak bisa liat cowo bening dikit" Putri begitu sewot memandang Nindi. Namun Nindi dan Maira malah terbahak melihat wajah kesalnya
"Sirik aja lu Put. Walaupun gue suka ngeliat yang bening bening diluar, tapi dihati gue cuma kak Brian seorang. Hihiii" ungkap nya tertawa geli. Dan Putri langsung menjitak kepala nya dengan kesal membuat Nindi langsung berdecak kesal
"Otak nih dibenerin" dengus Putri. Nindi hanya melengos seraya mengusap kepala nya yang sakit. Namun tiba tiba seruan Maira membuat mereka langsung menoleh pada gadis itu
"Guys, itu ulet bulu sama siapa?" tanya Maira. Dia menunjuk kesebuah toko jam tangan yang berada sedikit jauh didepan.
Putri dan Nindi langsung memandang kearah telunjuk Maira. Dan ketika seorang pemuda membalikkan tubuhnya, mata mereka seketika langsung terbelalak lebar.
"Ervan....!!!!"
...
Sementara diresto tempat dokter Danar berada. Dokter tampan itu tampak masih begitu serius menyimak dokter Kemala yang sedang melafadzkan hafalannya. Pandangan matanya yang teduh hanya menatap kearah gelas teh yang berada diatas meja, namun pendengaran nya tetap fokus pada suara merdu dokter Kemala.
Sesekali dia tampak memperbaiki bacaan bacaan yang dinilainya salah, dan dokter Kemala dengan senang hati mendengarkan nya.
Sudah tiga tahun terakhir sejak dia bekerja dirumah sakit milik orang tua dokter Kemala, dokter Danar sudah menjalin hubungan pertemanan dengan dokter muda yang baru meraih gelar dokter spesialis itu. Dokter Danar yang ramah dan dewasa membuat dokter Kemala begitu mengaguminya. Apalagi dengan kepribadian dokter Danar yang terkesan menenangkan dan begitu taat dalam beragama, membuat dokter Kemala terketuk pintu hatinya.
Dokter Kemala meminta dokter Danar untuk mengajarinya dalam segala hal tentang ibadah, dan dengan senang hati dokter Danar membimbingnya. Karena menurut dokter Danar, dokter Kemala tidak seperti wanita lain yang mendekatinya dengan menggebu.
"Alhamdulillah, hafalan kamu sudah cukup bagus. Hanya tinggal memperbaiki tajwidnya saja" ucap dokter Danar saat dokter Kemala sudah menyelesaikan hafalan nya.
"Ya, butuh waktu hampir dua bulan untuk menghafalnya" sahut dokter Kemala dengan senyum yang indah
"Itu sudah hebat. Ayah kamu pasti bangga dengan pencapaian kamu ini" ucap dokter Danar.
Dokter Kemala yang sedang meminum teh nya langsung mengangguk dan kembali tersenyum
"Ya, berkat pembimbing kebanggaan nya" jawab dokter Kemala. Kali ini dokter Danar yang tersenyum tipis. Ayah dokter Kemala memang sudah sangat dekat dengan nya, apalagi sesekali dokter Danar juga sering kerumah mereka untuk membahas tentang rumah sakit maupun bertukar pengalaman. Tapi....sepertinya, sekarang dia akan membatasi ruang lingkupnya.
__ADS_1
"Kemala" panggil dokter Danar
Dokter Kemala kembali menoleh pada dokter Danar
"Ya" sahutnya
"Mungkin ini terakhir kalinya aku menemani kamu minum teh berdua"
deg
Jantung dokter Kemala serasa berhenti sejenak mendengar penuturan dokter Danar namun tidak lama jantung itu kembali berdetak, namun terasa begitu nyeri dan sakit. Dia masih terdiam dan membiarkan suara mobil dan motor yang melintas menjadi jeda perasaan nya yang terasa terketuk kuat.
"Kenapa?" tanya dokter Kemala dengan suara yang terdengar begitu lirih. Dia memperhatikan dokter Danar dengan lekat. Namun sama sekali dokter Danar tidak ingin memandang wajahnya. Sejak masuk bekerja seminggu yang lalu dokter Danar memang sudah terasa berbeda baginya.
"Ada hal yang harus aku jaga" ucap dokter Danar begitu tenang namun cukup mampu membuat perasaan dokter Kemala yang tidak beraturan sekarang
Dokter Kemala terdiam kembali. Tangan nya meraih gelas tehnya untuk menghilangkan perasaan yang gugup.
"Apa kamu sudah menemukan seseorang yang sudah menarik perhatian mu?" tanya dokter Kemala dengan senyum yang terlihat begitu getir. Namun sebisa mungkin dia menahan ekspresi diwajahnya meski dokter Danar tetap tahu jika dokter Kemala tampak begitu kecewa.
"Aku sudah menikah!"
Gelas yang sejak tadi dipegang oleh dokter Kemala langsung terlepas, membuat airnya langsung tertumpah keatas meja. Dia memandang dokter Danar tidak percaya. Apa ini benar???
Dokter Danar tersenyum tipis dan meraih tisu yang ada didekatnya, mengusap tumpahan air yang ada diatas meja itu
"Kamu terlihat begitu terkejut" ucapan dokter Danar membuat dokter Kemala langsung terkesiap dan menghela nafasnya. Dokter Danar tidak pernah berbohong, dan apa yang dia dengar ini adalah benar. Tapi...kenapa harus sekarang???
Dia mencoba memaksakan senyum nya dan menggeleng pelan seraya didalam hati terus mengucapkan istighfar sebanyak banyak nya berharap hatinya akan tenang dan damai meski saat ini perasaan nya sungguh berkecamuk dan tidak terkendali.
"Bagaimana tidak, Danar yang aku kenal selalu terbuka padaku sejak dulu. Tapi kenapa untuk yang satu ini tidak?" tanya dokter Kemala
"Aku tidak ingin membuat mu terluka" jawab dokter Danar
Mata indah itu mengerjap perlahan, namun dapat dilihat, kerjapan nya mengandung segudang sakit yang tidak bisa dijelaskan. Bahkan sekuat mungkin dia menahan agar air tidak terbendung didalam sana
"Lalu apa bedanya dengan sekarang?" tanya dokter Kemala lagi, dan suara nya kini terdengar begitu lirih
Pandangan dokter Danar masih beralih kegelas tehnya yang memang menjadi tempat peralihan nya saat ini. Dia menarik nafasnya sejenak dengan tangan yang masih meremas tisu yang sejak tadi tidak terlepas. Sebenar nya dia tidak tega melihat wajah sedih itu, tapi semua memang harus segera diungkapkan agar dokter Kemala tidak lagi berharap padanya.
"Pernikahanku tidak direncakan, semuanya mengalir begitu saja. Bahkan terkadang aku masih merasa jika ini hanya sebuah mimpi" ungkap dokter Danar tanpa ingin memandang wajah dokter Kemala yang terlihat begitu sendu sekarang
"Kamu cuti karena itu?" tanya dokter Kemala dan dokter Danar langsung menganggukkan kepala nya
Mereka saling terdiam dengan fikiran masing masing. Hanya suara kendaraan lewat yang menjadi background keheningan mereka disiang itu.
Hati siapa yang tidak sakit mendengar orang yang dikagumi ternyata sudah memiliki jodohnya sendiri. Selama ini dokter Danar tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Hanya dokter Kemala satu satunya wanita yang dekat dengan nya. Bahkan tidak jarang orang orang menyangka jika mereka memiliki hubungan yang istimewa. Namun nyatanya, dokter Danar mempunyai pilihan sendiri.
"Apa wanita itu wanita yang seperti kamu impikan Danar?" tanya dokter Kemala kemudian
Dokter Danar tersenyum dan menggeleng. Dia langsung terbayang dengan istri kecilnya itu. Maira memang gadis yang dia mau, tapi sikapnya bukan seperti gadis yang dia impikan. Bahkan sangat jauh.
"Entahlah.. Tapi aku percaya, jika takdir Allah adalah yang terbaik" jawab dokter Danar begitu yakin
Dokter Kemala tersenyum seraya mengusap lembut gelas tehnya, menyembunyikan perasaan nya yang sudah terpatahkan sekarang
__ADS_1
"Kamu pernah bilang padaku tentang segala sesuatu yang kita inginkan, semua nya harus melibatkan Allah. Meskipun itu hal yang mustahil, tapi jika kita bersungguh sungguh, Allah pasti akan menjawab doa kita" ungkap dokter Kemala. Dan dokter Danar langsung mengangguk setuju
"Dalam setiap sujudku, aku selalu melangitkan doa, berharap seseorang yang aku dambakan bisa menjadi takdirku" helaan nafas dokter Kemala terasa begitu berat dan sesak
"Tapi kenyataan nya, jawaban yang aku dapatkan malah terasa menyakitkan"
Kini...gantian dokter Danar yang memandang wajah sendu dokter cantik itu, hanya sekilas, setelah itu dia kembali memandang gelas tehnya kembali, memandang tangan dokter Kemala yang tampak memucat menahan perasaan nya.
"Kemala....disetiap kehidupan, terkadang apa yang kita inginkan belum tentu baik dimata Allah. Tapi yang Allah berikan sudah pasti baik untuk kita" ucap dokter Danar
"Kamu gadis yang baik dan begitu lembut. Allah pasti sudah mentakdirkan seseorang yang benar benar mencintai kamu nantinya"
Dokter Kemala tersenyum tipis dan menggeleng pelan
"Mungkin saja, tapi untuk saat ini rasanya untuk mengalihkan doa masih terasa begitu sulit" jawab dokter Kemala
"Maafkan aku" ucap dokter Danar
"Kamu tidak salah, bukankah takdir sudah ada yang mengatur?"
"Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan mu Danar" ucap dokter Kemala kembali. Kali ini mata nya semakin berkaca kaca, bening kristal yang sejak tadi masih dia tahan agar tidak terjatuh
"Semoga Allah membalas setiap doa baikmu" jawab dokter Danar
"Tapi aku masih bisa menjadi teman mu seperti biasa bukan?" tanya dokter Kemala lagi
Dokter Danar langsung mengangguk dan tersenyum, senyum indah yang sudah menjadi milik orang lain.
"Tentu saja. Aku hanya tidak bisa menemani mu untuk minum teh" jawab dokter Danar. Dan tawa kecil dari bibir dokter Kemala langsung terdengar menghiasi suasana sendu siang yang mulai beranjak sore itu
"Aku mengerti. Tapi untuk yang terakhir kalinya bagaimana jika kita menyelesaikan lukisan kita digaleri?" tanya dokter Kemala
"Ah iya, aku lupa untuk yang satu itu" sahut dokter Danar
"Kita pergi sekarang" ujar dokter Kemala
"Ayo" ajak dokter Danar. Dia segera beranjak dan berjalan menuju meja kasir meninggalkan dokter Kemala yang terlihat mengusap matanya. Begitu perih, sakitnya bahkan mampu menghunus jantung nya. Namun apa yang harus dia lakukan sekarang, selain menikmati waktu terakhir bersama dokter Danar yang setelah ini tidak lagi bisa dia rasakan.
Ya, secepat itu takdir memisahkan kebersamaan mereka. Meski dia masih bisa melihat dokter Danar setiap hari, namun pasti akan terasa berbeda. Karena dia tahu bagaimana akhlak dokter idaman nya itu.
Takdir yang sangat menyakitkan untuk seseorang yang selalu berharap namun langsung terpatahkan dengan kenyataan.
......
Aku pernah berharap, berdoa dalam setiap sujudku untuk seseorang yang selalu aku dambakan kehadirannya. Berharap bisa meraih mimpi bersama, membangun asa untuk menggapai surga Nya. Namun kenyataan nya, belum aku berjuang, tapi takdir sudah harus menjatuhkan bom waktu yang menghancurkan hatiku begitu saja.
Apa cintaku salah?
Apa harapanku serakah?
Atau dosaku yang begitu melimpah?
Wahai pemilik takdir, adakah sesuatu yang lebih indah dari harapanku saat ini?
~dokter Kemala~
__ADS_1