
Nindi duduk diatas sofa diruangan dokter Danar. Sejak tadi mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan ringan yang dia bawa dari kampus.
Dia memandang Maira yang sedang membaca undangan milik Putri. Terlihat serius sekali, padahal sudah sejak tadi dia hanya memperhatikan undangan itu.
"Emangnya kita punya teman sebanyak ini ya? Aku baru tahu?" tanya Maira yang kini membaca list nama nama orang yang akan mereka undang di acara pernikahan Putri nanti nya.
"Dulu emang kita gak punya teman. Tapi sekarang kayak nya satu kampus mau jadi teman kita semua. Apalagi sejak tahu kamu istri dokter Danar. Orang nomor satu dikampus itu" ungkap Nindi.
Maira hanya berdecak jengah dan kembali bersandar disofa seraya mengusap perut nya yang terasa gatal.
"Oh iya aku juga udah undang Erika loh" ucap Nindi.
"Aku juga lupa bilang sama kamu Mai" tambah nya lagi.
"Bilang apa?" tanya Maira
"Erika sekarang udah berubah banget" ungkap Nindi
"Berubah?" tanya Maira.
Nindi mengangguk dengan cepat.
"Waktu aku dan Putri cari cilok kamu waktu itu, kami ketemu dia ditaman kota. Yang buat aku terkejut, dia udah berhijab sekarang" jawab Nindi.
"Masak sih?" tanya Maira tidak percaya. Dia duduk dengan tegak seraya meraih botol jus kiwinya.
"Sederhana banget dia sekarang Mai. Dia udah berhijab, nampak anggun dan berbeda banget, gak kayak Erika yang dulu. Awal nya aku kira cuma kebetulan aja. Tapi kemarin aku ketemu dia lagi dihalte, sama dua orang anak" ungkap Nindi lagi.
Mereka jadi membicarakan Erika sekarang.
"Dua orang anak?" gumam Maira
Nindi mengangguk
"Kayak nya mereka memang udah dekat banget. Salut banget tahu sama perubahan dia. Ternyata dia memang gak bohong untuk berubah jadi lebih baik Mai" ucap Nindi.
"Ya Alhamdulilah kan kalau kayak gituan. Berarti masalah yang menimpa kita kemarin, udah buat Erika menemukan hidayah nya" sahut Maira.
Nindi mengangguk dengan pelan.
"Kayaknya begitu. Tapi yang buat aku heran, kayak nya ada yang disembunyikan sama Erika deh" ucap Nindi. Dan perkataan nya itu membuat Maira tertegun.
"Apa?" tanya Maira
"Bukanya kemarin waktu kita jenguk papanya, Erika gak ada?" ucap Nindi.
Maira langsung mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Dan lagi, sewaktu aku tanya tentang itu, Erika terlihat menghindar Lo Mai" kata Nindi
"Mungkin dia memang gak mau ngomong kali" sahut Maira.
Namun Nindi malah menggeleng.
"Memang gak mau ngomong, tapi dia juga kayak sedih gitu. Aku juga lihat kalau sekarang Erika kurus dan gak terawat lagi. Dia pucat, layu, dan udah kayak orang penyakitan gitu" ungkap Nindi.
"Apa jangan jangan dia udah gak tinggal bareng orang tuanya lagi ya?" tanya Nindi
Maira menggeleng pelan dan kembali menyandarkan tubuhnya.
"Tuh anak kan memang udah lama banget gak kelihatan" ungkap Maira
Nindi mengangguk dengan cepat. Tapi ketika ingin membuka mulutnya lagi, ternyata dokter Danar sudah membuka pintu ruangan itu.
"Assalamualaikum" sapa dokter Danar
"Waalaikumsalam" Jawab Maira dan Nindi bersamaan.
Maira langsung menjulurkan tangan nya pada dokter Danar. Dan tentu saja dokter langsung berjalan mendekat kearah Maira. Duduk disamping Maira dan mengusap perut buncit istrinya itu.
"Lagi ngobrolin apa. Serius sekali?" tanya dokter Danar.
"Nindi lagi cerita tentang Erika. Katanya dia mau undang Erika kepesta pernikahan Putri besok" ungkap Maira.
Dokter Danar mengangguk dan tersenyum tipis.
"Enggak apa apa. Kan memang seharusnya begitu. Dimana kamu bertemu dia?" tanya dokter Danar.
Maira langsung memandang kearah dokter Danar. Tumben sekali suaminya ini bertanya orang lain. Biasanya juga tidak pernah mau tahu.
"Saya jumpa Erika waktu dihalte beberapa hari yang lalu" jawab Nindi.
"Kenapa dia tidak datang lagi ya" gumam dokter Danar.
"Kenapa memang nya?" tanya Maira. Dia memandang dokter Danar penuh curiga. Membuat dokter Danar langsung meraup wajah Maira dengan lembut. Nindi langsung tertawa melihat itu.
"Jangan begitu mandang nya. Waktu itu Erika ada datang dan memeriksakan kesehatan nya. Mas meminta dia untuk datang lagi, tapi sampai sekarang dia tidak juga muncul." jawab dokter Danar.
"Emang Erika sakit apa dokter?" tanya Nindi.
"Ginjal nya bermasalah" jawab dokter Danar.
Nindi tertegun, dia dan Maira langsung saling pandang mendengar itu.
"Bermasalah?" tanya Maira.
__ADS_1
Dokter Danar mengangguk pelan.
"Sudah lah, tidak baik membicarakan orang lain. Lebih baik sekarang mas antar kamu pulang ya. Hari sudah mulai sore " ajak dokter Danar.
"Tapi Maira masih penasaran mas" ucap Maira. Nindi juga langsung mengangguk dengan cepat. Dia jadi teringat lagi tentang Erika yang dia temui beberapa waktu lalu. Wajahnya pucat dan memang dia seperti orang sakit. Apa karena ginjal nya itu???
"Sayang... ayo" ajak dokter Danar seraya beranjak dan menjulurkan tangan nya pada Maira. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Maira. Hal itu bukan menjadi urusan mereka. Apalagi itu privasi seseorang.
Maira mendengus kesal dan langsung meraih tangan dokter Danar.
"Maira kan cuma ingin tahu mas. Begitu saja tidak dijawab" gerutu Maira.
Dokter Danar tersenyum dan mengusap kepala Maira sejenak.
"Kan sudah mas bilang ginjal nya bermasalah. Tapi dia memang tidak ada datang lagi. Mungkin saja dia berobat ditempat lain" ungkap dokter Danar.
Nindi juga langsung beranjak dari sofa seraya membereskan makanannya dengan cepat.
"Apa penyakitnya serius dokter?" tanya Nindi pula.
"Memangnya kalau serius kalian mau apa?" tanya dokter Danar.
Nindi dan Maira langsung mematung mendengar itu.
"Tidak tahu kan. Tidak baik jika ingin tahu tentang orang lain tanpa ingin membantu atau apapun. Lebih baik diam dan mendoakan yang terbaik. Sudah, itu jauh lebih baik dari pada hanya menceritakan hal yang belum tentu keadaan nya seperti apa" ungkap dokter Danar lagi.
"Kita pulang ya?" ajak dokter Danar pada Maira yang masih mematung.
Dan akhirnya, Maira dan juga Nindi hanya bisa mengangguk pasrah. Pulang bersama sama dari rumah sakit itu.
Dan tentu nya dengan perasaan yang semakin bingung dan tidak menentu.
Apalagi Nindi yang memang begitu penasaran dengan Erika. Meski baru dua kali bertemu sejak Erika menghilang, tapi Nindi sudah bisa melihat jika sepertinya Erika memang sedang tidak baik baik saja.
Bukan hanya itu, tapi sepertinya dia juga terlihat bermasalah dengan orang tuanya. Terbukti dari Erika yang tidak pernah datang mengunjungi papanya.
Tapi... dimana Erika tinggal sekarang?
Kenapa dia tidak melanjutkan kuliah lagi diluar kota?
Dan kenapa dibeberapa kali pertemuan Erika terlihat berbeda. Dia lebih kurus dengan wajahnya yang pucat, dan juga binar matanya yang mulai meredup.
Apa Erika baik baik saja?
Atau ada yang telah terjadi setelah kejadian itu?
Entahlah...
__ADS_1