
Maira benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia ketahui. Secepat inikah dia hamil? Padahal rasanya baru sebentar mereka menikah. Maira juga baru saja merasakan jadi istri yang baik dan dimanjakan oleh dokter Danar. Tapi kenyataan nya dia malah diberikan hadiah yang sungguh luar biasa.
Maira memandang dokter Danar yang duduk disamping nya, suami tampan nya ini terlihat begitu bahagia, bahkan ibu mertua Maira juga begitu.
Ya Allah... Maira benar benar senang melihat mereka bahagia.
"Kamu gak boleh stress dan lelah ya Maira" ujar dokter Kemala. Mereka baru saja melakukan USG untuk mengetahui keadaan janin yang ada diperut Maira.
"Iya dokter" jawab Maira.
"Kandungan kamu masih sangat muda, harus bisa dijaga baik baik. Ini vitamin untuk kurangi mual. Sedikit sedikit kamu harus makan supaya tidak lemas" kata dokter Kemala lagi seraya menyerahkan bungkusan obat obatan pada dokter Danar.
"Peran suami sangat dibutuhkan disini" ucap dokter Kemala seraya memandang Dokter Danar yang langsung mengangguk.
"Ya, tentu saja" jawab dokter Danar.
"Selamat ya, sebentar lagi kalian akan jadi orang tua. Tinggal menunggu delapan bulan lagi" kata dokter Kemala.
"Terimakasih dokter. Saya bener bener gak nyangka bisa hamil secepat ini" kata Maira seraya mengusap perut nya yang masih rata.
Dokter Danar tersenyum dan mengusap kepala Maira dengan lembut. Dia kelihatan begitu bahagia.
Dan kebahagiaan mereka sebenarnya membuat hati dokter Kemala merasa tercuil. Bagaimana tidak, jika dia harus melihat sendiri kebahagiaan pria yang menjadi idaman nya ini bersama istrinya. Bahkan dokter Kemala menyaksikan sendiri bagaimana dokter Danar memeluk Maira saat tahu jika Maira memang benar benar hamil.
Sakit bukan...
Sakit sekali.
Tapi apa boleh buat, dia memang sudah harus merelakan dokter Danar dan ikut bahagia melihatnya bahagia.
"Kamu juga harus segera cari pasangan Kemala, supaya cepat menyusul Danar" ujar ibu.
Dokter Kemala tersenyum dan mengangguk.
"Insha Allah Bu. Doakan saja yang terbaik ya" jawab dokter Kemala.
Dokter Danar tersenyum simpul melihat dokter Kemala. Dia tahu jika sebenarnya dokter Kemala pasti tidak baik baik saja. Tapi mau bagaimana lagi. Ini memang sudah takdir mereka.
"Jika begitu kami pamit dulu. Maira sudah boleh dibawa pulang kan" kata dokter Danar.
Dokter Kemala langsung mengangguk.
"Sudah. Bulan depan kita bertemu lagi ya Maira" ucap dokter Kemala.
"Iya dokter,. terimakasih ya" jawab Maira
Dokter Kemala tersenyum dan mengangguk.
Dan akhirnya, dokter Danar membawa Maira untuk pulang. Sepanjang jalan senyum tidak luntur diwajah mereka semua.
__ADS_1
Apalagi ibu, dia benar benar sangat bahagia. Dokter Danar adalah anak semata wayangnya, sudah jelas dia begitu bahagia akan segera dikaruniai seorang cucu dari anak nya itu. Ketakutan nya tentang hubungan Maira dan dokter Danar dulu kini sudah sirna, dan berganti dengan kabar yang begitu membahagiakan.
"Kamu jangan lelah lelah ya Mai. Kalau masih pusing atau gak enak badan jangan kuliah dulu" ujar ibu saat mereka sudah berada didalam mobil.
"Iya Bu" Jawab Maira seraya tersenyum dan terus mengusap perutnya. Dia benar benar masih tidak menyangka sudah ada buah cinta mereka didalam rahim nya saat ini. Benar benar keajaiban bagi Maira.
"Kamu juga jangan sibuk terus Danar. Kamu harus jaga istri kamu dengan baik. Jangan sampai Maira stres dan kelelahan" kini ibu Beralih pada dokter Danar.
Maira langsung tersenyum lebar melihat ibu yang begitu posesif.
"Iya Bu, Danar juga udah kurangi jadwal kerumah sakit kok" jawab dokter Danar yang masih fokus pada kemudi nya.
"Iya harus itu. Kamu gak kerja juga duit kamu udah banyak" gumam Ibu
Maira langsung melirik ibu dengan bingung. Bagaimana bisa punya uang jika tidak bekerja, ibu memang ada ada saja.
Dan beberapa saat kemudian, Maira mengernyit bingung, saat dokter Danar membawa nya kejalan yang berbeda dari jalan rumah mereka.
"Kita mau kemana mas?" tanya Maira.
"Mau pulang" jawab dokter Danar.
"Kok jalan sini" tanya Maira dengan bingung.
"Kerumah baru kita sayang. Kan mas udah janji semalam. Lagian dirumah kecil kita ibu gak bisa istirahat dengan baik" jawab dokter Danar.
Dokter Danar langsung tertawa mendengar itu.
Sedangkan Maira memandang ibu mertuanya dan juga dokter Danar dengan bingung.
Dokter Danar melirik Maira dari kaca depan.
"Kalau disana kamu gak akan capek lagi beres beres, udah ada yang bantuin. Apalagi kamu juga butuh ruang yang lebih besar" ujar dokter Danar.
"Kan sayang uang nya mas. Maira suka kok tinggal dirumah itu. Gak capek juga karena ngurus rumah kecil" jawab Maira.
Ibu langsung mendengus senyum mendengar itu.
"Kamu belum bilang sama istri kamu berarti" tanya Ibu pada dokter Danar.
"Rencana mau bilang hari ini Bu" jawab dokter Danar.
Sungguh demi apapun, Maira semakin dibuat bingung dengan ibu dan anak ini.
"Bilang apa?" tanya Maira.
"Kalau ini rumah Danar yang sebenarnya. Dia udah punya rumah sejak dulu, bahkan sebelum kalian menikah. Tapi entah kenapa anak ini malah gak mau nempati rumah nya itu" ungkap ibu.
Maira memandang dokter Danar dengan pandangan tidak percaya.
__ADS_1
Dokter Danar hanya tersenyum saja seraya membelokkan mobil nya kearah perumahan yang terbilang cukup mewah.
Mata Maira kembali terbuka lebar saat mobil berhenti dan masuk kedalam sebuah rumah mewah yang cukup besar. Bergaya modern dan sangat indah.
Rumah siapa?
Jangan bilang rumah dokter Danar.
"Ayo turun, jangan melongo begitu" perkataan ibu membuat Maira terkesiap.
"Ayo sayang" ajak dokter Danar yang ternyata telah membukakan pintu mobil untuk nya.
Maira meraih tangan dokter Danar dan langsung turun dari mobil.
Memandang dengan takjub rumah mewah yang ada dihadapan nya kini.
"Rumah siapa mas" tanya Maira lagi.
"Rumah kita" jawab dokter Danar.
"Rumah kita" gumam Maira tidak percaya. Rumah mewah yang benar benar indah ini akan menjadi rumah nya. Yang benar saja. Ini adalah rumah orang kaya sekelas pengusaha sukses. Kenapa dokter Danar bisa memiliki rumah semewah ini.
"Mas.. jangan bercanda" kata Maira lagi. Bahkan dia menahan tangan dokter Danar saat suami nya itu ingin membawa nya masuk.
"Sayang .. beneran. Ayo, lihat ibu udah nunggu" kata dokter Danar lagi seraya menunjuk ibu yang sudah menunggu mereka didepan teras.
Maira benar benar terperangah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Bahkan kakinya bergetar saat mulai masuk kedalam rumah.
"Selamat datang bu, udah lama gak datang kemari" sapa seorang wanita paruh baya yang datang tergopoh menghampiri mereka.
"Iya, baru sempat kemari. Sekalian sama Danar yang mau pindahan" jawab ibu.
"Nah gitu dong den. Jadi ini istrinya nya Aden, ya? cantik sekali. Masih muda lagi" puji wanita itu.
Maira benar benar serasa didalam mimpi.
Jadi ini nyata?
Dia tidak mimpi.
Suami nya punya rumah semewah ini???
"Ya Allah mas... Maira ... Maira pusing" ucap Maira seraya memegang kepala nya yang terasa berat kembali.
"Sayang kenapa?" tanya dokter Danar yang kembali panik melihat Maira yang pucat. Bahkan langsung terkulai lemas dan tidak sadarkan diri lagi.
"Maira" panggil mereka.
__ADS_1