
Dokter Danar menghela nafasnya dengan berat melihat Maira yang masih terpejam diatas tempat tidur. Wajah nya tidak bisa diartikan, ada raut bahagia, cemas dan juga ragu. Membuat ibu memandang nya dengan bingung.
Dokter Danar baru saja selesai memeriksa keadaan Maira. Yang bahkan belum sadar sekarang.
"Gimana?" tanya ibu yang sejak tadi memperhatikan Maira yang belum sadar.
"Nanti setelah Maira sadar, Danar mau bawa kerumah sakit Bu" jawab dokter Danar, seraya dia mengusap keringat diwajah pucat istri kecilnya itu.
"Memang nya Maira kenapa, apa fatal. Tapi ibu kok ngerasa dia kayak....." perkataan ibu langsung terhenti saat dokter Danar mengangguk dan tersenyum memandang Maira.
"Danar juga berfikiran yang sama Bu, maka nya untuk memastikan nya Danar mau bawa Maira kerumah sakit" sahut dokter Danar.
"Ya Allah... semoga saja Maira memang hamil" gumam ibu penuh harap.
Dokter Danar langsung menoleh pada ibu dan mengusap lengan ibu nya dengan lembut.
"Ibu senang kalau Maira hamil?" tanya dokter Danar.
Ibu langsung mendengus dan menampar lengan dokter Danar dengan kesal.
"Kamu ini gimana, jauh jauh ibu kemari cuma untuk cari berita ini. Kalau istri kamu belum hamil juga, ibu mau nagih janji kamu" jawab Ibu.
Dokter Danar tertawa kecil dan mengangguk.
"Danar juga berharap Maira hamil Bu, supaya bisa kasih cucu sama ibu. Tapi Danar kan bukan dokter kandungan. Jadi kita pastikan dulu ya" ucap dokter Danar.
"Tapi ciri ciri nya kan kamu pasti tahu" sahut ibu.
"Iya Bu, udah berapa hari ini Maira memang kelihatan gak sehat. Dia sering pusing dan gak mau makan. Tadi Danar periksa tubuhnya baik baik aja. Kemungkinan besar dia memang hamil, tapi kalau enggak, mungkin magh nya yang kambuh" jawab dokter Danar.
Ibu tersenyum dan menggeleng.
"Enggak, ibu yakin Maira memang hamil. Kelihatan kok" sahut ibu.
Dokter Danar hanya tersenyum dan kembali memandang Maira.
Dia juga sangat berharap Maira hamil, mempunyai keturunan yang akan semakin mengeratkan hubungan mereka. Meski dia juga ragu, apa jika hamil Maira sudah siap? Pasalnya dia masih begitu muda, dan masih kuliah juga.
Dan setelah Maira sadar, dokter Danar dan ibu langsung membawa Maira kerumah sakit.
Maira hanya diam dan menurut saja ketika suami dan ibu mertua nya membawa nya kerumah sakit. Mereka tidak bilang apapun, hanya bilang jika dia butuh diperiksa karena sempat pingsan tadi.
Meski dia bingung, tapi Maira tidak ada bertanya apapun. Kepala nya masih begitu pusing. Maira hanya berfikir jika mungkin magh nya kambuh seperti biasa. Dan dokter Danar yang selalu cemas langsung membawa nya kerumah sakit.
Bahkan didalam mobil pun Maira hanya tersandar dikursi dengan mata yang terpejam. Ibu yang duduk disebelah nya sesekali memandang pada Maira. Dokter Danar masih fokus pada kemudinya didepan.
"Masih pusing kepala kamu?" tanya ibu seraya mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tasnya.
"Iya Bu, mual juga" jawab Maira dengan mata yang masih terpejam.
Dokter Danar melirik cemas dari depan kaca mobil.
__ADS_1
"Bentar lagi sampai, tahan ya" ujar dokter Danar.
Maira hanya diam dan mengangguk pelan.
Bahkan saat ibu mengoleskan minyak kayu putih keleher dan kepala nya Maira hanya diam dan pasrah saja.
Meski didalam hati, Maira bertanya tanya, kenapa ibu mertua nya jadi baik begini?
Dan tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai dokter Danar tiba didepan lobi.
Dokter Danar langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil Maira.
"Benerin dulu jilbab nya" ujar ibu.
Dan dengan lemas Maira langsung membenarkan jilbab yang dia pakai. Hanya kerudung masuk biasa, tapi sudah cukup membuat penampilan nya terlihat berbeda.
"Mau mas gendong sayang?" tawar dokter Danar saat memapah Maira berjalan masuk.
"Jalan aja mas, masih kuat kok" jawab Maira berusaha untuk tersenyum.
Dan lagi lagi...
Semua pandangan mata langsung tertuju pada dokter Danar dan Maira, apalagi diikuti oleh ibu yang berjalan disamping Maira.
Mereka kembali patah hati melihat pemandangan langka ini. Meski sudah tahu dokter Danar telah menikah, tapi tetap saja ketika melihat dokter Danar merangkul tubuh Maira mereka semua mendadak patah hati masal.
Bahkan ada beberapa dari mereka yang terlihat uring uringan.
Dokter Danar memang tidak mengambil hati, sedangkan Maira, dia ingin protes, tapi kepala dan perutnya sungguh tidak mengizinkan.
"Kenapa sih mereka pada ngelihatin kita" tanya Maira seraya berjalan dengan begitu malas.
"Gak apa apa. Jangan diperdulikan" jawab dokter Danar.
"Maira jelek ya mas" tanya Maira seraya memandang dokter Danar yang terlihat terkejut.
Dia bahkan sampai memperhatikan wajah Maira dengan lekat. Jelek dari mana, bahkan Maira terlihat begitu cantik dimata nya saat berhijab seperti ini.
"Enggak, kamu cantik" jawab dokter Danar.
"Tapi mereka ngeliatin kita kayak begitu" kata Maira lagi. Kepala nya pusing, tapi masih bisa juga dia menggerutu. Ibu sampai heran melihat nya.
"Itu karena mereka iri melihat kamu" sahut Ibu
Maira langsung menoleh pada ibu sekilas. Dan kembali tersandar dibahu dokter Danar. Saat ini mereka sudah berada didalam lift menuju lantai atas. Dimana ruang USG tempat praktek dokter Kemala berada.
"Iri kenapa" tanya Maira.
Dia terpejam saat dokter Danar mengusap kepala nya dengan lembut.
"Ya iri, orang laki laki yang mereka suka udah punya istri" jawab ibu.
__ADS_1
Maira langsung cemberut kesal mendengar itu. Sedangkan dokter Danar malah tertawa kecil. Dia kembali menarik Maira keluar menuju ruang dokter Kemala.
"Mas gak suka mereka kan?" tanya Maira.
"Enggak, mas suka nya kamu" jawab dokter Danar.
Maira langsung tersenyum mendengar itu. Sementara ibu yang berjalan dibelakang mereka nampak mendengus gerah.
Yah, sekarang dia tahu jika mereka memang telah saling menerima satu sama lain. Hanya tinggal bagaimana mereka bisa menjaga hubungan ini.
Dokter Danar mengetuk pintu, dan ketika mendengar sahutan dari dalam. Mereka semua langsung masuk.
Dokter Kemala langsung menyambut mereka dengan senyum manis nya.
"Assalamualaikum ibu, apa kabar?" sapa dokter Kemala pada ibu. Bahkan dia terlihat mencium punggung tangan ibu dokter Danar dengan ramah.
Mereka sudah saling kenal?
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah ibu baik nak. Kamu gimana, udah lama gak ketemu" jawab ibu.
"Kemala baik bu. Ibu yang udah jarang ke Jakarta" sahut dokter Kemala seraya berjalan mendekati Maira yang sudah berbaring diatas ranjang.
"Baru kali ini sejak Danar nikah" ucap ibu.
Dokter Kemala tersenyum dan mengangguk. Dia menoleh pada Maira, dan hanya memandang sekilas pada dokter Danar.
Hatinya sudah rela, tapi nama nya juga perasaan, pasti masih merasa canggung dan tidak enak.
"Hai , Maira kan" ucap dokter Kemala
Maira tersenyum dan mengangguk.
"Wajah kamu pucat sekali, kenapa baru dibawa kemari sekarang?" tanya dokter Kemala seraya mulai memeriksa Maira.
"Aku fikir hanya pusing biasa saja" jawab dokter Danar.
"Udah telat menstruasi?" tanya dokter Kemala
"Udah telat dua Minggu dok. Tapi emang biasa gitu dari dulu. Mens saya memang gak teratur" jawab Maira seraya memandang dokter Kemala yang benar benar cantik dan begitu lembut.
Dan melirik pada suami nya yang masih fokus pada tangan dokter Kemala. Seperti nya mereka cukup dekat, hingga dokter Danar berbicara dengan begitu santai.
"Kita periksa dulu ya, ada muntah juga?" tanya dokter Kemala lagi.
"Pagi tadi bahkan pingsan karena muntah" kali ini ibu yang menyahut.
Dokter Kemala mengangguk dan meletakkan sebuah alat diperut Maira. Dokter Danar terlihat tegang menantikan hasil nya.
Begitu pula dengan ibu. Sedangkan Maira masih begitu bingung.
Namun saat dokter Kemala menerbitkan senyum nya. Dokter Danar sudah tahu jawaban yang akan dia dapatkan.
__ADS_1
"Seperti nya Danar junior akan segera launching" ucap dokter Kemala.