Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kemalangan Erika


__ADS_3

Ketika Maira sedang bahagia bersama dengan keluarga nya, maka Ervan juga begitu. Meski dia tidak merasa bahagia seperti Maira, tapi setidaknya dia sudah bisa menerima kenyataan dan takdir.


Ya, ikut bahagia melihat gadis yang pernah singgah dihati nya bahagia dengan orang lain, sudah membuat dia juga bahagia. Merelakan dan mengikhlaskan, mungkin itu lebih baik. Apalagi sebentar lagi Maira juga sudah akan melahirkan anak dari dokter Danar. Lelaki yang jauh lebih baik dari pada dia.


Anggap saja selama ini dia sedang menjaga jodoh orang. Ya dua tahun lebih berpacaran dengan Maira, dan nyatanya dia memang hanya sedang menjaga jodoh dokter Danar.


Seperti lagu yang tengah dinyanyikan oleh Ervan saat ini.


'Dia bukan jodohku' lagu yang sering dibawakan oleh penyanyi tri suak*.


"Aku titipkan.... dia. Lanjutkan perjuangan ku untuk nya. Kan ku terima dengan lapang dada. Aku bukan jodoh nya"


Lantunan merdu itu terasa begitu dalam dan dari hati. Bahkan teman teman Ervan sampai tertawa melihat Ervan yang bernyanyi.


"Dalem banget nyanyi Lo bro." sindir Ridho teman Ervan.


"Emang, lagi patah hati sih gitu" sahut Ciko pula.


"Sirik aja kalian. Bukan patah hati, cuma nyanyi doang" jawab Ervan.


Saat ini mereka sedang berada disebuah cafe resto untuk sekedar ngopi sore setelah pulang kuliah. Lebih cepat pulang kerumah membuat Ervan bosan. Jadi dia memutuskan untuk duduk disini.


cafe yang baru pertama kali dia datangi.


"Katanya disini menu nya enak, kopi nya juga pas. Cocok buat elo yang ditinggal nikah dan batal kawin" ungkap Ridho.


Ervan langsung mendengus mendengar itu. Sementara Ciko langsung terbahak melihat wajah kesal Ervan.


"Jujur banget Lo kalau ngomong" ucap Ciko yang benar benar tertawa lucu.


"Lah emang iya kan. Udah di tinggal nikah sama Maira, suami nya dokter Danar pula. Eh malah batal nikah sama Erika. Kasian banget kan" goda Ridho.


"Lo lama lama gue timpuk nih Do" sahut Ervan terlihat begitu kesal.


"Haha.... maka nya jangan serakah amat lu. Dua dua mau di embat, terakhir kagak ada yang dapet" sahut Ridho lagi.


"Bukan gak ada yang dapet, emang gue yang gak mau" sahut Ervan.


Ciko langsung mengangguk cepat.


"Iya, lagian ngapain sama Erika. Kelakuan nya jahat begitu. Males juga gue sepupuan sama dia" sahut Ciko.


"Iya sih, yaudah lah. Cari yang lain. Masak iya pangeran kampus jomblo. Malu dong" sahut Ridho lagi.


"Males gue. Kapok" jawab Ervan dengan cepat, wajah lemas nya membuat Ridho dan Ciko langsung terbahak bahak.


"Yaelah Van... wahhaha kapok. Baru juga dua, masak udah kapok. Cari yang lain biar gak galau Mulu Lo tiap hari" ujar Ridho dengan tawa besar nya. Bahkan dia tidak lagi memperhatikan para pengunjung lain yang ada disana.


"Lu ngatain gue Mulu. Emang gak sadar diri, padahal dari zigot lu juga udah jomblo" sahut Ervan.


Dan kali ini Ciko mentertawai Ridho yang terkekeh pelan.


"Ya wajar dong, gue kan gak sepemes elo, gak sekaya elo, dan gak seganteng elo. Gue ini cuma satpam elo doang yang kemana mana ngikut. Kalau gue jadi elo,.ya udah buanyak cewe gue" ungkap ungkap Ridho.


Plak


Satu tamparan langsung mendarat dipunggung Ridho.


"Itu makanya Lo jomblo dari zigot. Niat nya udah gak baik begitu" ucap Ciko


Ridho tertawa seraya mengusap bahunya.


"Emang gue sama Lo apa bedanya kunyuk" sahut Ciko.


"Bodoh emang kalian" dengus Ervan.


Ridho dan Ciko hanya terbahak saja. Dan mereka langsung terdiam saat pesanan mereka datang.


"Silahkan mas, pesanan kalian" ucap pelayan itu.


Namun ketiga pemuda itu langsung terkejut saat melihat siapa pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.


"Erika!" seru Ridho dengan cepat.


"Lo beneran Erika kan?" tanya Ciko pula, wajahnya benar benar terperangah.


Sedangkan Ervan memandang Erika dengan pandangan sinis nya.


Erika bekerja sebagai pelayan? jadi dia tidak kuliah lagi. Dan sekarang malah bekerja disini.


Dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, mereka bertiga memandangi Erika hingga membuat gadis itu nampak canggung.


Erika datang dengan menggunakan pakaian pelayan khas cafe itu, celana hitam dan juga... hijab?


Erika berhijab???


"Wow wow... gila ya, gak nyangka banget gue ngeliat elo Rik. Gak kenal gue, sumpah." sahut Ridho.


Erika hanya tersenyum tipis dan menata pesanan mereka semua di atas meja.

__ADS_1


"Udah taubat Lo sekarang" sindir Ciko pula.


Erika tidak mengindahkan omongan Ciko, namun matanya sedikit melirik kearah Ervan yang sudah melengos dan memalingkan wajahnya.


"Silahkan dinikmati" ucap Erika, dan setelah itu dia langsung membalikkan tubuhnya untuk pergi dari sana.


Namun seruan Ciko menghentikan langkah kaki Erika.


"Begitu kan bagus, kerja! bukan nya malah nyusahin hidup orang" sindir Ciko.


"Tapi gak jadi pelayan juga kali. Udah gak sanggup banget apa cari kerjaan yang lebih bagus" sindir Ridho pula.


Erika hanya diam dan menghela nafasnya sejenak, dan setelah itu dia kembali melanjutkan langkah kaki nya tanpa memperdulikan perkataan teman teman Ervan itu.


"Gila ya, gue kira dia ngilang berbulan bulan karena pindah keluar negeri atau keluar kota, tapi kenapa malah jadi pelayan cafe begini" gumam Ciko tidak habis fikir.


"Bener, mana penampilan nya berubah banget lagi. Sumpah ya, gua pangling. Dia yang selalu angkuh dan sombong, jadi begini. Astaga, apa dia frustasi karena pernah jadi napi dan batal nikah sama Ervan?" tanya Ridho pula.


Ciko langsung terbahak mendengar itu.


"Mungkin aja. Eh.. tapi perusahaan bokap nya masih jalan kan Van?" tanya Ciko pada Ervan.


Ervan yang sedang menikmati kopinya langsung mengangguk.


"Masih kok, cuma udah agak goyah aja karena kasus Erika kemarin. Apalagi bokap gue yang narik Investasi nya dari perusahaan mereka" ungkap Ervan.


Dia juga begitu terkejut melihat Erika yang seperti ini. Sangat jauh berbeda. Apa dia sedang ingin mencari muka?


"Lagian kan belum bangkrut, bokap gue juga masih terus nanam saham diperusahaan nya. Gak mungkin gak bisa nguliahin dia lagi. Gaji pelayan cafe, yaelah, jajan kita sehari doang" ungkap Ridho


Ciko langsung mengangguk setuju.


"Mungkin dia emang lagi kesambet. Lihat aja penampilan nya. Udah ngikutin Maira. Yakin deh gue dia mau cari perhatian Lo lagi. Maka nya dia juga gak pergi dari kota ini" sahut Ciko


Ervan hanya mengendikan bahunya saja. Sudah malas dia membahas gadis tidak tahu diri itu. Mereka sudah tidak lagi menjalin hubungan apapun, dan tidak akan pernah lagi.


Ervan benar benar muak, rasanya hidupnya hanya hancur karena ulah Erika.


Hubungan nya, kisah cintanya dan juga hasutan nya.


Benar benar gadis licik. Dan entah apa lagi yang ingin direncanakan Erika sekarang.


Kenapa juga dia bekerja disini. Orang tuanya tidak akan jatuh miskin hanya karena masalah kemarin kan.


...


Sementara didalam ruang ganti. Erika nampak duduk seraya mengusap air matanya. Entah kenapa perkataan kedua teman Ervan tadi begitu menyentuh hati nya. Apalagi ketika melihat tatapan sinis dari Ervan. Hati Erika benar benar sedih.


Erika masih bisa menahan, tapi melihat pandangan Ervan tadi. Dia benar benar sedih dan tidak bisa menahan perasaan nya.


Sebegitu benci kah Ervan padanya?


Jangankan untuk menegur dan tersenyum, untuk melihat pun pandangan itu sudah penuh dengan kebencian yang begitu mendalam.


Ya Allah...


Sesulit inilah untuk berubah menjadi baik. Kenapa mereka malah menghina dan menghujat nya.


Apa begini yang dirasakan Maira dan Nindi waktu itu?


Ingin berubah menjadi lebih baik, namun malah dihujat.


Erika menangis tertahan, dengan Isak tangis yang juga dia tahan.


Dosanya memang banyak. Dia sudah begitu jahat karena pernah melakukan hal hal bodoh itu. Tapi tidak bolehkan dia untuk berubah menjadi lebih baik?


Kenapa mereka malah mengecam nya. Kenapa mereka malah menambah rasa sakit dan beban di hati Erika.


Sekarang dia sendirian.


Tidak ada lagi rumah untuk dia bernaung.


Tidak ada lagi sandaran untuk dia yang sedang rapuh karena dosanya sendiri.


Hidup sendirian dikota besar ini. Salahkah dia yang bekerja disini? Ini tidak dosa kan. Erika hanya bekerja untuk bertahan hidup. Karena kini... dia sudah dibuang oleh keluarga nya.


Hanya ini yang bisa dia kerjakan. Erika butuh uang untuk menghidupi dirinya sendiri.


Dan mengingat itu, tangis Erika semakin pecah.


Masih dia ingat dimalam itu, kedua orang tuanya mengusir dia pergi dari rumah. Ditengah malam yang dingin dan sepi.


Mereka tega membuang Erika yang sedang hancur seperti ini.


-Flashback


"Lihat, semua gara gara kau. Perusahaan jika begini akan semakin bangkrut. Tidak ada yang mau melanjutkan kerja sama hanya karena mempunyai anak yang hanya bisa membuat malu seperti mu"


Tuan Jonas langsung masuk dan membanting pintu kamar Erika.

__ADS_1


Erika meringkuk takut melihat kemarahan ayahnya.


"Dasar tidak berguna. Kau memang selalu membuat malu sejak dulu. Menyesal sekali aku mempunyai anak seperti mu" bentak tuan Jonas lagi.


Dan sungguh, Erika semakin menangis begitu pilu. Kenapa ayah nya tega sekali.


"Dan karena kau juga mama dijauhi oleh teman teman mama. Mempunyai anak yang hanya seorang napi. Kau memang cuma bisa membuat malu Erika. Dan sekarang lihat, kerjaan mu hanya dirumah dan dirumah. Apa kau kira kau hanya akan tinggal makan dan tidur ha" bentak mama pula.


"Mama, papa.. aku harus apa. aku ingin kuliah, tapi kalian tidak boleh..Aku keluar, kalian juga melarang. Aku juga tidak ingin seperti ini" ungkap Erika.


Tuan Jonas semakin meradang, dia langsung menarik Erika keluar kamar dengan begitu kasar. Sedangkan mama langsung berjalan menuju lemari Erika dan meraih pakaian Erika dari dalam sana.


"Papa... sakit" keluh Erika saat tuan Jonas menarik paksa tangan nya hingga Erika berjalan dengan terseret seret.


"Diam, kau harus pergi dari rumah ini. Kau rasakan keras nya hidup diluar sana seperti apa. Jangan mau enak nya sendiri!" bentak tuan Jonas dengan begitu tega.


Membuat Erika langsung menangis dengan begitu pilu


"Aku harus kemana papa... aku takut" lirih Erika yang masih terseret mengikuti langkah tuan Jonas yang membawa nya keluar.


Diruang tamu berdiri kakak nya yang memandang Erika dengan begitu sinis.


"kakak" lirih Erika memandang kakak nya dengan wajah memelas. Namun kakak nya hanya diam dan memalingkan muka.


Dan itu sungguh kembali mengoyak hati Erika.


Bruk


"Uuhh"


Erika meringis kesakitan saat tubuhnya dihempaskan begitu saja keteras rumah. Tangisan nya semakin menjadi.


Sedih, sakit, hancur dan semuanya.


"Mulai sekarang kau bukan lagi anakku!!"


deg


"Papa..." lirih Erika sungguh begitu terkejut. Air mata semakin membanjiri wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan.


"Pergi dari sini. Dan rasakan bagaimana susahnya menghidupi diri sendiri. Kau sudah dibiarkan enak disini, tapi kau tidak berguna dan hanya membuat malu" kecam tuan Jonas


Erika terisak dan menggeleng


"Jangan tolong, aku tidak tahu mau kemana" lirih Erika dengan wajah memelasnya. Namun ayah dan kakak nya sama sekali tidak memperdulikan kesedihan nya.


"Bukan urusan ku" sahut tuan Jonas


"Itu akibat kau yang tidak bisa di andalkan. Kau bukan hanya membuat malu papa, tapi juga aku. Sejak dulu kau itu memang pembawa sial" sahut kakak Erika


Erika tertunduk pedih dan terus menangis terisak. Namun tiba tiba dia kembali terkejut saat mamanya melemparkan sebuah tas kecil dihadapan nya.


"Bawa itu dan pergi dari sini" usir mama


"Kenapa kalian tega?" tanya Erika begitu hancur


"Pergi sekarang" teriak tuan Jonas


"Tidak bisakah kalian ingat apa saja yang sudah aku lakukan. Dulu aku hampir mati karena menolong kakak, dan sekarang Aku juga begini karena kalian!!!" teriak Erika dengan tangisan pilu nya.


Plak


Satu tamparan langsung mendarat diwajah Erika.


"Tuan Jonas memandang nya dengan begitu geram. Kau mengungkit tentang ginjal itu ha. Jika begitu anggap saja itu adalah bayaran atas semua harta yang sudah kau nikmati selama ini!" teriak nya lagi.


"Papa... aku juga anak papa kan" lirih Erika dengan tangan yang memegang wajahnya yang terasa sakit


"Aku tidak mempunyai anak seperti mu"


-Flashback off


Dan malam itu, Erika keluar dari rumah yang menjadi tempatnya berlindung. Keluar dengan sejuta penghinaan dan kesakitan.


Dia juga anak mereka, tapi mereka begitu tega membuang nya begitu saja.


Erika seperti ini juga karena mereka. Karena ingin mendapatkan kasih sayang mereka. Rela melakukan apapun hanya karena ingin dianggap sebagai anak.


Tapi kenyataan nya, saat dia melakukan kesalahan yang tidak disengaja, malah mereka membuang nya begitu saja.


Membiarkan Erika sendirian ditengah rasa sakit yang benar benar seakan ingin membunuhnya.


Ya Allah...


Kenapa semua sesakit ini.


Inikah karma yang harus dia dapatkan ? lalu tidak bisakah dia untuk bertaubat.


Kenapa sakit sekali....

__ADS_1


Bukan hanya teman temannya, tapi juga orang tuanya.


Mereka semua membuang nya seperti sampah tidak berguna. Setelah semua yang Erika lakukan dulunya.


__ADS_2