
Dua hari telah berlalu....
Sore ini Maira baru saja selesai shalat Maghrib. Dia shalat Maghrib sendirian, dokter Danar belum pulang dari rumah sakit.
Maira sendirian dirumah hari ini , dia belum masuk kuliah karena insiden didapur dua hari yang lalu. Mungkin besok dia baru masuk kuliah. Kedua sahabat Maira juga begitu, apalagi dengan luka mereka masing masing. Meski tidak parah, namun cukup membuat mereka malas masuk kuliah, dan lebih memilih dirumah masing masing untuk istirahat.
Maira baru saja menyelesaikan salam, dia ingin bangkit dari atas sajadah. Namun tiba tiba matanya malah memandang ke arah Al Qur'an milik dokter Danar yang terletak diatas lemari kecil, tepat diatas sajadah dan tasbih nya.
Selagi menunggu dokter Danar, lebih baik dia membuka Al Qur'an itu saja kan.
Maira langsung beranjak dan meraih Al Qur'an itu, dan kembali duduk diatas sajadah.
Tangan nya mulai membuka ayat suci itu dengan lembut.
Entah kenapa, hatinya menjadi sendu dan sedih melihat setiap tulisan rangkai yang terukir dengan indah disana.
Maira merasa sedih, karena entah kapan terakhir kali dia menyentuh benda ini.
Mungkin saat dia bersekolah dasar dulu.
Ya Allah...
Berdosa sekali memang dia.
"Bahkan gue udah gak tahu lagi gimana baca yang bener" gumam Maira dengan mata yang berkaca kaca.
Maira menarik nafasnya dalam dalam. Rasanya benar benar malu. Dia mendapat seseorang yang begitu sempurna seperti dokter Danar. Tapi dia sendiri seperti ini.
Rajin shalat saja ketika dia sudah menikah dengan dokter Danar. Dan mengaji, dia sudah banyak yang lupa.
Bagaimana menjadi istri yang baik jika seperti ini. Bagaimana dia bisa dibanggakan jika tidak satupun ilmu agama yang dia miliki. Namun dengan baik nya dokter Danar malah selalu membela nya.
Maira malu sekali...
Bisakah dia menjadi istri yang baik untuk suami nya itu?
Bisakah dia menjadi bidadari surga nya dokter Danar???
tok tok tok
Suara ketukan pintu rumah membuat Maira terkesiap.
Dokter Danar sudah pulang, Maira segera beranjak dan meletakkan kembali Al Qur'an diatas lemari. Dia langsung berlari keluar kamar untuk membukakan pintu.
Dan ketika pintu terbuka, wajah tampan dokter Danar yang teduh langsung membuat nya tersenyum senang.
"Assalamualaikum sayang" ucap dokter Danar seraya menjulurkan tangan nya. Senyum nya tak pernah pudar, apalagi ketika melihat Maira yang begitu cantik dengan balutan mukenah pink nya.
"Waalaikumsalam mas" jawab Maira seraya mencium punggung tangan dokter Danar. Ya, sekarang mencium nya dengan lembut. Jika dulu, jangan kan untuk mencium, Maira bahkan hanya menempelkan saja tangan dokter Danar dipelipisnya. Kurang ajar sekali memang.
"Cantik sekali istri mas" puji dokter Danar seraya mengusap kepala Maira
Maira langsung tersenyum simpul mendengar itu. Seperti anak anak saja yang begitu bahagia mendapat pujian dari orang tersayang.
"Mas kenapa lama pulang?" tanya Maira seraya meraih tas dokter Danar dan berjalan beriringan kedalam rumah.
"Mas beli makanan dulu tadi, nih lihat. Ayam penyet kesukaan kamu" jawab dokter Danar seraya mengangkat bungkusan ditangan nya.
"Baik banget, maaf ya. Maira masih belum bisa masak" ucap Maira begitu merasa bersalah.
Dokter Danar tersenyum dan menggeleng pelan.
"Enggak apa apa. Kamu gak bisa masak kita masih bisa beli" jawab dokter Danar.
"Udah selesai shalat kan?" tanya dokter Danar
__ADS_1
"Udah kok" jawab Maira
"Yauda, mas mau mandi dulu. Nanti kita makan sama sama" ujar dokter Danar.
"Iya" jawab Maira
Mereka masuk kedalam kamar. Maira melepaskan mukenah nya dan kembali kedapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Sedangkan dokter Danar langsung mandi.
Maira tersenyum saat mengingat kelakuan nya dua hari yang lalu. Hal yang paling memalukan dalam hidupnya. Bisa bisanya niat memasak namun malah membuat heboh semua orang.
Memalukan...
Tidak lama kemudian...
Hanya lima belas menit, dokter Danar sudah selesai mandi.
Mereka langsung makan berdua dengan sesekali diselingi obrolan ringan.
"Jadi Brian itu adik dokter Kemala?" tanya Maira
"Iya" jawab dokter Danar
"Kok bisa deket sama mas?" tanya Maira. Mereka baru saja selesai makan.
"Dia temenan sama Dika, menejer di showroom. Sering juga datang cuma untuk tanya tanya" jawab dokter Danar lagi.
"Tanya tanya apa?" tanya Maira dengan pandangan curiga
Dokter Danar terkekeh melihat wajah curiga itu.
"Tanya tanya hal yang baik sayang. Bukan yang aneh aneh" jawab dokter Danar.
Maira hanya mendengus dan menopang dagu seraya memandang dokter Danar yang sedang menikmati teh nya.
"Udah gak sakit lagi tangan nya?" tanya dokter Danar seraya memandang lengan Maira
"Udah kering kok, udah gak sakit. Sebenernya hari ini mau masuk, tapi males, karena Putri juga baru masuk besok. Jadi yaudah la, bareng aja" jawab Maira.
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk.
"Kita shalat yuk, udah isya" ajak dokter Danar.
"Iya, Maira beresin ini dulu, biar nanti sekalian tidur" jawab Maira yang langsung membereskan meja makan nya. Sementara dokter Danar masuk duluan kedalam kamar.
Setelah membersihkan meja makan, Maira langsung masuk kedalam kamar. Dan ternyata dokter Danar sudah duduk disajadah.
Maira tersenyum memandang itu, pemandangan yang selalu membuat hatinya selalu tenang. Dokter Danar dengan segala keindahan nya.
Maira langsung kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu, dan setelah itu dia langsung menyusul suami nya. Semua peralatan shalat Maira sudah tersedia disana.
Mereka shalat dengan begitu khusyuk. Suara merdu dokter Danar selalu mampu membuat hati Maira bergetar.
Hingga saat selesai shalat pun, dokter Danar masih mengajak Maira untuk berdoa bersama. Hal yang selalu Maira suka adalah mendengar suara dokter Danar membaca doa. Meski tidak mengerti, namun Maira tahu, jika dokter Danar pasti mendoakan hal baik untuk mereka.
Maira mengusap wajah nya, saat dokter Danar selesai berdoa.
Dokter Danar membalik tubuhnya dan memandang Maira dengan teduh.
"Maira" panggil nya dengan lembut.
Maira hanya memandang dokter Danar dengan kerjapan lembut matanya.
"Sudah bisa menerima saya sebagai suami?" pertanyaan dokter Danar membuat Maira bingung.
"Sudah siap untuk melakukan kewajiban kamu sebagai istri?" tanya dokter Danar lagi
__ADS_1
deg
deg
deg
jantung Maira tiba tiba berdetak dengan cepat. Kewajiban sebagai istri??? bukankah itu???
Ya ampun ya ampun...
Wajah Maira langsung merona mendengar perkataan dokter Danar.
Bahkan dia langsung memalingkan wajahnya yang memanas.
Astaga ... otak nya jadi traveling.
Tapi ... ini memang sudah harus dia lakukan bukan. Saat dia menerima dokter Danar, maka dia sudah harus siap menyerahkan dirinya.
Dokter Danar memandang Maira dengan senyum teduh nya, apalagi melihat wajah Maira yang merona, sangat menggemaskan.
"Kamu belum....."
"Maira siap mas" jawab Maira dengan cepat. Namun dia kembali memalingkan wajah nya karena malu.
Dokter Danar kembali tersenyum dan mengangguk.
"Kamu yakin kamu sudah ikhlas?" tanya dokter Danar
Maira memandang dokter, dia sudah yakin dan dia iklhas. Dokter Danar adalah pemilik dirinya. Apalagi yang bisa Maira beri selain ini. Maira juga ingin menjadi yang terbaik untuk dokter Danar.
"Maira sudah yakin mas. Seharusnya ini sudah dilakukan sejak dulu, tapi Maira malah jahat sama mas" ucap Maira begitu merasa bersalah.
"Tidak apa apa, semua butuh proses sayang" jawab dokter Danar.
Maira tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu, kita shalat dulu ya" ajak dokter Danar
"Shalat?" tanya Maira dengan bingung.
"Ya, shalat dua rakaat untuk memulai semua nya. Agar rumah tangga kita selalu dilimpahkan kebaikan dan dijauhkan dari hal yang tidak baik" jawab dokter Danar.
Maira langsung mengangguk dan tersenyum.
Dan akhirnya, mereka langsung melakukan shalat sunahnya. Hal yang membuat hati mereka sama sama tenang untuk memulai semua.
Hingga tiba saatnya, jantung Maira benar benar bergemuruh, apalagi saat dokter Danar sudah membawanya ketempat tidur dan mematikan lampu kamar, hingga hanya menyalakan lampu tidur saja.
Suasana yang temaram membuat suasana menjadi tegang, namun cukup membuat mereka terasa tidak sabar.
"Assalamualaikum..... sayang" bisik dokter Dnaer
"Walaaikumussalam mas" jawab Maira dengan begitu lembut.
Dokter Danar tersenyum, dia membisikan doa sebelum melakukan hubungan suami istri seraya memandang Maira dengan lekat.
Jantung Maira mulai berdebar tidak menentu, apalagi saat dokter Danar mulai mengungkung tubuhnya dan menutup tubuh mereka dengan selimut.
Malam ini...
Mereka melakukan hubungan yang seharus nya sudah dilakukan sejak dulu. Namun baru kali ini mereka yakin dengan perasaan masing masing. Malam dimana bersatunya jiwa dan raga mereka.
Ini adalah yang pertama untuk mereka masing masing, tentu mereka sangat menikmati malam itu. Semoga Allah selalu meridhoi rumah tangga mereka.
Rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah.
__ADS_1