
Pohon rindang dipinggiran taman menjadi saksi bisu bagaimana Maira menangis memeluk Ervan. Rasa cinta dan rindunya benar benar tidak bisa dibendung lagi. Selama ini hanya Ervan yang bisa meluluhkan hati nya selain kedua sahabat Maira.
Lama mereka berada disana, saling berbagi keluh kesah dan rasa rindu yang selama sebulan ini mengganggu fikiran mereka. Maira menceritakan kegundahan hatinya saat berjauhan dengan Ervan, namun dia tidak memberitahu masalah yang sebenarnya terjadi pada lelaki ini.
"Kenapa kamu gak ngabari aku Mai, aku bisa menemani kamu disana" ungkap Ervan saat Maira memberitahunya jika dia kembali kekotanya karena ayah nya yang meninggal
"Aku gak mau ngerepotin kamu Van" jawab Maira dengan wajah yang tertunduk. Dia tidak mungkin memberitahu Ervan jika dia sudah menikah. Apa jadinya nanti
"Sayang, aku gak ngerasa direpotin. Kamu tahukan aku pasti bakal ngeluangin waktu aku buat kamu" ucap Ervan
"Aku gak mungkin ajak kamu bolos kuliah kayak biasa. Ayah kamu bisa marah lagi nanti. Apalagi kamu udah mulai bantu bantu di perusahaan" kata Maira masih dengan pandangan tertunduk
Ervan terlihat menghela nafasnya dengan berat, semua perkataan Maira memang benar. Akhir akhir ini dia memang sudah harus belajar untuk mengurus perusahaan ayahnya. Terlahir dari keluarga konglomerat pemilik perusahaan retail terbesar dikota itu membuat Ervan tidak bisa banyak bermain seperti dulu. Tapi jika untuk Maira, dia memang sering membohongi ayahnya dengan berbagai alasan. Dan karena itu ayah Ervan tidak menyukai Maira hingga saat ini.
"Maira, untuk kamu semua bisa aku nomor duakan. Aku bener bener gak bisa jauh dari kamu" kata Ervan lagi. Cinta nya untuk Maira sudah begitu dalam, hingga terkadang membuat nya tidak memakai logika lagi.
"Maafin aku" ucap Maira memandang Ervan.
Ervan tersenyum dan meraih tangan Maira, dia menggenggam tangan Maira dengan lembut. Menatap mata Maira yang terlihat berkaca kaca lagi saat ini.
"Aku tahu, masih ada hal yang kamu sembunyiin dari aku kan. Aku gak yakin kalau cuma masalah ayah kamu yang udah gak ada. Pasti ada hal yang lainnya, kamu gak pernah kayak gini Mai" ucap Ervan
Maira menarik nafasnya sejenak dan kembali tertunduk
"Maaf, tapi aku belum siap buat ngomong sama kamu. Aku harap kamu bisa ngerti van" pinta Maira
"Gak apa apa,. Aku masih bisa nunggu sampai kamu siap buat ceritain semua nya. Yang terpenting kamu jangan menghilang lagi" pinta Ervan begitu dalam. Maira langsung mengangguk dan tersenyum tipis
Untuk saat ini Maira ingin menikmati waktunya yang sudah lama terbuang. Melepaskan segala rindu dan rasa gundah nya.
Mereka lama berada ditaman itu, bahkan Maira melupakan tentang seseorang yang kini telah menjadi suaminya.
Mereka menghabiskan waktu hingga sore hari disana.
Jalan berdua, makan, dan berkeliling kota dan menikmati waktu seperti yang biasa mereka lakukan.
Maira ingin membuang semua beban nya saat ini, meskipun hanya sebentar, tapi sudah cukup mampu membuat hatinya merasa lebih baik.
.....,..
Dirumah sakit...
Seorang dokter wanita berhijab dan terlihat masih muda tampak berjalan menuju kesebuah ruangan yang bertuliskan nama dr. Danar Pramudya Pangestu, SpPD-KHOM.
Dokter berhijab itu terlihat begitu anggun dan penuh dengan senyuman. Tangan nya terulur mengetuk pintu, hingga sebuah suara yang menyuruhnya masuk membuatnya langsung membuka pintu.
Dapat dia lihat dokter Danar terlihat sedang membereskan peralatan dan keperluan nya diatas meja. Hari ini dokter Danar tidak begitu sibuk karena tidak ada pasien yang serius yang harus ditanganinya, sehingga dia bisa pulang lebih awal.
"Assalammualaikum dokter" sapa dokter berhijab dengan name tag bertulikan dr. Kemala Sheraline Sp.A(K).
"Waalaikumsalam" jawab dokter Danar. Dia langsung menoleh pada dokter Kemala yang duduk dihadapan nya
__ADS_1
"Sudah mau pulang?" tanya dokter Kemala
Dokter Danar langsung mengangguk
"Ya, tidak ada pasien lagi. Dan memang sudah jam nya untuk pulang" jawab dokter Danar dengan senyum teduh nya membuat dokter Kemala juga ikut tersenyum karena nya
"Setelah cuti satu bulan, apa kamu tidak ingin mengajakku minum teh?" tanya dokter Kemala. Dokter Danar yang sedang memasukkan barang barang nya kedalam tas langsung menoleh kearah dokter Kemala sejenak, namun kembali memasukkan dokumen terakhirnya.
"Apa belum ada yang seseorang yang menemanimu minum teh hingga saat ini?" tanya dokter Danar pula
"Ada, tapi sayang nya mereka tidak bisa membuat lelahku berkurang" jawab dokter Kemala. Dokter Danar langsung tersenyum memandang dokter Kemala. Dokter muda yang sudah menjadi teman dekatnya sejak beberapa tahun terakhir ini, sekaligus anak pemilik dari rumah sakit tempatnya bekerja.
"Sudah sering aku bilang, lelahmu tidak akan pernah bisa hilang jika kamu hanya mengharapkan bantuan dari orang lain" jawab dokter Danar
"Tapi kamu bisa" sahut dokter Kemala langsung
"Itu karena kamu menjadikan ku seperti pelayan mu" ucap dokter Danar membuat dokter Kemala langsung tertawa kecil mendengar nya.
"Itukan menurutmu. Kamu yang mau menjadi pelayanku" sahut dokter Kemala
"Sore ini aku tidak bisa menemani kamu minum teh. Mungkin lain waktu" ujar dokter Danar
"Apa kamu begitu sibuk?" tanya dokter Kemala, wajah cantiknya tampak sedikit kecewa
"Tidak juga, tapi ada yang harus aku urus dirumah" jawab dokter Danar masih dengan senyum teduh nya, membuat dokter Kemala selalu tidak bisa berpaling dari keindahan itu.
"Baiklah, aku akan menagih janjimu weekend nanti. Ingat kamu juga masih punya hutang untuk menyimak hafalanku" ungkap dokter Kemala
"Aku kira sebulan menghilang kamu sudah melupakan nya" kata dokter Kemala. Dokter Danar menggeleng pelan dan tertawa kecil mendengar itu. Janji yang sudah dia buat mana mungkin dia lupakan begitu saja
"Tidak, aku tidak pernah melupakan janjiku. Aku akan mendengarkan nya nanti. Tunggu aku ditempat biasa minggu besok" ucap dokter Danar
"Baiklah" sahut dokter Kemala
"Jika begitu, apa aku boleh pulang?" tanya dokter Danar
"Hmm... pulang lah. Aku larang juga kamu tetap akan pergi" sahut dokter Kemala membuat dokter Danar lagi lagi langsung tertawa kecil
"Baiklah, Assalammualaikum" ucap dokter Danar. Dia langsung beranjak dari kursinya dan meninggalkan dokter Kemala yang masih duduk ditempatnya
"Walaikumsalam" jawab dokter Kemala
Dokter cantik nan anggun itu masih menatap pintu yang terbuka dengan pandangan nanar. Tidak tahu apa yang dirasakan nya. Namun yang jelas, sudut hatinya terasa berdenyut ngilu, namun juga ada rasa bahagia yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Kamu selalu membiarkan aku berada diruangan mu sendiri seperti ini. Seandainya Allah manakdirkan kita bersama, aku pasti tidak akan merasa resah seperti ini, Danar" gumam nya
....
Maira baru tiba dirumahnya saat hari hampir maghrib. Dia mendorong pagar rumahnya dengan sedikit tenaga, kemudian kembali lagi untuk memasukkan motornya kedalam garasi rumah.
Dapat dia lihat mobil dokter Danar sudah terparkir rapi disana. Dan Maira tidak perduli, meski hatinya lagi lagi merasa resah jika mengingat tentang pernikahan nya ini.
__ADS_1
Dia masuk kedalam rumah dengan langkah lesu dan lelah. Seharian ini benar benar membuat energinya terkuras habis. Dia bahagia bisa kembali lagi dengan Ervan, tapi entah kenapa, kebahagiaan nya tidak terasa sampai kehati. Maira masih saja merasakan gelisah tidak menentu, padahal sudah berulang kali dia meyakinkan hatinya jika semua pasti akan baik baik saja setelah tiga bulan ini.
Langkah kaki Maira langsung terhenti saat tiba tiba pintu terbuka dan menampakkan wajah teduh dokter Danar yang menyambutnya.
"Baru pulang?" sapa dokter Danar dengan senyum teduh nya seperti biasa
Maira hanya memandang nya sekilas dan mengangguk datar. Tidak ada sepatah katapun yang dia ucapkan. Maira langsung melengos masuk dan melewati dokter Danar yang masih terdaim diambang pintu rumah mereka. Dia memandang punggung Maira yang menghilang dan masuk kedalam kamar dengan pandangan nanar dan helaan nafas yang lumayan panjang.
Didalam kamar Maira langsung menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Rasa lelah membuatnya ingin tidur saja sekarang. Bahkan matanya sudah terpejam menikmati aroma harum tempat tidurnya yang entah sejak kapan bisa seharum dan sebersih ini. Padahal selama ini Maira tidak terlalu memperhatikan tentang tempat tidurnya. Asal sudah melipat selimut, maka sudah beres lah semua.
Suara pintu terdengar terbuka namun Maira masih enggan untuk membuka matanya. Tubuh nya masih enak berbaring dengan posisi tubuh yang menelungkup dan menyembunyikan wajah nya dibalik bantal.
"Mandilah terlebih dahulu agar rasa lelah kamu hilang" ujar dokter Danar. Namun Maira hanya diam saja
"Maira" panggir dokter Danar dengan nada yang begitu lembut
Bukan nya menjawab, Maira malah menutup kepala nya dengan bantal. Membuat dokter Danar langsung tersenyum dan geleng geleng kepala melihat kelakuan istri kecilnya ini. Dokter Danar berjalan mendekat kearah Maira dan langsung menarik bantal dari nya, membuat Maira menggeram kesal dan langsung berbalik badan dan duduk disisi ranjang. Dia memandang dokter Danar dengan begitu kesal. Apa dokter ini tidak tahu jika dia sedang menahan kesal dan amarahnya sekarang.
Gara gara dia Maira menjadi serba salah dengan Ervan. Rasanya Maira ingin sekali menarik kuat rambut dokter tampan yang sangat menyebalkan ini. Bukan nya membiarkan dia beristirahat, malah mengaturnya. Benar benar menjengkelkan.
"Dokter mau apasih?" seru Maira begitu kesal
"Saya itu capek, bisa gak jangan ganggu" omel nya lagi
"Mandi dulu, nanti baru istirahat" kata dokter Danar seraya meletakkan bantal Maira diatas tempat tidur.
"Berisik, nanti sama sekarang sama aja" dengus Maira yang kembali merebahkan tubuhnya
"Kamu mau saya yang memandikan?" tanya dokter Danar. Dia melipat kedua tangan nya didepan dada dan memandang Maira dengan lekat
"Jangan mimpi" sahut Maira
"Kalau tidak mau pergilah mandi dulu. Saya tidak mau ya, rumah ini tercemar virus karena kejorokan kamu" kata dokter Danar lagi.
Maira kembali duduk dan memandang dokter Danar dengan tatapan yang semakin kesal
"Saya yang jorok kenapa dokter yang sibuk" sewotnya
Dokter Danar terlihat mendekat kearah Maira, membuat Maira menatapnya dengan heran. Dia mendongak dan menatap dokter Danar yang semakin merapat kearah nya
"Ma...mau apa?" tanya Maira dengan gugup
"Memandikan kamu, sepertinya kamu memang suka dipaksa" jawab dokter Danar dengan senyum yang terkesan mengerihkan dipandangan Maira
Tangan dokter Danar terulur ingin menarik lengan Maira, namun langsung ditepis oleh Maira
"Iiiiiiiiihhhhhhh....... iya...iya... awas!!!!!" teriak Maira yang mendorong tubuh dokter Danar untuk menjauh. Dia segera beranjak dan langsung berlari kekamar mandi meninggalkan dokter Danar yang nampak tertawa lucu melihat wajah kesal Maira.
"Jangan lupa menggosok tubuhmu. Kamu sudah seminggu lebih tidak mandi kan!!" seru dokter Danar
"Berisiiik!!!!!!!!" teriak Maira dari dalam kamar mandi
__ADS_1