Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Terimakasih Telah Menunggu


__ADS_3

Brian dan Nindi terdiam, sama sama belum ada yang membuka suara sejak mereka masuk kedalam mobil.


Hari sudah mulai larut saat Brian mengantar Nindi pulang kerumah nya. Setelah drama panjang yang terjadi malam ini.


Dua tahun lebih tidak bertemu membuat mereka merasa canggung. Rasa rindu dan rasa cinta yang begitu meluah benar benar tidak tahu harus dengan apa diungkapkan.


Bahkan Nindi masih tidak percaya dengan Brian yang memperkenalkan dia sebagai calon istri didepan kedua orang tuanya tadi. Masih dia ingat bagaimana terkejutnya orang tua Brian melihat Brian yang baru pulang tapi sudah memperkenalkan dia sebagai calon istri. Nindi benar benar tidak habis fikir. Bahkan seluruh keluarga Brian juga menjadi heboh dipesta tadi.


Nindi yang awal nya merasa enggan dan kesepian saat datang tadi, tapi setelah Brian tiba, dia menjadi seperti orang penting dipesta itu. Karena kemana Brian, dia pasti dibawa. Sudah seperti pasangan nya saja.


Nindi bahkan masih merasa jika ini seperti mimpi. Brian pulang dan membawanya bertemu dengan kedua orang tuanya langsung.


Ya Allah...


Rasanya penantian selama dua tahun lebih tidak sia sia.


"Hei... kenapa diam saja?"


Pertanyaan Brian membuat Nindi terkesiap. Dia yang melamun dan memandang jalanan didepan mereka langsung menoleh pada Brian.


Dan lagi.... rasanya benar benar tidak ingin berpaling dari wajah tampan ini. Wajah tampan yang selalu dia rindukan setiap malam. Wajah tampan yang setelah sekian lama tidak bertemu kini malah semakin tampan saja. Ya, Brian semakin tampan, semakin dewasa, semakin gagah dan .... semakin.... ah tidak bisa dijelaskan.


"Aku jadi tidak fokus mengemudi jika kamu melihatku seperti itu" ucap Brian


Nindi kembali terkesiap, namun dengan tawa kecilnya. Dasar, jika saja dia masih seperti dulu, mungkin dia sudah akan melompat kegirangan atau bahkan menempel terus pada Brian karena begitu bahagia nya melihat lelaki ini sudah kembali.


"Apa ada yang berubah dari ku hingga kamu melihat ku seperti itu?" tanya Brian


"Banyak yang berubah. Kenapa memang nya kalau Nindi melihat kakak seperti itu. Apa tidak boleh?" tanya Nindi.


Brian mengangguk seraya tersenyum tipis. Membuat Nindi memandang nya dengan bingung.


"Nanti ... setelah kita menikah. Baru kamu boleh memandang ku sepuas mu" jawab Brian.


Blush


Nindi langsung memalingkan wajahnya yang merona.

__ADS_1


"Kamu juga semakin berubah sekarang. Semakin dewasa, dan tentunya semakin cantik" ucap Brian


"Apa itu perkataan rayuan?" tanya Nindi


Brian terkekeh kecil dan menggeleng. Matanya fokus kedepan, dan hanya melirik Nindi sesekali saja.


"Aku berkata jujur. Bahkan aku benar benar takut jika kamu dan Ervan menjalin hubungan tadi." ungkap Brian.


Dan kali ini Nindi yang tersenyum dan menggeleng.


"Sepertinya doa kakak benar benar membuat Nindi tidak bisa melihat lelaki lain" jawab Nindi.


Brian menoleh pada Nindi sekilas dan kembali memandang kedepan.


"Allah maha baik untuk tetap menjaga hati kita" ucap Brian.


"Benarkah begitu?" tanya Nindi


"Ya, sebenarnya sudah dari dua Minggu yang lalu aku ingin pulang. Tapi aku sedang menyiapkan sesuatu untuk kamu" ungkap Brian seraya tangan nya yang memutar setir mobil memasuki pekarangan rumah Nindi.


"Menyiapkan apa?" tanya Nindi.


Kini mereka sudah tiba didepan rumah Nindi. Rumah yang terlihat sepi, karena sepertinya orang orang yang berada dirumah sudah istirahat semua.


Brian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana nya. Sebuah kotak kecil bewarna silver dengan manik indah yang berkilauan. Dia menyerahkan kotak itu pada Nindi. Membuat Nindi memandang nya dengan heran.


"Ayo ambil" ujar Brian.


Nindi meraih nya dengan ragu. Seperti kotak cincin???


"Itu aku yang mendesain nya sendiri. Cukup lama proses pembuatan nya. Semoga kamu suka" ucap Brian.


"Dengan kakak pulang cepat saja Nindi sudah begitu bahagia kak" ucap Nindi.


Namun Brian menggeleng pelan.


"Untuk seseorang yang selalu aku sebut nama nya dalam setiap doa dan harapan, aku ingin memberi mu yang terbaik" jawab Brian.

__ADS_1


Dan perkataan nya itu membuat wajah Nindi kembali merona. Sungguh, Brian benar benar tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum dan memandang wajah cantik itu.


Wajah cantik yang semakin dilihat semakin berseri dan menenangkan. Sepertinya Nindi sudah berhasil menjadi gadis yang lebih baik dan Istiqomah. Alhamdulillah...


"Pakailah kalung itu. Aku akan melihatnya ketika kita sudah menjadi suami istri nanti" Ujar Brian


"Kalung" gumam Nindi.


Brian mengangguk pelan dengan senyum nya yang benar benar bisa membuat hati Nindi terasa begitu menghangat dan berbunga bunga.


"Insha Allah, beberapa hari lagi aku akan datang menemui orang tua kamu. Untuk sekarang, izinkan aku bersama keluarga ku dulu. Kak Mala masih ingin aku berada disana" ujar Brian


Nindi langsung tersenyum dan mengangguk. Mereka memang pulang sebelum acara selesai. Bahkan dokter Kemala benar benar tidak ingin Nindi pulang tadi. Tapi hari sudah cukup larut, dan Brian tidak enak jika mengantar Nindi terlalu malam.


"Baiklah, terimakasih kak. Terimakasih untuk semuanya. Terutama untuk pembuktian kata kata kakak dulu" ucap Nindi


"Tentu saja. Terimakasih juga untuk kamu yang masih tetap setia menungguku. Sekarang, kita sama sama berdoa agar rencana dan niat baik kita di Ridhai oleh Allah" ujar Brian.


"Tentu" jawab Nindi.


"Ayo aku antar kedalam" ajak Brian


Namun Nindi segera menggeleng.


"Enggak perlu kak. Mama sedang tidak dirumah. Nindi masuk sendiri saja. Kakak hati hati" ucap Nindi.


"Iya, sampai bertemu besok hari" ucap Brian.


Nindi tersenyum dan mengangguk. Dia langsung membuka pintu mobil dan turun dari sana. Meninggalkan Brian yang masih memandang kepergian nya.


Rasa tidak rela, rasa rindu yang masih membuncah benar benar membuat perasaan Brian bergejolak.


Dia masih ingin bersama Nindi, dua tahun menahan rindu bukan lah hal yang mudah. Tapi untuk sekarang, dia masih harus menahan perasaan.


Jika berlama lama bersama Nindi berdua, Brian benar benar takut khilaf. Nindi begitu cantik dan semakin anggun. Membuat perasaan nya semakin tidak menentu.


Wahai pemilik takdir, sekali lagi mereka memohon. Tolong lancarkan semua harapan dan impian mereka. Impian untuk hidup bersama hingga akhir masa.

__ADS_1


Terdengar serakah, tapi bukankah harapan dan impian itu memang menjadi sifat manusia. Yang terpenting tetap bisa Istiqomah dan menjadikan diri lebih baik lagi tanpa melupakan rasa cinta terhadap sang pencipta.


__ADS_2