
Malam ini Ervan menepati janjinya. Dia datang bersama dengan kedua orang tua nya kerumah Erika untuk melamar gadis itu.
Meski wajah mama Ervan masih terlihat berat, tapi dia tidak bisa berbuat apapun selain merestui hubungan Erika dan juga Ervan.
Hubungan yang pernah kandas karena kesalahan Erika yang sudah membuat mereka semua marah dan malu. Meskipun begitu, untuk saat ini mereka berharap jika ini adalah Pertunangan yang terakhir dan bisa menjadi langkah yang baik untuk kedepan nya nanti.
Ya, karena Ervan dan Erika sudah pernah bertunangan didepan publik beberapa bulan lalu, kini mereka hanya mengadakan acara keluarga inti saja untuk melakukan pertunangan yang sempat dibatalkan waktu itu.
Jika dipertunangan waktu itu Erika benar benar merasa bahagia, maka kali ini semua terasa berbeda. Bukan karena sederhana dan tanpa orang ramai. Tapi yang membuat Erika sedih adalah karena ketidak adaan kedua orang tua nya.
Benar benar sedih dan rindu. Jika saja orang tua nya masih ada, pasti mereka akan senang sekali karena Erika telah bertunangan kembali dengan Ervan. Bahkan kini, Ervan yang datang sendiri pada nya tanpa harus mengemis seperti dulu.
Tapi...
Apa boleh buat, semua sudah takdir dari Allah. Kini, Erika bertunangan hanya dihadiri oleh kakak dan juga kakak ipar nya bersama kerabat dekat mereka yang lain.
Tidak ada tenggang waktu yang lama setelah Pertunangan ini. Karena bulan depan lebih seminggu mereka akan menikah. Bertepatan dengan Ervan yang juga sudah wisuda.
Mereka tidak ingin lagi menunda, karena memang tidak ada lagi yang harus ditunggu dan diperhitungkan.
Lebih cepat, lebih baik....
Setelah para orang tua pulang lebih dulu karena acara sudah selesai, kini Erika dan Ervan duduk diruang tengah bersama dengan Akbar dan Ayu yang masih sibuk bermain dengan Lintang, anak perempuan Luna.
Mereka duduk sembari memperhatikan ketiga anak anak itu bermain.
"Erika..." panggil Ervan tiba tiba. Membuat Erika langsung menoleh kearah nya.
"Sebulan lagi kita menikah. Aku mau minta maaf atas segala perkataan ku yang pernah menyakiti hati kamu dulu" ucap Ervan. Rasanya masih tidak menyangka jika mereka sudah akan menikah saja. Dan ketika mengingat apa yang sudah terjadi dimasa lalu, rasanya terasa aneh.
"Aku sudah memaafkan segalanya Van. Lagipula, kamu tidak salah. Aku yang salah" jawab Erika pula.
Namun Ervan menggeleng pelan.
"Tidak.. Kamu mendekati ku karena diminta oleh orang tua mu kan. Kamu juga melakukan semuanya karena pengaruh dari orang tua kamu, bukan dari hati kamu sendiri" ungkap Ervan.
Erika tertegun, dia memandang Ervan dengan bingung.
"Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?" tanya Erika.
"Kak Luna" jawab Ervan.
"Kak Luna" gumam Erika.
Ervan mengangguk pelan.
"Ya, dia sudah mengungkapkan semua nya pada ku. Jika kamu mendekati ku selama ini karena paksaan dari orang tua kamu." jawab Ervan.
Kemarin saat menemui Luna dirumah nya, Luna sudah mengungkapkan semuanya pada Ervan. Jika ternyata selama ini Erika yang selalu mengejar ngejar nya adalah bukan karena keinginan Erika sendiri.
Bahkan Luna juga bilang jika selama ini Erika selalu hidup dibawah tekanan mereka. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang, melainkan hanya tuntutan dan tuntutan yang mengharuskan Erika menjadi sempurna. Oleh sebab itulah Erika menjadi buta hati dan berbuat segala cara untuk bisa mewujudkan segala keinginan kedua orang tua mereka.
Ervan cukup terkejut sebenarnya, tapi dengan begini, dia jadi tahu, jika Erika memang tidak seburuk itu. Meskipun beberapa perbuatan nya pernah membuat Ervan kecewa dan marah.
"Erika" panggil Ervan lagi saat Erika malah terdiam dan memandang nanar pada anak anak yang masih asik bermain.
"Apa perasaan yang selalu kamu bilang itu juga hanya sekedar alasan?" tanya Ervan.
deg
Erika langsung memandang Ervan dengan lekat.
"Apa itu bukan dari hati kamu sendiri?" tanya Ervan lagi.
Erika langsung tersenyum tipis dan menggeleng.
"Apa kamu tidak pernah merasakan nya?" tanya Erika.
Dan kali ini Ervan yang tersenyum.
"Entah lah, dulu aku tidak pernah tahu. Aku hanya mengira jika itu hanya obsesi dan ambisi kamu saja. Tapi aku baru merasakan nya saat melihat lukisan ku dirumah kecil kamu" jawab Ervan.
Membuat Erika langsung terdiam dan mengingat tentang lukisan nya.
"Aku baru merasakan jika sebenarnya perasaan kamu memang begitu dalam tanpa paksaan seperti yang dikatakan oleh kak Luna" ucap Ervan lagi.
Erika tersenyum dan kembali tertunduk.
__ADS_1
"Perasaan ku tidak terlalu penting bukan. Sejak dulu, hingga sekarang" sahut Erika. Terdengar begitu getir. Apalagi ketika mengingat bagaimana sikap Ervan pada nya sejak dulu.
"Kenapa berkata seperti itu?" tanya Ervan.
"Memang begitu. Siapa yang perduli. Aku bahkan berfikir jika kamu mau menikah dengan ku hanya karena kasihan" jawab Erika dengan tawa kecilnya.
"Kamu meragukan ku Erika?" tanya Ervan. Nada bicaranya terdengar begitu serius. Bahkan sampai membuat jantung Erika terasa tertohok. Dia memandang Ervan, namun hanya sekilas, karena tatapan Ervan begitu dalam dan lekat memandang nya.
"Erika" panggil Ervan lagi.
Namun Erika tetap terdiam. Apa yang harus dikatakan nya, jika selama ini yang dia tahu kalau Ervan memang tidak pernah menyukai nya. Lalu salahkan dia jika menganggap Ervan menikahi nya hanya karena kasihan???
"Erika" panggil Ervan, dan kali ini sedikit menekan nada bicaranya.
Erika menghela nafas dan memandang nanar kearah tv besar yang tidak menyala.
"Salah kah jika aku beranggapan kalau kamu menikahiku karena kasihan?" tanya Erika.
Membuat Ervan langsung terdiam
"Setelah semua yang kita lalui selama bertahun tahun. Aku selalu mengejar ngejar mu. Selalu ada untuk mu di saat Maira tidak ada. Selalu membela mu didepan om dan Tante ketika kamu pergi dengan Maira."
"Tapi apa kamu ingat, jika kamu sedikit pun tidak pernah melihat ku. Kamu hanya menganggapku sebagai benalu dalam kehidupan kamu dan Maira. Bahkan ketika aku berbuat kesalahan itu, kamu memutuskan pertunangan kita yang hanya kamu terima karena terpaksa. Kamu bahkan tega berkata yang begitu menyakitkan waktu itu" ungkap Erika dengan senyum getir nya.
"Lalu.... kamu datang disaat aku terpuruk, disaat aku mau mati dan sudah lelah untuk bertahan. Apa aku salah, jika aku menganggapmu mau menikahi ku hanya karena merasa kasihan saja???" tanya Erika yang kini gantian memandang Ervan dengan lekat.
"Salahkah aku jika aku berfikir seperti itu?" tanya Erika lagi. Bahkan kini matanya sudah berair menahan tangis.
Ervan menghela nafas dan menggeleng. Dia tahu bahkan sangat tahu, bagaimana perasaan Erika selama ini yang pasti sakit hati dengan semua sikap nya.
Tapi Erika juga tidak tahu, kalau Ervan sedikit banyak nya mulai luluh dengan semua ulah menyebalkan nya itu. Karena jika dia tidak luluh, Ervan yakin, dia tidak akan mau bertunangan dengan Erika waktu itu. Dan sudah pasti tidak akan secepat ini Ervan melamar Erika.
"Tidak salah" ucap Ervan
Erika nampak mengusap sudut matanya dengan cepat.
"Karena semua yang telah kita lalui, aku tahu kamu pasti akan berfikir seperti itu. Tapi aku tidak mau kamu meragukan keputusan ku ini dengan fikiran seperti itu lagi" ujar Ervan.
Erika kembali menoleh padanya.
"Apa kamu tidak bisa berfikir, jika semua yang aku lakukan ini adalah karena aku sudah....... jatuh hati padamu???."
deg
"Kamu..... kamu serius dengan perkataan mu itu Van?" tanya Erika dengan begitu ragu. Dia ingin merasa bahagia, tapi kenapa rasanya takut terhempas.
"Aku serius Erika. Apa kamu fikir selama ini usaha kamu sia sia. Aku selalu menjaga hatiku untuk Maira ketika kamu selalu datang dan datang dengan segala cara. Hingga disaat Maira pergi, disaat itu aku menyetujui pertunangan kita dan memberi kamu kesempatan. Meski kesempatan itu kamu sia siakan" ungkap Ervan.
Erika masih diam dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
Benarkah yang dia dengar ini?
"Tapi aku bersyukur, dengan masalah yang kamu buat itu, kita bisa berada dititik ini. Titik dimana kita bertemu lagi dalam keadaan yang jauh lebih baik. Aku dan kamu sudah lebih dekat dengan Allah" ucap Ervan
"Dan yang pasti, dengan pertemuan kita yang kedua ini. Aku jadi mengerti tentang perasaan ku yang sebenarnya untuk mu. Jika aku memang sudah jatuh cinta padamu" ungkap Ervan.
Erika langsung tertunduk dan menyimpan senyum bahagia nya. Bahkan air mata itu langsung menetes dengan deras. Sederas aliran darah yang berdesir begitu hebat disekitar dada nya.
Rasanya benar benar bahagia mendengar ungkapan Ervan saat ini.
Benarkah perasaan nya terbalas?
Kenapa begitu bahagia?
Bertahun tahun, kata kata cinta ini selalu Erika harapkan meski sebenarnya tidak mungkin. Tapi ... ternyata Allah maha membolak-balikkan hati.
Padahal dengan Ervan yang mau menikahi nya saja Erika sudah sangat bahagia dan bersyukur. Tapi sekarang, ditambah dengan perasaan ini, membuat dia semakin bahagia saja.
Ya Allah...
Terimakasih...
Semoga perasaan Ervan ini bukan perasaan yang datang hanya sekejap. Semoga perasaan ini akan sampai pada titik, dimana tidak akan ada yang bisa mengusik nya lagi.
"Jangan menangis. Aku ingin kita belajar sama sama mulai sekarang. Aku akan belajar untuk menjadi suami yang baik yang bisa membimbing kamu dunia akhirat. Dan semoga kamu juga bisa menyempurnakan separuh agamaku ya" pinta Ervan.
Erika langsung tersenyum dan mengangguk pelan. Seraya dia yang mengusap air matanya meski air mata itu semakin tidak bisa berhenti untuk mengalir saat mendengar kata kata Ervan barusan.
__ADS_1
Kenapa terdengar indah sekali?
"Terimakasih.... terimakasih untuk semuanya Van" ucap Erika.
"Aku juga berterima kasih padamu. Karena kamu sudah selalu ada untukku sejak dulu" jawab Ervan.
"Meski keberadaan ku selalu membuat mu kesal?" tanya Erika dengan tawa kecilnya.
Ervan terkekeh dan mengangguk pelan.
"Ya, dulu aku kesal. Tapi sekarang, aku senang" jawab Ervan. Membuat Erika kembali tertawa dan menggeleng pelan. Dia kembali mengusap wajah nya yang basah dengan air mata.
Ya Allah....
Benar benar tidak bisa dibayangkan jika malam ini, dia bisa merasakan kebahagiaan yang tidak terhingga. Meski kebahagiaan nya masih kurang karena ketiadaan orang tua. Tapi... Erika tetap bersyukur, karena dibalik setiap musibah. Selalu ada bahagia yang tidak disangka.
"Kakak kenapa nangis?"
Pertanyaaan Ayu membuat Ervan dan Erika terkesiap, mereka langsung menoleh pada Ayu, yang ternyata ketiga anak anak itu sudah memperhatikan mereka sekarang.
Apa mereka memperhatikan Ervan dan Erika sejak tadi??
Astaga, untuk beberapa waktu, Erika dan juga Ervan malah melupakan keberadaan mereka.
"Enggak, ini nangis bahagia" jawab Erika yang kembali mengusap wajahnya.
"Emang ada nangis bahagia aunty?" tanya Lintang.
"Ada kok" jawab Erika.
Membuat Ervan tertawa kecil dan memandang ketiga anak anak itu dengan gemas.
"Kenapa juga kalian belum tidur jam segini. Udah malem Lo" ujar Ervan.
"No, kami disuruh mama untuk jagain auty Ika, takut di gigit om Ervan katanya" jawab Lintang.
Ayu langsung mengangguk dengan cepat. Sedangkan Akbar nampak diam saja dan hanya memperhatikan mereka.
"Emang nya om drakula apa mau gigit aunty kamu. Ada ada aja deh" sahut Ervan yang kesal. Sementara Erika kini kembali tertawa lucu. Ternyata ini ulah kakak nya, pantas saja ketiga anak ini diam disini sejak tadi. Astaga ..
"Memang drakula kan. Buktinya aunty sampai nangis begitu" jawab Lintang dengan begitu berani
"Iya.iya. Om drakula, makanya kalian jangan nakal. Kalau gak mau om gigit" ujar Ervan.
"Serem banget kak. Kenapa kak Erika mau temenan sama drakula ya?" tanya Ayu dengan polosnya.
"Udah lah, jangan banyak tanyak. Mending sekarang kalian tidur. Udah malam, om juga mau pulang. Akbar, ajak mereka pergi tidur ya. Kakak udah mau pulang kok" ucap Ervan pada Akbar.
"Iya kak" jawab Akbar begitu patuh. Dia langsung menarik tangan Ayu dan Lintang bersamaan.
"Om jangan bohong ya, nanti kalau bohong hidung nya panjang" seru Lintang saat sudah pergi menjauh.
"Heran banget deh. Anak anak kecil mau aja disuruh" gumam Ervan tidak habis fikir.
Sementara Erika hanya tersenyum saja.
"Kalau gitu aku pulang ya. Jangan nangis lagi. Sampai bertemu sebulan lagi" ucap Ervan seraya mengusap kepala Erika dengan lembut. Membuat hati Erika benar benar merasa berdebar tidak menentu.
"Iya..." jawab nya dengan senyum yang manis.
Ya, mereka akan bertemu sebulan lagi disaat acara pernikahan mereka. Karena itu memang sudah jadwal dan permintaan mama Ervan.
Masalah fitting gaun pengantin, semua diatur oleh mama. Begitu pula dengan tempat dan tema pesta pernikahan, semua mama dan Luna yang mengurus. Ervan dan Erika hanya tinggal terima beres saja dan mempersiapkan diri mereka mulai dari sekarang. Tentunya mempersiapkan diri untuk menjadi suami dan istri yang baik. Karena rumah tangga tidak akan seindah yang dibayangkan.
Akhirnya, setelah berpamitan pada Luna dan suaminya. Ervan pulang kerumah. Erika mengantar kan kepulangan nya hingga keteras rumah.
Memandang Ervan dengan penuh cinta dan senyuman yang manis.
"Aku pamit dulu. Jaga kesehatan kamu. Jangan lupa minum obatmu selalu ya" ujar Ervan
"Iya" jawab Erika.
"Assalamualaikum " pamit Ervan
"Waalaikumsalam " jawab Erika.
Ervan memberika senyum hangat nya pada Erika, sebelum dia pergi meninggalkan gadis itu. Gadis yang akan menjadi istrinya dalam sebulan kedepan.
__ADS_1
Semoga rencana dan niat baik mereka selalu diridhai oleh sang pemilik takdir.
Amin