
Keesokan harinya....
Maira baru saja tiba di kampusnya. Hari ini lagi lagi dia diantar oleh dokter Danar. Namun Maira tidak lagi protes, dia hanya diam dan menurut saja. Entah apa yang terjadi, tapi saat ini hatinya memang sedang tidak ingin berdebat. Dia sudah cukup lelah jika harus memikirkan semuanya.
Kebersamaan mereka semalam membuat Maira merasakan hal yang aneh. Semua perkataan dokter Danar saat mereka duduk ditaman bunga masih terekam jelas difikiran Maira.
'Tidak berjanji untuk selalu membahagiakan, namun berjanji untuk menjadi suami yang baik'
Maira menarik nafasnya dalam dalam dan membuang dengan perlahan. Kakinya terus berjalan menyusuri jalan menuju kelasnya.
Jika mengingat perkataan dokter Danar, semua memang benar. Bagaimana lagi suami yang baik selain sikap dokter Danar yang selalu mengajaknya pada kebaikan.
Moment hangat mereka semalam juga masih membekas dihati Maira. Tidak romantis seperti Ervan, tidak juga humoris dan selalu membuatnya tertawa. Tapi entah kenapa setiap yang dilakukan dan dikatakan oleh dokter Danar membuat hati Maira selalu tenang.
"Maira" panggilan kedua sahabatnya membuat Maira terkesiap kaget. Dia langsung menoleh kearah belakang dan mendapati kedua sahabatnya yang juga baru datang.
"Jalan melamun aja. Kesambet tahu rasa Lo" ucap Nindi yang kini telah menyamai langkah kaki Maira.
"Dianter dokter Danar lagi?" tanya Putri.
Dan Maira langsung mengangguk saja.
"Denger denger siang nanti kampus kita bakalan kedatangan tim kesehatan dari rumah sakit tempat dokter Danar kerja Lo Mai" ucap Nindi.
Putri dan Maira langsung menoleh kearah nya.
"Serius Lo, siapa yang Dateng, dokter Danar bukan?" tanya Putri.
"Gak tahu gue, gue cuma denger desas desus anak kesehatan tadi. Mereka bakalan ngadain penyuluhan tentang kesehatan atau apalah gitu siang nanti diaula" jawab Nindi.
"Mudah mudahan bukan dokter Danar ya Mai" ucap Putri.
__ADS_1
"Iya, gak ngebayangin gue kalau sampai dia yang Dateng. Tapi gue rasa bukan dia deh, soalnya dia gak ada ngomong apa apa waktu nganter gue tadi" ungkap Maira.
"Kenapa memang nya kalau dokter Danar. Kan seru tahu. Gue bisa cuci mata" kata Nindi dengan wajah berbinar nya.
"Masih aja mau jadi pelakor. Noh si Brian lewat. Mending Lo sama dia, lebih seger dan muda" ucap Maira seraya menunjuk Brian yang baru keluar dari ruangan dosen.
"Aaaahh kak Brian!!!!" teriak Nindi tiba tiba.
Maira dan Putri langsung menutup telinga mereka dan menjauh dari Nindi. Memang gila gadis satu ini.
Brian langsung memandang kearah mereka membuat Maira dan Putri langsung tersenyum canggung.
"Gak tahu malu emang nih anak. Liat muka nya yang kayak es batu gitu" bisik Putri begitu malu dengan kelakuan Nindi, namun yang lebih parah nya Nindi malah berlari dan mendekat kearah mereka.
"Astaga, Nindi!!" seru Maira dan Putri bersamaan. Namun si pecinta lelaki tampan ini malah santai saja dan berjalan mendekat kearah Brian yang nampak bingung memandang nya. Lelaki berwajah dingin itu langsung diam ditempat dan menunggu Nindi.
"Gila Put, temen elo emang udah gak waras" gumam Maira tidak habis fikir.
"Bener deh, dari pada malu mending kita kabur aja Mai. Yuk ah. Mampus banget gue punya temen begitu" ajak Putri yang langsung menarik tangan Maira dan segera pergi menjauh.
Maira dan Putri langsung berlari menuju kelas nya. Dengan nafas yang terengah engah mereka tiba didepan kelas itu. Namun tiba tiba langkah kaki mereka langsung terhenti saat didalam kelas suasana tampak begitu berbeda.
"Surprise!!!!!!" teriak teman teman sekelas Maira.
Maira langsung melebarkan matanya melihat mereka semua yang tengah memegang bunga mawar ditangan masing masing. Dan yang membuatnya tidak kalah terkejut adalah Ervan berada disana dengan sebuket bunga mawar segar ditangan nya.
Lelaki itu tersenyum begitu manis dan hangat dengan wajah yang berbinar.
Maira terperangah takjub melihat itu. Apalagi ada tulisan happy anniversary two years honny yang mereka pegang memanjang mengelilingi kelas itu.
"Happy anniversary sayang" ucap Ervan yang ternyata sudah ada didepan Maira.
__ADS_1
Bahkan dia berlutut menghadap ke Maira seraya menyerahkan bunga yang ada ditangan nya. Tepuk tangan langsung menggema diruangan itu. Dan bukan cuma Maira yang terperangah, melainkan Putri juga. Mereka benar benar tidak menyangka jika Ervan akan melakukan hal gila ini lagi. Ya, Maira ingat, jika pertama kali saat dia meminta Maira menjadi kekasih nya, Ervan juga melakukan hal ini, dan sekarang Ervan melakukan nya lagi.
Mata Maira langsung berair melihat semua ini. Dia bukan terharu melihat apa yang dilakukan oleh Ervan. Tapi Maira merasa bingung dan begitu kalut dengan semua ini. Bagaimana mungkin Ervan melakukan ini lagi disaat keadaan mereka sedang tidak baik baik saja. Disaat Maira sudah memiliki lelaki lain yang menjadi pemilik dirinya. Ya Tuhan...
Maira harus bagaimana????
"Maira" panggil Ervan, membuat Maira terkesiap. Dia langsung menghapus air mata nya yang jatuh dan menetes dengan deras.
Memandang Ervan dengan penuh rasa bersalah. Lelaki ini cintanya, lelaki ini masih kekasih nya. Dan Maira tahu jika Ervan begitu mencintai dia. Tapi.... bagaimana dengan dokter Danar?????
"Maafin aku. Akhir akhir ini aku selalu buat kamu sedih dan marah. Tapi mulai hari ini aku ingin memulai semua nya kembali. Aku ingin....."
"Stop..." ucap Maira seraya dengan cepat meraih bunga yang ada ditangan Ervan dan dengan cepat pula dia menghentikan ucapan Ervan yang hanya akan membuat nya semakin bersedih. Putri memandang bingung pada Maira dan Ervan. Dia juga tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dia tahu bagaimana dua orang ini saling mencintai. Tapi sekarang keadaan nya sudah berbeda.
"Terimakasih" ucap Maira seraya memaksakan senyum nya.
Tepuk tangan kembali terdengar dari teman teman Maira yang lain. Namun saat Ervan ingin memeluk, Maira langsung beralih mundur dan menghindar.
"Kenapa" tanya Ervan.
"Jangan, malu. Ayo ikut aku" ajak Maira yang langsung menarik tangan Ervan untuk pergi dari sana.
Putri memandang mereka dengan bingung. Namun membiarkan Maira untuk menyelesaikan masalah nya dengan baik. Semoga saja gadis itu tidak mengambil keputusan yang salah.
"Loh itu mau kemana Maira sama Ervan?" tanya Nindi yang baru datang. Nafasnya masih tersengal karena dia yang berlari dari tempat nya bertemu Brian tadi.
Putri langsung mendengus gerah memandang Nindi.
"Kelamaan, Lo gak tahu apa yang dibuat Ervan kan" jawab Putri.
"Emang apa?" tanya Nindi
__ADS_1
Putri langsung membalikkan tubuh Nindi menghadap kekelas mereka. Dan mata Nindi langsung terbuka lebar melihat tulisan besar dan anak anak yang masih memegang bunga mawar ditangan masing masing.
"Oh my God"