Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Terpana Dengan Senyumnya


__ADS_3

Pagi ini lagi lagi wajah Maira sudah tertekuk kesal. Dia benar benar jengkel dengan suami dokter nya ini. Berulang kali Maira menolak untuk diantar, namun dokter Danar tetap memaksanya, dengan alasan motor Maira yang belum diambil dari cafe semalam.


Saat ini mereka sudah berada diperjalanan menuju kampus Maira. Sejak tadi Maira hanya diam dan memandang lurus kedepan. Tidak ada senyum sama sekali. Wajahnya cemberut dan begitu kusut. Dokter Danar memang selalu bisa membuat hari harinya selalu buruk. Dan Maira juga selalu tidak bisa membangkang perkataan nya, entah apapun itu. Tapi ancaman dari dokter Danar memang tidak bisa diabaikan.


"Jangan cemberut terus, kamu mau teman teman kamu takut melihat wajah jelek kamu itu?" tegur dokter Danar


Maira mendengus dan langsung memandang dokter Danar dengan sadis. Seperti ingin memakannya saja.


"Dokter menyebalkan. Bagaimana kalau teman teman saya tahu jika dokter yang mengantar. Membuat heboh saja!" ucap Maira begitu ketus. Namun dapat Maira lihat jika dokter Danar langsung tersenyum dengan pandangan mata yang masih fokus pada jalanan yang mereka lalui.


"Biar saja" jawab dokter Danar begitu acuh


"Dokter...........!!!"rengek Maira memandang dokter Danar dengan wajah frustasinya.


Dokter Danar langsung tertawa kecil dan memandang Maira sekilas. Wajah kesal dan kusut nya benar benar menggemaskan


"Iya , iya... saya hanya akan mengantar kamu sampai didepan gerbang saja. Kamu bisa jalan kaki kedalam" ujar nya


"Coba tadi singgah dicafe, saya kan bisa bawa motor saya" dengus Maira


"Motor kamu sudah dibawa teman saya kerumahnya" jawab dokter Danar


"hah, kenapa?" tanya Maira langsung


"Dari pada dicafe, mendingan dibawa dia. Lagian kamu juga salah, motor ditaruh sembarangan. Kalau hilang gimana, bisa rugi saya" kata dokter Danar


Maira langsung mendengus gerah mendengar nya


"Heh, dasar pelit. Siapa juga yang mau curi motor itu. Lagian orang orang cafe juga udah pada kenal saya" sahut Maira. Namun dokter Danar hanya mengendikkan bahunya saja.


Dan tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan dokter Danar sudah berhenti tepat didepan gerbang universitas Maira.


Maira hendak membuka pintu mobil itu, namun dia kembali menoleh pada dokter Danar yang memanggilnya


"Salim dulu sama suami" ujar dokter Danar sembari menjulurkan tangan nya.


Maira menghela nafas pelan dan langsung meraih tangan itu dengan malas. Dia langsung menempelkan tangan dokter Danar didahinya, namun saat ingin melepaskan nya, dokter Danar menggenggam tangan Maira. Tangan kirinya mengusap kepala Maira dengan lembut, dan entah kenapa perlakuan ini membuat Maira selalu merasa aneh.


"Baik baik disekolah, jangan nakal" ujar dokter Danar dengan senyumnya yang begitu teduh dan hangat. Maira mengerjapkan matanya sekilas melihat senyum itu. Untuk beberapa saat dia terpana melihat senyum yang hampir setiap hari dia lihat. Namun pagi ini, senyum itu terasa berbeda.


Dan sepersekian detik kemudian, Maira langsung terkesiap dan dia langsung melepaskan tangan dokter Danar . Tanpa berkata apapun Maira langsung keluar dari dalam mobil. Dia berlari menjauh meninggalkan dokter Danar yang tersenyum memandang kepergian nya.


"Semoga Allah senantiasa menjaga kamu" gumam dokter Danar.


...

__ADS_1


"Maira" panggil Putri dan Nindi. Maira yang masih berlari langsung menghentikan langkah kakinya. Dia langsung menoleh pada kedua sahabatnya yang juga baru tiba


"Ngapain lo lari lari begitu?" tanya Putri dengan heran


"Tahu nih, masih lama lagi jam masuk. Biasanya juga ngaret terus" sahut Nindi pula


Maira menarik nafasnya dalam dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh karena berlari lumayan jauh dari gerbang kedepan gedung kampus nya.


"Wajah lo kenapa merah?' tanya Putri. Dan Maira langsung menyentuh wajahnya yang masih terasa memanas dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


Nindi memperhatikan Maira begitu lekat dengan mata yang memicing. Namun tiba tiba dia langsung tersenyum sinis


"Biasanya kalau orang habis lari itu wajahnya merah pucat. Nah karena elo gak pernah gerak lebih seharusnya wajah lo pucat. Ini kenapa malah merah, kayak orang lagi jatuh cinta aja. Lagi salting lo?" tebak Nindi. Maira mendengus dan langsung menggeleng dengan cepat


"Enggak, jatuh cinta dari Hongkong" sahut Maira kesal


"Cuaca nya panas, maka nya muka gue merah. Lebay banget deh, siapa juga yang jatuh cinta" tambahnya lagi dengan nafas yang memburu


Nindi langsung tertawa melihatnya, sedangkan Putri langsung mengendikkan bahunya dengan acuh.


"Heleh, kalau lagi terpesona kan begitu wajah lo" tuding Putri


"Wiiiihhh bener. Terpesona sama siapa nih? Gak mungkin sama Ervan, karena bentar lagi pasti bakal perang" sahut Nindi yang sudah tahu bagaimana kelakuan Maira kalau sudah cemburu. Sampai berhari hari dia pasti akan uring uringan dan mengamuk pada Ervan


"Terpesona embah lu!!! udah ah yuk, capek gue berdiri" ajak Maira yang langsung berjalan kembali dan diikuti oleh kedua sahabatnya


"Capek lah. Itu terus yang diributin" jawab Maira terdengar acuh.


Kini ketiga gadis itu sudah masuk kedalam gedung kampus mereka. Mengabaikan seluruh pandangan mata mahasiswa dan mahasiswi yang memandang mereka dengan lekat. Karena sudah biasa, ketiga gadis itu adalah gadis gadis yang lumayan terkenal dikampus itu. Karena selain dikenal sebagai musuh Erika sianak konglomerat, Maira juga terkenal karena menjadi pacar Ervan, si cowo populer dikampus itu.


"Kesambet setan apa lo Mai?" tanya Putri


"Setan apa?" tanya Maira pula


"Setan mall kali Put. Kemarin kan dia ngilang gitu aja setelah debat sama Ervan diparkiran" sahut Nindi membuat Maira langsung mendengus kesal


"Enak aja, lo kira gue temennya demit. Males gue lama lama disana, lagian ada yang harus gue urus" jawab Maira. Dia langsung menghempaskan tubuhnya diatas kursi karena mereka sudah masuk kedalam kelas


"Ervan bilang lo pergi bareng dokter Danar Mai?" tanya Putri. Dan mau tidak mau Maira langsung mengangguk. Dia memandang Nindi yang menarik sebuah kursi dan duduk dihadapan nya.


"Kenapa dokter Danar bisa nemui lo di mall?" tanya Nindi heran. Sudah sangat lama mereka tidak mengetahui kabar dokter tampan itu. Terakhir kali sewaktu dirumah sakit dulu, dan semalam baru melihatnya diresto pinggir jalan.


"Ya, mungkin dia memang kebetulan ada disana kali" dalih Maira


"Terus kenapa lo malah ikut dia, bukan nya manggil kita buat nganterin lo. Lo gak sedeket itu sama dokter Danar Mai" ungkap Putri. Maira terlihat menghela nafasnya. Sepertinya dia harus berbohong lagi kali ini

__ADS_1


"Bener, lo gak boleh serakah Mai" sahut Nindi pula


"Serakah apanya?" tanya Maira bingung


"Ya lo kan udah ada Ervan, masak iya lo deketin dokter Danar juga. Bagi dong ke Putri satu. Dia kan jomblo" ujar Nindi. Maira mendengus gerah mendengar nya sedangkan Putri langsung menjitak kepala Nindi dengan gemas


"Aaahhhhhh Puutt" Nindi langsung mengusap dahi nya yang memanas


"Biar otak lo waras" dengus Putri dan Nindi hanya mendengus kesal. Otak nya memang waras, lagi pula kan dia memang benar. Dimana coba salahnya??


"Cuma Ervan yang gue suka, mana mungkin gue embat juga tu dokter. Udah ngeselin, pemaksa lagi"gerutu Maira tanpa sadar. Putri dan Nindi langsung saling pandang dengan mata memicing dan kembali menoleh pada Maira.


"Ngeselin???" gumam Putri


"Pemaksa???" sahut Nindi pula


Maira langsung terkesiap dan menjadi salah tingkah. Apa tadi dia salah bicara??? Dia memandang kedua sahabatnya yang memandang nya dengan aneh


"Eh, itu.... maksud gue... dia ngeselin, maksa banget buat nganterin gue semalem. Iya gitu" jawab Maira dengan cengiran yang begitu getir. Sungguh dia bukan seorang pembohong yang handal. Dokter Danar memang selalu bisa menambah susah hidupnya.


Putri hanya mendengus dan mengendikkan bahunya. Sepertinya, dia harus menyelidiki Maira. Dia merasa begitu banyak yang Maira sembunyikan dari mereka. Sejak awal dia kembali kuliah, Putri merasa jika sahabatnya ini begitu aneh.


"Mai..." panggil seseorang membuat mereka bertiga langsung menoleh kearah pintu, dimana Ervan baru saja masuk dan langsung mendekat kemeja Maira. Semua mata teman teman sekelas Maira langsung memandang Ervan dengan wajah terpesona, karena Ervan memang sangat tampan bagi mereka. Outfit nya yang selalu kece menambah kesan cool dan kerennya.


Maira hanya menatap datar pada Ervan, sedangkan Putri dan Nindi diam diam memperhatikan ekspresi diwajah Maira yang tidak seperti biasa. Jika biasanya Maira akan uring uringan bahkan tidak ingin ditemui Ervan jika sedang bertengkar, namun saat ini Maira hanya diam dan tidak marah sama sekali. Itu benar benar membuat Putri dan Nindi merasa heran.


"Pulang nanti aku mau ajak kamu kesuatu tempat" ucap Ervan. Dia menarik kursi dan duduk disamping Maira


"Kemana?" tanya Maira


"Pantai" jawab Ervan dengan senyum nya.


"Ada karnaval hari ini. Aku mau belanjain kamu. Udah lama kita gak jalan bareng" ujar Ervan lagi


Maira langsung tersenyum senang mendengarnya. Sudah lama dia tidak jalan jalan dan berlibur. Namun tiba tiba dia langsung teringat sesuatu membuat senyum nya seketika luntur.


Ervan memandang Mara dengan aneh, begitu pula dengan Putri dan Nindi.


"Aku mau, tapi ajak mereka juga" pinta Maira akhirnya.


Putri dan Nindi langsung terkesiap dan memandangnya dengan heran


"Yakali kita jadi obat nyamuk" seru Nindi tidak terima


"Ayo dooong.... udah lama kita gak ngumpul. Gak apa apa kan Van?" Maira memandang Ervan dengan senyum memelasnya, dan tentu saja Ervan langsung mengangguk

__ADS_1


"Oke, gak masalah" jawab Ervan. Ya walaupun dia begitu heran pada Maira. Dia sengaja mengajak Maira karena dia tahu jika biasanya setelah melihat dia bersama Erika, Maira akan ngambek berhari hari. Jadi Ervan memutuskan untuk membawa Maira jalan jalan. Namun yang aneh nya Maira malah dengan mudahnya menyetujui ajakannya, ya meskipun harus membawa kedua sahabatnya.


__ADS_2