Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Memasak Membawa Petaka


__ADS_3

Hari sudah siang, dan saat ini Maira bersama kedua sahabatnya sudah berada didapur kecil Maira. Dihadapan mereka sudah tergeletak berbagai sayuran dan ikan yang Maira beli pagi tadi. Karena keasikan mengobrol, Maira jadi lupa dengan niat awalnya yang ingin memasak sesuatu untuk dokter Danar.


"Lo yakin mau masak Mai?" tanya Putri sedikit ragu


"Iya, Lo gak liat gue udah belanja" jawab Maira seraya memandang bahan bahan di atas meja itu dengan bingung.


"Gue takut dapur ini meledak Mai" sahut Nindi yang duduk dikursi.


Maira menghela nafas nya dengan berat. Ini memang agak susah. Dulu dia memang pernah membantu dokter Danar memasak. Tapi itu juga kebanyakan dokter Danar yang mengolah. Maira hanya membantu memotong sayur dan mengaduk dipanci saja.


"Niat banget ya bikin lakik seneng" gumam Putri yang langsung menarik kursi dan duduk didepan Nindi.


"Selama ini dia terus yang masakin buat gue. Dan hari ini gue pengen buat kejutan untuk dia. Pasti dia seneng " gumam Maira dengan wajah berbinar nya.


Putri dan Nindi saling pandang ngerih. Pasal nya, tidak ada satupun dari mereka yang bisa memasak. Jangan kan memasak, mungkin untuk menyentuh kompor saja bisa dihitung berapa kali dalam seumur hidup mereka.


"Yauda lah, sekalian belajar juga. Siapa tahu kalau udah jadi istri my Brian nanti gue udah bisa masak" ucap Nindi yang mulai lagi.


Putri berdecak kesal dan kembali memandang sayuran sayuran itu.


"Yauda, mau buat apa nih. Moga aja nih dapur gak meledak" ujar Putri pula.


"Gue pengen buat sayur capcai, goreng cumi tepung, sama goreng ikan nila saus pedas. Uuuuuu mantep kan" kata Maira dengan penuh semangat.


"Kedengarannya emang mantep Mai. Bahkan gue udah laper. Tapi esksekusinya emang Lo bisa? bahkan bumbunya aja entah apa" gerutu Putri


Nindi langsung terbahak mendengar itu.


"Kan ada Mbah goo**e sih Put. Ribet amat hidup lo. Yuk ah mulai. Udah laper nih gue" ajak Nindi.


Maira langsung mengangguk.


Dan akhirnya dengan pasrah Putri juga ikut mengeksekusi bahan bahan masakan itu. Tugasnya adalah memotong sayuran untuk capcai. Nindi membersihkan cumi dan Maira membuat bumbu bumbu nya.


Entah bagaimana hasil nya masakan itu nanti. Tapi yang jelas saat ini saja baru separuh jalan dapur kecil itu sudah seperti kapal pecah yang tidak lagi berbentuk.


"Aaauuhhn kuku gue yang cantik kepotong! sialan emang, mana berdarah lagi" Putri berteriak ketika tiba tiba jari nya teriris pisau saat memotong wortel.


"Aaaahhh Mai,, ini kenapa cumi nya malah hitam semua. Iiiiihhh jijik banget gue" teriak Nindi pula. Tangan nya sudah hitam semua, bahkan air basuhan cumi itu sudah tercecer kemana mana.


Sedangkan Maira entah sudah yang keberapa kali dia memecahkan telur kelantai. Bahkan tepung dan telur itu sudah berceceran mengotori lantai dapur.


"Iiiiuuhhhh gimana sih ini. Kan caranya emang begini. Kenapa susah banget lengket nya!!!!" teriak Maira yang juga frustasi.


Sungguh demi apapun, ketiga gadis itu memang hanya membuat dapur kecil milik dokter Danar berantakan dan tidak lagi berbentuk.


Entah bagaimana reaksi dokter Danar ketika dia pulang nanti nya.


Ketiga gadis itu bahkan sudah tidak mengingat apa apa lagi.


Meski mereka terlihat kepayahan, namun ternyata itu tidak menyurutkan keinginan mereka untuk menyelesaikan masakan pertama mereka ini.


"Minggir, sayur capcai biar gue yang masak" sahut Putri yang berjalan menuju kompor dan membawa potongan sayur nya.


"Awas aja Lo kalau gak enak" ancam Maira yang sedang membaluri cumi yang sudah dibersihkan Nindi.


"Belom dicoba mana tahu" jawab Putri.


"Gue yang goreng ikan nya" sahut Nindi yang kini tengah membelah ikan nila itu menjadi bentuk yang bahkan tidak tahu seperti apa.


"Yauda, nanti gue goreng cumi. Ini masakan pertama kita. Harus berhasil" ujar Maira

__ADS_1


"Semangat" seru Nindi


"Pasti enak" sahut Putri pula.


Sungguh semangat mereka bertiga. Karena ini adalah momen pertama dalam hidup mereka memasak bertiga.


"Haha... wajah Lo Mai, udah kayak adonan aja putih semua" Nindi terbahak seraya memandang wajah Maira yang sudah terkena tepung.


"Masak sih" tanya Maira seraya mengusap wajah nya dengan tangan yang masih bertepung. Alhasil wajahnya menjadi kotor lagi.


"Ogeb banget emang" sahut Putri yang juga ikut terbahak. Dia sedang mengaduk aduk sayur nya sekarang.


"Biarin deh, demi suami tercinta mah ini" sahut Maira.


"Cieeehh udah tercinta aja tuh" sahut Nindi


Maira dan Putri langsung tertawa terbahak. Memasak sambil bercanda dan tanpa sadar malah membuat dapur seperti rumah hantu.


Hingga giliran Maira yang ingin menggoreng cumi.


"Minyak nya nunggu panas dulu gak sih Mai?" tanya Nindi seraya memperhatikan Maira.


"Udah panas kayak nya" jawab Maira seraya merasa rasa diatas penggorengan nya.


Hingga saat dia memasukkan cumi itu


"Aaaaaaa" teriakan mereka langsung memenuhi isi dapur.


Putri yang baru saja ingin mencicipi hasil masakan nya langsung terlonjak kaget mendengar Maira dan Nindi berteriak.


"Apaan sih?" tanya Putri memandang mereka berdua


"Aduh duh... Matiin Mai" teriak Nindi yang langsung menjauh karena minyak itu benar benar menyakiti dan membakar kulit nya.


"Aaahh gak mau, takut gue. Sakit banget ini udah kena" sahut Nindi.


"Duh gimana dong, itu makin besar api nya. Bisa kebakar nanti Mai" seru Putri pula.


"Gue gak tahu, gue gak berani!!!!" teriak Maira seraya menutupi wajahnya dengan penutup panci.


"Mai gimana dong"


Mereka semua sudah benar benar panik, asap bahkan mulai mengepul diatas penggorengan itu. Namun minyak masih terus meletik dan meledak ledak menyiprati tubuh mereka.


"Aduh gimana ini woiii" teriak Maira. Dia ingin mematikan kompor namun tidak berani dan hanya maju mundur saja.


Sementara didepan rumah, terlihat sebuah mobil dan sebuah sepeda motor memasuki halaman rumah Maira.


Dua orang pemuda tampan.


"Beneran disuruh antar ke alamat ini?" tanya pemuda yang menaiki mobil dan sekarang dia sudah turun dari mobil nya, mendekati teman nya yang membawa motor.


"Iya, bener kok ini alamat nya. Dokter Danar bilang sebentar lagi dia pulang" jawab Dika memandang Brian yang nampak memainkan kunci mobilnya. Mereka diminta dokter Danar untuk mengantarkan motor kerumah nya. Motor untuk Maira kuliah. Kebetulan Dika adalah menejer di showroom milik dokter Danar. Dan Brian, adalah teman nya.


"Yaudah, tunggu aja" ujar Brian. Dan Dika hanya mengangguk seraya memandangi halaman rumah minimalis itu.


Namun tiba tiba mereka terkesiap, saat samar samar mendengar suara teriakan beberapa orang.


"Siapa tuh?" tanya Dika


"Gak tahu" gumam Bria pula

__ADS_1


"Kita lihat yuk. Kayak nya histeris banget" ajak Dika


Dan mau tidak mau mereka langsung masuk kedalam rumah. Begitu pintu dibuka asap langsung keluar membuat pernapasan mereka terasa sesak.


Mereka berdua langsung berlari kedapur dan melihat ketiga gadis yang nampak ketakutan dengan kompor yang sudah menyala apinya.


"Wah gawat" seru Dika


"Kalian minggir" seru Brian pula.


Maira dan kedua teman nya begitu terkejut melihat kedatangan Dika dan Brian.


"Kak Brian tolong" seru Maira langsung


Brian langsung meraih kain pengelap dan membasahi nya diwastafel, sedangkan Dika langsung mematikan kompor. Brian dengan sigap memukul mukul api itu dengan cepat, hingga api nya mulai reda dan akhirnya mati.


Maira dan kedua teman nya langsung terduduk dilantai dengan lemas.


Wajah mereka memerah kepanasan. Bahkan tangan Maira dan Nindi sudah nampak memerah terkena minyak.


"Kak Brian" gumam Nindi yang merasa ini mimpi bertemu dengan Brian nya


"Kamu gak apa apa?" tanya Brian seraya menunduk, dan melihat lengan Nindi yang sudah memerah bahkan melepuh


"Sakit" jawab Nindi seraya menahan tangis


"Lagian kenapa coba bisa kayak gini" gerutu Brian.


Nindi langsung menunjuk Maira yang juga tengah mengusap lengan nya yang perih.


"Kok gue sih, kan gue gak tahu bakal begini jadi nya" ungkapnya


Brian hanya menggeleng dengan pasrah. Tidak dikampus, tidak dirumah, ketiga gadis ini memang suka sekali membuat onar.


Hingga.


brak


"Aaa" teriak Putri dan Dika bersamaan


Maira dan Nindi juga Brian langsung memandang dua orang itu. Yang kini sudah saling duduk dengan posisi yang saling tindih.


Nindi yang ingin menangis jadi tertawa melihat mereka.


"Kalian itu ngapain, nangkep kodok?" tanya Maira yang juga ikut tertawa. Apalagi melihat wajah Dika dan Putri yang tersiram tepung dari atas meja. Lucu sekali


"Ini gara gara kakak, kenapa coba jalan gak lihat lihat" gerutu Putri seraya mengusap wajahnya.


"Lantainya licin, gimana gak jatuh. Tuh lihat minyak sama telur semua" sahut Dika pula. Dia juga mengusap wajah nya yang kotor, bahkan sekarang pakaian nya juga sudah kotor. Sial sekali memang.


Brian langsung terkekeh melihat wajah kesal Dika.


"Memang selalu sial jika bertemu mereka bertiga" sahut Brian.


"Enak aja, emang kita apaan" sahut Putri begitu kesal.


Mereka semua terduduk diatas lantai dengan wajah wajah yang lucu. Sungguh, dapur dokter Danar sudah seperti kapal pecah sekarang. Bahkan orang orang nya juga nampak hancur berantakan.


Hingga tiba tiba..


"Astaghfirullah.... kalian pada ngapain???"

__ADS_1


__ADS_2