Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kerumah Sakit (Erika)


__ADS_3

Hari sudah mulai senja, dan Erika juga sudah pulang dari cafe tempat dia bekerja sehari hari. Dua bulan sudah Erika hidup sendirian dan jauh dari keluarga.


Sendirian untuk bertahan dalam kehidupan yang benar benar terasa begitu menyiksa. Dulu dia hanya tahu meminta dan menikmati hasil, tapi sekarang, dia harus bekerja untuk bisa terus hidup. Yang bahkan tidak tahu harus bagaimana lagi kedepan nya.


Sendirian itu sulit, sakit dan pedih. Apalagi ketika dibenci oleh semua orang seperti ini. Bukan hanya orang orang diluar, tapi juga orang tua nya.


Setelah bertemu dengan Ervan tadi, perasaan Erika benar benar gundah dan sedih kembali. Selama dua bulan ini dia sudah sekuat mungkin untuk menata hati dengan baik. Tapi sepertinya, hatinya yang sedang rapuh dan lemah ini memang sudah begitu lelah.


Erika terima pencacian dari orang lain, tapi kenapa melihat tatapan benci dari Ervan dia benar benar sedih. Rasanya sama seperti dia yang dibuang begitu saja dari keluarganya.


Sangat menyakitkan.


Sesampainya dirumah petak yang disewa nya, Erika langsung mandi dan berwudhu, karena hari juga sudah masuk waktu Maghrib.


Mungkin dengan shalat hatinya bisa tenang kembali, seperti yang selalu dia lakukan akhir akhir ini.


Ya, Erika sudah memutuskan untuk memperbaiki diri sekarang. Meski dia tahu dia jahat dan salah, tapi sungguh, di sisa waktunya, Erika hanya ingin berubah.


Didalam rumah petak itu Erika tinggal sekarang, rumah petak yang dia dapatkan dari seorang wanita baik yang mau menumpanginya.


Saat malam itu, malam dimana dia di usir dari rumah. Erika sudah seperti orang gila yang berjalan keluyuran tengah malam. Menangis dengan penampilan yang begitu menyedihkan. Memeluk tas kecil yang dicampakkan oleh ibunya.


Erika bingung, tidak tahu kemana. Rasanya dia benar benar ingin mati saat itu.


Tapi ada seorang wanita tua, dia baru pulang dari berjualan dan membawa Erika kerumah petak kecil ini, rumah petak yang hanya ada satu kamar dan satu kamar mandi. Sangat kecil dan pengap.


Wanita itu meminta Erika untuk tinggal disini saja menemani dia yang memang tinggal sendirian. Dan wanita itu pula yang mengajari Erika untuk lebih mendekatkan diri pada Allah agar rasa sedih dan kecewa nya bisa berkurang.


Dan karena wanita itulah, sekarang Erika sudah bisa merubah dirinya menjadi lebih baik dan mencoba untuk Istiqomah dalam berhijab juga beribadah.


Sekarang, sudah hampir sebulan, wanita itu kembali ke kampung untuk melihat anak nya. Dan tinggalah Erika yang entah sampai kapan berada dirumah ini.


Tapi, Erika cukup bersyukur, karena masih ada orang baik yang mau menampungnya disaat semua orang membencinya.


Suara Isak tangis lagi lagi terdengar didalam kamar kecilnya. Begitu pilu, begitu penuh penyesalan, dan begitu penuh kesakitan.


Diperalat, dibuang dan dijauhi semua orang. Sangat miris bukan.


Erika menahan tangis seraya bibirnya terus mengucapkan kalimat istighfar ratusan kali. Bahkan sampai dia merasa hatinya tenang dan damai kembali.


Meminta diberi kemampuan oleh Allah SWT. Meminta diberi kekuatan dan keimanan yang kokoh agar dia tetap Istiqomah dan tidak putus asa.


Sendirian tidak masalah, setidaknya dia masih punya tempat mengadu sekarang.


Ya, tempatnya mengeluarkan semua air matanya diatas sajadah ini. Menumpahkan segala beban dihatinya.


Allah tidak akan mencaci nya, Allah tidak akan menghakiminya, dan Allah tidak akan membencinya seperti yang lain.


Air mata itu terus keluar seiring dengan lantunan istighfar yang diucapkan nya. Dan seperti itulah setiap kali Erika selesai shalat. Bahkan sekarang, rasanya menghabiskan waktu berjam jam diatas sajadah lebih baik dari pada menangis dan menyesali semuanya.


Wanita tua itu berkata jika Allah maha pengampun dan maha penyayang. Dan karena itu Erika percaya, jika dia memang harus benar benar bertaubat dan memperbaiki diri agar Allah mengampuni nya dan juga menyayanginya.


Erika tidak punya siapa siapa lagi sekarang. Dia hanya sendirian. Sendirian dalam rasa sedih yang tidak berujung.


Erika duduk diatas sajadah begitu lama. Bahkan sampai masuk ke waktu isya lagi. Dia melanjutkan ibadahnya sampai malam. Dan ketika dia merasa pinggang nya sudah sakit barulah Erika beranjak dari sana.


Erika tidak tahu mengaji, dia tidak bisa melafazkan ayat ayat suci Al-Quran itu dengan baik, karena wanita tua itu hanya mengajari nya untuk shalat dan berzikir saja. Jadi Erika hanya tahu itu. Mungkin nanti dia akan mencari seorang guru ngaji untuk belajar.


"Uuhhh" Erika langsung meringis saat dia merasakan pinggang nya yang berdenyut begitu ngilu. Bahkan itu membuat Erika langsung jatuh terbaring diatas kasur lipat tempat nya tidur.


"Kayak nya besok periksa aja deh. Sakit banget akhir akhir ini" gumam Erika seraya matanya yang terpejam menahan sakit.


Sudah sebulan terakhir ini dia merasa pinggang nya tidak baik baik saja. Terkadang selalu sakit dan berdenyut, apalagi jika dia kelelahan saat bekerja, dan juga saat duduk terlalu lama seperti ini. Rasanya sudah tidak sanggup lagi.

__ADS_1


Dan akhirnya, Erika hanya bisa terbaring diatas kasur tipis itu. Masih dengan mengenakan mukenah. Tidak lagi makan malam, dia hanya mengisi perutnya yang lapar dengan air putih saja.


Berharap besok rasa sakit ini akan berkurang.


Sebelum tidur, lagi lagi Erika menghabiskan waktu dengan membaca buku panduan ibadah. Melafazkan surah surah pendek yang menjadi hafalan nya sekarang.


Ya, hanya itu keseharian Erika. Menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri pada yang kuasa.


..


Keesokan harinya...


Hari ini kebetulan Erika mendapat jatah libur nya. Dalam satu bulan, dia bisa mengambil libur satu hari. Dan hari ini dia memutuskan pergi kerumah sakit untuk memeriksakan kesehatan nya.


Semalam Erika baru mendapatkan gaji kedua nya, jadi mungkin ini akan cukup untuk dia periksa.


Ya, hanya periksa bukan berobat. Karena Erika yakin jika uang dua juta rupiah tidak akan cukup untuk periksa sekaligus membeli obat.


Kebetulan Erika ditangani oleh dokter Danar. Karena dari keluhannya, dia memang seperti menderita penyakit dalam.


Erika membawa laporan berkas pemeriksaan nya tadi dan berjalan menuju ruangan dokter Danar.


Sebenarnya dia tidak enak, tapi apa boleh buat, ini ketentuan dari rumah sakit.


Erika menarik nafasnya dalam dalam sebelum mengetuk pintu.


tok tok tok


"Masuk"


seruan dari dalam entah kenapa membuat jantung nya berdenyut ngilu.


Erika takut dan malu.


Apa dia juga akan bilang jika ini adalah karma.


Astaghfirullah...


Kenapa fikiran Erika jadi picik begini.


Dokter Danar bukan orang yang seperti itu.


Dan akhirnya, Erika pun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan dokter Danar.


"Assalamualaikum dokter" sapa Erika, terdengar begitu canggung.


"Waalaikumsalam wrwb" jawab Dokter Danar. Dia terlihat sedang menulis sesuatu disebuah buku, dan saat menoleh kearah Erika, dokter Danar terlihat bereaksi.


Apa dia terkejut?


Erika langsung tertunduk dan langsung berjalan menuju dokter Danar.


"Duduklah, kamu Erika kan?" tanya dokter Danar. Dokter Danar terlihat ragu. Apa karena dia yang sudah berhijab sekarang??


"Iya dokter, saya Erika" jawab Erika.


Dokter Danar tersenyum tipis dan mengangguk.


"Sudah periksa dibawah tadi kan. Ada keluhan apa?" tanya dokter Danar seraya meraih berkas yang diletakkan Erika diatas mejanya.


"Sakit pinggang dokter" jawab Erika.


Dokter Danar mengangguk pelan, dan matanya kini membaca laporan pemeriksaan Erika tadi. Dan alisnya langsung berkerut membaca laporan ini.

__ADS_1


"Ginjal kamu tinggal satu?" tanya dokter Danar memandang pada Erika dengan wajah tenang nya seperti biasa.


Erika langsung mengangguk pelan.


"Jika saya boleh tahu, memang bawaan lahir, diangkat, atau sengaja diangkat?" tanya dokter Danar.


"Sengaja di angkat dokter. Waktu saya masih berusia enam belas tahun, saya mendonorkan salah satu ginjal untuk kakak saya" ungkap Erika. Jawaban nya terdengar begitu getir.


Dan karena jawaban itu membuat dokter Danar nampak menghela nafas nya, seraya memandang Erika dengan begitu serius. Bahkan Erika sampai tertunduk dan tidak berani memandang wajah dokter itu.


"Menurut pemeriksaan ini, ginjal kamu sudah mulai rusak. Apalagi pola makan kamu yang tidak terjaga. Dan seharusnya mendonorkan ginjal tidak diperbolehkan diusia semuda itu. Minimal 18 tahun. Dan kamu berusia 16 tahun , itu sangat berbahaya sebenarnya " ungkap dokter Danar


Erika semakin tertunduk. Jika mengingat itu dia semakin sedih. Bahkan bukan hanya sekedar berbahaya, melainkan Erika sudah hampir mati waktu itu saat dia dipaksa untuk mendonorkan ginjalnya pada sang kakak yang memiliki riwayat sakit ginjal.


"Jadi saya harus apa sekarang dokter?" tanya Erika.


"Jika dibiarkan, ginjal kamu yang mulai rusak ini akan membusuk. Dan itu sangat berbahaya untuk nyawa kamu"


deg


"Untuk sementara kamu bisa melakukan cuci darah setiap minggunya"


deg


lagi jantung Erika serasa terhempas keluar.


"Atau jika usaha cuci darah tidak juga berhasil dalam dua bulan, kamu memang harus sudah mendapatkan donor ginjal lain"


Erika langsung memejamkan matanya mendengar itu. Rasanya lemas dan tidak bertulang.


Kenapa semua ini harus dia rasakan.


Ya Allah...


Erika takut.


"Jika tidak, apa saya akan mati?" tanya Erika dengan begitu lirih. Bahkan air mata sudah membendung diwajah pucatnya.


"Erika, hidup dan mati itu ada ditangan Allah. Dan sebagai hambanya kita hanya perlu berusaha dan berdoa." jawab dokter Danar


Erika mengangguk pelan seraya mengusap cepat air mata yang jatuh diwajahnya.


"Kamu datang sendiri?" tanya dokter Danar.


Dan sungguh, pertanyaan dokter Danar semakin membuat luka di hati Erika semakin bertambah parah.


Erika hanya bisa mengangguk pelan


"Dimana orang tua kamu, seharusnya kamu pergi bersama mereka untuk membahas penyakit kamu ini" ungkap dokter Danar lagi.


Erika menghela nafas sejenak dan mencoba tersenyum dikala dia benar benar ingin menangis.


"Mungkin besok saya akan kemari bersama mereka dokter. Untuk sekarang, terimakasih" ucap Erika yang berusaha sekuat mungkin untuk menahan Isak tangis nya. Meski dokter Danar tahu, jika Erika sangat kalut sekarang.


"Kamu sedang ada masalah?" tanya dokter Danar


Erika menggeleng pelan.


"Tidak dokter, saya baik baik saja. Jika begitu saya pamit dulu. Terimakasih. Assalamualaikum" Erika langsung beranjak dari kursi nya dan langsung pergi keluar meninggalkan dokter Danar yang masih memandang kepergian nya.


"Waalaikumsalam" gumam dokter Danar. Dia cukup terkejut dengan kedatangan Erika sebenarnya. Gadis itu sudah nampak berubah. Sudah berhijab dan sudah beraura. Tapi yang membuat dokter Danar sedikit gelisah, adalah tentang sakit nya dan kemana orang tuanya????


Jika ginjal rusak itu dibiarkan, maka nyawa Erika bisa terancam. Dia memang pernah hampir membuat Maira celaka, tapi sebagai sesama makhluk ciptaan Allah, dokter Danar juga tidak tega melihat Erika seperti itu. Apalagi kelihatan sekali dia memendam sebuah beban dan kepedihan yang begitu mendalam.

__ADS_1


__ADS_2