
Maira dan Putri kini sedang duduk dan menemani Nindi makan siang. Sudah dua hari berlalu sejak Nindi sadar, dan kini kondisi Nindi sudah mulai pulih, meski terkadang Nindi masih sering mengeluh sakit kepala.
Hari ini adalah hari Minggu, jadi mereka bisa menemani Nindi dirumah sakit. Mama Nindi sedang pulang kerumah untuk membuatkan makanan untuk Nindi. Jadi sekarang mereka bertiga diruangan ini.
Maira masih selalu sedih ketika melihat Nindi yang seperti ini. Bahkan tidak ada lagi tawa ceria dan kepolosan Nindi yang terkadang menyebalkan dan selalu membuat mereka kesal. Sekarang, Nindi sudah seperti orang lain. Cara bicaranya, senyum yang hanya sekedar nya, dan tentu nya, tidak seperti Nindi yang mereka kenal.
"Lagi gak?" tanya Putri saat Nindi sudah menghabiskan separuh bubur nya.
"Enggak, aku udah kenyang" jawab Nindi.
"Kamu minum obat ya " sahut Maira pula.
Nindi mengangguk pelan seraya meraih obat dari tangan Maira.
"Jadi kamu sedang hamil ya" kata Nindi setelah dia meminum obat nya.
Maira tersenyum dan mengangguk.
"Kamu cocok dengan dokter Danar. Anak kamu pasti seperti ayah nya nanti" ungkap Nindi.
Mata Maira langsung berair lagi mendengar itu. Sedangkan Putri nampak tertunduk sendu. Ini adalah perkataan Nindi sebelum dia lupa ingatan. Dia yang ingin anak Maira mirip ayah nya, bukan Maira.
"Iya, mudah mudahan dia memang mirip ayah nya. Gak kayak aku ya kan" kata Maira seraya tertawa getir.
Nindi tersenyum dan menggeleng.
"Seperti kamu juga tidak apa apa. Kamu juga cantik dan baik." jawab Nindi.
Bibir Maira langsung bergetar menahan tangis mendengar itu. Hamil ini dia begitu sensitif, dan sekarang Nindi malah semakin membuat nya selalu ingin menangis.
"Kenapa kamu malah bersedih?" tanya Nindi.
Dan ...
Maira sungguh tidak bisa lagi menahan tangis nya.
"Huuuuuu padahal kamu dulu sangat tidak mau jika anak ku mirip aku" jawab Maira dengan Isak tangis nya.
Putri langsung mengusap pundak Maira yang lagi lagi kembali menangis.
"Kenapa begitu. Kamu ibunya, wajar kan jika anak kamu mirip kamu" jawab Nindi.
Maira kembali tertunduk dan semakin menahan tangis nya yang tidak bisa lagi dia tahan.
"Udah jangan nangis" bisik Putri.
"Kamu cepat sehat ya. Biar kita bisa sama sama nemeni Maira sampai lahiran" kini Putri memandang kearah Nindi.
Nindi mengangguk dan tersenyum.
"Doain aja" jawab Nindi.
__ADS_1
Maira tersenyum dan mengangguk, seraya menahan tangis nya. Sungguh demi apapun, dia benar benar tidak bisa melihat Nindi yang seperti ini.
"Kenapa lelaki itu tidak datang lagi?" tiba tiba pertanyaan Nindi malah melenceng jauh.
"Lelaki yang mana?" tanya Putri.
"Lelaki yang setiap hari selalu datang kemari" jawab Nindi.
"Kak Brian?" tanya Maira Putri.
Nindi mengangguk pelan.
"Biasanya jika siang hari seperti ini dia selalu datang, tapi kenapa sekarang tidak?" tanya Nindi.
"Apa kamu mengingat sesuatu tentang dia?" tanya Putri lagi. Sedangkan Maira masih sibuk meredam Isak tangis nya.
"Tidak, aku hanya tidak ingin melihat dia lagi" jawab Nindi
deg
Putri dan Maira langsung mematung mendengar itu.
"Kenapa?" tanya mereka bersamaan.
"Bukan kah, laki laki dan perempuan tidak boleh selalu bersama. Dokter Danar selalu berpesan begitu kan" jawab Nindi.
Maira dan Putri saling pandang bingung. Bukan kah Nindi begitu menyukai Brian, lalu kenapa dia bisa semudah ini berkata seperti itu?
Dan lagi, sekarang Brian sudah mulai dekat dengan Nindi, seharusnya Nindi suka. Tapi kenapa sekarang malah menjadi terbalik.
"Tapi kak Brian kan..."
"Dia hanya ingin menemani kamu Nin.. Siapa tahu dengan kehadiran dia, kamu bisa dengan cepat mengingat sesuatu." sahut Putri yang langsung menghentikan ucapan Maira. Dia tidak ingin Maira mengatakan sesuatu apapun tentang Brian.
Biar keadaan nya berbalik. Agar mereka tahu isi hati Brian yang sesungguhnya.
Nindi menggeleng pelan.
"Dokter Danar bilang semua pasti akan aku ingat perlahan lahan. Begitu juga dengan dia. Lagi pula, jika dia orang yang cukup penting, aku pasti bisa dengan mudah mengingat nya nanti. Tapi saat ini, entah kenapa hatiku tidak ingin melihat nya. Seperti ada sesuatu yang membuat hatiku sedih ketika melihat dia" ungkap Nindi.
Putri dan Maira langsung tertegun mendengar itu.
"Saat bersama kalian dan mama aku merasa senang, tapi ketika ada dia, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan nya. Ada rasa sedih, dan senang yang datang bersamaan. Dan itu membuat ku tidak nyaman" kata Nindi lagi.
Maira yang duduk disamping Nindi langsung mengusap bahu Nindi dengan lembut.
"Kak Brian juga seperti kami Nin. Dia sangat berharap kamu sembuh. Dan kamu juga memerlukan bantuan dia untuk sembuh" ujar Maira.
..
Sedangkan tanpa mereka tahu, jika ternyata Brian sejak tadi berdiri didepan pintu yang tidak tertutup. Dia ingin masuk karena baru saja datang setelah pagi ada urusan sebentar. Namun ketika ingin masuk, dia malah mendengarkan perkataan Nindi yang terasa menusuk hatinya.
__ADS_1
Benarkah yang dia dengar itu?
Benarkah jika Nindi tidak ingin menemui nya lagi?
Kenapa terasa aneh.
Sakit, perih dan juga..... tidak nyaman.
Apa Nindi memang merasa tidak nyaman dengan kehadiran nya?
Tapi kenapa?
Bukan kah selama ini Nindi sangat senang jika Brian datang. Tapi kenapa sejak dia amnesia Nindi jadi tidak menginginkan dia lagi.
Kenapa sesakit ini?
Apakah begini yang dirasakan Nindi selama ini ketika Brian mencoba menjauhi nya?
Sakit, perih dan lemas serasa tidak bertulang.
Pluk
Satu tepukan mendarat dibahu Brian, membuat dia langsung terkejut dan langsung menoleh kebelakang.
Ternyata dokter Danar yang datang
"Sedang apa" tanya dokter Danar.
Brian menggeleng pelan dan segera beranjak dari depan pintu itu. Duduk dikursi tunggu dengan wajah lesu nya.
Dokter Danar juga ikut duduk disamping Brian seraya matanya yang memandang pada pintu ruangan Nindi.
"Kamu tahu seperti apa jika menggantungkan harapan pada seorang manusia bukan." ucap dokter Danar tiba tiba.
Brian terdiam.
"Hanya kekecewaan yang selalu didapatkan" kata dokter Danar lagi.
Dan kali ini Brian langsung menunduk dan menghela nafasnya dalam dalam.
"Jangan sedih kan apa yang tidak perlu disedihkan. Jangan difikirkan apa yang tidak perlu difikirkan. Serahkan semua pada Allah. Hati manusia tidak ada yang tahu. Jika kemarin kamu yang menjauh saat dia mendekat, maka kini kamu harus bisa merasakan apa yang dia rasa" ungkap dokter Danar.
Brian tertegun mendengar itu. Dokter Danar ternyata cukup tahu apa yang telah terjadi.
"Serahkan semua pada Allah. Jodoh dan mati kamu ada ditangan Nya. Jika kamu menyukai nya,, mintalah pada pemilik dirinya. Bukan nya hanya memandang nya saja dan seperti ini" kata dokter Danar lagi seraya menepuk bahu Brian.
Brian tersenyum tipis dan langsung mengangguk.
"Saya masih selalu termakan hawa nafsu mas" jawab Brian akhirnya.
"Wajar, kita manusia, sudah pasti dikuasai oleh nafsu. Hanya saja, jangan terlalu terhanyut" ujar dokter Danar lagi.
__ADS_1
Brian langsung tersenyum dan mengangguk.
Ya, seharusnya dia memang hanya harus pasrah pada pemilik takdir saja saat ini. Seraya berdoa meminta yang terbaik untuk perasaan yang terkadang membuat nya gelisah.