Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Jangan Pergi


__ADS_3

Maira mulai sadar dari tidur nya. Sudah beberapa jam dia tertidur dan tidak sadarkan diri. Dan saat dia terbangun, hari sudah gelap.


Mata Maira sedikit mengerjap dan memicing memandangi ruangan yang nampak kosong.


Dia sendirian???


Tapi, seingatnya tadi dia dibawa oleh dokter Danar. Apa itu cuma mimpi??


Atau dokter Danar membiarkan nya disini sendiri karena masih marah? Dan lagi, bukan kah tadi dia juga sempat bertemu Ervan???


Maira langsung meraba kepala nya yang masih pusing. Ervan... kenapa dia selalu datang, dan kenapa dokter Danar malah mengabaikan nya seperti ini.


Mata Maira kembali berkaca kaca, dia mencoba untuk beranjak dan duduk diatas tempat tidur seiring dengan pintu ruangan yang terbuka.


Maira menoleh kearah pintu dan dapat dia lihat dokter Danar masuk dengan wajah teduhnya seperti biasa. Rambutnya masih basah, apa dia habis shalat???


"Dokter" lirih Maira.


Dokter Danar tersenyum seraya berjalan mendekat kearah Maira. Dia meletakkan sebuah paper bag yang dia bawa diatas meja.


"Apa masih ada yang sakit?" tanya dokter Danar seraya meraih tangan Maira dan memeriksa denyut nadinya. Memperhatikan infus yang tinggal sedikit lagi.


Maira memandangi dokter Danar dengan lekat, seraya menahan tangis nya sekarang. Kenapa dokter Danar malah berlagak seperti seorang dokter untuk nya sekarang. Bukan nya bertanya yang lain, menyebalkan memang!


"Apa dokter begitu marah sampai tidak mau pulang lagi?" tanya Maira.


Dokter Danar memandang Maira yang nampak menahan tangis.


"Kamu harus banyak istirahat dan jangan sampai tidak makan lagi" ujar dokter Danar yang malah mengabaikan pertanyaan Maira.


Membuat Maira semakin sedih.


"Apa karena dokter begitu kecewa, dokter tidak mau lagi menemui saya" tanya Maira. Air dimatanya semakin banyak membendung dan ingin tumpah.


"Besok pagi kamu sudah boleh pulang" ucap dokter Danar. Seraya memalingkan wajahnya dan meraih alat alat suntik nya diatas meja.


Maira mendengus dan mengusap kasar air mata yang mulai keluar.


"Gak usah nunggu besok pagi. Saya bisa pulang sekarang" ucap Maira yang langsung menarik kasar jarum infus ditangan nya membuat darah langsung mengucur dengan deras.


"Maira" seru dokter Danar yang begitu terkejut melihat kelakuan Maira yang nekad.


"Saya itu kemari untuk ketemu suami saya. Bukan mau ketemu dokter. huaa... dokter jahat!!!" teriak Maira yang langsung turun dan melompat kelantai, namun karena tubuhnya masih lemah dia hampir terhuyung dan jatuh jika saja dokter Danar tidak dengan cepat menangkap nya.


"Lepasin!!!" seru Maira seraya memberontak. Dia benar benar kesal melihat sikap dokter Danar ini. Apa dokter Danar tidak tahu jika dia rindu.


"Hei, diam, lihat kamu melukai diri kamu sendiri" kata dokter Danar seraya meraih tangan Maira dan masih merangkul pinggang Maira.


"Biarin... biarin aja. Saya mau pulang. Saya gak mau disini. dokter jahat. Dokter gak tahu kalau saya rindu. Dokter gak tahu kalau saya sedih... huaaaaa" Maira menangis dengan kencang seraya mengungkapkan semua isi hatinya.


"Saya udah mutusin Ervan, saya udah ninggalin dia. Tapi dokter malah begini sama saya. Dokter gak mau pulang dan mengabaikan saya. Dokter jahat" seru Maira lagi seraya terus menangis dan memberontak.

__ADS_1


Dokter Danar tersenyum dan menarik Maira kedalam pelukan nya.


"Dokter jahat" ucap Maira lagi yang menangis dalam pelukan dokter Danar. Namun tangan nya malah memeluk tubuh dokter Danar dengan erat.


"Bagaimana saya bisa pulang jika istri saya masih menyimpan nama lelaki lain dihatinya" ucap dokter Danar


"Enggak ... saya udah ngelepasin dia" jawab Maira disela sela Isak tangis nya.


"Saya akan pulang jika istri saya sudah mau menerima saya" kata dokter Danar lagi.


"Saya udah ... hiks... saya udah Nerima dokter. Saya gak mau dokter pergi" kata Maira yang menangis semakin terisak dengan pelukan yang semakin erat.


"Kenapa kalau saya pergi, bukankah selama ini kamu meminta saya pergi?" tanya dokter Danar. Meski pertanyaan nya begitu, namun tangan nya masih mengusap bahu Maira dengan lembut.


"Saya... saya gak mau dokter pergi. Dokter jangan pergi. Saya mau hidup sama dokter, saya mau jadi istri dokter. Saya gak mau dokter pergi. Saya ... saya udah sayang sama dokter.... huuuuu" ungkap Maira lagi.


Dokter Danar langsung tersenyum dan mengecup kepala Maira dengan lembut dan lama. Ya Allah, bahagia sekali rasanya mendengar ungkapan ini.


Dokter Danar melepaskan pelukan Maira, meraih tubuh Maira dan mendudukkan nya diatas ranjang kembali.


Maira masih menangis sesunggukkan dan memandang dokter Danar dengan sedih, namun ketika dokter Danar memandang nya, dia malah menunduk takut.


"Yakin dengan perkataan kamu?" tanya dokter Danar seraya menggenggam tangan Maira yang terasa mendingin.


Maira mengangguk dengan cepat.


"Coba lihat saya dulu" pinta dokter Danar.


"Ketika kamu sudah menerima saya, kamu sudah harus siap untuk semua nya. Menjadi istri saya dan jangan lagi dekat dekat dengan lelaki itu. Apapun alasan nya" pinta dokter Danar.


Maira kembali mengangguk dengan cepat.


"Saya janji. Saya... saya mau jadi istri yang baik. Saya gak akan melawan lagi. Saya.. saya akan nuruti apa kata dokter" kata Maira dengan cepat seraya menahan Isak tangisnya.


Dokter Danar tersenyum dan mengusap wajah Maira dengan lembut.


"Sudah jangan menangis lagi" ujar dokter Danar.


"Dokter pulang kan?" tanya Maira. Nada bicaranya terdengar begitu memelas, membuat dokter Danar begitu gemas dan lucu. Istri kecilnya ini memang menggemaskan. Harus perlu cara untuk mengetahui isi hatinya. Dan terbukti sekarang, Maira mau mengungkapkan semuanya.


"Kalau saya tidak mau bagaimana?" tanya dokter Danar yang masih ingin menggoda.


Bibir Maira kembali bergetar, namun dokter Danar kembali menarik Maira kedalam pelukan nya seraya tertawa kecil.


"Saya bercanda. Saya pasti pulang. Saya tidak mungkin meninggalkan kamu terlalu lama" kata dokter Danar seraya mengusap bahu dan kepala Maira.


"Tapi dari semalam dokter gak pulang" ucap Maira.


Dokter Danar mencium pucuk kepala Maira dan kembali melepaskan pelukan nya.


"Maaf, semalam ada pasien saya yang kritis dan harus menjalani operasi dadakan. Saya tidak sempat pulang karena keadaan nya benar benar kritis" jawab dokter Danar seraya mulai mengobati tangan Maira yang terluka dan berdarah.

__ADS_1


"Tapi gak mau ngabarin saya. Nomor dokter juga gak aktif" ucap Maira seraya mengusap wajah nya dengan pelan.


"Ponsel saya kehabisan daya. Lupa juga naruh nya dimana" jawab dokter Danar


"Aauuh sakit dokter" ucap Maira tiba tiba saat dokter Danar membersihkan luka itu.


"Kamu suka sekali melukai diri sendiri" ucap dokter Danar


Maira hanya diam dan mengerucutkan bibirnya. Meraba kepala nya yang kembali terasa pusing.


"Pusing lagi?" tanya Dokter Danar seraya mengusap rambut Maira yang berantakan .


Maira hanya mengangguk pelan.


"Baring dulu ya, kamu juga belum shalat Maghrib kan" kata dokter Danar seraya membantu Maira berbaring.


"Saya lagi dapet" jawab Maira begitu pelan


"Pantas saja, tekanan darah kamu rendah, dan sekarang malah buang darah lagi" gerutu dokter Danar.


"Semua karena dokter" sahut Maira.


Dokter Danar kembali tersenyum dan mengusap kepala Maira.


"Kalau sudah menerima saya sebagai suami, jangan panggil dokter lagi dong" ucap dokter Danar


Maira langsung membuka matanya yang sempat terpejam. Dia memandang dokter Danar dengan ragu.


"Dokter juga jangan ngomong baku lagi coba" balas Maira pula.


Dokter Danar tersenyum dan mengangguk.


"Iya" jawab nya singkat


"Tapi manggil apa?" gumam Maira yang bingung


"Aaahh dokter sakit" pekik Maira saat lagi lagi dokter Danar menusukkan jarum infus ditangan nya.


"Biar cepat sehat sayang" ucap dokter Danar.


Maira langsung terdiam mendengar kata kata itu. Ya ampun, dia bahkan lupa rasa sakitnya.


Maira memandang dokter Danar yang masih memasang infus nya lagi.


Apa dokter Danar sadar dengan apa yang dia ucapkan?


Dan lagi, kenapa dokter Danar yang memanggil nya dengan sebutan itu bisa membuat jantung Maira berdebar dengan hebat??


Tapi ketika Ervan yang memanggil, dia biasa saja.


"Kenapa, langsung hilang sakitnya dipanggil sayang" goda dokter Danar seraya tertawa kecil.

__ADS_1


Maira berdecak kesal dan langsung memalingkan wajahnya yang merona.


__ADS_2