Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Lukisan Di Danau Hijau


__ADS_3

Ervan duduk dan memandangi Erika yang sedang melukis. Saat ini mereka sedang berada ditaman kota. Duduk dipinggir danau hijau yang dipenuhi oleh tumbuhan teratai.


Erika sedang melukis pemandangan danau itu sekarang. Wajahnya nampak serius dan benar benar fokus pada lukisan nya. Dan dia sama sekali tidak ada memandang pada Ervan sejak tadi.


Benar memang, jika Erika sudah sangat berubah sekarang.


"Kenapa kamu bisa tahu aku disini?" tanya Erika.


Ervan sedikit terkejut mendengar itu.


"Tadi aku kerumah, kata Akbar dan Ayu kamu ada disini" jawab Ervan.


Erika mengernyit dan langsung menoleh pada Ervan.


"Kamu datang kesini untuk menemui ku? Ada perlu apa?" tanya Erika. Cukup heran.


Ervan langsung menghela nafas dan bersandar dibatang pohon besar yang menjadi tempat mereka bernaung.


"Aku ada perlu dengan mu. Lusa aku ingin mengajak mu pergi ke pernikahan Putri" jawab Ervan.


Erika terdiam, bahkan dia nampak mematung memandang danau hijau dihadapan mereka saat ini.


"Kamu saja lah Van" ucap Erika.


Ervan langsung memandang Erika dengan bingung.


"Kenapa? Bukankah kamu di undang juga?" tanya Ervan.


Erika mengangguk


"Tapi aku tidak enak mau datang. Aku....malu" ucap Erika terdengar lirih.


"Malu kenapa?" tanya Ervan


"Malu. Kamu kan tahu bagaimana hubunganku dengan mereka. Apalagi disana nanti ada teman teman yang lain. Aku benar benar tidak siap untuk bertemu mereka" jawab Erika.


"Jangan begitu. Mereka sudah melupakan itu. Kamu harus pergi, setidak nya jangan memutus silaturahmi dengan mereka. Bukankah mereka sudah baik padamu" ujar Ervan


Erika tertunduk seraya meletakkan kuas dan cat yang sedari tadi dia pegang.


"Tapi aku benar benar malu Van" ucap Erika yang kini memandang Ervan dengan pandangan lirih. Dia benar benar tidak siap bertemu dengan teman teman kampus nya. Apalagi dengan Maira dan kedua sahabatnya itu. Bagaimana jika ada dokter Danar disana, Erika takut dokter tampan itu akan mengungkit tentang penyakitnya nanti.


"Kamu sudah berubah menjadi lebih baik, tidak ada yang mesti dimalukan. Mereka pasti senang melihat kamu datang" ucap Ervan.


Namun Erika tetap menggeleng pelan.


"Tidak ... aku masih belum siap bertemu mereka." ucap Erika.


"Kenapa?" tanya Ervan lagi.


Namun Erika hanya menggeleng dan mengangguk.


"Kamu pergi bersama ku Erika. Tidak sendiri" ucap Ervan lagi.


Kali ini Erika memandang kearah Ervan dengan sendu.


"Apa kamu tidak malu pergi bersama ku. Kamu akan digunjing oleh semua orang nantinya Van" ucap Erika.


"Tidak masalah, yang terpenting sudah datang. Siapa yang berani menggunjing, paling juga berbicara dibelakang" jawab Ervan dengan santai nya.


"Sudahlah, jangan banyak alasan, lusa aku akan menjemputmu. Kita pergi bersama nanti" ujar Ervan lagi.


Erika menghela nafasnya dengan berat dan kembali memandang kedanau hijau yang terlihat tenang itu.


"Kamu memaksa sekali" gumam Erika.


"Ingat, kamu masih punya janji padaku untuk memenuhi semua permintaan ku selama sebulan ini" sahut Ervan.


Erika mengerucutkan bibirnya dan memandang kesal pada Ervan.


"Hanya lukisan Van, tapi kenapa perhitungan sekali" tanya Erika.


Ervan mengendikan bahunya dengan acuh.

__ADS_1


"Salah sendiri kenapa tidak meminta izin dulu" jawab Ervan.


"Memang nya jika meminta izin kamu akan memberi?" tanya Erika.


"Tergantung" jawab Ervan.


"Tergantung apa?" tanya Erika lagi.


"Tergantung mood ku. Sudah lah, kenapa malah berhenti melukis nya. Aku kan ingin lihat. Siapa tahu aku bisa melukis juga" ujar Ervan.


"Coba saja.." jawab Erika.


"Memang boleh?" tanya Ervan.


Erika mengangguk pelan


"Boleh, cobalah" jawab Erika seraya menyerahkan kuas dan cat itu pada Ervan.


Ervan nampak senang, dia bahkan langsung menerima nya dengan senang hati. Namun ketika akan mengoleskan warna, dia kembali bingung.


"Warna apa, dan apa yang harus aku lukis" gumam nya. Membuat Erika langsung tertawa kecil. Tawa yang baru kali ini Ervan lihat.


"Kamu bisa menggambar bunga teratai itu disini. Nanti komponen yang lain biar aku" ucap Erika seraya menunjuk tempat di kain kanvas nya.


"Ah iya benar.. Tapi bagaimana jika jelek dan tidak laku" tanya Ervan sedikit ragu. Pasalnya kan Erika melukis untuk dia jual lagi.


"Tidak apa apa. Bisa aku simpan" jawab Erika yang kini sedang mencampur adukkan warna yang dia perlukan.


"Baiklah, jangan menyesal" ucap Ervan yang mulai mengambil warna dan mengoleskan ke kanvas itu.


Erika tersenyum dan menggeleng.


Meskipun jelek dan tidak beraturan, atau bahkan cantik sekalipun mungkin dia tidak akan menjual lukisan ini nantinya. Karena tanpa Ervan tahu, hati Erika sangat senang Ervan mendatangi nya kemari.


Padahal tadi dia sempat takut karena rasa sakitnya yang semakin lama semakin parah, maka dari itu dia keluar rumah untuk mencari udara segar dan menenangkan hatinya. Dan siapa sangka, Ervan malah datang kesini dan menemaninya melukis.


Erika sangat bahagia, karena ini adalah moment yang tidak pernah bisa dia bayangkan sejak dulu.


"Apa begini?" tanya Ervan yang terlihat begitu fokus pada lukisan nya.


"Begini?" tanya Ervan seraya mengikuti arahan Erika.


"Iya" jawab Erika


"Astaga... ini bukan seperti bunga, tapi malah seperti daun keladi" ucap Ervan yang ngerih memandang lukisan nya sendiri. Namun itu malah membuat Erika kembali tertawa, hingga Ervan langsung memandang nya dengan senyum tipis.


Tawa dibalik hijab itu terlihat tulus dan indah..


"Tidak apa apa, sudah bagus. Coba gadrasikan dengan warna putih supaya lebih hidup" ujar Erika seraya dia yang mengambil warna putih dan sedikit mengoles nya diatas lukisan Ervan. Posisi mereka cukup dekat saat ini, mungkin Erika tidak sadar karena fokus pada lukisan nya, namun Ervan yang terlihat canggung hingga dia sedikit bergeser.


"Nah cantik kan" ucap Erika


"Cantik" jawab Ervan.


"Kamu memang pandai melukis. Kenapa tidak sejak dulu saja?" tanya Ervan yang kembali membuat bunga teratai disana.


"Papa tidak boleh, dia bilang ini hanya membuang buang waktu saja" jawab Erika.


"Padahal sekarang kamu sudah bisa menghasilkan dengan lukisan ini" sahut Ervan.


Erika tersenyum dan mengusap tangan nya dengan tisu yang ada disana.


"Alhamdulillah... jika tidak ada ini. Aku tidak tahu harus bekerja apa" jawab Erika.


"Berarti sudah lama kamu tidak bekerja dicafe itu?" tanya Ervan.


Erika mengangguk pelan.


"Aku manja sekali, tidak bisa lagi bekerja terlalu berat. Tapi Alhamdulillah, dengan lukisan ini uang yang aku dapatkan sudah lebih dari cukup" jawab Erika


Ervan tersenyum tipis dan mengangguk.


"Kamu menyekolahkan Akbar juga kan, apa itu cukup?" tanya Ervan.

__ADS_1


"Cukup. Lagi pula Akbar juga sekolah ditempat biasa. Jadi aku masih bisa menabung untuk masa depan mereka nanti" jawab Erika.


"Kenapa memikirkan mereka. Kenapa tidak kamu dulu. Kamu masih bisa kuliah kan" ungkap Ervan seraya memandang Erika.


Erika menggeleng pelan dan tersenyum tipis.


"Aku sudah tidak ingin lagi Van" jawab Erika.


"Kenapa?" tanya Ervan.


"Tidak ada. Tapi memang sudah lebih baik seperti ini" Jawab Erika.


Ervan menghela nafasnya dan kembali memandang lukisan dihadapan nya. Sudah ada dua bunga teratai yang dia lukis disana.


"Kamu takut dengan penyakit kamu kan?" tanya Ervan.


Erika langsung tertegun mendengar itu.


"Padahal kamu masih bisa sembuh dengan berobat" ujar Ervan lagi.


Erika menghela nafas pelan dan tertunduk perih.


"Apa yang bisa aku harapkan. Kamu yang paling tahu bagaimana kehidupan ku yang sekarang" jawab Erika, terdengar begitu getir.


"Kamu bisa mengharapkan aku kan" ujar Ervan.


Erika mendengus senyum dan menggeleng.


"Aku tidak ingin menyusahkan orang lagi." jawab Erika.


"Erika..." panggil Ervan. Dia memandang Erika dengan begitu serius. Bahkan Erika sampai canggung dipandangi seperti itu.


"Selama kamu bisa berusaha, kamu harus berusaha. Jika kamu sakit, bagaimana dengan Akbar dan Ayu? mereka pasti sedih" ucap Ervan.


"Aku tahu, sakit mu pasti bukan sakit biasa kan" tuding Ervan


Erika terdiam dan menunduk dengan helaan nafas yang berat. Siapa yang tidak ingin sembuh, dia sangat ingin. Sehat kembali dan meneruskan hidup tanpa bayang bayang ketakutan tentang penyakitnya ini.


Tapi mau bagaimana, biaya pengobatan cukup mahal. Cuci darah, donor ginjal, dan semua nya, pasti memerlukan uang yang banyak.


Siapa yang akan membayar itu?


Orang tua?


Bahkan mereka pun sudah tidak ingin lagi untuk melihat Erika, apalagi mengobatinya.


Ervan?


Tidak mungkin. Erika lebih memilih mati dari pada menyusahkan dia lagi.


Sudah cukup dulu dia yang selalu membuat Ervan susah dan risih. Jangan lagi sekarang.


Ervan yang seperti ini saja sudah membuat Erika begitu bahagia. Dan ini sudah cukup untuk nya. Tidak apa apa dia menahan sakit yang semakin lama semakin menggigit, asalkan dia tidak lagi menyusahkan orang orang.


"Kamu mau sembuh kan?" tanya Ervan lagi.


"Van... sudah cukup. Jangan buat aku semakin merasa bersalah dan rendah. Aku tidak apa apa dengan penyakitku. Aku hanya berharap itu bisa menjadi penggugur dosaku yang begitu banyak. Tapi untuk mengharapkan kebaikan orang lain lagi. Aku tidak ingin" tegas Erika.


"Kenapa kamu egois?" tanya Ervan.


Erika tersenyum tipis dan menggeleng.


"Aku bukan egois. Siapa yang tidak ingin sembuh. Kamu tidak tahu seberapa parahnya sakit ku. Aku tidak ingin menyusahkan orang lain. Sekarang, aku hanya ingin menikmati sisa waktuku ini untuk menjadi manfaat untuk orang lain" jawab Erika.


"Kamu menganggap aku orang lain?"


deg


Erika langsung tertegun mendengar perkataan Ervan.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Ervan. Wajahnya benar benar serius.


"Selama ini kamu juga menganggap ku orang lain kan?" jawab Erika.

__ADS_1


Dan kali ini Ervan yang langsung tertegun.


__ADS_2