
Maira menangis terisak saat dokter Danar mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam tasnya. Dia tidak mau disuntik, tapi dokter Danar memaksa nya.
Maira benar benar membenci benda kecil itu.
"Dokter...saya tidak mau" ucap Maira yang berusaha untuk menjauhkan diri dari dokter Danar
"Tahan sebentar, ini bisa meringankan rasa sakit ditubuh kamu. Lukanya sudah terlalu lama dibiarkan, takut infeksi" ungkap dokter Danar
"Tapi saya takut" kata Maira yang menahan isak tangis, meski air mata sudah jatuh bercucuran sejak tadi. Bahkan luka diwajah nya terasa perih terkena air mata itu.
Dokter Danar tersenyum dan mengusap gemas pucuk kepala Maira
"Tidak sakit, cuma dilengan. Kemari, kamu bisa pejamkan mata" ujar dokter Danar. Namun Maira tetap menggeleng tidak ingin.
Dokter Danar menghela nafas nya sejenak dan bergeser mendekat kearah Maira.
"Dokter....." rengek Maira yang kembali menggeleng. Dia benar benar pobhia dengan benda itu.
"Kenapa kamu berkelahi jika tidak tahan sakit Maira?" tanya dokter Danar
Maira mencebikkan bibirnya seraya mengusap air matanya perlahan
"Udah capek ngalah terus, mentang mentang anak orang kaya. Selalu aja ganggu dan ngehina saya. Saya gak suka" jawab Maira dengan wajah yang begitu kesal
"Anak orang kaya" tanya dokter Danar dan Maira langsung mengangguk
"Anak salah satu pemilik saham dikampus itu" jawab Maira
"Kamu bukan bertengkar karena memperebutkan mantan kekasih kamu itu?" tebak dokter Danar, namun Maira langsung mendengus
"Meskipun saya cinta sama Ervan, tapi untuk berkelahi karena dia itu bukan gaya saya dokter" seru Maira kesal , bahkan dia tidak menyadari jika dokter Danar telah menyiapkan suntikan nya sekarang
"Lalu kenapa?" tanya dokter Danar
"Itu karena Erika yang selalu cari masalah. Dia selalu menghina saya, bilang saya orang miskin lah, belagu lah, kegatelan, suka cari mu..... Aaaahhhhhhhh ......dokter!!!!!!" Maira langsung menjerit kuat saat suntikan itu langsung mendarat dilengan nya dengan sempurna. Dokter Danar tersenyum melihat wajah Maira yang meringis kesakitan dan langsung membenamkan kepala dibahu nya.
"Dokter curang!!!! sakit dokter" rengek Maira yang masih menyembunyikan wajah nya dibahu dokter Danar. Meski agak kepayahan, namun gerakan reflek Maira ini membuat dokter Danar terasa berdesir hatinya. Karena untuk pertama kali, ini adalah sentuhan pertama mereka.
"Sebentar" jawab dokter Danar seraya mengusap kan kapas kebahu itu dengan satu tangan nya, sedangkan tangan yang lain mengusap kepala Maira dengan lembut
"Nah, sudah. Tidak sakit kan?" tanya dokter Danar. Maira masih diam dan menangis dibahunya. Dapat dokter Danar rasakan jika tubuh Maira melemas dan sedikit bergetar
"Kamu pobhia jarum suntik?" tanya dokter Danar dengan lembut dan masih mengusap kepala Maira . Maira hanya mengangguk dalam dekapan dokter Danar. Dia belum sadar akan apa yang dilakukan nya. Pelukan ini entah kenapa bisa sedikit menenangkan dirinya.
"Saya lihat pinggang kamu ya" ucap dokter Danar. Namun Maira masih diam dan hanya terdengar isak tangis nya saja.
"Mai" panggil dokter Danar
__ADS_1
"Sakit" gumam Maira begitu pelan
Dokter Danar langsung melepaskan dekapan nya dan menegakkan tubuh Maira yang kini sudah sangat pucat. Dokter Danar cukup cemas melihat ini, meski dia tahu jika Maira hanya lemas dan butuh istirahat. tapi mungkin ditambah dengan pobhia nya membuat Maira menjadi tidak berdaya.
"Yasudah, ayo berbaring dulu" dokter Danar segera membenarkan bantal dibagian kepala Maira dan membantu Maira berbaring.
Maira masih sadar, dan dia juga sadar bagaimana perlakuan lembut dokter Danar padanya. Hanya saja kepala nya yang tiba tiba pusing dan tubuh nya yang lemas menahan sakit membuat nya membiarkan saja apa yang dilakukan oleh dokter Danar.
Maira meringis saat dokter Danar memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah dokter Danar, karena memang memar akibat benturan itu ada di pinggang sebelah kanan Maira.
Alis dokter Danar langsung mengernyit melihat pinggang Maira yang sudah membiru, bahkan membengkak. Cukup parah, mungkin benturan nya cukup kuat. Pantas saja Maira sampai menangis dan tidak bisa berjalan dengan baik.
Wajah teduh dokter Danar tampak mendingin melihat ini, dia mengusap nya perlahan membuat Maira langsung menggeliat kesakitan meski kini matanya sudah terpejam karena pengaruh suntikan tadi.
Dokter Danar beranjak dari sana dan beralih kedapur. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah baskom berisi air dan handuk kecil ditangan nya. Bengkak ini harus dikompres agar cepat kempes. Dan dia merasa Maira pasti akan demam nantinya.
Dengan perlahan dan begitu lembut, dokter Danar mengompres pinggang mulus istrinya itu. Ada rasa tidak terima Maira terluka seperti ini. Dia bahkan belum ada menyentuh Maira sedikit pun, tapi mereka sudah memperlakukan Maira sampai seperti ini. Ya, meskipun dia tahu jika ini juga kesalahan istrinya.
Maira beberapa kali menggeliat karena rasa sakit saat dokter Danar menyentuh pinggang nya. Wajahnya pucat dan kesakitan, membuat dokter Danar tidak tega.
Setelah mengompres dan mengobati Maira. Dokter Danar membereskan perlengkapan nya tadi dan menyelimuti Maira yang sudah tertidur dengan tenang. Setelah itu, dia langsung beranjak keluar sembari menelpon seseorang.
Diruang tamu rumah mereka. Wajah teduh yang biasa nya selalu dia sematkan, kini terlihat begitu dingin dan mengeras. Bahkan dokter Danar berbicara dengan begitu tegas dan penuh wibawa pada seseorang diseberang sana. Beberapa kali dia terdengar berdebat dan marah, entah apa yang dia bicarakan, yang jelas, ini menyangkut tentang istrinya.
....
"Masih pusing?" tanya dokter Danar saat Maira baru saja menyalami punggung tangan nya. Wajah Maira terasa panas, mungkin saja dia demam
Maira mengangguk dengan lesu
"Makan dulu ya, setelah itu baru tidur. Kamu harus minum obat" ujar dokter Danar
"Saya mau tidur aja dokter" ucap Maira dengan kepala yang sudah berasa berputar. Badan nya sangat tidak enak sekarang
"Iya, nanti setelah minum obat baru tidur" sahut dokter Danar yang membuka kopiah nya
Maira hanya diam dan memegangi kepala nya
"Ayo saya bantu" dokter Danar langsung menjulurkan tangan nya pada Maira yang masih duduk lemas diatas sajadahnya
"Kepala saya pusing" gumam Maira dengan mata yang berkaca kaca kembali
Dokter Danar langsung berlutut dihadapan Maira. Dia menyentuh dahi Maira yang memang cukup panas. Demam nya sangat tinggi.
Dan tanpa berkata apapun, dokter Danar langsung mengangkat Maira. Maira sedikit terkesiap, namun karena dia yang sudah pusing dan mulai menggigil dia hanya diam dan akhirnya malah terkulai lemah dalam gendongan suaminya.
Dokter Danar merebahkan tubuh Maira diatas tempat tidur. Membenarkan posisi tubuh Maira agar lebih nyaman. Namun dia sedikit mengernyit saat memandang Maira yang sudah memejamkan matanya dan tidak lagi bergerak dengan wajah pucat nya
__ADS_1
"Maira..." panggil dokter Danar
"Maira..." panggil nya lagi, namun Maira ternyata sudah pingsan
Dan tentu saja dokter Danar tampak panik sekarang
"Ya Allah Maira..." dia mengusap wajah Maira beberapa kali, namun istrinya itu memang sudah pingsan karena demam yang cukup tinggi dan juga sakit dikepala nya
Dokter Danar kembali berlari kearah dapur dan mengambil air untuk mengompres kening Maira. Namun dia membuka mukenah yang dikenakan Maira terlebih dahulu, dengan begitu lembut.
Dan akhirnya, malam itu dokter Danar terjaga untuk mengurus Maira yang demam. Suhu tubuhnya benar benar tinggi membuat dokter Danar tidak bisa tidur dan membiarkan Maira kesakitan sendiri. Keringat dingin mengalir diwajah Maira. Dia juga menggigil kedinginan meski sudah diselimuti oleh dokter Danar
"Ayah...." gumam Maira . Dan gumaman itu terdengar berkali kali. Dokter Danar yang kini sudah berbaring disebelah Maira terus mengusap wajah nya yang pucat
"Ayah,,," gumam Maira lagi
"Mai takut" gumam Maira. Bahkan air mata terlihat mengalir disudur matanya sekarang. Apa Maira merindukan ayahnya???
Maira terus mengigau dan memanggil ayahnya malam itu. Dokter Danar dengan telaten mengurus nya dan berusaha untuk menurunkan panas ditubuh Maira. Terkadang dia berfikir, bagaimana Maira jika demam seperti ini dulu. Bukankah dulu dia hanya hidup sendiri?? Siapa yang mengurusnya ketika sakit?? Apalagi Maira tipe orang yang tidak tahan sakit
Dokter Danar sedikit terkesiap saat Maira yang memiringkan tubuh kearah nya. Mata Maira sedikit terbuka membuat dokter Danar tampak mengerjapkan matanya sekilas. Takut takut saja dia Maira akan mengusirnya
"Dokter" panggil Maira dengan suara yang cukup serak dan sangat pelan
"Ya, mau apa??? minum??" tanya dokter Danar seraya menyingkirkan rambut Maira yang menjuntai
Maira mengangguk pelan dan kembali memejamkan matanya
Dokter Danar tersenyum dan beranjak untuk mengambil air minum yang sudah ada diatas meja
Dia membantu Maira untuk duduk sebentar
"Buka mulutnya" pinta dokter Danar
Maira membuka mulutnya sedikit dan langsung meminum air itu beberapa teguk namun masih dengan mata yang terpejam.
Dokter Danar mengembalikan lagi gelas itu keatas meja dan membaringkan Maira kembali. Dia membenarkan selimut Maira hingga sebatas perut saja, karena Maira cukup banyak berkeringat sekarang
Dokter Danar ingin beranjak untuk mengambil handuk kompresan nya tadi, namun tiba tiba dia kembali terkesiap saat Maira meraih lengan nya dan menyembunyikan wajah nya disana
Dokter Danar mematung, memandang wajah Maira yang terlihat tertidur namun sepertinya tidak, dia juga tidak tahu bagaimana mendeskripsikan nya. Namun dia langsung membatalkan niatnya dan kembali berbaring menghadap Maira.
Dokter Danar memandangi wajah cantik yang masih begitu pucat itu dengan lekat. Wajah cantik yang sudah menjadi istrinya namun belum bisa dia miliki.
Dokter Danar mengusap wajah Maira yang terlihat gelisah, namun dengan usapan itu tampak nya Maira menjadi tenang. Dan dia malah semakin memeluk lengan dokter Danar.
Dokter Danar tersenyum, dia mengangkat sedikit kepala Maira dan memindahkan nya keatas lengan nya. Biarlah bagaimana reaksi Maira besok, yang terpenting malam ini. Dia bisa menikmati tidur bersama istrinya. Dan karena tidak sadar, Maira langsung saja meletakan tangan nya didada dokter Danar. Karena tanpa dia sadari, dekapan ini benar benar membuat nya merasa nyaman dan aman.
__ADS_1