
Ibu Maira berdiri memandangi Maira yang masih tertidur dengan tenang. Bukan tertidur sebenarnya, melainkan dia yang masih belum sadarkan diri.
Dokter Danar sudah memeriksa keadaan Maira dengan bantuan dokter Kemala dari ponsel. Dan beruntungnya, Maira hanya mengalami kram perut dan tidak ada pendarahan. Mungkin karena fikiran Maira yang sedang kalut dan juga kelelahan, sehingga dia bisa merasakan tidak nyaman diperutnya. Apalagi beberapa Minggu lalu, Maira sempat mengalami kejadian mengerihkan itu. Janin mereka masih cukup lemah.
Mama mengusap air matanya saat melihat Maira. Anak yang dia tinggal ketika masih sekolah di bangku SMP kini sudah sedewasa ini, dan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.
Ya, ibu mana yang rela berpisah dari anak anak nya. Tapi keadaan memaksa nya untuk melakukan itu.
"Jadi Maira sedang hamil?" tanya ibu Maira.
Dokter Danar mengangguk pelan.
"Benar Bu, sudah hampir delapan Minggu" jawab dokter Danar.
Air mata semakin mengalir deras diwajah tua yang nampak lelah itu.
"Seharusnya ibu memang tidak datang tiba tiba seperti ini" ungkap ibu Maira. Namun dokter Danar malah tersenyum dan menggeleng.
"Bu, saya senang jika ibu datang sekarang. Sejak hamil, Maira memang lebih sensitif. Semua hal kecil selalu menjadi besar. Apalagi tentang perasaan nya ke ibu. Sebenarnya, beberapa waktu lalu, dia sudah berniat untuk mencari ibu. Dia merindukan ibu, karena kini hanya ibu dan Rio yang dia punya." ungkap dokter Danar.
Ibu Maira nampak tertegun mendengar itu.
"Benarkah itu nak?" tanya nya dengan suara yang begitu lirih.
Dokter Danar mengangguk dan tersenyum.
"Iya Bu, Maira benar benar merindukan ibu. Apalagi dikehamilan nya kali ini. Dia sungguh membutuhkan ibu untuk mendampingi nya" jawab dokter Danar.
Ibu Maira langsung menangis kembali mendengar itu.
"Ibu jangan bersedih, saya yakin, besok Maira pasti sudah berubah lagi" kata dokter Danar.
"Iya nak, terimakasih ya, kamu sudah menjadi suami yang baik untuk Maira" ucap ibu dokter Danar.
"Saya juga masih belajar Bu. Insha Allah saya memang ingin menjadi suami yang baik untuk istri saya" jawab dokter Danar.
Ibu tersenyum dan mengangguk. Dia benar benar bersyukur, jika Maira bisa mendapatkan suami yang baik perangai dan akhlak nya. Suami yang bisa membimbing Maira menuju kebaikan.
Dan malam itu, akhirnya ibu menginap dirumah dokter Danar. Dia membiarkan Maira beristirahat. Semoga saja ketika besok Maira terbangun, Maira sudah bisa memaafkan nya.
..
Keesokan paginya...
Hari masih subuh, tapi sepertinya alarm alami langsung bisa membangunkan Maira dari tidur panjang nya.
Maira meringis dan memijat kepala nya yang terasa berat. Dia menoleh kesamping dimana dokter Danar sudah tidak ada lagi disampingnya.
Dan saat melihat jam yang ada didinding ternyata sudah pukul setengah lima subuh.
Maira langsung beranjak dan meraba perutnya yang masih sedikit kram.
Dan karena rasa ini membuatnya mengingat jika semalam, bukan kah ibunya datang?
Ya, ada ibunya kan dirumah ini?
Maira menoleh ke pintu keluar.
Atau apa ini hanya mimpi???
"Sudah bangun?" tanya dokter Danar. Dia baru selesai mandi dan berwudhu. Wajahnya segar sekali pagi ini, dan itu membuat mood Maira langsung menjadi baik.
"Mas... tadi malam" perkataan Maira terhenti saat dokter Danar mengangguk dan tersenyum.
"Mandi dulu ya. Kita shalat dulu" ujar Dokter Danar.
Maira menghela nafasnya dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Masih sakit perutnya?" tanya dokter Danar.
Maira hanya menggeleng pelan dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Meninggalkan dokter Danar tanpa kata.
"Hati hati sayang, air hangat nya sudah mas siapkan" seru dokter Danar.
Dan lagi lagi Maira hanya mengangguk. Membuat dokter Danar hanya bisa tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
Selagi menunggu Maira mandi, dia menyiapkan segala perlengkapan ibadah Maira. Dan juga mengaji sebentar. Hingga lima belas menit kemudian Maira sudah selesai dan mendekat kearahnya.
Mereka langsung menunaikan ibadah shalat subuh dengan khusyuk. Mengaji sebentar dan berdoa bersama, hingga akhirnya Maira bisa merasakan ketenangan yang luar biasa.
"Mas.." panggil Maira saat dia baru selesai mencium punggung tangan suaminya.
"Iya" jawab dokter Danar.
"Maafin Maira" ucap Maira.
Dokter Danar tersenyum tipis
"Maaf kenapa" tanya dokter Danar
"Maira udah ngomong dengan nada tinggi sama mas tadi malam kan" jawab Maira dengan kepala yang langsung tertunduk
Dokter Danar kembali tersenyum dan mengusap kepala Maira dengan lembut.
"Untuk apapun yang sudah Maira lakukan dan katakan, mas sudah ridho sayang. Maira istri mas yang paling baik" ucap dokter Danar.
Mata Maira langsung berkaca kaca mendengar itu.
"Mas gak marah kan" tanya Maira lagi.
Dokter Danar langsung mendekat kearah Maira dan menarik Maira kedalam pelukan nya. Mencium pucuk kepala Maira yang masih tertutupi oleh mukenah.
"Mas gak pernah marah sama kamu" jawab dokter Danar.
"Mas juga beruntung punya istri secantik kamu" balas dokter Danar pula.
Maira tertawa kecil dan menghapus air matanya.
"Mas .." panggil Maira lagi seraya mendongak dan memandang dokter Danar.
"Kenapa?" tanya dokter Danar seraya mengusap wajah Maira yang kembali sendu lagi.
"Mama" lirih Maira
Dokter tersenyum dan mencium sejenak dahi Maira.
"Temui lah. Dia sudah ada disini. Selagi dia ada sayang. Jika tidak ada, mas tidak ingin kamu menyesal seperti apa yang mama rasakan sekarang" ujar dokter Danar.
Maira terdiam sejenak, dan tidak lama kemudian dia mengangguk pelan.
"Mama tidur dikamar bawah?" tanya Maira.
"Iya, disebelah kamar ibu" jawab dokter Danar.
"Kita kesana?" ajak dokter Danar lagi.
Maira mengangguk seraya beranjak dari atas sajadah nya.
Mereka berdua langsung turun kelantai bawah dimana ibu Maira tidur.
Maira berjalan dengan perasaan tidak menentu. Entah lah, dia bingung harus bagaimana sekarang.
..
Sedangkan ibu Maira juga baru saja selesai melaksanakan shalat subuh nya. Ketika baru akan membuka mukenahnya, pintu kamar nya terdengar diketuk. Membuat ibu Maira langsung berjalan mengarah ke pintu.
__ADS_1
Dan disaat dia membuka pintu, tubuhnya mematung saat melihat Maira dan dokter Danar sudah berdiri dihadapan nya.
"Maira" lirih mama.
"Maafin Maira ma" ucap Maira, terdengar begitu pelan. Tapi perkataan itu bisa membuat dokter Danar mengulas senyum. Bahkan mama langsung memeluk tubuh Maira dengan erat.
"Enggak nak, kamu gak salah. Mama yang salah. Maafin mama, maafin mama Maira" jawab ibu Maira yang langsung menangis dengan pelukan yang erat.
Maira juga ikut menangis, tangan nya yang menggantung kini mulai membalas pelukan ibunya.
Membuat ibu Maira benar benar bahagia.
"Maira rindu" ucap Maira yang juga ikut menangis
"Mama juga rindu nak. Rindu sekali, maafin mama yang baru datang sekarang. Maafin mama sayang" balas mama.
Dokter Danar yang melihat istri dan ibu mertuanya saling melepas rindu, lebih memilih untuk meninggalkan mereka berdua agar lebih leluasa untuk saling melepas rindu.
"Mama gak pernah lupa sama kalian, rasa sayang mama tetap sama seperti dulu nak. Maafin mama yang pergi, maafin keegoisan mama" ucap ibu Maira.
Dia menangkup wajah Maira seraya mengusap wajah sendu itu. Mencium kedua pipinya dengan penuh rasa sayang.
"Maafin mama nak" pinta ibu Maira lagi.
Maira mengangguk pelan dan memandang wajah ibunya dengan lekat.
"Mama harus janji jangan pergi lagi" pinta Maira.
Ibu Maira langsung mengangguk dengan cepat.
"Mama gak akan pergi jauh lagi nak. Jika pun mama pergi, mama pasti akan sering liatin kamu" ujar mama.
"Rio pasti senang lihat mama datang" ucap Maira.
"Mama sudah lebih dulu bertemu dengan Rio" jawab mama.
Maira terkejut mendengar itu
"Benarkah?" tanya Maira.
Ibunya mengangguk dengan cepat.
"Iya, sejak mama mendengar jika ayah kalian meninggal, mama langsung mencari dimana kalian. Supaya bisa mama ajak tinggal bersama. Tapi mama tidak bisa menemukan kamu dan Rio" ungkap mama seraya membawa Maira masuk kedalam kamar.
"Mama mencari kami" tanya Maira seraya duduk disisi ranjang bersama mama nya.
Ibu Maira mengangguk.
"Maafin mama yang datang terlambat. Tapi ketika mama dan ayah kamu memutuskan untuk berpisah, ayah tidak ingin lagi bertemu dengan mama. Maka dari itu mama tidak pernah mendatangi kalian" ungkap mama dengan nada yang terdengar begitu sedih.
Maira langsung tertunduk sedih mendengar itu.
"Nak.. tidak ada ibu yang rela berpisah dari anak anak nya. Bahkan ketika ibu sudah menikah lagi pun, anak mama tetap lah kalian. Suami bisa diganti, tapi anak tidak akan pernah bisa" ungkap mama
"Mama" lirih Maira yang semakin menangis.
"Maafkan mama yang tidak ada disaat kalian rindu, maafkan mama yang tidak pernah ada dihari tersedih kamu dan Rio. Maafkan mama sayang" pinta Ibu Maira lagi.
Maira menggeleng dan langsung memeluk ibunya lagi.
"Maafin Maira ma. Maira kira mama lupa dengan Maira dan Rio" ucap Maira dengan tangisan nya yang sedih.
"Tidak nak, mama tidak mungkin melupakan kalian. Maafin mama, semua karena kesalahan mama yang terlalu berambisi hingga membuat kalian yang menjadi korban nya" ungkap mama
"Enggak, yang terpenting sekarang Maira sudah bertemu mama. Maira rindu Mama" ucap Maira.
"Mama juga rindu sayang. Rindu sekali"
__ADS_1