
Pandangan mata penuh rindu itu saling memandang dengan lekat. Senyum mengembang diwajah tampan Brian yang terlihat lelah. Ada rasa yang tak bisa mereka ungkapkan masing masing.
Hanya untaian rindu yang begitu menggebu yang saat ini tidak bisa dijelaskan.
Dua tahun lebih tidak bertemu membuat mereka benar benar canggung. Padahal hati sudah begitu membuncah sejak tadi.
Nindi tertunduk saat Brian mendekat kearah nya. Dia baru tiba sore ini di Indonesia. Jadwal yang kacau karena cuaca buruk yang membuat dia membatalkan penerbangan kemarin. Hingga malam ini Brian baru tiba. Padahal pesta kakak nya juga sudah hampir selesai.
Brian tersenyum pada Nindi, namun ketika dokter Danar dan Dika mendekat kearahnya, Brian langsung memalingkan pandangan dari Nindi.
"Assalamualaikum mas. Apa kabar" sapa Brian seraya menjabat tangan dokter Danar.
"Alhamdulillah baik. Seperti yang kamu lihat. Kamu baru tiba?" tanya dokter Danar seraya memandang Brian dengan lekat.
"Iya, cuaca buruk jadi terpaksa harus membatalkan penerbangan. Untung saja masih sempat" jawab Brian.
"Masih sempat apa, sudah mau habis acara dan kamu baru datang. Ah, sudah lama sekali tidak bertemu " ujar Dika yang langsung merangkul Brian sejenak.
Brian terkekeh pelan dan membalas rangkulan Dika.
"Setidak nya aku masih bisa melihat kakak ku bersanding. Aku juga penasaran seperti apa rupa suami nya" ucap Brian.
"Sama sama tampan. Hanya berbeda pembawaan. Mas Danar teduh, dan tuan Zayn sedikit datar dan penuh wibawa" jawab Dika
"Wow benarkah?" tanya Brian
Dokter Danar langsung berdecak kesal mendengar itu.
"Kenapa malah membandingkan aku. Sudah pergilah masuk. Mereka pasti sudah menunggu kamu" ujar dokter Danar
"Apa kalian sudah mau pulang?" tanya Brian
"Ya, anak kami tidak bisa ditinggal terlalu lama" jawab Dika
"Kita masih bisa berkumpul besok" sahut dokter Danar
"Kak Brian, masih ingat pulang juga ya" sapa Maira dan Putri yang juga ikut turun dari mobil.
"Masih, Alhamdulillah. Hati ku masih tertinggal disini" jawab Brian.
Maira dan Putri langsung tertawa kecil seraya melirik Nindi yang hanya diam tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kami kira udah kepincut bule disana" sahut Putri.
Brian menggeleng dan tersenyum simpul.
"Tidak... masih sama seperti dulu" jawab Brian.
"Pergilah masuk. Kami pamit dulu" ujar dokter Danar.
"Tapi... bolehkah saya meminta izin untuk membawa nona yang disana mas. Saya yang akan mengantar nya pulang nanti" pinta Brian dengan senyum canggung nya. Membuat Maira dan Putri langsung tersenyum simpul memandang Nindi yang nampak malu.
__ADS_1
"Apa tidak mengganggu kebersamaan kamu dan keluargamu?" tanya dokter Danar. Namun Brian langsung menggeleng dengan cepat.
"Sekalian saya akan memperkenalkan dia dengan orang tua saya" jawab Brian dengan yakin.
"Yakin banget kalau Nindi gak punya yang lain disini" sindir Dika
Namun Brian hanya tersenyum dan menoleh kearah Nindi sejenak.
"Bagaimana Nindi? Kamu mau ikut Ervan atau Brian?" tanya dokter Danar
"Ervan?" gumam Brian yang tidak tahu apa apa
"Ya, Nindi pergi bersama Ervan. Bahkan mereka cukup dekat selama kamu tidak ada disini" sahut Dika dengan senyum penuh arti nya. Membuat yang lain juga ikut tersenyum melihat raut wajah Brian yang tiba tiba berubah. Dia pasti tidak tahu apa apa tentang ini.
Brian memandang Nindi dengan lekat. Ada rasa yang tidak bisa di ungkapkan mendengar penuturan mereka.
"Saya pamit sama Ervan dulu dokter. Jika dia boleh, saya akan tinggal. Tapi jika tidak, maka saya akan....."
"Kamu bisa memilih untuk ikut dia, atau aku" sahut Brian dengan cepat.
Suasana menjadi hening untuk sejenak. Nindi memandang Brian dengan aneh, namun yang lain malah memandang Brian dengan lucu.
"Hanya segitu usaha nya kak?" tanya Putri.
Brian tertegun.
"Tahu nih, udah dua tahun. Sekali nya pulang malah ngomong begitu" sahut Maira pula.
Dokter Danar menggeleng pasrah. Drama dimulai lagi.
Nindi dan Brian saling pandang dengan lekat. Namun pandangan mata mereka terputus saat Ervan yang tiba tiba keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah Nindi. Mobil nya cukup jauh dan tidak berada disana, hingga Ervan tidak tahu apa yang telah terjadi.
"Lama banget sih, pulang yuk" ajak nya pada Nindi. Membuat suasana semakin tegang. Bukan tegang karena apa, namun karena dibuat buat.
"Kok diem sih" gumam Ervan.
Dia langsung memandang semua orang dan cukup terkejut saat melihat Brian yang ada disana. Dan ekspresi terkejut dari Ervan disalah artikan oleh Brian.
"Brian..... baru kelihatan. Baru balik atau gimana?" tanya Ervan.
Namun Brian hanya diam, dia memandang Nindi dengan lekat.
"Kalian berhubungan?" tanya Brian.
Ervan terkejut, tapi Maira, Putri dan Dika langsung mengulum senyum menahan tawa. Semoga saja Erika tidak keluar dulu. Agar drama malam ini sedikit lebih menarik untuk di tonton.
"Kenapa memang nya?" tanya Nindi yang akhirnya mengikuti kesalah pahaman Brian.
"Dua tahun menunggu, tapi sama sekali gak ada kabar. Kakak janji dua tahun, tapi nyata nya malah lebih. Dan sekarang udah pulang kesini, tapi malah nyuruh aku milih. Kakak gak serius?" tanya Nindi pula.
Ervan mengerjapkan matanya, dia memicing saat Maira mengedipkan matanya agar Ervan diam saja dulu.
__ADS_1
"Jika aku tidak serius aku tidak akan mengajak mu untuk bertemu orang tua ku" jawab Brian.
"Lalu kenapa masih meminta aku untuk memilih" tanya Nindi algi.
"Aku hanya tidak ingin memaksakan kehendak" jawab Brian
"Apa kalian memang menjalin hubungan?" tanya Brian lagi
"Kenapa kalau memang iya?" tanya Ervan yang masuk dalam drama. Membuat mereka semakin tidak bisa menahan senyum. Apalagi melihat Brian yang semakin menahan segenap perasaannya.
Dokter Danar ingin membuka mulut. Tapi Maira segera mengancam nya untuk diam. Membuat Dika benar benar tidak bisa untuk menahan tawa. Bahkan dia langsung memalingkan wajahnya, membuat Putri mencubit kesal lengan Dika.
Semua orang terkejut saat melihat Brian mendekat kearah Ervan. Begitu pula dengan Nindi. Apa Brian akan mengamuk dan benar benar membuat drama?
"Sebelum ada tanda dijari manis nya. Nindi masih menjadi milik ku" ucap Brian dengan begitu serius.
Membuat Nindi langsung memalingkan wajahnya yang merona.
"Ck... sudah lah. Keburu pesta nya selesai" sahut dokter Danar yang sudah jengah.
Brian langsung memalingkan wajahnya dan memandang kearah dokter Danar dan yang lain.
Kenapa mereka malah tertawa?
"Ada yang lucu?" tanya Brian
"Sayang..." tiba tiba suara seorang perempuan mengejutkan Brian.
Dia langsung mengernyit saat melihat Ervan yang menjulurkan tangan nya pada Erika yang datang mendekat
"Sini dulu yank" pinta Ervan seraya menarik tangan Erika.
"Kenalkan istriku. Erika. Ibu dari kedua anak kembar ku. Dan Nindi, dia hanya sahabat kami" ucap Ervan.
Nindi langsung mendengus senyum, sedang kan Maira dan Dika langsung tertawa keras melihat wajah bingung Brian.
"Maka nya pulang, jadi tahu cerita. Ini udah main cemburu aja" ledek Dika
Brian langsung menghela nafas kesal sekaligus lega. Sudah hampir lepas jantung nya jika Nindi memang mempunyai lelaki lain disini.
"Sialan" gumam nya.
"Mas kenapa malah ikut ikutan sih" kesal Brian pada dokter Danar.
"Siapa yang ikut ikutan. Saya kan diam saja dari tadi" jawab dokter Danar yang terkena imbas nya.
"Diam mas itu penuh maksud" protes Brian. Membuat semua orang langsung terbahak.
"Sudah lah, buang buang waktu. Ayo" Tanpa berkata apapun lagi Brian langsung menarik lengan Nindi masuk kedalam gedung. Mengabaikan tawa teman teman nya yang lain.
Kesal sekali dia, begitu sampai malah terjadi drama salah paham. Bukan salah paham, tapi mereka yang menjengkelkan karena sudah mengerjai dia.
__ADS_1