
Maira masih duduk disofa, dirumah baru yang akan dia tinggali bersama dokter Danar untuk beberapa waktu kedepan dan entah sampai kapan. Setelah mendengar perkataan dan permintaan dokter Danar tadi, Maira jadi tidak bisa berhenti untuk berfikir. Apa dia harus menuruti permintaan dokter Danar? Atau menolaknya? . Tapi, menolak juga percuma, dokter Danar pasti tidak akan mau menceraikan nya saat ini. Dan ya, Maira akan memilih untuk menerima tawaran dokter Danar.
Tiga bulan, dia rasa bukan waktu yang lama untuk bertahan sejenak. Tidak ada salahnya, asalkan dokter Danar mau memenuhi syarat dari nya nanti.
Lamunan Maira langsung buyar saat dokter Danar datang dan duduk dihadapan nya. Wajah tampan nya sedikit berkeringat, entah apa yang dilakukan nya dibelakang, Maira tidak tahu.
"Kamu sudah memikirkan nya bukan?" dokter Danar langsung bertanya tanpa basa basi. Dia menatap Maira dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh arti dan selalu seperti itu sejak pertama kali mereka bertemu dulu.
Maira langsung mengangguk
"Tapi saya punya syarat untuk dokter" kata Maira
"Syarat apa?" tanya dokter Danar dengan sedikit kernyitan didahi nya. Entah apa lagi diinginkan istri kecilnya ini.
"Yang pertama, saya tetap tidak ingin tidur satu kamar dengan dokter" jawab Maira. Dan dokter Danar langsung mendengus senyum mendengar itu. Dia sudah menduga nya
"Kamar hanya ada satu Maira" sahut dokter Danar. Namun Maira langsung mengendikkan bahunya dan terlihat begitu acuh. Apa perduli dia, yang terpenting dia tidak ingin tidur satu kamar, apalagi tidur satu ranjang. Tidak akan.
"Saya tidak perduli itu. Salah sendiri kenapa membeli rumah kecil" kata Maira begitu ketus.
Dokter Danar hanya menggeleng kepala dengan pelan dan menghela nafas nya sedikit
"Yang kedua!" seru Maira. Kali ini dia menatap dokter Danar begitu serius
"Saya tidak ingin ada yang mengetahui tentang hubungan kita. Siapapun dia, apalagi teman teman saya" ucap Maira
"Kenapa?" tanya dokter Danar
"Ya karena saya tidak ingin mereka tahu. Apa kata mereka coba kalau mereka tahu saya sudah menikah diusia semuda ini, apalagi dengan orang tua seperti anda, yang benar saja" jawab Maira dengan wajah yang begitu kesal. Namun dokter Danar malah tersenyum lucu melihat wajah kesal Maira.
Ya, perbedaan umur mereka memang sangat jauh, dua belas tahun. Memang rentang jarak yang cukup ekstrem.
"Ada lagi?" tanya dokter Danar.
Maira terdiam, dia tampak berfikir sejenak. Memandang langit langit kamar sekilas dan kembali memandang dokter Danar yang masih duduk dengan wajah tenang nya.
"Yang ketiga, jangan pernah mengatur hidup saya. Apapun yang saya lakukan bukan menjadi urusan dokter" pinta Maira. Dan dokter Danar hanya mengangguk kecil
"Ah, yang terakhir" seru Maira lagi.
Dokter Danar kembali memandang nya dengan serius, namun lagi lagi dia tampak menghela nafas nya dengan pelan. Sepertinya dia sedang menyiapkan hatinya untuk menghadapi Maira setelah ini.
"Saya tidak bisa memasak, jadi jangan suruh saya menyiapkan apapun untuk dokter" kata Maira
Dokter Danar hanya mengangguk dan tersenyum memandang Maira yang kini malah bingung dengan ekspresi dokter Danar, tenang sekali?
"Sudah?" tanya dokter Danar dan Maira langsung mengangguk yakin
__ADS_1
Dokter Danar terlihat memperbaiki posisi duduk nya dan mulai menatap Maira dengan serius, namun tatapan teduh itu selalu ada diwajahnya.
"Untuk yang keempat, saya tidak akan memintamu melakukan itu. Karena kamu saya nikahi untuk menjadi istri saya, bukan untuk saya jadikan pembantu" ungkap dokter Danar.
Maira hanya diam dan tidak menanggapinya, tapi perasaan nya tidak enak sekarang.
"Tapi untuk yang lain, saya tidak akan berjanji untuk bisa menepatinya" tambah dokter Danar membuat Maira langsung terkesiap
"Dokter mana bisa begitu. Dokter memberi saya waktu tiga bulan, tapi kenapa dokter tidak bisa menuruti permintaan saya" protes Maira begitu tidak suka. Dia benar benar kesal pada dokter tampan ini, bisa bisa nya dia tidak ingin menuruti permintaan nya. Bukankah itu tidak adil.
"Maira, sudah saya bilang bukan, pernikahan ini bukanlah sebuah permainan. Bukan seperti sebuah novel yang kamu karang seperti diceritamu itu. Pernikahan adalah sebuah janji Maira. Dan saya sudah berjanji atas diri kamu pada ayah kamu dan Tuhan saya" ungkap dokter Danar begitu serius.
Maira sedikit tertegun mendengarnya. Tapi bukankah mereka menikah hanya karena terpaksa?
"Selama kamu masih menjadi istri saya, kamu adalah tanggung jawab saya, baik untuk urusan dunia maupun akhiratmu. Semua nya tanpa terkecuali! Sebesar apapun kamu menolaknya, saya akan berusaha untuk menjadi suami yang baik bagi kamu" ungkap dokter Danar begitu serius. Namun Maira langsung mendengus gerah mendengarnya.
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, jika dokter Danar berniat untuk menjadi suami yang baik untuk nya, bukankah itu berarti dia juga akan meminta haknya dari Maira?
Tidak, Maira tidak akan pernah mau. Bagaimana pun dia hanya akan menyerahkan benda berharga nya hanya untuk orang yang dia cintai nantinya, dan orang itu bukan dokter Danar!
"Kamu tenang saja, saya tidak akan menyentuh kamu sebelum kamu mengizinkannya" kata dokter Danar yang mengerti arti mimik wajah Maira yang sedikit tegang, dan kini bahkan dia bisa melihat jika Maira terlihat lega mendengar perkataan nya itu.
"Dokter berjanji?" pinta Maira penuh harap
"Iya" jawab dokter Danar dengan senyum teduh nya
"Tergantung" jawab dokter Danar dengan wajah yang begitu menyebalkan
"Dokter" seru Maira begitu kesal. Dan dokter Danar langsung tertawa melihat nya
"Jika kamu bisa menjaga kehormatan kamu, maka saya akan tutup mulut" kata dokter Danar
Maira langsung mengernyit bingung
"Maksudnya?" tanya Maira
"Maira, kamu sudah menikah, dimana pun kamu berada kamu harus ingat itu. Jangan sembarangan bergaul, apalagi dengan lawan jenis. Dan jangan lagi kamu geluti kebiasaan sewaktu kamu belum menikah, yang sering pergi ke cafe dan pulang larut malam" Ungkap dokter Danar.
Maira yang mendengar itu sedikit terkesiap, bagaimana dokter Danar bisa tahu dengan kebiasaan nya itu? Apa dokter Danar pernah melihatnya?
"Jika kamu bisa menuruti perkataan saya, maka saya juga akan menuruti permintaan kamu" tambah nya lagi
Maira mendengus dan menatap kesal dokter Danar
"Belum apa apa dokter sudah mengatur kehidupan saya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Memang nya dokter siapa, harus pakai mengancam segala, menjengkelkan" gerutu Maira dengan begitu kesal, dia melipat kedua tangan nya dan memalingkan wajah nya dari dokter Danar yang tersenyum dan mengendikkan bahu nya dengan acuh
"Sudah, jangan banyak menggerutu. Hidup itu harus disyukuri Maira. Saya tidak mengatur kamu, saya hanya mengarahkan kamu pada kebaikan" jawab dokter Danar.
__ADS_1
Maira menatap dokter Danar dengan tatapan kesalnya. Sudah mendapatkan suami yang tidak dia cintai, sudah tua, pengatur dan tukang ceramah lagi. Benar benar membuat kepala Maira bertambah pusing saja. Entah sebesar apa dosanya hingga mendapatkan suami seperti ini.
"Pergilah istirahat dikamar, sudah saya bersihkan. Kamu tinggal tidur saja" kata dokter Danar
"Ya, dokter lebih cocok menjadi pelayan saya dari pada menjadi suami" kata Maira dengan ketus. Dia langsung beranjak dan menarik kopernya dengan kaki yang dia hentakkan dengan kesal. Bahkan dokter Danar dapat mendengar suara bantingan pintu kamar yang terdengar begitu kuat.
Dokter Danar menghela nafasnya yang terasa berat. Baru hari pertama tinggal berdua, tapi dia sudah harus mendengar perkataan tajam istrinya. Tapi dokter Danar tidak akan menyerah untuk merubah Maira menjadi lebih baik. Dia harus mempertanggung jawabkan pilihan nya menikahi Maira.
Bukan tanpa alasan sebenarnya dia memilih rumah yang kecil seperti ini. Bukan karena tidak ada uang untuk membeli yang lebih besar, namun karena dia ingin berada lebih dekat dengan Maira, tanpa jarak apapun. Dia tahu Maira tidak akan mau satu kamar dengannya. Maka dari itu dia membeli rumah kecil yang hanya ada satu kamar saja. Tidak apa dia harus tidur dilantai, yang terpenting masih berada dikamar yang sama.
Maira, gadis kecil yang sudah berhasil mencuri perhatian nya sejak empat tahun yang lalu disebuah acara pesta keluarga. Gadis kecil yang masih berumur lima belas tahun. Terdengar gila memang, dia bisa menyukai gadis sekecil itu, tapi mau bagaimana lagi, perhatian nya sudah teralihkan oleh Maira.
Mulai dari saat itu dokter Danar mulai mencari tahu tentang Maira meskipun mereka berbeda kota. Dia sedikit terkejut saat tahu ternyata Maira adalah anak dari sahabat lama ayahnya.
Dan lebih dari setahun yang lalu, dia begitu senang saat mendengar jika Maira kuliah dikota yang sama dengan tempat nya bekerja.
Sesekali dokter Danar mencoba mencari tahu tentang Maira dan kehidupan nya disini, bahkan dokter Danar juga tahu jika Maira memang memiliki kekasih bernama Ervan dikampusnya.
Tapi itu tidak membuat dokter Danar berputus asa. Dia tidak pernah menemui Maira sekalipun. Hanya doa yang dia panjatkan disepertiga malam nya untuk mencari petunjuk tentang perasaan nya pada gadis itu. Dan doa nya terjawab, ketika ayah Maira yang kebetulan dia rawat meminta nya untuk menikahi Maira. Tidak ada keraguan didalam hati dokter Danar waktu itu, karena dia yakin memang sudah begitu cara mereka dipertemukan.
Dia tahu Maira berat dan terpaksa menyetujui pernikahan ini. Tapi dokter Danar tetap yakin pada keputusan nya, karena segala apapun yang dia putuskan, selalu melibatkan Allah didalam setiap doa nya.
Dan meski kini masih berat untuk meyakinkan Maira, tapi dia selalu berharap dan berdoa pada yang Maha Mengatur kehidupan, semoga pernikahan nya hanya sekali seumur hidup meski dia tahu badai pasti akan selalu hadir nantinya.
....
Didalam kamar, Maira sudah merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Matanya memandang langit langit kamar yang bernuansa putih itu dengan lesu.
Apa dia sanggup menjalani pernikahan ini untuk tiga bulan kedepan jika dokter Danar melarang nya untuk bersenang senang seperti dulu?
Apa dokter Danar tidak tahu jika hanya dengan cara seperti itu dia bisa melepaskan sedikit beban hidupnya.
Jika pulang kuliah hanya dirumah saja, dia pasti akan jenuh. Dan lagi, dia tidak mungkin mengajak kedua sahabatnya datang kerumah ini kan, yang benar saja.
Astaga, Maira benar benar merasa frustasi sekarang. Belum apa apa, hanya dengan membayangkan kedepan nya saja dia sudah dibuat jengkel dan tertekan, bagaimana untuk tiga bulan lagi?
Dokter Danar memang tampan. Bahkan Maira akui jika dokter Danar lebih tampan dari Ervan, kekasihnya. Tapi dokter Danar terlalu kaku, pengatur dan tidak asik. Bagaimana mungkin Maira bisa betah.
Maira mengguling gulingkan tubuhnya diatas kasur dengan fikiran bingung. Apa yang harus dia lakukan agar dokter Danar tidak betah menjadi suaminya dan segera menceraikan dia.
Maira langsung bangun dengan rambut panjang nya yang acak acakan
"Berselingkuh" gumam nya dengan senyum yang tampak menyeringai, namun sedetik kemudian dia kembali uring uringan dengan tangan yang menjambak rambutnya
"Kalau selingkuh dia pasti marah, dan semua orang bakalan tahu kalau gue udah nikah"
"Aaaaaahhhhhh,,,,,,, kenapa gini amat sih!!!!!" gerutu Maira dengan tangis tanpa air mata
__ADS_1
"Ayah!!! Maira mau ikut ayah aja. Maira gak sanggup,,,,, capek!!!!!" teriak nya frustasi. Maira menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur dengan kepala yang dia tutupi bantal. Menangis dengan kekesalan dihati nya. Entah apa yang dia tangisi sebenar nya. Tapi sungguh, saat ini dia memang hanya ingin menangis sepanjang hari. Terserah dengan suaminya, Maira tidak perduli!