
Keesokan harinya...
Sore ini Maira sudah berada dirumah Nindi. Ya, Nindi sudah pulang kerumah hari ini. Maira dan Putri juga ikut mengantar nya pulang. Dokter Danar juga ada, dia ingin memastikan kondisi Nindi baik baik saja. Dan memang seharusnya itu dia lakukan, bahkan sampai Nindi sembuh total.
Nindi seperti ini karena menolong Maira. Dan dokter Danar benar benar berhutang nyawa pada Nindi. Jika tidak ada Nindi, entah seperti apa keadaan Maira dan janin nya saat ini. Apalagi dokter Danar juga sudah melihat rekaman cctv itu. Cukup mengerihkan. Pantas saja Maira begitu kekeh untuk menemani Nindi setiap saat.
"Jangan banyak bergerak dulu ya. Kamu masih lemah dan kondisi kamu juga belum terlalu pulih" ujar dokter Danar.
Nindi yang sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur langsung mengangguk pelan.
"Tapi jika saya ingin shalat bagaimana dokter?" tanya Nindi
Dokter Danar tersenyum tipis dan memandang Maira yang sedang menyelimuti kaki Nindi yang terlihat.
"Kamu bisa shalat sambil duduk" jawab dokter Danar.
"Apa itu boleh?" tanya Nindi.
"Boleh, Allah selalu memberikan kemudahan bagi hambanya yang ingin taat dan menjalankan ibadah. Kamu sedang sakit, dan memang tidak boleh tunduk dan banyak bergerak. Jadi kamu masih bisa melakukan shalat sambil duduk saja" ungkap dokter Danar.
Wajah teduhnya yang bersahaja selalu mampu membuat siapapun bisa mengerti perkataan nya dengan baik.
"Baik dokter, terimakasih" ucap Nindi.
Dokter Danar mengangguk seraya mengeluarkan obat obatan Nindi dari dalam tas, dan meletakkan semua nya di atas meja.
"Kamu harus rajin minum obat. Ini dihabiskan sampai habis. Jika luka dikepala kamu sudah pulih, baru kamu bisa mencoba untuk mengingat sesuatu" ujar dokter Danar.
"Tapi saat datang kerumah ini, saya memang merasa tidak asing dokter. Beberapa bayangan langsung terlintas dikepala saya" jawab Nindi.
Putri dan Maira yang sejak tadi hanya diam langsung menoleh kearah Nindi dengan wajah bahagia mereka.
"Beneran Nin?" tanya Maira. Bahkan Putri yang sedang membereskan barang barang Nindi dari rumah sakit juga langsung mendekat kearah mereka.
"Iya, tapi ketika aku mencoba untuk mengingat. Malah kepala ku yang menjadi sakit" jawab Nindi.
Maira langsung mengusap bahu Nindi dengan lembut.
"Itulah kenapa saya meminta kamu untuk tidak memikirkan apapun dulu. Untuk saat ini kamu hanya harus fokus pada kesehatan kamu. Setelah sembuh, baru kamu bisa mencoba untuk mengingat lagi" sahut dokter Danar.
"Apa lama dok?" tanya Putri.
Dokter Danar tersenyum tipis dan menggeleng pelan.
"Tidak, jika Nindi meminum obatnya dengan rutin dan istirahat yang cukup. Insha Allah dalam seminggu kedepan kondisi nya sudah akan lebih baik" jawab dokter Danar.
"Nah, dengerin Nin. Jangan males minum obat ya biar kamu cepat sembuh. Nanti kalau kamu udah sembuh, aku bawa kamu ke mesjid tua itu lagi" ujar Maira.
"Mesjid tua?" gumam Nindi.
Maira mengangguk dengan antusias. Bahkan dokter Danar sampai tersenyum memandang istrinya ini.
"Iya, Maira pernah bawa kita kesana. Kamu senang banget waktu dibawa kesana. Bahkan kamu sampai memohon hajat didanau bertuah" ungkap Putri.
"Benarkah?" tanya Nindi.
Maira dan Putri langsung tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
"Nanti kalau kamu sembuh, aku bakalan nunjukin foto foto kita" kata Maira lagi.
"Kenapa tidak sekarang saja?" tanya Nindi
Maira langsung menoleh pada dokter Danar sejenak.
"Fikiran kamu belum boleh terganggu. Masuk kedalam rumah ini aja kamu udah ngerasa pusing kan. Maka dari itu nanti aja ya. Kamu harus semangat untuk sembuh dulu" ujar Maira.
Nindi menghela nafasnya dan mengangguk pasrah.
"Iya baiklah. Aku juga sudah ingin mengingat semua nya. Apalagi kenangan bersama kalian dan mama" jawab Nindi.
Maira dan Putri langsung mengusap bahu Nindi dengan lembut.
"Sayang..." panggil dokter Danar pada Maira.
Maira langsung menoleh kearah nya.
__ADS_1
"Kita pulang yuk. Besok mas antar kamu kemari lagi" ajak dokter Danar. Suara nya cukup lembut, karena dia takut Maira tidak suka dia mengajak nya untuk pulang.
"Pulang dulu gih, Lo kan udah lama gak ngeliat rumah. Lagian lo juga udah harus istirahat" ujar Putri.
"Iya, besok kemari lagi" sahut Nindi.
"Kalian ngusir aku ya" kata Maira.
Putri dan Nindi langsung tertawa melihat wajah kesal Maira.
"Bukan marah, cuma Lo kan udah punya suami. Siapa tahu dokter Danar udah rindu" bisik Putri seraya melirik dokter Danar yang sedang mengambil tas Maira disofa.
Wajah Maira langsung bersemu merah mendengar itu.
"Huh... gue juga udah kangen sih. Kalau gitu gue pulang dulu deh" ucap Maira yang langsung turun dari atas tempat tidur Nindi.
"Dih, giliran gitu aja gak bisa nolak" sindir Putri
Maira langsung terkekeh geli mendengar nya.
"Maka nya cepat nikah, biar tahu rasanya" bisik Maira
Putri langsung melebarkan matanya mendengar itu.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Nindi yang bingung. Apalagi dengan bahasa mereka yang benar benar menyakiti telinganya.
Putri dan Maira langsung saling pandang dan akhirnya tertawa canggung.
ah mereka jadi lupa jika Nindi tidak mengingat apapun. Dan juga tidak boleh memikirkan apapun.
Huh... menyedihkan.
"Enggak apa apa kok. Jangan difikirin. Hehe" jawab Maira.
"Kebiasaan buruk yang sulit di ubah" ucap Putri dengan gelengan kepala nya.
"Khilaf. Yaudah, aku pulang dulu ya. Jangan lupa minum obat kamu biar cepat sembuh" ujar Maira seraya mengusap wajah Nindi sekilas.
Nindi tersenyum dan mengangguk.
"Oke sip. Kalau ada apa apa kabarin Put" ujar Maira pada Putri.
"oke. aman" jawab Putri
Maira langsung berjalan menuju dokter Danar yang sudah menunggu nya di sofa.
"Sudah ?" tanya dokter Danar yang bangkit dari duduk nya.
"Udah, kita temui Tante dulu diluar. Mungkin udah selesai mandi" jawab Maira.
Dokter Danar hanya mengangguk dan kembali menoleh pada Putri dan Nindi yang masih memperhatikan mereka.
"Kami pamit dulu, Assalamualaikum" pamit dokter Danar.
"Iya dokter, waalaikumussalam" jawab mereka berdua.
"Bye" Maira melambaikan tangannya sebelum menghilang dibalik pintu.
...
Diluar, tepatnya ketika sudah berada dilantai bawah, bertepatan dengan mama Nindi yang baru keluar dari kamar nya.
"Loh, kalian udah mau pulang?" tanya mama Nindi.
"Iya Tante, besok Maira kemari lagi kok" jawab Maira seraya mencium punggung tangan mama Nindi. Sedangkan dokter Danar hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, kamu juga harus banyak istirahat. Kasihan anak kalian kalau ibunya kecapean" ucap mama Nindi.
Maira langsung tertawa mendengar itu.
"Iya Tante. Yasudah, kamu pamit dulu Tante" pamit Maira.
"Iya hati hati ya" ucap mama Nindi.
Maira dan dokter Danar tersenyum dan mengangguk seraya ingin keluar, namun seruan mama Nindi kembali menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
"Oh dokter Danar" panggil mama Nindi.
Dokter Danar dan Maira langsung menoleh kearah nya.
"Terimakasih untuk semua nya. Saya benar benar tidak tahu harus berkata apa karena pengobatan Nindi semua dokter yang menanggung nya" ungkap mama Nindi.
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk.
"Jangan sungkan Bu. Tidak masalah. Lagi pula itu memang sudah tanggung jawab saya karena Nindi begitu juga karena sudah menyelamatkan nyawa istri dan anak saya." jawab dokter Danar.
"Tapi itukan memang keinginan Nindi sendiri dokter. Lagi pula yang salah kan teman mereka" sahut mama Nindi.
"Ini juga keinginan saya dan istri Bu. Tidak masalah. Jangan dibahas lagi. Yang terpenting Nindi sehat dan pulih lagi" jawab dokter Danar.
"Tapi .." mama Nindi terlihat begitu tidak enak.
"Tante... enggak apa apa. Apa yang kami lakukan itu gak sebanding dengan pengorbanan Nindi. Udah ih, Tante kayak sama siapa aja deh" ucap Maira seraya merangkul mama Nindi yang sudah ingin menangis sekarang.
"Kalian begitu baik. Tante benar benar mengucapkan terimakasih pada kalian" ucap mama Nindi.
Dokter Danar dan Maira hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa, karena mau bagaimanapun mereka tetaplah berhutang nyawa pada Nindi.
Dan mau seberapa pun besarnya biaya pengobatan Nindi, tetap saja itu tidak sebanding dengan apa yang sudah gadis itu lakukan.
...
Sementara dirumah utama Erika...
Gadis itu menangis terisak dihadapan kedua orang tua nya. Dia nampak menangis begitu pilu. Bahkan duduk diatas sofa pun sudah membuat tubuhnya serasa tidak berdaya.
"Sudah lah, papa sudah lelah dengan kamu. Hanya untuk menjaga hubungan mu dengan Ervan pun kamu tidak bisa" bentak tuan Jonas.
"Lihat sekarang karena perbuatan kamu. Nama baik kita hancur Erika. Hancur!" teriak tuan Jonas begitu menggelegar.
"Dan di saat semua sudah hancur seperti ini, kamu malah meminta untuk kuliah lagi. Dimana akal fikiran mu ha? apa kamu kira perusaan papa akan baik baik saja setelah ini. Nama baik papa sudah tercoreng karena kelakuan bodoh mu itu. Dasar tidak berguna!!!" umpat tua Jonas lagi.
Sedangkan Erika hanya bisa menangis dan tertunduk dengan dada yang begitu sesak.
"Jangan harap kamu mendapatkan apapun lagi. Termasuk fasilitas apapun. Kamu sudah tidak berguna sekarang, hanya bisa menjadi beban saja" dengus tuan Jonas dan langsung berjalan keluar meninggalkan Erika dan mama nya yang memandang nya dengan penuh kesal.
"Mama...." lirih Erika yang memandang mama nya dengan pandangan pedih dan penuh sesal.
"Apa... kamu minta pembelaan. Apalagi yang harus dibela. Semua yang dikatakan papa kamu itu benar. Kamu itu cuma bisa membuat susah saja." balas mama nya tidak kalah tajam.
Erika kembali terisak dan menangis begitu sedih.
"Sekarang semua nya sudah hancur. Pertemanan yang sudah mama jalin bersama mama Ervan dengan susah payah sudah hancur. Kamu tahu kan, jika kamu bisa menikah dengan dia, hidup kamu akan terjamin. Nama papa akan semakin besar. Dan sekarang, bukan nya berhasil tapi malah membuat hancur berantakan " kata mama lagi.
Erika menunduk seraya meraba dada nya yang cukup sakit dan sesak.
"Kamu memang tidak bisa di andalkan. Sangat jauh berbeda dengan kakak kamu, lihat dia sekarang, sudah berhasil dan hidup bahagia dengan suami nya. Tapi kamu. Sejak dulu memang sudah membuat susah" tuding mama nya. Dan setelah itu wanita paruh baya itu langsung pergi meninggalkan Erika yang semakin terisak begitu pilu.
Kenapa....
Kenapa mereka sekejam ini. Erika tahu dia memang bersalah dan sudah membuat orang lain terluka. Tapi dia begini juga karena kedua orang tua nya.
Erika lelah sejak dulu sudah harus di doktrin untuk bisa sempurna. Dia sudah sempurna dikampus nya, dia sudah mendapatkan nilai yang terbaik. Tapi itu masih kurang. Dan orang tua nya malah ingin Erika mendekati Ervan.
Ya, awal nya Erika hanya mendekati Ervan karena suruhan dari orang tua nya saja. Tapi lama kelamaan dia malah jatuh cinta pada lelaki itu.
Erika tidak pernah ingin merebut Ervan dari tangan Maira, tapi orang tuanya selalu mendesak untuk itu. Erika bisa apa???
Sebagai anak yang selalu dibanding bandingkan sejak kecil, Erika juga ingin meraih rasa simpati orang tuanya. Sehingga dia mati matian untuk merebut Ervan dari Maira dengan segala cara.
Erika sedih sebenarnya ketika harus selalu mencari masalah dan berkelahi dengan Maira. Dia benar benar iri melihat Maira dan kedua sahabatnya, mereka mempunyai hubungan yang cukup baik. Erika ingin seperti itu, tapi dia sudah di cap sebagai perebut Ervan.
Erika hanya ingin hidup tenang, belajar dan berteman seperti yang lain.
Tapi tekanan dalam keluarga, membuat dia menjadi seperti ini.
Dan sekarang, disaat semua nya sudah hancur karena hanya kesalahan yang dia perbuat. Rasa benci dihati orang tua nya malah semakin menjadi.
Bahkan mereka dengan tega berkata kata seperti itu padanya.
Ya tuhan...
__ADS_1
apa ini balasan untuk semua kejahatan yang telah dia lakukan pada Maira dan Ervan???