
Hari sudah siang, namun dokter Danar juga belum pulang sampai saat ini. Maira benar benar kesal dan sedih. Sejak tadi dia sudah uring uringan dan benar benar tidak tenang. Bahkan untuk pergi kuliah saja dia sudah malas.
Jangankan untuk kuliah, untuk sekedar makan saja Maira tidak lagi berselera. Sudah dari semalam bahkan sebutir nasi pun tidak ada masuk keperutnya.
Maira duduk diruang tamu, memandangi ponsel nya sejak tadi.
"Ck, bodoh amat gue udah gak tahan" gumam Maira yang langsung menghubungi dokter Danar. Tidak tahu sejak kapan ada nomor suami nya disini. Namun itu sangat berguna sekarang. Tapi lagi lagi Maira harus dibuat kecewa saat nomornya tidak aktif.
"Huaaaa.... dokter Danar jahat banget sih sama gue... Salah gue apa cobaaa" teriak Maira yang kembali menangis begitu kuat. Bahkan dia sudah seperti orang gila sekarang.
tin tin
Suara klakson mobil diluar membuat Maira langsung terdiam. Dia bahkan langsung melompat dari kursi nya dan berlari kearah luar.
Dokter Danar pulang????
Namun saat membuka pintu, ternyata kedua sahabat nya yang datang. Maira langsung lemas dan kembali masuk kedalam. Menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
"Lo keterlaluan banget deh Mai, orang Dateng bukan nya dibukain pintu, malah ditinggal" gerutu Putri yang masuk kedalam rumah, namun dia melirik kedalam takut takut ada dokter Danar.
"Kenapa wajah Lo Mai, nangis??" tanya Nindi pula yang baru menyusul.
Maira kembali menangis dengan kuat dan menelungkup kan tubuhnya diatas sofa kecil itu. Putri dan Nindi saling pandang bingung melihat Maira. Hari ini bahkan mereka begitu bingung kenapa Maira tidak masuk. Dan ketika sampai disini, Maira malah seperti ini.
"Heh, kenapa sih?" tanya Putri mendekati Maira, begitu pula dengan Nindi.
"Dokter Danar mana?" tanya Nindi pula.
"Huaaaaa... dia.... dia pergi, gak pulang pulang!!!" rengek Maira seraya beranjak duduk dan menangis sesenggukan.
"Gak pulang pulang gimana?" tanya Nindi seraya mengusap bahu Maira.
"Apa dia marah ngeliat Lo dipeluk Ervan semalem?" tanya Putri pula.
Dan Maira langsung mengangguk cepat seraya menghapus air matanya.
"Astaga, Ervan memang cari masalah" gumam Nindi.
"Jadi gimana dong, Lo udah coba telpon dia?" tanya Putri.
"Nomornya gak aktif" jawab Maira disela sela Isak tangis nya.
"Dari semalem gak pulang?" tanya Nindi pula. Dan Maira kembali mengangguk dengan cepat.
"Gawat dong ini. Kalau dia nyerein lo gimana dong?" gumam Nindi khawatir.
Mendengar itu Maira semakin menangis.
"Huaaa... jahat banget sih Lo. Gue udah mutusin Ervan, terus sekarang dia juga mau ninggalin gue. Aaaaa gue gak mau" teriak Maira yang kembali menangis dengan kencang.
__ADS_1
Putri meringis melihat Maira yang seperti ini. Bahkan putus dengan Ervan saja dia tidak sehisteris ini, kenapa dengan dokter Danar yang tidak pulang saja dia langsung seperti orang gila???
"Lo harus minta maaf Mai. Ayok deh gue anterin kerumah sakit. Dia pasti disana" ujar Nindi.
"Malu dong gue" gumam Maira seraya menahan Isak tangis nya.
"Lo masih mau gak sama dia. Kalau gak mau yaudah jangan nangis dong kalau dia gak pulang. Biarin aja dia pergi, dulu kan Lo mau nya gitu" ucap Putri.
Kini Maira tertunduk dan menggeleng pelan seraya mengusap air matanya.
"Gue... gue sadar. Gue gak bisa kalau gak ada dia. Gue, gue gak apa apa kehilangan Ervan, asal jangan kehilangan dokter Danar... huuuu" Isak tangis Maira saat ini terasa begitu sedih dan pilu. Bahkan Nindi langsung memeluk nya dengan lembut.
Putri menghela nafasnya dengan pelan. Yah, beginilah, kalau sudah tidak ada, baru terasa kehilangan nya. Sudah seperti lirik lagu saja.
"Yauda, dari pada Lo nangis. Mendingan kita datengin aja kerumah sakit. Buktiin sama dia kalau Lo udah Nerima dia dan milih hidup sama dia selama nya" ujar Putri.
"Udah jangan nangis, mending Lo mandi. Dandan yang cantik. Kita pergi sekarang" kata Nindi pula.
"Kalau dia ngusir kita gimana?" tanya Maira disisa Isak tangis nya.
"Gak akan. Dokter Danar gak Setega itu sama kita. Udah cepetan" kata Putri.
Maira mengangguk pelan dan langsung masuk kedalam kamar untuk mandi dan menyegarkan wajah dan tubuhnya.
Hingga satu jam kemudian, mereka sudah berada diperjalanan menuju rumah sakit.
"Nanti jelasin semuanya" ujar Putri.
Maira hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Kesal dan takut, semua bercampur menjadi satu dihatinya. Dokter Danar benar benar keterlaluan. Dia pergi tanpa ingin berbicara lebih dulu. Maira jadi seperti orang gila sekarang.
Dan satu jam kemudian, mereka sudah tiba dilobi rumah sakit. Putri dan Maira turun lebih dulu, sedangkan Nindi memarkirkan mobilnya.
Jantung Maira berdebar tidak menentu. Untuk seumur hidupnya baru kali ini dia mendatangi laki laki hanya untuk meminta maaf. Astaga, untung saja suami, jika itu Ervan mungkin Maira tidak akan mau seperti ini.
"Yuk masuk" ajak Nindi.
"Gue kok takut gini sih" gumam Maira.
"Relaks" bisik Putri.
"Kayak mau ketemu siapa aja. Tu maka nya jangan jadi istri durhaka Lo" ucap Nindi.
Putri langsung mendengus tawa mendengar itu, sedangkan Maira hanya berdecak kesal. Nindi benar benar keterlaluan, dia sudah takut, malah ditambahi kesal. Sialan memang.
Mereka berjalan menuju meja resepsionis, dimana beberapa orang perawat sedang duduk disana dengan tugas masing masing.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu" sapa perawat itu dengan ramah.
__ADS_1
"Siang mbak, mau ketemu dokter Danar. Ada kan?" tanya Nindi tak kalah ramah.
"Sudah buat janji?" tanya perawat itu.
Nindi dan Putri langsung saling pandang bingung. Janji dari mana, ini saja mau mencari orang nya.
"Belum mbak. Tapi kami memang mau ketemu dokter Danar. Penting" ucap Nindi
Perawat itu memperhatikan tiga gadis cantik ini dengan lekat. Bukan sekali dua kali ada yang mencari dokter Danar. Pesona dokter itu memang membuat siapapun jatuh hati. Apalagi gadis muda seperti ketiga orang ini.
"Maaf ya. Dokter Danar tidak bisa diganggu sebelum buat janji terlebih dahulu" ucap perawat itu.
"Mbak, bilang aja deh sama dia kalau istrinya mau ketemu" sahut Putri yang sudah jengah.
"Istri???" gumam perawat itu begitu terkejut. Namun sedetik kemudian dia langsung tertawa kecil dan menggeleng.
"Udah deh, mending kalian pulang ya. Dokter Danar gak bisa diganggu, apalagi untuk gadis gadis kayak kalian gini. Udah sering. Saya gak punya waktu melayani kalian" ungkap perawat itu. Nada bahasa nya sudah berubah sejak Putri berkata tentang istri.
"Ck, gak percaya banget sih" gerutu Nindi
"Beneran loh mbak. Ini istrinya dokter Danar. Bilangin aja begitu" ucap nya lagi.
Maira hanya diam dan memijit pelipisnya yang terasa pusing sekarang. Siapa yang akan percaya, siapapun tahu bagaimana dokter Danar. Dan mereka yang berpenampilan seperti ini mengaku sebagai istri. Ya ampun. Maira rasa sebentar lagi mereka memang akan diusir.
Perawat itu menggeleng dan tersenyum sinis. Memandang Nindi yang hanya mengenakan rok diatas lutut dengan tangtop yang dibalut jaket pink, Putri dengan kaos ketat dan celana jeans sobek nya. Hanya Maira yang sedikit sopan, meskipun begitu dia memakai celana jeans ketat dan juga kemeja yang mengepas ditubuhnya. Mana mungkin salah satu dari mereka adalah istri dokter Danar. Yang benar saja, dokter Kemala yang sempurna begitu saja tidak mampu mengetuk pintu hati dokter Danar. Bagaimana bisa ketiga gadis ini mengaku istri dokter Danar. Ada ada saja.
"Lebih baik kalian pergi, atau saya panggil security" ancam perawat itu.
Mata Putri langsung melebar mendengar nya.
Dia ingin maju, namun Maira segera menahan nya.
"Udah lah, kita pergi aja. Jangan buat malu disini" ajak Maira yang langsung berbalik dan berjalan meninggalkan mereka.
Sudah pasrah dia, kepala nya juga sudah pusing. Memaksa juga tidak ada guna nya.
"Tapi Mai, kita kan belum ketemu dokter Danar" ucap Nindi yang mengejar langkah Maira
"Percuma Nin, mereka gak akan percaya. Lo tahu gimana dokter Danar. Yakali istrinya modelan kita begini, mana ada yang percaya" jawab Maira
Putri dan Nindi langsung memperhatikan penampilan mereka. Benar juga.
"Apa kita harus pakai gamis????" tanya Nindi pada Putri.
"Gamis embah lu" gerutu Putri yang langsung mengejar Maira yang sudah didepan rumah sakit.
Hingga tiba tiba...
"Maira...." panggil seseorang
__ADS_1