
Betapa bahagia nya Maira saat ini. Kedatangan ibunya membuat Maira merasa kebahagiaan nya begitu lengkap. Meskipun hatinya masih dipenuhi oleh kecemasan tentang keadaan Nindi yang masih belum pulih.
Saat ini Maira sedang berbaring diatas sofa dipangkuan ibunya. Dokter Danar sudah pergi kerumah sakit karena ada pasien darurat. Hingga Maira hanya dirumah bersama ibunya. Mereka masih saling melepaskan rindu masing masing. Dan Maira memutuskan untuk tidak kerumah Nindi dulu pagi ini. Mungkin sore atau malam nanti. Itupun jika dokter Danar pulang cepat.
"Kamu tidak mual mual nak?" tanya mama pada Maira.
"Enggak ma, tapi Maira enggak makan nasi selama hamil ini. Enggak suka banget" jawab Maira.
Matanya terpejam karena usapan lembut tangan mama dikepala nya.
"Kamu harus bersyukur. Mama dulu waktu hamil kamu mual parah sampai harus dibawa kerumah sakit. Tiga bulan sama sekali gak bisa makan apa apa" ucap mama
"Beneran?" tanya Maira
"Iya. Cuma minum, itu juga minum jus mangga atau yang asam asam. Maka nya asam lambung mama naik" kata mama seraya tertawa pelan
Maira juga ikut tersenyum mendengar itu.
"Jangan sampai deh ma. Maira cuma gak mau nasi aja. Yang lain masih bisa makan. Lagian mas Danar juga setiap hari ngasih vitamin buat Maira" ungkap Maira.
"Iya, mama senang kamu bisa mendapatkan suami seperti Danar. Dia terlihat begitu menyayangi kamu nak" ucap mama
Maira tersenyum dan mengangguk.
"Iya ma, Maira bersyukur banget. Padahal dulu Maira benci banget sama dia" jawab Maira seraya tertawa kecil.
"Kamu dijodohin ayah sama dia?" tanya mama
Maira mengangguk dan langsung memandang mama nya.
"Padahal waktu itu Maira udah ada pacar, dan terpaksa harus menikah dengan mas Danar. Rasanya benar benar kesal. Apalagi sifat mas Danar waktu itu gak kayak sekarang. Dia lebih kaku, lebih cuek dan juga lebih nyebelin. Gak tahu kenapa sekarang bisa berubah" ungkap Maira.
Mama langsung tertawa mendengar itu.
"Itu artinya ayah udah tahu bagaimana suami kamu. Dia dewasa dan penyayang. Buktinya kamu bisa berubah begini. Padahal mama yakin, sebelum bertemu Danar kamu pasti tidak seperti ini kan" ujar mama
Maira langsung tersenyum malu mendengar itu.
"Enggak ma. Maira dulu nakal. Terbiasa hidup sendiri di Jakarta buat Maira gak tahu agama. Padahal ayah udah selalu ngingetin. Tapi gimana, namanya juga pergaulan. Tapi setelah kenal dokter Danar, Maira bisa ngerti kalau selama ini yang Maira lakuin udah salah" ungkap Maira
Mama mengusap kepala Maira kembali.
"Kamu harus bisa menjadi istri yang baik ya. Harus bisa berbakti sama suami. Belajar dari kesalahan mama dulu yang gak nurut sama ayah dan terlalu sibuk mengejar dunia. Kamu enggak boleh begitu" ujar mama.
Maira tersenyum dan mengangguk
"Maira akan selalu ingat pesan mama. Gak ada yang lebih baik dari mas Danar yang bisa nerima Maira sampai seperti ini. Bahkan dia rela menunggu sampai Maira siap Nerima dia" jawab Maira.
"Jangan sia sia kan cinta itu nak. Kamu harus banyak bersyukur. Dan harus bisa selalu menjaga rumah tangga kalian dengan baik" kata mama lagi.
"Iya ma. Insha Allah " jawab Maira.
Mama tersenyum seraya mengusap perut Maira yang sudah mulai menonjol.
"Mama sudah tidak sabar untuk melihat cucu mama" ungkap mama
"Mama akan disini terus nemeni Maira kan?" tanya Maira.
Namun mama terlihat menggeleng pelan, dan itu membuat Maira lesu kembali.
"Mama gak bisa lama lama disini sayang. Suami mama tidak ada yang mengurus disana. Tapi mama janji, ketika kamu sudah mau melahirkan nanti, mama pasti akan menemani kamu" ungkap mama.
"Mama tinggal dimana sekarang?" tanya Maira.
"Malaysia" jawab mama
Maira terkesiap dan langsung beranjak duduk.
__ADS_1
"Malaysia" gumam nya tak percaya.
Mama mengangguk
"Kenapa jauh sekali?" tanya Maira.
"Ayah sambung kamu mempunyai usaha disana. Jadi mau tidak mau mama harus mengikutinya kan". jawab mama
"Jadi mama mencari Maira sampai sejauh itu ke kampung" tanya Maira
Mama tersenyum dan mengangguk.
"Karena mama jauh, maka dari itu mama tidak tahu apa yang sudah terjadi pada kalian. Maafkan mama ya. Bahkan disaat kamu menikah pun mama tidak bisa hadir" ucap mama begitu menyesal.
Maira menggeleng pelan
"Sudah terjadi ma. Enggak apa apa. Yang terpenting sekarang mama sudah ada disini dan jangan lagi menghilang" pinta Maira.
"Tidak akan nak. Mama pasti akan sering sering datang untuk mengunjungi kamu" ujar mama
"Suami mama tahu mama kemari" tanya Maira
"Tahu, bahkan dia ingin sekali bertemu dengan kalian. Tapi mama cukup ragu, mama takut kalian tidak bisa menerima kehadiran orang baru" jawab mama.
Maira langsung mengusap bahu mama dengan lembut.
"Mama .. dia suami mama. Artinya dia juga ayah kami. Jika dia baik pada mama, kami juga pasti bisa menyayangi nya" ungkap Maira.
Mama langsung tersenyum mendengar itu. Dia benar benar bahagia mendengar ini. Karena bagaimanapun sudah bertahun tahun dia menghilang, dan dia juga cukup takut untuk memperkenalkan lelaki yang menjadi pengganti ayah anak anak nya.
"Kamu serius sayang, kamu mau bertemu dengan nya jika mama membawanya kemari?" tanya mama
"Tentu saja, kenapa tidak. Maira tenang jika ada orang yang menjaga mama disaat jauh" jawab Maira.
"Dia baik nak, dia sayang dengan mama. Bahkan sejak dulu dia sudah selalu meminta mama untuk memperkenalkan nya pada kalian. Tapi mama masih sangat ragu." ucap mama.
Namun mama menggeleng dan tersenyum.
"Anak mama cuma kamu dan Rio sayang" jawab mama.
Maira langsung memeluk mama nya dengan erat.
Ya Allah..
Ini benar benar serasa seperti mimpi...
Hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Maira jika dia bisa bertemu kembali dengan ibunya setelah sekian lama.
Meski pernah kecewa dan bahkan jika diingat ingat, rasa kecewa itu masih ada sampai saat ini. Tapi semua bisa diredam dengan rasa ikhlas dan rasa syukur, karena memaafkan pasti akan jauh lebih indah dari pada memendam kekecewaan terlalu lama.
Maira sangat bahagia...
...
Sementara dirumah Nindi...
Hari ini Putri bolos kuliah, dia malas datang kekampus untuk kuliah seperti biasa. Rasanya benar benar sepi tidak ada Maira dan Nindi seperti biasa.
Semua orang yang ada di kampus itu terasa seperti orang asing baginya. Dan Putri benar benar tidak cocok. Apalagi banyak sekali penjilat yang bermuka dua. Sudah menghina dan menghujat, namun setelah tahu fakta yang sebenarnya, mereka malah seperti hantu gentayangan yang mencari muka.
Menjijikkan sekali...
"Kamu gak kuliah Put?" tanya Nindi.
Saat ini mereka duduk digazebo depan rumah Nindi.
"Males, sepi banget kampus gak ada kalian" jawab Putri seraya memakan puding buah yang disediakan oleh pembantu Nindi.
__ADS_1
"Nanti nilai kamu jelek kalau libur terus. Aku gak apa apa kok kalau sendiri. Kan ada mama" ungkap Nindi.
"Jadi kamu ngusir aku?" tanya Putri.
Nindi langsung menggeleng dengan cepat, namun sedetik kemudian dia langsung meringis dan memegangi kepala nya yang terasa sakit.
"Iiihh ceroboh banget sih. Jangan gerak tergesa dulu" seru Putri seraya mengusap kepala Nindi.
"Reflek" jawab Nindi.
Putri menghela nafasnya dengan kesal.
"Padahal kemaren waktu kamu bangun, aku kira kamu udah ingat, karena pandangan mata kamu beda. Tapi nyatanya belum" ungkap Putri.
"Kamu udah lelah ya nemeni aku?" tanya Nindi.
"Enggak bukan gitu. Aku cuma rindu kita ngumpul bareng lagi. Rindu kuliah bareng, rindu semua nya lah. Kalau aku lelah, aku gak akan ada disini sekarang" jawab Putri. Terdengar kesal.
Nindi tersenyum sendu dan mengusap kepala dibalik hijab nya.
"Maafin aku ya. Aku juga pengen cepat sembuh dan ingat lagi. Tapi susah... padahal aku udah berusaha untuk mengingat. Tapi sakit banget Put" ungkap Nindi yang langsung tertunduk sedih.
Putri tertegun mendengar itu. Dia langsung mengusap bahu Nindi dengan lembut.
"Maaf Nin... maaf. Aku gak ngerasain apa yang kamu rasa, jadi aku gak tahu gimana susah nya jadi kamu. Maaf" ucap Putri yang kini merasa bersalah.
Dia bahkan langsung memeluk Nindi yang terlihat menahan tangis. Bukan Putri lelah, dia hanya rindu kebersamaan mereka dulunya. Dia rindu tingkah gila mereka, dia rindu semua nya. Sekarang, semua terasa berbeda, apalagi ketika Nindi sakit.
"Enggak apa apa. Aku berterimakasih banget sama kamu karena sudah mau menemani aku selama aku sakit. Aku bahagia punya sahabat seperti kamu dan Maira" ungkap Nindi.
"Kami juga bahagia punya sahabat seperti kamu" balas Putri.
Mereka saling berpelukan cukup lama. Bahkan sampai menangis bersama jika mengingat bagaimana susahnya kehidupan mereka sekarang.
Tapi meskipun begitu, ada rasa haru yang tidak terhingga saat ini. Karena bisa sama sama sudah saling memperbaiki diri.
"Assalamualaikum" ucapan seseorang membuat Nindi dan Putri langsung melepas pelukan mereka masing masing.
"Kak Brian. Waalaikumsalam" jawab Putri.
Sedangkan Nindi hanya menjawab salam nya dengan pelan seraya mengusap wajahnya yang basah dengan air mata.
"Kakak gak kuliah?" tanya Putri.
"Kuliah, sekalian mau berangkat, singgah sebentar disini. Ini untuk kalian" ujar Brian seraya menyerahkan sekotak makanan pada Putri.
"Wow... blackforest" gumam Putri.
"Bagaimana keadaan kamu pagi ini?" tanya Brian pada Nindi.
"Sudah lebih baik kak" jawab Nindi dengan senyum tipis nya.
"Dua hari lagi dokter Danar ingin membawa kita ke mesjid tua. Kamu harus menyiapkan diri ya, harus banyak istirahat. Dan Maira mungkin belum bisa kemari untuk beberapa hari ini" ungkap Brian
"Iya, kenapa ya. Apa dia sakit? gak ada menghubungi juga." ucap Putri.
"Ibunya datang" jawab Brian
Putri langsung tertegun mendengar itu.
"Ibu kandung Maira?" tanya Putri
Brian mengangguk.
"Dokter Danar yang memberi tahu. Tapi mungkin nanti Maira pasti menghubungi kalian." ungkap Brian.
Putri langsung mengangguk pelan.
__ADS_1
Dia cukup terkejut, pasalnya selama ini mereka tidak ada yang tahu bagaimana rupa ibu Maira.