Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Haruskah Memberi Tahu Tentang Pernikahan?


__ADS_3

Suasana mesjid kampus siang itu tidak terlalu ramai. Bahkan hanya sedikit mahasiswi yang menjalankan ibadah mereka, namun meskipun begitu hanya di mesjid inilah mereka bisa merasakan kenyamanan saat berada dikampus.


Dan yang membuat mereka betah, terutama Nindi, hari ini mereka shalat berjamaah di imami oleh Brian. Ya, lelaki berwajah dingin itu ternyata yang menjadi imam shalat siang ini.


Bahkan hanya mendengar suaranya saja Nindi sudah tahu jika itu adalah Brian.


Masha Allah sekali, hati nya benar benar damai mendengar lantunan ayat suci yang begitu merdu itu dilantunkan oleh Brian.


Nindi mengusap wajah nya saat salam sudah dia lafadzkan. Tidak ada hal yang paling menenangkan didunia ini selain waktu sehabis shalat. Kenapa tidak sejak dulu dia mendapatkan hidayah ini?


Jika saja sejak dulu, mungkin Nindi tidak akan merasakan dampak dari perbuatan dosa nya kan.


Yah, bukan hanya Nindi, tapi Maira dan Putri juga begitu.


Selesai shalat, mereka saling pandang dan tersenyum simpul. Hanya didalam mesjid saja mereka tidak mendapatkan tatapan sinis orang orang. Memang benar, jika yang beragama itu banyak, tapi yang beriman dan bisa menjaga lisan, itu hanya orang orang terpilih.


"Alhamdulillah, perut gue gak mual lagi." gumam Maira terdengar begitu pelan.


Nindi tersenyum memandang Maira, seketika pembicaraan anak anak kampus tadi kembali terngiang ditelinganya. Sepertinya Nindi harus memberi tahu ini pada Maira. Sebelum didengar duluan oleh dia dan membuat mood nya buruk.


"Sehabis ini kita masih ada satu kelas lagi. Masih sanggup kan Lo?" tanya Putri seraya melepaskan mukenah nya.


"Insha Allah sanggup kok. Masih ada persediaan ini" jawab Maira seraya menunjuk botol jus kiwi disampingnya.


"Masih aja bawain itu ya Mai" ucap Nindi seraya terkekeh pelan. Dia juga melepaskan mukenah nya sekarang, begitu pula dengan Maira.


"Iya dong, nyawa gue nih" jawab Maira.


"Kita keluar yuk, bentar lagi nih" ajak Putri.


Nindi dan Maira langsung mengangguk dan segera beranjak dari atas sajadah mereka masing masing. Berjalan keluar bersama sama seraya membenarkan jilbab masing masing. Namun sebelum keluar, Nindi menyempatkan diri untuk menoleh sejenak kebarisan depan, dimana Brian juga baru saja membalikkan tubuhnya.


Dan lagi lagi, pandangan mata mereka bertabrakan beberapa detik, namun Nindi segera berpaling dengan cepat. Sudah cukup, jangan sampai Brian semakin membenci nya hanya karena dia yang mencuri pandang.


Dan entah kenapa, saat dia menoleh, Brian juga malah melihat kearahnya. Jadi ketahuan kan.


"Udah, jangan diliatin terus. Nanti gak bisa tidur Lo" ucap Putri.


Nindi mendengus senyum dan menggeleng.


Hingga akhirnya mereka keluar juga dari mesjid dan berjalan lagi menuju gedung fakultas mereka.

__ADS_1


"Huh... panas banget udah diluar" keluh Maira.


Nindi dan Putri langsung menoleh kearah nya. Terutama Nindi, dia langsung memandang Maira dengan lekat.


"Mai" panggil Nindi


Maira langsung menoleh kearah nya.


Namun Nindi malah menjadi ragu untuk mengatakan ini.


"Kenapa?" tanya Maira. Dia heran melihat Nindi, yang sejak datang kemesjid tadi dia memang sedikit aneh.


"Ada masalah?" tanya Putri pula.


Nindi menghela nafas sejenak, dan mengangguk pelan dengan wajah sedih nya.


"Anak anak udah mulai curiga kalau Lo hamil" ucap Nindi seraya matanya yang memandang kesekitar mereka.


Maira terdiam sejenak


"Terus kenapa?" tanya Maira. Dia terlihat begitu santai, dan tentu itu membuat Nindi bingung.


"Mereka ...." perkataan Nindi terhenti, karena dia benar benar ragu. Namun Maira langsung tersenyum dan merangkul lengan nya.


Nindi terkesiap dan langsung memandang Maira dengan lekat.


"Lo tahu Mai?" tanya Nindi tidak percaya. Sedangkan Putri hanya tersenyum tipis dan berjalan disamping mereka.


"Tahu lah, itu udah jadi rahasia umum. Lo kan tahu gimana Erika, dia udah pasti nyebarin gosip yang enggak enggak tentang gue. Bahkan tentang elo juga" Jawab Maira.


Nindi mengerucutkan bibirnya sekilas.


"Gue gak apa apa mereka hina atau mereka omongin yang enggak enggak. Tapi gue gak terima kalau elo yang jadi bahan gunjingan mereka." ungkap Nindi


Maira langsung tersenyum dan menggeleng.


"Jangan gitu dong, gue gak apa apa kok. Asal mereka jangan sampai ngerugiin gue aja" jawab Maira.


Namun Nindi segera menggeleng.


"Gue tetap gak terima Mai, sakit banget denger nya waktu mereka bilang kalau Lo hamil diluar nikah. Apalagi ketika mereka bilang kalau Lo berhijab demi untuk menutupi kebusukan Lo" ungkap Nindi.

__ADS_1


"Gak terima juga mau gimana Nin. Mereka kalau udah gak suka, ya tetap aja gak suka" jawab Maira


"Kalau gak Lo larang, mungkin udah gue tabok tuh mulut anak anak" sahut Putri.


Maira menoleh kearah Putri dan menggeleng.


"Jangan lah, kalau kita marah, itu berarti kita sama aja membenarkan prasangka mereka" ucap Maira.


"Mai, kalau dibiarin mereka semakin menjadi. Apalagi kalau mereka sampai ngadu ke pihak kampus. Gimana coba?" tanya Nindi yang khawatir


"Kan gak ada larangan untuk orang hamil kuliah" ucap Maira


"Iya memang, cuma perkataan mereka itu yang buat sakit hati" sahut Putri begitu kesal.


Nindi langsung mengangguk dengan cepat.


"Gue takut Lo stres Mai, dan berdampak buruk sama Dedek utun" ucap Nindi pula.


Maira menghela nafas nya sejenak.


"Terus kalian mau gue gimana? Nanggepin mereka, atau marah gitu?" tanya Maira seraya memandang Putri dan Nindi bergantian.


"Setidak nya Lo lapor aja ke pihak kampus kalau Lo udah nikah, biar aman" ujar Nindi.


"Iya, atau gak bilang sama dokter Danar untuk datang ke pihak kampus buat klarifikasi" sahut Putri pula.


Maira terdiam mendengar itu.


"Nama Lo udah buruk banget Mai, sakit banget telinga gue denger nya" ucap Putri.


"Bener Mai, kalau anak anak tahu Lo udah nikah mereka pasti gak akan berani menghujat Lo lagi. Apalagi kalau tahu suami Lo adalah dokter Danar, mereka pasti diem" kata Nindi lagi.


"Kan yang dihujat bukan gue aja Nin, elo juga" jawab Maira.


"Mai" panggil Nindi, mereka berhenti saat sudah didepan kelas dan memang suasana sudah mulai sepi karena anak anak sudah masuk kelas semua.


"Gue dihujat itu untuk diri gue sendiri, dan itu memang karena kesalahan gue yang kegatelan dari dulu, jadi wajar kalau mereka ngehujat gue yang sekarang." ucap Nindi, dia memandang Maira dengan lekat.


"Tapi elo, mereka menghina dan menghujat elo tanpa dasar yang jelas, bahkan itu lebih jatuh ke fitnah. Kejam banget lagi, padahal mereka gak tahu fakta yang sebenarnya. Gue gak terima keponakan gue dihujat mereka begitu. Mereka harus tahu, kalau dia punya ayah" kata Nindi seraya menunjuk perut Maira.


"Bener Mai, Lo memang harus buka kartu mulai sekarang. Mereka harus tahu kalau Lo udah nikah" sahut Putri pula.

__ADS_1


Maira terdiam dengan perkataan kedua sahabatnya. Haruskan dia mengungkapkan tentang pernikahan nya dengan dokter Danar pada semua orang????


__ADS_2