
Khalisa Aiza Az Zahra...
Putri kecil dokter Danar dan Maira yang memiliki arti begitu indah. Berharap putri mereka akan menjadi seseorang yang suci dalam akhlak, mulia dalam bersikap dan cantik bercahaya untuk kedua orang tuanya.
Bayi mungil cantik yang begitu berseri wajahnya, mirip sekali dengan dokter Danar. Namun juga ada sebagian wajah Maira disana. Perpaduan yang membuat semua orang terlihat gemas.
Malam ini di ruangan Maira sudah berkumpul kedua sahabat nya, Putri dan Nindi. Mereka benar benar senang sekali melihat keponakan mereka yang telah lahir.
Bahkan sejak tadi Putri dan Nindi tidak jauh jauh dari ibu dokter Danar yang sedang menggantikan popok cucu pertamanya ini. Dia terlihat sangat bahagia.
"Uluh uluh gemes banget sih nak" geram Nindi dengan tangan yang saling meremas kuat.
"Kamu disuruh gendong gak mau" ucap Ibu dokter Danar.
Nindi tertawa masam mendengar nya.
"Takut Bu, halus banget, mana masih merah lagi" jawab Nindi.
"Putri aja deh Bu, boleh gak. Putri pangku aja disini" pinta Putri yang duduk disebuah ibu.
"Boleh, ini. Hati hati" ujar ibu seraya meletakkan bayi itu dipangkuan Putri yang menerima nya dengan hati hati. Padahal dia yang paling kaku, tapi dia yang berani menyentuh anak Maira.
"Aiza ... Masha Allah... ini aunty nak. Aunty Putri" ucap Putri dengan mengusap lembut pipi kemerahan Aiza.
Maira yang masih makan dan disuapi oleh dokter Danar terlihat tersenyum memandang kedua sahabatnya.
Malam ini mereka baru diberi tahu, sebab siang tadi Maira benar benar masih kesulitan dan repot mengurus tubuhnya yang kesakitan semua. Rasanya benar benar nyeri.
"Gemes banget ya yank... jadi kepengen cepat punya deh" ucap Dika yang ada disebelah Putri.
"Nanti juga punya. Yang penting jangan ditunda tunda" ujar ibu seraya melipat dan membereskan pakaian cucu nya.
"Enggak dong Bu. Biar cepat nyusul. Umur saya juga udah tua" jawab Dika
"Iya, Putri nikah nya sama om om. Hehe" ledek Nindi yang sedang membantu ibu.
"Enak aja sama om om. Perjaka tulen ya. Umur aja belum ada 28" sahut Dika. Membuat semua orang langsung tertawa.
"Itu, si Maira yang nikah sama om om" sahut ayah pula.
Membuat Maira dan dokter Danar langsung menoleh ke arah mereka.
"Maira memang suka nya sama om om ayah" sahut Maira.
Dokter Danar langsung mendengus senyum dan mengusap kepala Maira dengan lembut.
"Untung om om nya ganteng ya Mai. Kalau jelek tadi mana mau kamu" ucap ayah
"Iya mungkin" jawab Maira seraya melirik suaminya yang hanya tersenyum saja.
"Kalau gak ganteng gak akan bisa memperbaiki keturunan. Nih lihat, untung gak mirip emak nya" ucap Putri seraya memandangi Aiza yang berada dipangkuan nya.
"Ho'oh... Masha Allah sekali memang" gumam Nindi pula.
"Anak keturunan ayah memang gak ada yang gagal dong. Lihat kakek nya aja seganteng ini" sahut ayah dengan begitu angkuh nya membuat semua orang yang ada disana langsung tertawa dengan lucu. Hanya ibu saja yang nampak mengomel karena itu adalah hobinya.
Hal yang paling membahagiakan bagi Maira. Disaat dia bisa memberikan kebahagiaan bagi suami dan mertua nya.
Seorang cucu yang lucu yang menjadi tempat mereka untuk meluapkan perasaan.
Masha Allah... Allah maha baik.
..
Beberapa hari kemudian Maira sudah bisa pulang. Keadaan nya juga sudah mulai pulih dan bisa berjalan dengan baik. Meski terkadang dia masih merasakan sakit dibagian bekas luka operasi nya.
Tapi Maira begitu beruntung karena suami dan ibu mertua yang begitu baik dan sangat perhatian.
Semua keperluan nya dilayani, bahkan untuk mengambil makanan dan mandi saja dokter Danar yang mengurus Maira.
Meski sibuk di rumah sakit, namun dokter Danar selalu menyempatkan diri untuk pulang dan mengurus Maira.
Saat ini mereka masih didalam kamar. Hari ini adalah hari syukuran sekaligus akikah untuk putri mereka.
Maira baru saja selesai memasang jilbab nya dan masih duduk didepan meja rias.
Sedangkan dokter Danar terlihat menggendong putri kecilnya yang masih nyaman tertidur dalam buaian ayah nya.
Senyum dokter Danar benar benar selalu membuat hati Maira tersentuh dan terpana. Apalagi sekarang, semenjak Aiza lahir, meski lelah seharian bekerja, tapi wajah bahagia itu begitu kentara. Seolah putri kecilnya itu adalah salah satu penyemangat dalam kehidupan nya.
Sungguh Maira benar benar bersyukur memiliki suami seperti dokter Danar. Semoga sampai nanti sikap nya ini tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.
"Tidur mas?" tanya Maira seraya berdiri dan mendekat pada dokter Danar.
"Iya sayang" jawab dokter Danar.
__ADS_1
"Gemes banget deh. Tidur aja masih bikin orang pengen gigit" gumam Maira seraya mengecup lembut pipi putri nya hingga Aiza nampak terkejut.
"Gak boleh gitu ih... kamu ini, jadi terkejut dia" ujar dokter Danar seraya kembali mengusap usap tubuh Aiza.
Maira hanya tertawa dan mengerucutkan bibirnya sekilas.
"Sekarang bunda udah punya saingan nak. Ayah jadi lebih belain kamu" ucap Maira pura pura cemberut. Membuat dokter Danar langsung tersenyum lucu dan mengusap wajah Maira dengan sayang.
"Bunda tetap cinta pertama ayah" jawab dokter Danar.
Maira tertawa tertahan.
"Ngerayu ya mas" ucap Maira seraya membenarkan kembali kerudung yang dia pakai.
"Enggak ngerayu, mas ngomong jujur. Gak ada yang bisa nyaingi istri mas yang cantik ini." ungkap dokter Danar
"Aaahh manis banget" ucap Maira dengan wajah merona nya. Padahal sudah menikah lama, tapi setiap perkataan manis itu selalu membuat dia salah tingkah. Ya, mungkin karena jarang jarang dokter Danar berbicara seperti itu.
Namun tiba tiba mereka terkejut saat melihat Aiza yang juga terbangun dan malah menangis.
"Loh... kok nangis sayang. Pasti cemburu dengar ayah ngerayu bunda ya" ucap Maira seraya mengusap dada Aiza
"Ayah juga sayang Aiza nak. Sayang sekali" ucap dokter Danar yang langsung mencium wajah lembut Aiza, seraya mendekapnya dan kembali membuai tubuh itu. Dan anehnya, anak bayi itu malah langsung diam dan tenang kembali. Membuat Maira menggelengkan kepala tidak habis fikir.
Bisa bisanya bayi baru lahir sudah mengerti pembicaraan orang dewasa.
Oke, sepertinya Aiza memang akan menjadi saingan nya dalam memperebutkan cinta dokter Danar jika dia sudah besar nanti.
..
Dan setelah menenangkan Aiza mereka keluar dari kamar. Karena Bu Ipeh sudah memanggil sebab acara sudah akan dimulai.
Saat keluar kamar dan menuju ruang tengah ternyata semua tamu dan para anak yatim yang mereka undang sudah hadir semua.
Bahkan teman teman mereka sudah datang. Putri bersama Dika, Erika bersama Ervan, dan Nindi... sendirian.
Para orang tua mereka juga hadir disana, termasuk dokter Kemala dan juga kedua orang tua dokter Danar yang kini sedang bergabung bersama para orang tua yang lain. Mama Maira juga sudah datang, bersama dengan Rio tentunya. Hingga membuat kebahagiaan Maira semakin bertambah sekarang.
Dokter Danar meletakkan Aiza didalam box yang sudah disediakan disana. Dan mereka langsung duduk disebelah box bayi mereka setelah sebelumnya menyapa semua orang yang datang disana.
Acara dimulai dengan pembacaan doa dan rasa terimakasih dokter Danar.
Semua dilaksanakan dengan begitu khidmat dan penuh rasa syukur. Hingga pembacaan doa dan juga pembagian makanan serta sedekah untuk anak anak yatim yang datang.
Meski lelah, tapi Maira merasa bahagia karena semua ikut berbahagia.
Setelah beberapa jam kemudian, acara ditutup dengan doa bersama. Dan para tamu yang hadir mulai membubarkan diri mereka.
Dokter Danar dan ayah Beni ikut mengantarkan kepulangan mereka.
Sedangkan Maira duduk bersama dengan teman teman nya.
"Maira, saya pamit pulang dulu ya. Sampai jumpa dua Minggu lagi" pamit dokter Kemala.
Maira langsung berdiri dan mengangguk pelan.
"Iya dokter. Terimakasih banyak sudah menyempatkan diri dan datang diacara Aiza" ucap Maira.
"Tentu saja, Kalau begitu saya permisi. Kamu jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah" ujar dokter Kemala.
"Iya dokter pasti" jawab Maira
"Mari semua. Assalamualaikum" sapa dokter Kemala pada teman teman Maira yang lain.
"Waalaikumsalam dokter" jawab mereka seraya tersenyum dan memandang kepergian dokter Kemala yang menyusul kedua orang tuanya yang sudah keluar duluan.
"Sudah cantik, anggun, taat, dokter pula. Masha Allah sekali kan" gumam Nindi
"Pasti beruntung yang menjadi suaminya nanti" ucap Erika pula.
"Udah jelas lah. Bahkan dia yang buat Maira uring uringan dulu" sahut Putri seraya melirik Maira yang mendengus kesal. Membuat yang lain langsung tertawa lucu.
"Saingan Maira?" tanya Ervan
Putri dan Nindi langsung mengangguk dengan cepat.
"Iya, tapi untung aja dokter Danar setia" jawab Putri.
"Setialah... enak aja. Meskipun dia cantik, tapi kan aku pemenangnya. Udah punya Aiza lagi" jawab Maira seraya melirik Aiza yang berada ditangan mama nya sekarang.
"Itu nama nya keberuntungan " sahut Putri.
"Mungkin dokter Danar lagi khilaf kali ya dulu makanya milih Maira" goda Nindi pula.
"Sembarangan aja" dengus Maira membuat mereka kembali tertawa lucu.
__ADS_1
"Suka banget godain Maira yang memang udah jelas beruntung. Coba tuh si Nindi. Yang pura pura ketawa tapi hati nya ngenes" ucap Dika yang sedari tadi hanya sibuk dengan toples kacang nya.
"Kak Dika, jujur banget" jawab Putri dengan tawa lucunya. Apalagi ketika melihat wajah Nindi yang langsung lemas dan bersandar dibahu Erika.
"Kak Dika emang paling tahu. Ngelihat dokter Kemala dan orang tua nya bikin aku makin rindu sama kak Brian yang entah dimana sekarang" ungkap Nindi dengan wajah yang terlihat begitu sedih
Namun tidak mampu membuat mereka ikut sedih melainkan malah tersenyum lucu.
"Gitu amat Nin, apalagi gak ada disapa sama calon mertua ya. Memang menyedihkan" ucap Ervan.
Erika tertawa kecil dan mengusap lengan Nindi yang nampak memandang Ervan dengan kesal.
"Kenapa gak minta nomor ponsel Brian aja sih. Aku bisa mintain sama ayah nya. Kebetulan pelanggan di bengkel" ujar Dika.
"Nah bener, dari pada kayak orang gila begini" sahut Ervan.
Nindi menghela nafas dan kembali duduk dengan tegak.
"Aku sendiri yang bilang kalau gak akan menghubungi dia. Iya kali aku makan omongan ku sendiri " jawab Nindi
"Ya ampun, hidup diribetin ya begitu jadinya. Lagian kenapa bisa suka sama laki dingin begitu coba. Gak cocok banget" gumam Ervan.
Puk
Lagi lagi, kotak tisu mendarat dipangkuan Ervan. Membuat mereka langsung tertawa geli. Nindi dan Ervan jika sudah bertemu pasti seperti anjing dan kucing, tidak pernah bisa akur. Jika bukan Nindi yang menggoda Ervan, pasti Ervan yang menggoda Nindi. Ya seperti ini.
"Embah mu gak cocok, nama nya juga suka. Emang bisa milih" dengus Nindi begitu kesal.
"Ya emang enggak cocok kan. Kenapa malah melawan takdir. Dari sifat kalian aja udah beda, dia dingin kayak pangeran kutub, nah kamu bar bar nya gak ketulungan. Dia juga Sholeh, nah kamu apa. Kayak Mak lampir" tambah Ervan lagi, yang membuat Nindi semakin naik pitam.
Dia langsung meraih toples kue yang ada didepan nya dan hendak melempar pada Ervan, namun Maira dengan sigap langsung meraih toples itu dan menjauhkan nya dari Nindi, bahkan Erika juga terlihat menjauhkan toples toples kue yang ada dihadapan Nindi.
"Tupperware emak mertua aku Nin. Bisa dipecat jadi mantu aku kalau rusak" sahut Maira dengan cepat.
Nindi mendengus kesal sedangkan yang lain langsung tertawa terbahak bahak.
"Ribut aja kalian, udah kayak anjing sama kucing" ucap Dika dengan tawa lucunya.
"Tahu nih, dirumah orang ini woii" sahut Putri pula.
"Lah aku ngomong bener. Emang si Nindi aja yang kayak nya lagi pms" ucap Ervan dengan wajah menyebalkan nya itu.
"Emang pms aku. Pengen Makan Saringan semut kayak kamu" dengus Nindi. Wajahnya terlihat begitu kesal, sudah menahan rindu, menahan perasaan saat melihat teman teman nya bahagia dengan pasangan masing masing, dan sekarang Ervan malah semakin menyulut emosi nya.
Memang menyebalkan...
Astaghfirullah...
"Rik... kamu gak usah mau deh sama Ervan. Makan hati kamu hidup sama dia nanti" ujar Nindi akhirnya.
"Nah... langsung mempengaruhi Erika dia" gumam Putri membuat Maira langsung tertawa dan menggeleng.
"Gak mempan hasutan kamu" sindir Ervan seraya melirik Erika yang hanya tersenyum tipis saja.
"Gak mempan gimana, Erika aja yang udah kemakan rayuan gombal mu. Bener kan Rik?" tanya Nindi pada Erika.
"Iya... manis banget Nin. Tapi sampai sekarang belum juga" jawab Erika.
Membuat mereka kembali tertawa, bahkan Nindi yang tadinya kesal jadi punya kesempatan untuk membalas Ervan.
Ervan langsung tersenyum getir dan mengusap kepalanya.
"Udah deh Rik, cari yang lain aja. Ervan mah dari dulu emang gak bisa di harapkan." sahut Putri pula.
"Enak banget, kalian mengacaukan rencana ku. Malam nanti Rik, rencana mau buat kejutan, kalian gak bisa dibiarkan memang" ungkap Ervan dengan cepat. Wajahnya gantian terlihat kesal membuat Nindi terbahak.
"Waaahhh dia langsung gercep." ledek Nindi
"Emang perlu di ancam dulu ya Van" sahut Maira pula.
"Langsung ketakutan Ervan" ledek Dika pula.
"Iyalah, dia takut nangis lagi ditinggal cewenya nikah" sahut Putri pula.
Erika langsung tertawa lucu mendengar nya, apalagi ketika melihat wajah kesal Ervan.
"Lah emang malam nanti, rencana mau buat kejutan, bahkan kak Luna juga udah tahu." dengus Ervan.
"Kenapa gak bilang aku?" tanya Erika
"Nama nya juga kejutan" jawab Ervan.
"Kalian ini membicarakan apa? Seru sekali seperti nya"
Mereka semua langsung menoleh, dan ternyata dokter Danar yang datang. Membuat mereka langsung menjaga sikap masing masing.
__ADS_1