
Saat ini Maira bersama kedua sahabat nya sudah ada didapur kecil rumah itu. Mereka sedang menyantap makan siang yang dibawa oleh dokter Danar. Cukup banyak dokter Danar membeli lauk matang, mungkin untuk jatah makan malam sekalian, namun kebetulan Putri dan Nindi ada. Jadi mereka menyantap nya bersama sama saat ini.
"Dokter gak makan?" tanya Nindi pada dokter Danar yang baru selesai mencuci tangan nya diwastafel
"Tidak, saya kebetulan sudah makan diluar bersama teman. Kalian makan saja ya" jawab dokter Danar dengan senyum ramahnya seperti biasa
"Wah, gak enak dong kami. Kalau habis gimana?" tanya Nindi yang semakin mengajak dokter Danar berbincang
Dokter Danar tersenyum dan menggeleng
"Enggak apa apa. Bagus kalau habis, gak mubazir. Kalian memang harus banyak makan, supaya fikiran kalian sehat dan gak berkelahi lagi dikampus" sindir dokter Danar.
Maira hampir tersedak makanan nya mendengar itu. Dia langsung memandang dokter Danar dengan kesal
"Itu juga yang terakhir dokter. Besok kan gak lagi" sahut Nindi
"Yakin?" tanya dokter Danar dan Nindi langsung mengangguk
"Iya, apa Maira gak bilang kalau kita pasti bakal dikeluarin dari kampus karena berantem" ungkap Nindi
"Jujur banget sih Put" bisik Putri yang sedari tadi hanya diam
"Siapa yang bilang kalian dikeluarin?" tanya dokter Danar
Maira dan kedua sahabat nya saling berpandangan bingung
"Gak ada yang ngeluarin kalian. Yang terpenting kalian jangan ngulangin kesalahan yang sama lagi" ujar dokter Danar.
"Dokter sok tahu deh" ucap Maira
"Memang saya tahu. Kalau kalian di DO, seharusnya ada suratnya kan. Atau paling enggak, pihak kampus menghubungi wali kalian masing masing. Nah, ada gak yang seperti itu?" tanya dokter Danar
Dan sungguh, Maira bersama kedua sahabat nya saling pandang dan menggeleng pelan. Memang tidak ada pemberitahuan tentang apapun sampai siang ini. Apa itu berarti mereka tidak dikeluarkan? tapi mustahil kan
"Memang gak ada sih pihak kampus nelpon bokap gue dari semalem" gumam Putri
"Iya, gak ada juga yang nelpon mama. Kalau ada, pasti gue udah dimarah habis habisan " sahut Nindi pula
__ADS_1
Dokter Danar tersenyum seraya mengusap tangan nya dengan tisu
"Berarti kalian masih bisa kuliah seperti biasa. Dan ingat, jangan jadi preman lagi kalau tidak tahan sakit" ujar dokter Danar. Dan setelah berkata seperti itu dia langsung pergi meninggalkan ketiga gadis itu.
Maira memandangnya begitu kesal, bahkan ingin sekali dia mencakar wajah tampan itu. Bisa bisanya menyindir dengan begitu jujur seperti itu.
"Kok aneh ya" gumam Putri membuat kekesalan Maira langsung buyar
"Aneh kenapa?" tanya Nindi
"Ya, aneh. Harus nya kan Erika gak akan ngebiarin kita gitu aja. Maira udah buat dia babak belur lo. Buat dia malu juga. Gak mungkin kan papa nya diem aja." ungkap Putri
Nindi langsung mengangguk setuju mendengar itu. Sedangkan Maira masih terdiam dan memikirkan sesuatu
"Iya bener banget. Sepaling enggak, kita pasti dikasih sanksi. Minimal denda atau skorsing. Tapi sampai hari ini sama sekali gak ada" tambah Nindi
"Apa jangan jangan ini ulah Ervan" ucap Maira.
Putri dan Nindi langsung memandang nya dengan lekat
"Ervan?" gumam mereka berdua. Dan Maira langsung mengangguk
Nindi terdiam, namun Putri nampak menggeleng dengan ragu
"Mustahil deh Mai" ucap Putri
Maira dan Nindi kembali memandang Putri. Bahkan kini mereka mengabaikan makanan yang sedang mereka santap.
"Lo pasti tahu gimana nurut nya Ervan sama orang tua nya Erika. Dia gak akan berani ngelawan. Udah pasti papa nya juga bakal ikut campur. Liat aja semalem, dia lebih milih Erika dari pada elo kan" ungkap Putri
Dan tentu saja itu membuat Maira langsung mengangguk dengan lesu. Yah, Ervan lebih memilih Erika dari pada dia, kekasih nya sendiri. Padahal Ervan tahu jika dia seperti ini adalah karena ulah Erika.
"Iya Mai. Bener juga yang dibilang Nindi. Tapi kalau bukan Ervan siapa dong. Gak mungkin kan orang tua Erika diem aja, dan gak ngasih hukuman sama kita" sahut Nindi
Maira menghela nafas sejenak dan langsung menggeleng pelan
"Entah lah. Pusing gue" jawab Maira yang tidak ingin memikirkan itu. Yang dia fikirkan sekarang adalah, jika dia masih bisa kuliah maka setiap hari dia pasti akan makan hati dengan kelakuan Erika . Tapi jika tidak kuliah, dirumah saja dia juga pasti akan bosan.
__ADS_1
"Yasudah lah. Besok kita juga bakalan tahu kok. Mudah mudahan aja otak papa nya Erika lagi bener. Jadi dia memang maklumi. Anaknya juga salah kok, dia yang mulai duluan" ujar Putri
"Iya, yaudah lah. Dunia memang udah berputar dan bikin pusing terus. Mending makan, sayang banget dianggurin. Kasian dokter ganteng udah capek capek beli" jawab Nindi yang kembali menyantap makanan nya
Maira dan Putri langsung memutar bola mata mereka dengan malas
"Lakik orang woi" seru Putri dengan kesal
"Bodo amat. Binik nya aja gak perduli kok" jawab Nindi tanpa rasa bersalah
"Jangan sampai setelah ini Lo Dateng tiap hari kerumah gue ya Nin" tuding Maira
Nindi langsung tertawa dengan mulut penuhnya
"Tahu aja Lo. Tapi tenang. Berhubung dokter ganteng kerja. Jadi gue kemari nya hari Minggu aja. Sekalian liburan, sekalian cuci mata. Hihi" Nindi langsung tertawa cekikikan dengan geli, apalagi melihat wajah kesal Maira
"Gak waras nih anak. Lo kalau gak bisa jaga lakik Lo, bakalan habis sama dia Mai" sahut Putri seraya menunjuk Nindi dengan sendok ditangan nya
"Semua aja Lo embat Nin. Kenapa gak sekalian Ervan" dengus Maira namun Nindi langsung memasang wajah jelek nya
"Ervan ganteng. Tapi gak berwibawa. Gue tuh suka cowo yang punya wibawa, berkharisma, dan yang pasti dewasa dan cool." jawab Nindi dengan yakin
"Tinggi banget khayalan Lo. Ngaca Sono" Putri terlihat benar benar kesal sekarang. Namun Nindi malah tertawa melihat wajah kesal kedua sahabatnya
"Sewot aja sih Put. Untuk pasangan seumur hidup kan memang harus perfect. Gak boleh salah milih. Apalagi kayak dokter ganteng. Beh, udah sempurna banget. Ganteng, berwibawa, dewasa, murah senyum, taat beragama lagi. Apa coba kurang nya. Ah fiks, mulai malam ini gue bakalan berdoa terus supaya bisa dapetin dokter ganteng" ucap Nindi dengan yakin
Maira langsung melebarkan matanya mendengar itu seraya menampar lengan Nindi dengan gemas
"Masih jadi lakik gue hantu. Kalau pun gak jadi lakik gue lagi, gue gak rela kalau dia sama Lo" sahut Maira nampak kesal. Dan kali ini Putri yang tertawa
"Lah kenapa, sirik aja lu. Lo bilang gak cinta, ya gak boleh marah" jawab Nindi seraya menjulurkan lidah nya
"Enggak, dia terlalu sempurna buat cewe modelan kayak elo. Kasihan gue, dia harus bisa dapetin cewe yang lebih baik dari gue, bukan nya lebih parah" kata Maira dengan begitu serius
Putri kembali terbahak mendengar itu, ditambah dengan wajah kesal Nindi membuatnya semakin tertawa lucu.
"Jahat banget Lo. Lo kira gue cewe apaan, padahal kita sebelas dua belas" gerutu Nindi
__ADS_1
"Ya maka dari itu, dia harus dapet yang lebih baik." sahut Maira
"Ehem mulai perhatian" goda Putri membuat Maira langsung mendengus dan memalingkan wajahnya. Bukan perhatian,.hanya saja memang seperti itu kenyataan nya. Dokter Danar terlalu baik untuk gadis nakal seperti mereka.