Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Maira Pingsan


__ADS_3

Malam itu adalah malam yang paling membuat Maira tertekan. Pasalnya karena kedatangan ibu mertuanya, membuat Maira tidak bisa tidur dengan nyaman.


Rumah yang kecil dan hanya memiliki satu kamar tidur membuat Maira harus rela berbagi tempat tidur dengan ibu mertua nya.


Sedangkan dokter Danar tidur disofa luar. Tidak mungkin kan jika mereka membiarkan ibu tidur diluar. Sangat tidak sopan.


Malam yang panjang dan terasa sangat lama. Bahkan satu malaman itu Maira harus merelakan telinga nya mendengarkan petuah dan omongan omongan pedas dari ibu dokter Danar. Mau marah, tapi tidak mungkin. Dan akhirnya Maira hanya bisa pasrah.


Bahkan Maira bisa tertidur ketika hari sudah hampir subuh, dan disubuh hari mereka sudah harus bangun lagi untuk shalat. Kepala Maira yang memang sudah pusing sejak semalam semakin bertambah pusing saja.


Saat ini mereka baru saja selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah.


Dokter Danar yang menjadi imam nya.


"Wajah kamu pucat sayang, masih pusing kepala nya?" tanya dokter Danar.


"Sedikit kok mas." jawab Maira seraya memaksakan senyum nya.


"Jangan manja, ayo bantu ibu masak. Jangan tidur lagi. Gak baik" ujar ibu dokter Danar seraya melepas mukenah nya dan memakai kembali kerudung nya.


"Kalau gak enak gak apa apa baring dulu" sahut dokter Danar pula. Dia cukup cemas melihat Maira. Karena sejak semalam, istri kecil nya ini memang sudah terlihat tidak sehat.


Namun Maira dengan cepat menggeleng. Bagaimana mau tidur lagi, jika pandangan mata ibu dokter Danar sudah membuat nyali Maira menciut. Ya ampun, sepertinya untuk beberapa hari ini hidupnya pasti akan sulit.


"Enggak apa apa mas. Selagi ada ibu, Maira bisa belajar masak" jawab Maira seraya melepaskan mukenah nya juga.


Dokter Danar hanya bisa mengangguk pasrah. Tidak bisa membela salah satu dari kedua wanita ini.


Dan akhirnya Maira mengikuti ibu kedapur kecil milik mereka.


Dimana ibu mulai membuat sarapan untuk mereka bertiga.


"Udah berapa lama kalian nikah?" tanya Ibu dokter Danar tiba tiba.


Maira yang sedang ingin merebus air langsung menoleh kearah ibu.


"Tiga bulan lebih Bu" jawab Maira.


"Kamu sudah tahu siapa suami kamu?" tanya ibu seraya mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas.


Maira mengernyit bingung. Kenapa ibu bertanya seperti ini.


"Maksud ibu apa?" tanya Maira dengan bingung.


Ibu tersenyum sinis memandang Maira. Memperhatikan wajah Maira yang memang pucat. Sepertinya menantunya ini memang sedang tidak baik baik saja.


"Tiga bulan lebih kalian menikah, apa kamu sudah bisa menerima dia dengan baik?" tanya Ibu lagi.


Maira tertunduk dan menghidupkan kompor gas nya.

__ADS_1


"Maira sudah menerima mas Danar jadi suami Maira. Bahkan rasanya Maira sudah memberikan hati dan harta Maira untuk mas Danar." jawab Maira


"Apa kamu sudah bisa jadi istri yang baik untuk dia?" tanya ibu lagi.


Maira terdiam, dia menggeleng pelan.


"Maira masih belajar jadi istri yang baik Bu" jawab Maira dengan pelan.


Dokter Danar masih dikamar, suara dia mengaji masih terdengar.


Ibu menghela nafasnya dengan pelan seraya mencuci sayuran yang dia ambil.


"Kamu tahu kan, Danar itu anak lelaki ibu satu satu nya. Sebagai orang tua, ibu pengen Danar punya istri yang sayang sama dia. Gak perlu sempurna, hanya istri yang bisa sayang lahir batin dan bisa menjadi penenang hati dan fikiran nya. Ibu udah bahagia." ungkap Ibu.


Maira tertegun mendengar itu. Apa ibu dokter Danar masih tidak rela jika Maira yang menjadi istrinya? Tapi kan Maira sudah sayang sekali dengan suami nya itu. Bahkan cinta.


"Apa kamu bisa menjadi istri yang seperti itu?" tanya ibu. Kini dia memandang Maira dengan lekat.


Maira membalas pandangan ibu, namun hanya sebentar, karena setelah itu dia langsung mengangguk pelan.


"Maira memang banyak kurang nya Bu. Bahkan belum bisa jadi istri yang baik. Tapi semakin lama hidup sama mas Danar, Maira semakin sayang sama dia. Maira masih selalu belajar jadi istri yang baik Bu" ucap Maira


"Kamu yakin" tanya ibu, masih memandang Maira dengan lekat.


"Insha Allah Bu.. Maafin Maira, karena diawal pertemuan, sikap Maira gak baik sama ibu dan mas Danar. Tapi tolong kasih Maira kesempatan untuk bisa buktiin ke ibu, kalau Maira memang sayang sama mas Danar, dan pengen jadi istri yang baik untuk dia" pinta Maira, bahkan dia berkata seperti itu dengan mata yang mulai berair.


Ibu langsung memalingkan wajah nya dan kembali mencuci sayuran nya.


"Iya Bu, Maira selalu usaha untuk jadi istri yang baik untuk mas Danar, dan... anak yang baik untuk ibu" Jawab Maira.


Ibu tertegun mendengar pernyataan terakhir Maira.


"Mau jadi anak yang baik tapi kalian gak pernah pulang kerumah ibu" gerutu Ibu.


Maira tersenyum seraya dengan cepat menghapus air matanya yang tiba tiba meleleh. Kenapa dia cengeng sekali.


"Belum sempat Bu, Maira masih sibuk ujian, mas Danar juga masih ada pasien kritis dirumah sakit. Sebenarnya udah ada niat pulang dua Minggu lagi" jawab Maira.


Ibu hanya diam dan membawa sayuran nya kemeja. Sedangkan Maira mulai membuat teh hijau nya.


"Udah pernah masak kamu?" tanya ibu


Maira tersenyum getir dan mengangguk.


"Udah, tapi mas Danar gak bolehin lagi Maira masak" jawab Maira.


"Kenapa?" tanya Ibu seraya memotong sayuran nya.


"Maira hampir buat dapur meledak Bu" jawab Maira.

__ADS_1


Ibu langsung mendengus mendengar itu.


Entah malang atau ini ujian untuk putra kebanggaan nya. Mendapatkan Maira yang tidak bisa apa apa. Ibu benar benar tidak habis fikir. Mau marah, tapi tidak bisa. Maira adalah pilihan anak nya sejak dulu.


Bahkan sekarang, dia bisa melihat jika sudah ada cinta dan kehangatan dikehidupan rumah tangga anak nya..


Ya, dokter Danar bisa membuat Maira luluh dalam waktu tiga bulan. Dan tidak ada alasan ibu untuk meminta mereka berpisah.


Jadi akhirnya, pagi itu Maira membantu ibu memasak didapur. Hanya membuat nasi goreng dan telur dadar saja. Dan itupun ibu yang membuat, Maira hanya melihat dan memperhatikan saja, seraya mendengarkan apa apa saja yang diberi tahu oleh ibu tentang bahan bahan nasi goreng buatan nya.


Maira langsung terduduk dikursi makan dengan wajah yang semakin pucat dan keringat yang mulai merembes.


"Kenapa? pusing?" tanya Ibu seraya meletakkan nasi goreng nya keatas meja.


Maira mengangguk seraya memijit dahi nya yang berdenyut.


Rasanya benar benar tidak enak. Kepala nya begitu berat. Sejak tadi dia sudah menahan nya, apalagi bau masakan ini yang entah kenapa membuat kepalanya semakin berdenyut dan perutnya yang benar benar mual. Tapi Maira tidak berani untuk bilang apa apa pada ibu.


"Minum teh hangat nya dulu, habis itu minta periksa Danar" ujar ibu.


Maira masih diam seraya meraba perut nya yang semakin mual saat nasi goreng itu berada tepat dihadapan nya.


"Kenapa Bu?" tanya dokter Danar yang baru muncul kedapur.


"Istri kamu pusing" jawab ibu


Dokter Danar langsung memandang Maira yang terduduk lemas.


Namun tiba tiba mereka terkesiap saat Maira beranjak dengan cepat dari kursi nya seraya membekap mulut nya sendiri.


Maira berlari kearah westafel dan langsung memuntahkan isi perutnya disana.


huek huek


Rasanya benar benar mual, hingga suara kesakitan Maira membuat dokter Danar panik dan cemas.


Dia langsung memijat tengkuk Maira dan mengusap bahu Maira. Membiarkan Maira memuntahkan semua isi perutnya.


Keringat dingin semakin membasahi tubuh Maira. Bahkan wajahnya semakin pucat dan dingin.


"Sudah?" tanya dokter Danar seraya membantu Maira mencuci mulutnya.


Maira hanya mengangguk dan meringis menahan sakit dan sesak diperutnya. Rasanya benar benar tidak enak, bahkan sampai tidak ada lagi yang dia keluarkan.


Kepala Maira semakin berdenyut sakit. Dia sudah sangat lemas sekarang.


"Kita kekamar ya" ajak dokter Danar.


Maira hanya diam dan mengikuti langkah dokter Danar yang mulai membawa nya menuju kamar. Namun baru dua langkah berjalan, Maira langsung terkulai lemah dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Astaghfirullah.... Maira"


__ADS_2