
Maira mematung memandangi seorang wanita paruh baya yang sudah sangat lama sekali tidak dia temui. Wanita yang dulu dia panggil dengan sebutan mama. Wanita yang sudah melahirkan nya kedunia ini.Dan wanita yang sudah pergi dari kehidupan nya sejak lama.
Kenapa sekarang bisa ada disini?
Kenapa sekarang bisa ada di depan mata Maira.
Antara rindu dan kecewa. Semua bersatu didalam hati Maira saat melihat nya.
Kaki Maira semakin mematung saat wanita itu beranjak dari atas sofa dan berjalan mendekat ke arah nya.
"Maira.." suara nya terdengar begitu lirih. Air mata sudah membanjiri wajahnya yang terlihat pucat dan lelah. Namun dia masih saja terlihat cantik seperti beberapa tahun yang lalu. Tahun dimana dia pergi meninggalkan Maira dan adik nya.
"Mama rindu nak" ucap nya.
Maira tercekat, mematung dan tidak tahu harus berbuat apa. Apa lagi ketika wanita itu mendekatinya dan langsung memeluk tubuhnya dengan begitu erat. Hingga rasa hangat yang sudah sejak dulu Maira rindukan kini dia rasakan lagi.
"Maafin mama Maira. Maafin mama" ungkap nya dengan Isak tangis yang begitu lirih.
Maira masih terdiam, hanya air mata yang menetes diwajah sendu nya.
Dia ingin marah, tapi dia juga rindu.
Dia ingin pergi, tapi pelukan ini membuatnya tidak berdaya.
Dokter Danar cukup terkejut ketika mendengar sebutan kata mama dari wanita ini. Dan itu berarti wanita ini adalah mertuanya, ibu Maira?
Maira sama sekali tidak bergerak, bahkan dia hanya diam mematung tanpa membalas pelukan ibu nya.
Cukup lama ibu Maira memeluk nya, namun sama sekali Maira tidak membalas pelukan itu.
Hingga ketika menyadari sikap dingin Maira, ibunya melepaskan pelukan nya dan memandang Maira dengan pandangan yang begitu sendu dan penuh kerinduan.
"Maira..." Panggil ibunya. Namun ketika tangan nya terangkat dan ingin mengusap wajahnya, Maira langsung mundur kebelakang, membuat tangan wanita itu menggantung dengan air mata yang semakin banyak.
"Kenapa baru datang sekarang?" Tanya Maira. Nadanya terdengar begitu getir namun memendam kekecewaan yang begitu mendalam.
Dokter Danar menghela nafasnya mendengar itu. Dia tahu Maira masih menyimpan kekecewaan yang begitu mendalam pada ibunya.
"Maira... Mama rindu nak" ucap wanita itu lagi. Namun Maira langsung menggeleng pelan.
"Kenapa baru sekarang mama datang dan mengatakan itu. Kemana mana disaat kami merindukan mama. Kemana?" Tanya Maira dengan nada yang sedikit tinggi.
"Maira .." tegur dokter Danar.
Maira terisak, dan langsung berlari menuju kamar nya dilantai atas. Meninggalkan ibu dan suaminya begitu saja.
"Maira" lirih ibu Maira dengan begitu sedih.
Dokter Danar kembali menghela nafasnya dan tersenyum tipis. Dia memandang ibu Maira yang nampak menangis dan penuh dengan penyesalan.
"Ibu, perkenalkan, saya Danar. Suami Maira" ucap dokter Danar.
Pandangan yang sejak tadi memandang kearah dalam kini menoleh kearah dokter Danar.
"Danar" gumam nya
Dokter Danar mengangguk dan tersenyum seraya meraih tangan ibu Maira dan menyalaminya.
"Kita duduk dulu Bu" ajak dokter Danar.
Ibu Maira mengangguk pelan dan langsung duduk disofa bersama dokter Danar.
Dokter Danar membiarkan Maira sendiri terlebih dahulu, mungkin dia masih menangis sekarang.
"Maafkan ibu yang baru datang sekarang. Ibu ... Ibu sudah lama mencari Maira. Sejak mendengar kabar kematian ayahnya, ibu sudah mencari Maira dan Rio, tapi sama sekali ibu tidak tahu mereka dimana" ungkap ibu Maira begitu lirih. Isak tangisnya masih terdengar begitu sedih.
__ADS_1
"Sehari sebelum ayah meninggal, saya sudah menikahi Maira. Dan saat pernikahan kami menginjak dua Minggu, saya membawa Maira ke Jakarta. Rio sudah masuk pesantren Bu." Ungkap dokter Danar pula.
Ibu Maira mengangguk seraya mengusap air matanya.
"Ibu tahu, ibu juga sudah bertemu dengan orang tua kamu. Dan dari mereka juga ibu tahu alamat kalian disini" jawab ibu Maira.
Dokter Danar langsung tersenyum mendengar itu.
"Iya Bu. Maafkan atas sikap Maira barusan ya. Saya yang salah, saya belum bisa mendidik dia dengan baik. Saya harap ibu memaklumi nya, nanti saya akan mencoba membujuk nya lagi" ucap dokter Danar.
Ibu Maira menggeleng pelan.
"Tidak nak, kamu sudah jadi suami yang baik. Ibu senang Maira mendapatkan jodoh seperti kamu. Ibu tahu dia seperti apa. Dia pasti kecewa pada ibu karena sudah meninggalkan nya dan Rio dulu" jawab ibu Maira.
"Jika begitu, ibu tunggu sebentar disini ya. Saya akan menyusul Maira terlebih dulu. Jika ibu lelah, ibu bisa istirahat dikamar. Nanti bu Ijah akan menemani ibu" ucap dokter Danar.
"Terimakasih nak. Kamu sangat baik pada ibu" balas ibu Maira. Dia kembali menunduk lirih. Namun dokter menggeleng dan tersenyum tipis.
"Ibu juga ibu saya. Jangan berbicara seperti itu. Saya pamit keatas sebentar Bu" pamit dokter Danar.
Ibu Maira hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Membiarkan dokter Danar pergi menyusul Maira.
..
Sedangkan di dalam kamar. Maira masih menangis terisak diatas tempat tidur. Tangisan nya benar benar terdengar pilu dan sedih.
Tidak tahu apa yang dia tangiskan. Rindukah? Atau kecewa.
Semua bercampur menjadi satu didalam hatinya. Dan itu membuat Maira ingin menangis dengan puas.
Sudah bertahun tahun mereka tidak bertemu. Sudah bertahun tahun Maira dan Rio hidup tanpa ibu. Mereka dibesarkan oleh ayahnya, dididik ayah nya seorang diri.
Rasa kecewa itu benar benar masih sangat besar. Maira bahkan ingat jelas ketika mereka menangis dan meminta ibunya untuk jangan pergi, namun tanpa berbalik, ibu nya pergi begitu saja tanpa kembali lagi.
Dan sekarang...
Maira tidak tahu perasaan apa yang harus dia ungkapkan.
Dia rindu, dia bahagia. Tapi rasa kecewa nya juga benar benar dalam pada ibunya.
Dia iri melihat Putri dan Nindi yang bisa selalu merasakan kasih sayang ibunya.
Maira menginginkan itu, apalagi ditengah kehamilan nya yang sekarang. Tapi kenapa ketika melihat wajah ibunya, rasa kecewa itu sangat besar.
Kenapa??
Maira semakin menangis dan menenggelamkan wajahnya di balik lengan yang dia tumpukan pada kedua lututnya.
Menangis dengan begitu terisak dan pilu. Bahkan dia tidak menyadari jika dokter Danar telah masuk kedalam kamar.
Usapan lembut dibahu nya membuat Maira dan mendongak, memandang wajah teduh dokter Danar.
Dokter Danar tersenyum dan langsung menarik Maira kedalam pelukan nya. Memeluknya dengan hangat dan mengusap pundak Maira dengan lembut.
"Kenapa menangis. Mama sudah datang, kamu bilang kamu rindu" ucap dokter Danar.
Maira semakin menangis dalam pelukan dokter Danar.
"Maira kecewa mas...huu" jawab Maira dengan Isak tangis yang semakin menjadi.
Dokter Danar membiarkan Maira menangis terlebih dahulu. Sepertinya istri kecil nya ini memang belum bisa menerima takdir yang sudah terjadi.
"Sayang" panggil dokter Danar saat Maira sudah mulai tenang. Dia menangkup wajah Maira dan mengusap air mata di wajah itu dengan lembut.
"Tidak baik seperti itu. Bagaimana pun dia, dia tetap ibu kamu. Kamu bilang jika kamu rindu dan ingin bertemu. Kenapa sekarang ketika mama sudah datang kamu malah seperti ini" tanya dokter Danar dengan lembut.
__ADS_1
Namun Maira nampak kesal mendengar itu. Dia memandang dokter Danar dengan lekat.
"Mas gak tahu apa yang Maira rasain. Maira memang rindu, tapi ketika melihat wajahnya lagi, rasa kecewa Maira kembali lagi." Ucap Maira.
"Sayang, tidak baik menyimpan rasa kecewa itu lama lama. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya kan. Mama juga sudah mencari kamu sejak ayah meninggal " ungkap dokter Danar
Maira terisak dan menggeleng pelan.
"Kenapa tidak mencari sejak dulu saat kami masih butuh dia" sahut Maira.
"Sayang, jangan seperti itu. Mama dan ayah sudah memutuskan untuk berpisah. Dan tentunya salah satu diantara mereka memang harus ada yang pergi. Itu pasti keputusan yang cukup berat waktu itu" ungkap dokter Danar seraya mengusap wajah Maira kembali.
"Dia tidak tahu bagaimana susahnya kami hidup tanpa ibu. Dia tidak tahu, dia malah memilih hidup dengan keluarga barunya" sahut Maira begitu penuh perasaan.
Sejak hamil, Maira cukup sensitif. Dan sekarang, ditambah masalah seperti ini. Membuat hatinya menjadi tidak terkendali.
"Sayang... Tidak baik seperti itu. Kita tidak tahu bagaimana beratnya dia harus berpisah dengan kalian. Jangan seperti itu ya" ujar dokter Danar.
Maira memandang dokter Danar dengan kesal.
"Mas memang tidak mengerti. Mas hidup penuh kasih sayang sejak kecil. Mas tidak tahu kan bagaimana sedihnya Maira melihat Rio yang masih kecil tumbuh tanpa ibu. Melihat ayah yang bekerja dan juga harus mengurus kami. Mas gak tahu itu" seru Maira .
Bahkan dia langsung turun dan melompat kebawah, membuat dokter Danar terkesiap dan langsung menyusul Maira seraya meraih tangan Maira dengan cepat.
"Sayang, hei... Mau kemana" tanya dokter Danar.
"Lepas.. Maira mau tidur sendiri." Jawab Maira masih dengan tangisan nya.
"Jangan marah, mas minta maaf ya." Ucap dokter Danar begitu lembut. Dia ingin menarik Maira kedalam pelukan nya, namun Maira menolak.
"Lepas. Mas cuma bisa ngomong tanpa tahu perasaan yang Mai rasain. Huuuuu" ungkap Maira.
"Iya mas salah, maaf" kata dokter Danar lagi.
"Maira rindu, tapi Maira juga kecewa" ungkap Maira yang langsung lunglai dalam pelukan dokter Danar
Dokter Danar terdiam dengan helaan nafas yang cukup panjang. Membiarkan Maira menangis dan terisak kembali.
"Sudah jangan menangis lagi" pinta dokter Danar seraya mengecup kepala Maira.
Namun tiba tiba, dia terkesiap saat Maira menunduk dan mengeluh sakit.
"Uughhgg"
"Sayang kenapa?" Tanya dokter Danar. Dia berubah panik ketika Maira menunduk dan memegangi perutnya.
"Sakit mas" ucap Maira dengan Isak tangis yang masih terdengar.
Bahkan dia langsung jatuh terduduk diatas lantai dengan dokter Danar yang masih merangkul tubuhnya.
"Perutnya sakit?" Tanya dokter Danar.
Maira meringis kuat dan mengangguk pelan. Bahkan tangan nya masih meremas baju yang dia pakai.
Rasanya sakit dan kram. Tidak bisa dibawa tegak
"Kita keatas ya" ajak dokter Danar.
Maira hanya diam dan masih menahan sakit, wajahnya langsung memucat. Dan bahkan saat dokter Danar mengangkat tubuhnya, Maira langsung terkulai dan tidak lagi sadarkan diri.
Dokter Danar merebahkan Maira ditempat tidur dengan hati hati. Melepaskan hijab yang dikenakan Maira dengan lembut.
"Sayang" panggil dokter Danar.
Namun Maira tidak lagi menyahut.
__ADS_1
"Maira" panggil dokter Danar lagi. Namun tetap saja, Maira sudah pingsan karena lelah dan rasa kram diperut nya.
Dan itu, tentu membuat dokter Danar panik dan cemas kembali.