Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Berdamai


__ADS_3

Ervan duduk dihadapan dokter Danar yang sedang memeriksa hasil lab Erika. Sudah beberapa hari berlalu dan sampai saat ini mereka belum juga menemukan pendonor ginjal untuk Erika. Ditambah dengan keadaan Erika yang semakin hari semakin lemah. Meski cuci darah sudah rutin mereka lakukan.


Hal ini cukup membuat Ervan khawatir. Dia benar benar tidak tenang. Entah kenapa, tapi dia begitu berharap Erika jika bisa sembuh dan pulih kembali.


"Bagaimana dokter?" tanya Ervan.


"Cukup sulit Van. Ginjal nya sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Erika harus segera mendapatkan pendonor" ucap dokter Danar.


"Pendonor ginjal itu besok baru akan kemari. Dan sudah jelas masih banyak prosedur yang harus dijalani untuk memastikan cocok atau tidaknya. Apa Erika masih bisa bertahan?" tanya Ervan.


"Insha Allah... semoga Allah mempermudah jalan kita" jawab dokter Danar.


Ervan mengangguk dan menghela nafasnya dengan berat.


"Saya sempat berfikir kemarin, kenapa kita tidak memakai ginjal tuan Jonas saja untuk Erika. Bukankah itu yang paling cocok" ucap Ervan. Namun dokter Danar tersenyum tipis dan menggeleng pelan.


"Ginjal tuan Jonas juga sudah rusak, maka dari itu dulu ketika putri sulung nya gagal ginjal dia tidak bisa mendonorkan ginjalnya. Hingga akhirnya, Erika lah yang harus mengorbankan satu ginjal untuk kakak nya" ungkap dokter Danar.


Ervan langsung tertegun mendengar itu. Kenapa tega sekali?


Dan sekarang, Erika malah menanggung akibat dari pengorbanan nya itu. Pengorbanan yang tidak mereka lihat.


"Jadi ginjal Erika tinggal satu karena dia yang mendonorkan untuk kakak nya?" tanya Ervan lagi


Dokter Danar mengangguk pelan.


"Tapi bahkan sampai saat ini kakak nya sama sekali tidak ada melihat Erika" gerutu Ervan.


"Kita tidak tahu apa kesibukan nya disana Van. Lagipula ini masih suasana berduka, dan pasti pelayat juga masih banyak yang datang. Dia sendirian, sudah pasti dia belum sempat untuk menjenguk Erika" ungkap dokter Danar.


Dan lagi lagi Ervan hanya bisa menghela nafas pelan. Fikiran nya buruk saja saat ini. Apalagi dia yang sudah cemas akan keadaan Erika.


"Kenapa kamu tidak kuliah hari ini?" tanya dokter Danar seraya membereskan meja nya.


"Tidak ada kelas dokter. Lagi pula sudah tidak terlalu padat lagi jadwal dikampus. Hanya mengisi absen saja" jawab Ervan.


"Tugas mu di perusahaan juga jangan diabaikan. Bisa bisa tuan Wira tidak merestui hubungan mu lagi dengan Erika" ucap dokter Danar. Namun terdengar seperti sindiran untuk Ervan.


Ervan langsung mendengus dan beranjak dari kursi nya.


"Dokter menyindir saya ya" sahut Ervan.


Dokter Danar terkekeh kecil dan menggeleng pelan.


"Tidak, saya hanya berkata yang sebenarnya " jawab dokter Danar


Namun Ervan nampak mencebikkan bibirnya sekilas.


"Saya kan hanya berteman dengan Erika, bukan menjalin hubungan. Sudah lah, saya pamit dulu mau melihat Erika. Siang nanti baru ke perusahaan " pamit Ervan.


"Iya" jawab dokter Danar memandang lucu pada Ervan. Mantan rival cinta nya.


...


Sementara di ruangan tempat Erika berada. Gadis itu masih tersandar di tempat tidur dengan bibir yang terus bergumam gumam kecil dengan tangan yang memainkan biji biji tasbih nya. Tasbih yang diberi oleh Ervan beberapa waktu lalu.


Rasanya benar benar bosan berada ditempat tidur satu harian. Meski dia masih bisa berjalan, namun tetap saja, Ervan dan juga dokter Danar tidak memperbolehkan nya untuk kemana mana.


Saat ini Erika sedang sendirian, Nindi belum datang, mungkin dia sedang kuliah. Maira juga hari ini tidak datang, karena dia sedang tidak enak badan katanya.


Semalam Akbar dan Ayu mengunjunginya, kedua adik adik nya itu selalu bersedih saat melihat Erika seperti ini. Mereka ingin menemani Erika, tapi Erika melarang nya. Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak anak.


Ceklek


Pintu yang terbuka membuat Erika langsung menoleh. Dan dia tertegun, saat ternyata kakaknya lah yang datang.


"Kakak" gumam Erika.


Luna...


Dia memandang Erika dengan pandangan datar. Namun tidak lagi seperti kemarin. Wajah Luna nampak pucat, matanya juga kelihatan bengkak. Mungkin dia masih terus bersedih dengan kepergian orang tua mereka. Apalagi Luna yang memang paling dekat dengan orang tua mereka. Sudah jelas dia yang paling kehilangan.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Luna. Dia hanya berdiri disamping ranjang Erika.


"Seperti yang kakak lihat" jawab Erika, begitu singkat. Karena dia tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu tentang keadaan mu selama ini?" tanya Luna lagi.


"Apa jika aku beritahu kalian akan perduli?" tanya Erika. Matanya berkaca kaca, namun dia sama sekali tidak ingin memandang kearah Luna.


"Kamu begini karena aku. Dan apa sekarang kamu ingin ginjal mu kembali?" tanya Luna lagi.


Erika langsung memandang Luna dengan pandangan tidak percaya. Dan bisa dia lihat jika mata Luna berkaca kaca.


"Kenapa berkata seperti itu? Apa yang sudah menjadi milik kakak, tidak mungkin aku ambil lagi. Sejak dulu bukan kah seperti itu" ucap Erika. Dia mulai meneteskan air matanya kembali. Sedangkan Luna juga langsung memalingkan wajahnya karena dia pun sudah ingin menangis sekarang.


"Sejak dulu ... aku selalu membenci mu Erika" ucap Luna. Membuat Erika langsung tertunduk dan menahan sesak dihatinya.


"Aku masih ingat, disaat itu, disaat ulang tahun ku yang ke enam. Papa pulang dengan membawa anak kecil dalam gendongan nya. Bayi cantik yang ku fikir adalah anak teman papa. Tapi ternyata, bayi itu adalah anak papa dari selingkuhan nya" ungkap Luna, dengan menahan Isak tangis nya.


"Malam itu untuk yang pertama kali, aku melihat papa dan mama bertengkar hebat. Bahkan hampir berpisah. Tapi karena aku, mama mengalah. Mama menerima mu untuk tinggal dirumah kami" ungkap Luna lagi.


Air mata semakin deras membanjiri wajah Erika.


"Bertahun tahun Erika. Mama memendam luka yang tidak pernah bisa diobati. Dia ingin marah, tapi dia tidak tega untuk membuang mu dari rumah. Hingga akhirnya, dia bisa menerima mu seperti anak nya sendiri." ucap Luna. Kini dia memandang Erika yang sudah menangis diatas ranjang nya.


"Merawat mu hingga besar, meski terkadang perlakuan nya selalu tidak adil. Tapi untuk ukuran seorang ibu tiri yang sudah tersakiti, aku rasa mama sudah cukup berbesar hati. Bahkan dia tidak memperbolehkan aku untuk mengungkapkan kenyataan ini padamu. Dia meminta ku untuk tutup mulut, agar kamu tidak bertanya siapa ibu kandung mu yang hanya akan membuat luka yang dirasakan mama kembali terbuka"


Luna mengusap air mata diwajahnya. Meski air mata itu tidak berhenti mengalir.


"Apa setelah kamu mengetahui semua ini kamu masih membenci mama karena mengusir mu dari rumah?" tanya Luna.


Erika langsung menggeleng pelan.


"Jika kamu ingin marah, seharusnya kamu marah pada papa. Karena ini semua adalah ulah nya" ucap Luna.


"Aku berbicara seperti ini karena aku tidak ingin kamu membenci mama Erika. Meski mama kejam, tapi dia tetap menjalankan peran nya sebagai ibu untuk mu" ucap Luna. Dan kali ini nada suaranya terdengar begitu lirih.


"Kakak... aku tidak pernah membenci mama. Meski kenyataan ini menyakitkan, tapi yang aku tahu orang tua ku adalah mama" ucap Erika dengan segenap perasaannya.


"Aku tidak mungkin membenci mama" lirih Erika dengan tangan yang memegang dadanya. Dia menangis perih mendengar ungkapan Luna. Jika ternyata dia hanyalah anak dari selingkuhan ayahnya. Dengan beruntung masih mau dirawat oleh wanita yang telah disakiti hatinya.


"Apa kamu juga membenciku?" tanya Luna lagi. Dan kali ini Erika langsung menoleh kearah nya. Dia menggeleng pelan dengan air mata yang semakin deras.


"Bagaimana mungkin aku bisa membenci kakak. Sejak dulu, hanya kakak yang aku punya kan" ucap Erika.


Mereka langsung menangis bersama disana. Meski pernah membenci, tapi Luna sadar, jika tidak selama nya hidup dengan kebencian akan baik baik saja. Dan kenyataan nya sekarang, adik yang dia bencilah yang tersisa sebagai keluarga nya.


"Maafkan aku Erika. Maafkan aku" ucap Luna dengan Isak tangis nya.


"Enggak, kakak gak salah. Aku yang salah karena udah menghancurkan kebahagiaan kalian" jawab Erika.


Luna menggeleng dengan cepat. Dia memeluk Erika begitu erat, dan begitu juga sebaliknya dengan Erika.


"Enggak. Aku tahu ini bukan salah kamu. Ini salah papa karena udah berani selingkuh. Sekarang aku cuma punya kamu. Kita saudara se ayah. Kamu harus sembuh ya" pinta Luna akhirnya. Dia menangkup wajah Erika dan mengusap air mata itu dengan lembut.


Tapi tetap saja, perlakuan Luna malah membuat Erika semakin menangis.


Dia mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya didada Luna.


Meski sakit dengan kenyataan ini, tapi Erika bersyukur karena Luna masih mau menerima nya. Hingga kini Erika sudah tidak merasa sendiri lagi.


"Kamu harus sehat. Aku pasti urus semua tentang pengobatan kamu" ucap Luna seraya melepaskan pelukan nya dan kembali mengusap wajah pucat Erika.


"Tapi pasti mahal. Apalagi ginjal itu kak" ucap Erika.


"Berapapun pasti aku bayar Erika. Lagipula harta peninggalan papa cukup banyak untuk kita berdua. Aku hidup karena kamu, dan sekarang aku akan memperjuangkan kehidupan kamu" ucap Luna begitu serius.


Erika langsung tersenyum haru mendengar nya.


"Terimakasih kak. Aku beruntung masih mempunyai kakak dan teman teman yang baik" jawab Erika.


Dan tanpa mereka sadari jika sejak tadi Ervan dan Nindi ternyata mendengar semua percakapan mereka dari sebalik pintu.


Nindi bahkan sampai ikut menangis mendengar jika ternyata Erika bukanlah anak kandung ibunya. Dan cerita Luna semakin membuat hati nya mengiba.


Perjanan hidup yang tidak mudah.


Tok tok tok


Ervan mengetuk pintu kamar yang memang tidak ditutup hingga membuat mereka tahu dan tidak jadi masuk saat melihat kakak Erika yang datang.

__ADS_1


Erika dan Luna langsung menoleh kearah pintu, dan mereka langsung mengusap air mata mereka masing masing.


"Kak Luna akhirnya datang juga" sapa Ervan, tapi terdengar seperti menyindir


Luna tersenyum tipis dan mengangguk pelan.


"Banyak yang harus aku urus Van. Apalagi aku sendirian. Dan aku memang baru sempat kemari karena aku yakin, kamu bisa menjaga Erika dengan baik" jawab Luna.


Ervan tersenyum tipis dan mengangguk.


"Tentu saja. Aku tidak mungkin meninggalkan nya sendiri" jawab Ervan. Membuat Erika langsung memandang nya dengan aneh.


"Aku kemari untuk mengurus masalah pengobatan Erika. Kamu bisa membantuku kan" tanya Luna pada Ervan.


"Ya, semua diurus oleh dokter Danar. Dia juga yang akan menangani Erika bersama rekan nya. Kakak bisa berbicara dengan dia nanti" jawab Ervan.


Luna mengangguk dan kembali memandang Erika.


"Kamu harus sembuh, jangan buat aku semakin menyesal karena tidak bisa menjadi kakak yang baik selama ini" ujar Luna.


Erika mengangguk dan tersenyum tipis.


"Tapi masih ada yang ingin aku tanyakan kak" ucap Erika.


Ervan dan Nindi langsung berjalan kearah sofa dan duduk disana. Mereka membiarkan Erika berbicara dengan kakak nya tanpa ingin ikut campur.


Apalagi ini masalah keluarga Erika.


"Apa? Apa tentang ibu kandung mu?" tanya Luna.


Erika tertegun sesaat dan langsung mengangguk pelan.


Dan bisa Erika lihat jika Luna terlihat menghela nafas nya dengan berat.


"Ibu kandung mu sudah meninggal. Dia meninggal saat melahirkan kamu. Maka dari itu papa membawa kamu kerumah" ungkap Luna.


Erika memandang Luna dengan pandangan sedih nya. Dan sedetik kemudian dia langsung tertunduk dengan helaan nafas yang panjang.


"Jangan bersedih. Sekarang kamu masih punya aku" ucap Luna seraya mengusap lengan Erika dengan lembut.


"Iya kak. Aku tidak sedih karena itu. Hanya saja aku sedih karena belum sempat untuk mengucapkan terimakasih pada mama karena telah menerima ku seperti anak nya sendiri" jawab Erika.


Luna tersenyum dan menggeleng pelan.


"Mama pasti tahu. Kamu doakan dia supaya dipermudah jalan nya" pinta Luna.


"Iya kak" jawab Erika.


"Aku keluar dulu, aku harus menemui dokter Danar. Aku tidak bisa berlama lama disini. Karena sore ini juga pengacara papa datang kerumah untuk membicarakan tentang semua aset peninggalan papa. Termasuk perusahaan " ungkap Luna


"Iya" jawab Erika


Luna mengusap lengan Erika sejenak dan langsung beranjak dari ranjang Erika. Dia menoleh pada Ervan dan Nindi yang masih duduk di sofa dengan ponsel mereka masing masing.


"Ervan... aku titip Erika. Dan kamu, terimakasih sudah mau menemani Erika" ucap Luna pada Ervan dan Nindi.


"Iya kak" jawab mereka bersama sama. Dan setelah itu, Luna langsung keluar dari ruangan itu meninggalkan mereka bertiga disana.


Nindi langsung berjalan mendekat kearah Erika, begitu pula dengan Ervan.


"Selalu ada hikmah disetiap musibah kan" ucap Nindi yang duduk disamping Erika. Sedangkan Ervan duduk dikursi yang ada disana.


"Ya, meski terkadang semua terasa menyakitkan" jawab Erika


Nindi dan Ervan langsung tersenyum mendengar itu.


"Sekarang kamu gak sendiri lagi Erika. Ada kakak kamu yang sudah berlapang hati dan sadar dengan sikap nya selama ini. Kamu harus semangat untuk sembuh" ujar Ervan


"Iya Rik.. Bukan hanya kakak kamu, tapi kita semua. Kita semua berharap kamu bisa sembuh dan segar lagi. Supaya bisa kumpul sama sama" tambah Nindi.


Erika tersenyum dan mengangguk.


"Aku bersyukur punya kalian. Terimakasih banyak. Tanpa kalian, mungkin aku gak akan bisa sekuat ini" ucap Erika.


"Kita teman" jawab Nindi.

__ADS_1


__ADS_2