Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Move On


__ADS_3

Maira berjalan dengan wajah lesu dan mata yang memerah. Hatinya sedih melihat Ervan yang seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka memang tidak bisa bersama. Rasa cinta dihati mereka memang sudah sepantasnya untuk di akhiri.


Mereka tidak berjodoh, sekuat apapun mencoba untuk memperjuangkan, namun jika Allah sudah berkehendak, maka mereka bisa apa.


Apalagi sekarang Maira sudah memiliki dokter Danar. Suami yang memang sudah menjadi pasangan hidupnya. Maira juga sudah memilih dokter Danar dan memberikan hati serta mahkotanya. Oleh karena itu, dia memang sudah harus bisa untuk melupakan Ervan dan cintanya.


"Maira" seruan Nindi membuat Maira terkejut. Dia langsung menoleh kearah Nindi yang baru datang dan langsung merangkul pundak Maira.


"Kenapa, kok sedih begitu. Berantem lagi?" tanya Nindi.


Maira menggeleng


"Jadi kenapa, kayak abis nangis lu" ucap Nindi.


"Gue baru ketemu Ervan" jawab Maira.


"Ervan? terus kenapa, jangan bilang CLBK ya. Cinta lama belum kelar" sahut Nindi


Maira langsung berdecak kesal memandang Nindi.


"Baru juga mulai cinta yang baru. udah CLBK aja. Gak gitu Nin.. ya ampun. Gue cuma sedih ngeliat dia yang kayak gak rela gitu. Apalagi dia kayak kecewa banget sama gue" ungkap Maira.


"Udah lah Mai. Kalian itu memang gak jodoh. Untuk sekarang Ervan mungkin masih ngerasain sakit hati. Tapi kalau dia udah nemuin pengganti Lo, dia juga pasti bisa move on." ucap Nindi


Maira terdiam dan memperhatikan langkah nya dengan sendu.


"Lihat aja Lo sekarang, pasti gak ngerasa kecewa dan sakit hati lagi sama Ervan kan" tanya Nindi


Dan Maira langsung mengangguk.


"Ya, dan itu pasti karena dokter Danar. Dokter Danar bisa buat Lo move on dari Ervan. Dan Ervan juga begitu nanti. Cuma butuh waktu aja Mai" kata Nindi lagi.


Maira terlihat menghela nafas nya dengan berat. Namun dia langsung mengangguk pelan dan tersenyum tipis.


Ya, semua memang hanya tentang waktu. Dan Maira sangat berharap, jika bukan hanya dia yang bahagia dan mendapatkan pasangan yang tepat. Melainkan juga Ervan. Maira ingin mereka sama sama bahagia meski tidak lagi bersama.


"Lo bener Nin. Gue berharap kami bisa sama sama bahagia" ucap Maira.


"Kalian pasti bahagia" sahut Nindi.


Maira tersenyum dan mengangguk. Namun tiba tiba dia seperti baru mengingat sesuatu.


"Oh iya, kemana Putri?" tanya Maira pada Nindi. Tidak biasa nya Nindi datang sendiri.


"Si Putri masih sakit tangan nya, jadi dia belum masuk" jawab Nindi

__ADS_1


"Loh apa parah banget, kata nya udah gak apa apa malam tadi" tanya Maira


"Gak tahu tuh, mama nya bilang masih sakit, payah digerakkan. Tuh anak gak mau diurut. Muka aja judes, tapi gak tahan sakit. Heran gue" gerutu Nindi.


"Gimana kalau siang nanti kita jenguk dia" ujar Maira. Nindi langsung mengangguk setuju.


"Lo jangan lupa izin sama lakik dulu. Nanti marah lagi dokter ganteng gue" ujar Nindi


"Plis deh Nin, jangan buat gue cemburu sama elo" dengus Maira.


Nindi langsung terbahak melihat wajah kesal Maira.


"Hehe becanda kali gue. Lagian salah apa juga. Gue kan udah punya my Brian, jadi gak perlu cemburu sama gue" ucap Nindi seraya memainkan alis nya memandang Maira.


Maira hanya mendengus gerah. Namun tiba tiba dia terkesiap saat Nindi malah berdiri dan memandang dia dengan lekat.


"Apaan?" tanya Maira


Nindi memperhatikan Maira dari ujung rambut hingga ujung kepala. Dan tiba tiba dia tersenyum penuh arti dan menggelengkan kepala nya.


"Lo kayak nya beda deh Mai hari ini" gumam Nindi dengan wajah menggoda nya.


"Beda kenapa?" tanya Maira, seperti nya otak Nindi memang sudah konek. Apa dia terlihat begitu berbeda? atau jalan nya yang aneh?


"Muka Lo lesu tapi berbinar. Padahal lo bilang Lo lagi sedih tadi kan. Tapi yang gue lihat kayak nya Lo lagi bahagia deh" ungkap Nindi.


mmmphh


Mulut Nindi langsung dibungkam Maira dengan cepat, seraya dia yang memandang ke depan kelas yang cukup ramai mahasiswi yang baru datang.


"Mulut Lo bisa diem gak" bisik Maira.


Nindi mengangguk dengan cepat. Dia menghempaskan tangan Maira dengan helaan nafas yang panjang.


Namun sedetik kemudian Nindi langsung terbahak dan menarik Maira untuk masuk kedalam.


"Lo udah buka segel kan. Ngaku Lo sama gue" bisik Nindi seraya duduk didepan Maira.


"Berisik deh Nin, nanti dengar anak anak" geram Maira.


"Gak bakalan denger. Ayo ngaku Lo. Gimana rasa nya Mai, enak gak???" tanya Nindi


Wajah Maira kembali memanas dan merona ketika membayangkan hal itu lagi.


Ya ampun...

__ADS_1


"Hahaha... wajah merah Lo udah membuktikan semua nya" Nindi langsung tertawa terbahak bahak melihat Maira yang melengos malu.


"Ayo dong.. ceritain sama gue. Gimana rasanya. Sakit gak???" bisik Nindi


Maira mencebikkan bibirnya dan memandang teman teman sekelas nya yang nampak acuh saja.


"Kalau sakit gak bakalan ada yang mau ngelakuin itu ogeb" bisik Maira


"Waah berarti enak ya Mai. Aaaahh gue jadi pengen" gumam Nindi dengan wajah menyebalkan nya.


puk


Maira langsung menepuk dahi Nindi dengan kesal. Bisa bisa nya dia membayangkan hal itu.


"Gila Lo, jangan macem macem. Nakal boleh, tapi yang satu itu jangan Sampek dijual" gerutu Maira.


Nindi langsung mendengus dan mengusap dahinya.


"Gue kan gak bilang pengen jual. Gue cuma bilang pengen ngerasain itu Mai. Apalagi kalau bisa nikah sama my Brian. oh my God" gumam Nindi.


Maira menghela nafas nya dengan lelah. Seperti nya dia butuh Putri sekarang.


"Brian gak akan mau sama Lo, kalau modelan lo begini" sahut Maira.


Nindi hanya mendengus saja dan membayangkan apa yang ingin dia bayangkan.


...


Sementara dirumah Putri..


Gadis itu sedang duduk dengan wajah jutek nya seperti biasa. Memandangi seorang lelaki muda yang masih berbicara dengan mama nya.


"Gimana kalau dibawa kerumah sakit aja Tante. Saya gak enak loh kalau Putri belum sembuh sembuh begini" ujar Dika.


Dia datang kerumah Putri pagi ini. Karena tahu jika lengan Putri masih sakit. Dan Dika sungguh merasa bersalah karena kejadian beberapa hari yang lalu.


"Percuma nak, dirumah sakit cuma dikasih obat aja. Putri gak mau. Mau Tante bawa ketukang urut juga dia gak mau. Sakit katanya" jawab mama Putri.


Dika langsung menoleh pada Putri yang nampak memalingkan wajah nya.


"Putri takut sakit?" tanya Dika


"Iya, dia mana tahan sakit" jawab mama Putri


"Mama" Putri nampak kesal mendengar itu.

__ADS_1


"Wah padahal wajah nya jutek begitu, tapi malah gak tahan sakit" ledek Dika.


"Berisik banget" ketus Putri.


__ADS_2