
Ervan berjalan menuju ruangan dimana ayah Erika yang masih dirawat dirumah sakit ini.
Permintaan dokter Danar tadi benar benar membuatnya tidak habis fikir dengan apa yang telah dialami oleh Erika.
Saat ini dia sedang menderita penyakit yang cukup serius. Ginjal nya hanya tinggal satu dan itupun sudah rusak. Erika harus segera mendapatkan pendonor ginjal. Tapi sama sekali dia tidak pernah lagi memeriksakan keadaan nya.
Dan Ervan..
Dia harus mencari tahu tentang ini. Apa orang tua Erika tahu? Dan kenapa Erika bisa keluar dari rumah mewahnya ditengah tengah sakit yang sedang dia derita?
Ah... ini semakin membuat perasaan Ervan tidak menentu. Bukan ingin ikut campur, tapi benar perkataan dokter Danar tadi. Mereka harus membantu Erika. Karena mereka tahu bagaimana Erika sekarang. Meski gadis itu sudah pernah berbuat jahat dan merugikan mereka, tapi tetap saja, sebagai manusia memang harus saling tolong menolong kan.
Apalagi Ervan yang paling tahu sekarang bagaimana keadaan Erika yang sesungguhnya. Sangat menyedihkan, tinggal dirumah petak kecil tanpa apapun. Bahkan untuk makan saja dia harus berhemat.
Ya Allah...
Ervan benar benar tidak habis fikir.
Ervan menarik nafasnya dalam dalam, ditangan nya dia membawa separsel buah buahan segar. Dia sudah berada didepan ruangan ayah Erika.
Dan langsung saja dia mengetuk pintu itu beberapa kali.
ceklek
Ervan tersenyum tipis dan sedikit membungkukkan tubuhnya dihadapan mama Erika.
"Ervan" gumam mama Erika. Dia terlihat terkejut saat melihat kedatangan Ervan.
"Kamu kemari Van?" tanya nya begitu takjub.
Ervan mengangguk pelan seraya melirik kearah tuan Jonas yang masih nampak berbaring lemas diranjang nya.
"Saya mau menjenguk om Jonas Tante." jawab Ervan.
Mama Erika tersenyum tipis dan mengangguk pelan seraya dia yang membukakan pintu itu sedikit lebar. Membuat Ervan langsung masuk kedalam dan mendekati tuan Jonas.
"Apa kabar om, maaf saya baru datang" ucap Ervan seraya meletakkan parsel buahnya diatas meja nakas.
"Om kira kamu sudah tidak mau lagi menjenguk Van" jawab tuan Jonas.
Ervan tersenyum tipis dan menggeleng.
"Maaf, saya cukup sibuk akhir akhir ini. Jadi baru bisa menyempatkan diri kemari. Saya juga baru tahu jika om dirawat disini" jawab Ervan.
"Kamu pasti tidak ingin bertemu Erika ya?" tanya mama Erika.
Ervan terdiam sejenak dan menggeleng.
"Tidak juga Tante. Saya memang baru tahu jika om dirawat disini. Memang nya Erika kemana?" tanya Ervan berpura pura .
__ADS_1
"Entah lah, Tante juga tidak tahu. Sudah sangat lama dia tidak dirumah" jawab mama Erika terdengar begitu acuh. Dan itu membuat Ervan semakin heran. Apa mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi pada anak mereka??
"Om sakit apa om?" kini Ervan beralih pada tuan Jonas.
"Jantung nya lemah, akibat perbuatan Erika yang melakukan perbuatan memalukan itu membuat beberapa masalah terjadi diperusahaan. Kamu tahu lah bagaimana kan. Tante benar benar stress sekarang. " ungkap mama Erika.
Ervan langsung tersenyum getir mendengar itu.
"Kamu tidak pernah lagi bertemu Erika Van?" tanya tuan Jonas.
Ervan terdiam. Jika dia berkata yang sesungguhnya apa mereka percaya? Karena jika melihat keadaan dan raut wajah mereka sekarang, Ervan merasa jika mereka memang terlihat tidak perduli pada Erika.
"Mana mungkin Ervan bertemu dengan anak itu pa. Entah dimana dia sekarang. Sudahlah, papa jangan memikirkan apapun tentang dia. Dia sudah enak bertunangan dengan Ervan, tapi malah berbuat ulah dan membuat kita rugi dan malu seperti sekarang" sahut mama Erika.
Dan lagi lagi Ervan hanya bisa tersenyum miris mendengar nya. Kenapa ada orang tua seperti ini ? Tega membicarakan tentang keburukan anak mereka sendiri didepan orang lain.
"Ya.. papa sudah lepas tangan dengan anak itu. Maafkan kami ya Van. Karena kami yang tidak bisa mengatur Erika, kamu juga jadi terkena imbasnya" ucap tuan Jonas.
Ervan menghela nafasnya dan menggeleng pelan.
"Tidak om. Saya tidak apa apa. Mungkin kami belum berjodoh. Jadi om dan Tante memang tidak tahu dimana keberadaan Erika sekarang?" tanya Ervan.
"Kami sudah mengusirnya dari rumah"
deg
Perkataan mama Erika membuat jantung Ervan seakan terlepas.
Kenapa tega sekali.
Ervan benar benar tidak menyangka dengan kenyataan ini.
"Malu sekali mempunyai anak yang tidak tahu diri seperti itu. Sudah diberi hidup enak tapi malah membuat malu keluarga" ungkap mama Erika.
"Tapi kan kasihan Tante" sahut Ervan.
Tuan Jonas menggeleng.
"Itu pantas dia dapatkan. Sejak dulu Erika memang sudah selalu membuat kami kesal. Dan dengan tidak tahu malunya sekarang dia malah berbuat memalukan yang membuat nama baik ku rusak, dan juga hubungan antara aku dan orang tuan mu hancur" ungkap tuan Jonas.
Dada Ervan terasa bergemuruh mendengar itu. Erika nakal juga pasti karena pengaruh orang tua nya. Apalagi sejak dulu memang tuan Jonas yang sudah kekeh untuk menjodohkan mereka.
Dan sekarang, disaat Erika mendapatkan masalah, mereka malah tega mengusirnya.
Apa mereka tidak tahu jika Erika terlantar dan terlunta lunta diluar sana. Dan yang lebih parahnya, saat ini dia sedang sekarat dan hampir mati dengan penyakitnya.
"Apa Tante dan om tidak tahu sama sekali dengan Erika yang sekarang?" tanya Ervan.
Membuat tuan Jonas dan juga isterinya langsung memandang Ervan dengan bingung.
__ADS_1
"Kenapa kalian tega mengusirnya disaat dia merasa terpuruk. Apa kalian tidak kasihan dan berfikir tentang kehidupan nya diluaran sana?" tanya Ervan.
"Dia memang harus belajar mandiri" jawab tuan Jonas.
"Dia harus tahu susahnya untuk mencari uang seperti apa. Selama ini kami selalu memanjakan nya. Dan sekarang, waktunya dia berfikir untuk menjalani hidupnya sendiri" tambah nya lagi.
Ervan menggeleng tidak percaya mendengar ini. Erika bahkan untuk makan pun dia susah. Terbayangkan dibenak Ervan saat dia kehujanan menunggu bis dihalte dengan wajah yang pucat, bahkan dia sampai pingsan kedinginan malam itu.
Dan sudah pasti jika Erika pasti tengah menahan sakitnya disaat itu.
Tapi kenapa orang tuanya malah tega berkata seperti ini.
"Tapi dia perempuan om. Dia sedang bersedih dan terpuruk. Jika seperti ini apa tidak akan membuat dia semakin menderita " ucap Ervan lagi.
"Tidak apa apa. Itu memang harus dia rasakan Van" jawab mama Erika.
"Padahal dia sedang sakit sekarang" ungkap Ervan akhirnya.
"Sakit?" tanya mama Erika langsung. Sedangkan tuan Jonas memandang Ervan dengan lekat.
"Ginjalnya bermasalah, dan harus segera ditangani" jawab Ervan, dia memandang mama Erika dengan sendu. Berharap mereka akan iba, namun kenyataan yang dia dapatkan malah berbeda.
"Apa kamu sudah bertemu dengan dia?" tanya mama Erika
Ervan mengangguk pelan.
"Dia tinggal dirumah petak kecil Tante. Sangat menyedihkan" ungkap Ervan.
"Itu memang pantas dia dapatkan"
deg
Ervan langsung tertegun mendengar itu.
"Setelah semua yang terjadi, perusahaan hancur, nama baik ku yang hancur, bahkan hubungan ku dengan beberapa sahabat juga hancur karena perbuatannya itu" ungkap tuan Jonathan.
Ervan bahkan sampai bingung harus berkata apa lagi.
"Meskipun dia mati? Apa kalian tidak akan peduli?" tanya Ervan seraya memandang mama Erika dan tuan Jonas bergantian.
"Dia tidak akan mati. Ginjal nya baik baik saja. Dia seperti itu hanya untuk mendapatkan simpati kamu" jawab mama Erika.
Ervan tersenyum tipis dan menggeleng.
Bahkan Erika sedikitpun tidak ada sama sekali membahas penyakit ataupun tentang dirinya sendiri. Ervan tahu ini dari dokter Danar.
Dan sampai disini, sepertinya Ervan sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya selama ini. Jika orang tua Erika, memang sudah tidak lagi memperdulikan nya.
Bahkan disaat Ervan sudah memberitahu tentang hal ini, mereka sama sekali tidak merasa khawatir maupun cemas.
__ADS_1
Ya Allah...
kenapa ada orang tua seperti ini???