
Maira menggeliatkan tubuhnya perlahan. Matanya masih begitu berat untuk terbuka. Rasanya dia benar benar masih mengantuk saat ini.
Tubuhnya bergerak mengarah kesamping seriring matanya yang terbuka dengan sayu dan sedikit membengkak karena dia menangis tadi.
Mata Maira mengerjap perlahan, saat lagi lagi dia melihat dokter Danar yang sedang shalat dengan begitu khusyuk tidak jauh dari tempat tidurnya.
Dia memandang dokter Danar dengan tatapan hampa. Fikiran nya kembali melayang mengenangkan nasibnya.Maira tidak tahu apa yang harus dilakukan nya sekarang. Dia tahu dokter Danar adalah orang baik, bahkan sangat baik. Tapi sungguh, Maira memang tidak bisa untuk menerima pernikahan ini. Karena sedari dulu , tujuan nya adalah menikah dengan orang yang dia cintai.
"Kamu sudah bangun?" tanya dokter Danar tiba tiba. Maira yang sedang melamun menjadi terkesiap kaget karena tidak sadar jika dokter Danar sudah selesai dengan shalatnya.
Maira langsung beranjak dan duduk disisi tempat tidur, masih dengan rambut yang acak acakan. Dia menoleh kearah jam beker kecil diatas meja, dan matanya sedikit melebar karena tahu jika hari sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ternyata dia tertidur selama itu.
"Kenapa tidak membangunkan saya?" tanya Maira dengan nada yang begitu ketus, dia memandang dokter Danar yang masih merapikan sajadahnya.
"Kamu terlihat lelap sekali tidur nya, saya tidak tega membangunkan kamu. lagipula kamu juga tidak sedang shalat" jawab dokter Danar tanpa melihat wajah Maira
Maira mendengus gerah. Dia beranjak dan berjalan kearah kamar mandi berniat untuk membersihkan diri. Namun saat tiba diambang pintu dia kembali menoleh kearah dokter Danar yang hendak membongkar koper nya.
"Bisakah anda keluar dokter?' pinta Maira dengan nada yang sedikit ditekan, apa dokter Danar tidak lihat jika dia mau mandi?
"Saya mau membereskan pakaian saya" jawab dokter Danar terdengar acuh
"Dokter tidak lihat saya mau mandi?" seru Maira begitu kesal
"Ya mandi saja, saya tidak akan mengganggu kamu" jawab dokter Danar dengan senyum tipis nya.
Maira berdecak kesal, dia langsung berjalan mendekat ketempat kopernya yang berada tidak jauh dari tempat dokter Danar.
"Menyebalkan, bilang saja modus mau mengintip saya" tuding Maira begitu kesal. Tangan nya mengambil pakaian ganti didalam koper dengan cepat.
"Saya lihat juga tidak apa apa. Sudah halal" jawab dokter Danar yang lagi lagi tersenyum simpul membuat Maira semakin kesal saat ini. Rasanya ingin sekali dia menjambak rambut dokter tampan ini agar kepala nya bisa sedikit lebih waras.
"Dasar gila! Awas saja jika anda mengintip. Saya akan kabur dari rumah ini!" ancam Maira. Dia langsung berlari kekamar mandi meninggalkan dokter Danar yang tertawa lucu melihat kelakuan nya.
"Mau kabur kemana coba, bahkan dari dulu suami kamu ini sudah tahu tempat main kamu" gumam dokter Danar seorang diri. Dia kembali memasukkan semua pakaian nya kedalam lemari kecil disebelah lemari yang agak besar, dan lemari itu adalah bagiannya Maira.
Hampir satu jam Maira berada didalam kamar mandi. Dan ternyata kamar mandi itu juga dilengkapi dengan bathup, membuat nya bisa berendam dan merilekskan tubuhnya yang terasa lelah. Boleh juga dokter itu memilih rumah, batinnya. Meski kecil namun begitu nyaman, rapi dan bersih. Sangat jauh berbeda dari tempat kostnya yang jauh dari kata rapi dan bersih. Karena memang Maira bukan gadis yang serajin itu untuk hal bersih bersih.
Maira keluar dari kamar mandi sudah mengenakan piyama tidur dan handuk kecil yang melilit kepalanya. Tubuhnya sudah sangat segar sekarang, setelah dari pagi tadi baru ini dia membersihkan dirinya lagi. Tidur sampai malam boleh juga.
Dan sekarang perutnya benar benar terasa perih karena belum makan apapun dari siang. Hanya sarapan sedikit nasi goreng buatan ibu mertuanya pagi tadi.
Maira mengusap perutnya dengan wajah memelas
"Baru ini ngerasa lapar setelah berminggu minggu" gumam nya. Dan disaat perut nya terasa lapar, tiba tiba saja hidungnya mencium bau makanan yang begitu menggugah selera, hingga membuat cacing diperutnya semakin liar saja.
__ADS_1
Maira berjalan kearah pintu dan membuka pintu dengan cepat, namun dia langsung terlonjak kaget ketika pintu terbuka dan langsung menampakkan dokter Danar yang telah berdiri dengan wajah datar nya didepan pintu itu. Dan tentu saja itu membuat Maira begitu terkejut. Untung saja dia tidak terpelanting kebelakang sangking terkejutnya.
"Kenapa kamu?" tanya dokter Danar ketika melihat Maira yang mengusap dada nya dengan wajah kesal
"Pakai nanya lagi, dokter yang kenapa berdiri disini, udah kayak hantu aja" seru Maira begitu kesal
Dokter Danar langsung tertawa kecil mendengar nya, apalagi melihat wajah Maira yang begitu kesal seperti ini karena terkejut.
"Mana ada hantu yang tampan seperti saya" ucap dokter Danar terdengar begitu angkuh. Maira langsung mendengus gerah mendengar nya
"Berisik. Awas, saya lapar" Maira langsung melengos dan pergi kearah dapur meninggalkan dokter Danar yang terlihat menggelengkan kepalanya namun tetap mengikuti Maira kedapur
"Saya tadi mau mengajak kamu makan, ternyata kamu duluan yang membuka pintu" ungkap dokter Danar.
Maira memandang meja makan yang sudah tersedia banyak lauk dan sayur
"Beli dimana nih?" tanya Maira. Dia langsung duduk dikursi dan menatap makanan yang terlihat menggugah selera. Masih hangat, karena asap masih terlihat disayur sop itu. Ada sayur sop, ayam goreng dan sambal hati balado.
"Bahan bahan nya beli diminimarket sore tadi" jawab dokter Danar yang juga duduk dikursinya, dihadapan Maira
"Dokter yang masak?" tanya Maira tidak percaya
"Iya, istri saya belum bisa, jadi saya yang memasak" jawab dokter Danar
"Maka nya, cari istri itu yang pintar masak, yang cinta sama suami, yang rajin, yang solehah juga sekalian, bukan seperti saya" kata Maira dengan ketus sembari tangan nya yang mengambil nasi dan lauk pauk nya.
Dokter Danar hanya tersenyum saja dan mengambil nasi nya sendiri
"Baca doa dulu" kata dokter Danar. Maira yang ingin menyuapkan nasi kedalam mulut nya jadi terhenti. Dia menatap dokter Danar dengan kesal namun bibirnya terlihat berkomat kamit dan langsung melahap makanan nya dengan sadis.
Dokter Danar kembali geleng geleng kepala dan menahan senyumnya melihat tingkah Maira. Meski wajah Maira tidak ada bersikap manis sedikitpun padanya, tapi dokter Danar bersyukur karena Maira masih mau memakan hasil masakan nya.
Dan memang Maira akui jika masakan dokter Danar bisa pas dilidahnya. Bahkan dia rasa dia lebih menyukai masakan dokter Danar dari pada ibu mertuanya. Maira ingin gengsi, tapi perutnya tidak bisa dikondisikan. Lagipula dia tidak perlu repot repot harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan malam ini. Ya, meskipun Maira sudah dibekali sebuah kartu hasil dari keuntungan hotel miliknya dari tuan Beni.
Mereka makan dalam diam karena sama sama menikmati makanan mereka. Hanya makan pagi tadi membuat mereka makan dengan begitu lahap saat ini. Bahkan Maira tidak tahu kenapa nafsu makannya yang menghilang beberapa minggu ini telah kembali. Padahal dia tahu jika batinnya masih tertekan tinggal bersama dengan dokter Danar.
Maira mengusap perutnya yang sungguh telah penuh, bahkan tanpa malu dia sampai menambah dua kali tadi. Entah enak atau lapar, dia seperti membalaskan dendam nya yang jarang makan dengan benar selama lebih dari dua minggu yang lalu. Dan tentu saja itu mampu membuat dokter Danar merasa puas karena ternyata Maira menyukai masakan nya.
Setelah selesai makan, dokter Danar langsung membereskan meja makan, membuat Maira yang masih duduk disana memandang nya dengan aneh.
"Dokter kan banyak uang, kenapa tidak mempekerjakan orang saja?" tanya Maira pada dokter Danar yang memunguti piring kotor mereka
"Selagi masih bisa dikerjaan sendiri kenapa harus membayar orang. Lagipula rumah ini kecil, dan pekerjaan nya juga tidak banyak" jawab dokter Danar sembari meletakkan piring piring kotor itu diwastafelnya
Maira hanya diam saja dan terus memperhatikan dokter Danar yang kesana kemari membereskan meja makan tanpa ingin membantu sedikitpun.
__ADS_1
"Terserah saja sih, definisi orang yang suka merumitkan hidup ya begitu" ucap Maira dengan acuh. Dia segera beranjak dari kursi makan itu meninggalkan dokter Danar yang sedang mencuci piring saat ini.
"Saya tahu kamu memang pemalas" gumam dokter Danar. Langkah kaki Maira langsung terhenti. Dia membalikkan tubuhnya dan memandang dokter Danar yang masih sibuk mencuci piring
"Dokter bilang apa tadi" tanya Maira dengan mata yang memicing sinis
"Tidak ada, saya hanya bilang pergilah istirahat dikamar" jawab dokter Danar seraya menahan senyum dan tidak ingin menatap Maira dibelakang nya
Maira hanya mendengus dan kembali melangkahkan kaki nya meninggalkan dokter Danar
"Untung dia tidak dengar" gumam nya
....
Didalam kamar Maira terlihat kembali uring uringan, kali ini dia memegang ponsel nya yang sudah lama tidak dia hidupkan. Ya semenjak memutuskan untuk menerima tawaran ayahnya menikah dengan dokter Danar.
"Duh, gue harus ngomong apa ya sama Nindi dan Putri. Mereka pasti marah gue ngilang gitu aja" gumam Maira begitu bingung jika mengingat tentang kedua sahabatnya itu
"Bisa habis gue besok kalau masuk kekampus. Mana harus berhadapan sama Ervan lagi. Aaaahhhh gini amat sih hidup gue" gerutu Maira begitu kesal seraya tangan nya yang memukul mukul kepalanya
"Kamu mau kepala kamu bengkak bangun tidur besok pagi?" perkataan dokter Danar membuat Maira lagi lagi terlonjak kaget
"Bisa gak sih masuk kamar tuh ketuk pintu dulu" seru Maira begitu kesal
"Pintunya tidak kamu tutup, untuk apa saya ketuk?" tanya dokter Danar, dia berjalan menuju tas kerja nya disamping lemari. Mengeluarkan laptop dan ponsel nya dari dalam sana lalu beranjak dan duduk disofa kecil yang berada didekat jendela kamar mereka.
"Terus ngapain duduk disitu, diluar sana!" usir Maira. Namun dokter Danar hanya melirik nya sekilas dan kembali fokus pada pekerjaan nya.
"Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan, saya tidak akan menganggu" jawab dokter Danar dengan begitu tenang, namun malah Maira yang begitu kesal.
"Menjengkelkan, jadi tidak punya privasi sedikitpun" gerutu Maira. Dia langsung turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar meninggalkan dokter Danar yang hanya tersenyum saja.
Maira menghempaskan tubuhnya diatas sofa dengan wajah yang tertekuk kesal. Baru sehari tapi dia sudah kesal. Dia benar benar rindu masa masa gadisnya. Dimana ketika dikos dia akan dengan bebas melakukan apapun dikamarnya. Sekarang, jangankan untuk melakukan hal yang aneh aneh, untuk mandi dan berekspresi saja dia tidak akan bisa lagi. Dokter Danar memang berhasil membunuh masa masa mudanya.
Maira ingin menghidupkan kembali ponselnya, namun dia urungkan karena takut Ervan dan kedua sahabatnya pasti akan langsung menghubunginya. Lebih baik dia mengerjakan novel nya saja yang belum selesai. Ya,meskipun sudah hiatus selama beberapa minggu ini, namun dari pada dia galau dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan, lebih baik dia berekspresi dengan kehaluan nya saja bukan.
Maira beranjak dari kursi nya, namun ketika ingin melangkah dia ingat sesuatu.
"Baru aja keluar, yakali masuk lagi. Gengsi dong gue" gumam Maira dan kembali duduk diatas sofa
Maira menghela nafasnya sejenak dan kembali merebahkan dirinya. Kaki nya tertekuk karena memang sofa itu adalah sofa yang kecil dan pendek.
Mata Maira menatap nanar langit langit kamar dengan hati yang kembali sedih.
"Seandainya aja yang nikahin gue itu elo Van, pasti gue bakal bahagia banget meski harus ngerelain masa depan gue kayak gini" gumam Maira dengan mata yang berkaca kaca
__ADS_1