
Dua hari kemudian...
Maira dan dokter Danar mengantar mama ke Bandara karena dia yang ingin kembali ke Malaysia.
Maira menangis lagi dalam pelukan mama, karena dia cukup sedih karena harus berpisah lagi dengan ibunya.
Rasa nya waktu beberapa hari belum mampu untuk menebus rasa rindu nya selama bertahun tahun ini.
"Jangan menangis lagi, mama janji nanti mama akan kemari lagi" pinta mama seraya mengusap wajah Maira dengan lembut.
"Mama janji ya. Maira masih ingin ada mama disini" ucap Maira.
"Iya sayang, mama janji nak. Mama pasti akan lebih lama disini. Mama sudah cukup lama berada disini. Dan karena sudah bertemu dengan kamu, mama pulang dulu. Nanti mama pasti kemari lagi" jawab mama.
Maira mengangguk dan mengusap air matanya.
"Jaga diri kamu baik baik ya, jadi istri dan calon ibu yang baik" ujar mama
"Iya ma" jawab Maira
Mama kembali memeluk Maira dan mencium kedua pipinya. Dan kini bergantian dengan dokter Danar yang mencium punggung tangan mama.
"Hati hati dijalan ma. Jika sudah tiba, jangan lupa kabari kami" ucap Dokter Danar
"Tentu nak. Mama titip Maira ya" ucap mama seraya mengusap pundak dokter Danar sejenak
"Insha Allah ma" jawab dokter Danar dengan senyum teduhnya.
Dan akhirnya, lagi lagi Maira harus melambaikan tangan untuk melepaskan kepergian ibunya. Teringat ketika ibu dan ayahnya berpisah dulu. Dia bersama Rio juga seperti ini. Berdiri dibandara dan menangis melambaikan tangan pada ibunya yang pergi meninggalkan mereka. Cukup lama, hingga bertahun tahun dan sekarang baru bertemu lagi.
Ah... rasa sakit itu, masih begitu terasa sampai saat ini.
"Jangan sedih, mama pasti kesini lagi" ujar dokter Danar seraya merangkul pundak Maira yang masih menahan tangisnya.
"Maira cuma ingat waktu dulu mas." jawab Maira
Dokter Danar tersenyum dan mengusap air mata Maira. Tidak perduli tatapan orang orang yang memperhatikan mereka. Dokter Danar tetap bersikap lembut pada Maira.
"Kenangan yang menyedihkan tidak perlu di ingat. Ciptakan kenangan baru yang lebih indah agar hati kamu tenang sayang" ujar dokter Danar.
Maira memandang dokter Danar dan mengangguk pelan.
"Kita kerumah Nindi?" ajak dokter Danar
Dan Maira kembali mengangguk.
Hingga akhirnya, pagi itu setelah dari bandara dokter Danar membawa Maira kerumah Nindi. Sepanjang jalan Maira hanya diam dan memandang nanar jalanan yang mereka lewati.
Dia masih merasa jika ini seperti mimpi. Rasanya baru sebentar bertemu, tapi sudah harus berpisah lagi. Tapi Maira memang harus bersyukur, karena sekarang dia sudah tahu keadaan ibunya yang baik baik saja. Bahkan berjanji untuk datang lagi menemui nya dan Rio.
Satu jam kemudian, mereka tiba didepan rumah Nindi. Namun Maira langsung mengernyit heran saat melihat semua teman teman nya yang sudah nampak rapi seperti ingin pergi ke suatu tempat.
Bahkan disana juga sudah ada Dika dan Brian. Mau kemana mereka.
"Mereka mau kemana?" gumam Maira yang heran. Namun dokter Danar tersenyum dan langsung turun dari mobil. Dika bahkan langsung berlari dan langsung membukakan pintu mobil Maira.
"Silahkan nona" ucap Dika bak pelayan pelayan seperti pada umumnya.
Maira langsung mendengus senyum dan langsung turun dari dalam mobil.
"Gak usah repot repot kak" ucap Maira.
Putri dan Nindi langsung mendekat kearah nya dengan tas yang sudah terselempang dibahu mereka masing masing.
"Kalian mau kemana?" tanya Maira dengan bingung.
Dan semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arah dokter Danar. Membuat Maira juga ikut memandang suami nya dengan bingung.
"Kita mau jalan jalan. Bukan kah kamu dan kedua sahabat kamu ingin pergi ke mesjid tua?" ucap dokter Danar.
Maira langsung tersenyum lebar mendengar itu.
"Beneran mas???" tanya Maira
Dokter Danar tersenyum dan mengangguk.
"Aaaahhh baik banget." Maira langsung merangkul lengan dokter Danar dengan gemas.
__ADS_1
"Ehemmm ehemmm kami yang belum halal ini berasa nonton film" sindir Putri.
Maira langsung tertawa dan melepaskan rangkulan nya. Dia berjalan kearah Putri dan Nindi seraya merangkul lengan mereka masing masing.
"Maaf ya berapa hari gak ada Dateng kesini. Kamu baik baik aja kan Nin" tanya Maira pada Nindi.
"Baik kok, gak masalah" jawab Nindi.
Maira tersenyum dan mengangguk, kini dia menoleh pada Brian dan Dika.
"Kak Brian sama kak Dika juga ikut ya. Wah asik dong ramai" ungkap Maira lagi.
"Bodyguard Mai..." sahut Dika seraya memainkan alis beberapa kali.
"Kamu gak kuliah?" tanya dokter Danar pada Brian
"Enggak mas. Hari ini kelas kosong" jawab Brian.
"Alasan gak sih" sindir Putri. Maira dan Dika langsung tertawa mendengar itu.
Brian langsung mendengus dan memalingkan wajahnya. Lelaki berkarakter dingin ini terlihat begitu menjaga image, padahal sebenarnya dia adalah orang yang paling ingin pergi, apalagi ada Nindi.
"Udah ah, sirik aja. Kalau ramai kan enak" ucap Maira.
Dokter Danar tersenyum dan menggeleng saja. Sepertinya Maira sudah melupakan kesedihan nya tadi. Cepat sekali memang mood nya berubah. Dan dokter Danar cukup senang melihat itu. Karena jika Maira bersedih, dia takut akan berpengaruh pada calon bayi mereka.
"Kita pergi sekarang" ajak dokter Danar
"Let's go" teriak mereka semua dengan begitu semangat. Karena ini adalah hal yang selalu mereka nantikan sejak dulu. Berlibur bersama.
Setelah berpamitan dengan mama Nindi, mereka semua langsung masuk kedalam mobil.
Dika yang menyetir bersama Brian didepan. Nindi dan Putri duduk ditengah, sementara Maira dan dokter Danar duduk di bangku paling belakang.
"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Dika, dan setelah itu dia langsung melajukan mobil nya keluar dari pekarangan rumah Nindi. Namun baru tiba didepan pagar, Dika langsung menghentikan mobilnya kembali.
"Ada apa kak?" tanya Putri
"Ada orang tuh" jawab Dika seraya menunjuk ke depan mobil mereka.
"Erika" ucap Brian.
"Mau apa dia?" gumam Maira.
"Kita temui" ajak Putri yang langsung turun dari dalam mobil.
Nindi memandang mereka dengan bingung. Apalagi saat Maira juga langsung turun dari mobil.
Maira memandang Erika dengan lekat. Dia mengernyit heran melihat penampilan Erika yang terlihat kusut dan lesu. Bahkan tubuhnya juga sangat kurus dan layu. Tidak sama seperti saat pertemuan terakhir mereka. Dan lagi, dia datang dengan apa kesini???
"Mau apa Lo?" tanya Putri. Dia yang paling garang diantara semua orang yang ada disana.
Dokter Danar juga ikut turun dari dalam mobil. Sedangkan Brian dan Dika masih tetap didalam mobil. Tapi ketika melihat Nindi yang turun, Brian juga ikut turun.
"Jangan dekat dekat" bisik Brian.
"Kenapa?" tanya Nindi.
"Kita lihat dari sini saja" ujar Brian.
Dan mau tidak mau Nindi hanya mengangguk pasrah.
Dan di hadapan mereka, Erika tertunduk dengan wajah canggung, ragu, takut dan juga dengan rasa bersalah yang begitu besar.
"Masih berani juga Lo munculin diri dihadapan kami?" tanya Putri lagi
Maira memandang Erika dengan lekat. Jika mengingat kelakuan nya, dia benar benar benci pada gadis ini. Tapi melihat penampilan nya yang sekarang, Maira kenapa jadi iba.
"Gue kemari mau minta maaf" ucap Erika
Putri langsung tersenyum sinis mendengar itu.
"Maaf atas setelah semua yang Lo lakuin ke kita? Lo udah memfitnah Nindi dan Maira. Lo juga udah hampir buat Maira kehilangan anak nya, dan sekarang Lo buat Nindi hampir mati dan ilang ingatan. Dan dengan enak nya Lo Dateng untuk maaf. Fikir pakai otak dong" bentak Putri dengan begitu menggebu.
Nindi dan Dika yang mendengar itu bahkan terkesiap dan memandang ngerih padanya.
Erika terisak lirih dan tertunduk, membuat Maira yang lemah hatinya menjadi tidak tega.
__ADS_1
"Udah Put" ujar Maira seraya mengusap bahu Putri.
Namun Putri langsung melengos dan memandang Erika dengan sadis.
"Kenapa, Lo Dateng mau minta maaf supaya dokter Danar cabut laporan supaya Lo bisa kuliah lagi. Gitu kan" tuding Putri.
Erika mengusap air matanya dan menggeleng pelan.
"Enggak, gue kesini bener bener mau minta maaf sama kalian. Terutama sama Lo Maira" ucap Erika memandang Maira dengan wajahnya yang menyedihkan.
"Gue tahu gue udah banyak banget salah sama Lo dari dulu. Gue tahu kesalahan gue ini gak bisa dimaafin. Tapi gue cuma mau minta maaf sama Lo. Gue... gue nyesel" ungkap Erika dengan pandangan yang kembali tertunduk dan menahan tangis nya.
Maira terdiam, namun usapan lembut dari dari dokter Danar dibahu nya membuat Maira langsung menoleh pada dokter Danar.
"Allah maha pemaaf sayang" ucap dokter Danar.
"Apa dengan maaf semua bisa kembali. Apa dengan maaf ingatan Nindi bisa balik lagi sekarang?" tanya Putri. Dia masih begitu benci melihat Erika.
Nindi memandang Erika dengan bingung, karena dia sama sekali tidak mengingat siapa gadis itu.
"Dia adalah gadis yang membuat kamu celaka" bisik Brian
Nindi langsung tertegun mendengar itu.
Jadi gadis ini yang sudah ingin mencelakai Maira.
"Maaf... tolong maafin gue. Gue nyesel" ucap Erika lagi. Tangisan nya semakin bertambah pilu.
"Gue bener bener nyesel. Maira ... maaf" ucap Erika memandang Maira dengan begitu penuh penyesalan.
"Gak tahu diri banget memang" Putri langsung melengos seraya melipat tangan nya kedepan dada. Sungguh, rasanya dia sangat ingin mencabik cabik wajah Erika ini.
bruk
Tiba tiba Erika langsung berlutut dihadapan mereka semua, membuat mereka langsung terkejut melihat itu.
"Gue tahu gue salah. Gua jahat . Tapi gue cuma pengen kalian maafin gue. Gue mohon, gue gak minta apapun selain maaf dari kalian" ucap Erika dengan Isak tangis nya.
Nindi yang melihat itu sungguh tidak tega. Begitu pula dengan Maira.
"Sayang..." panggil dokter Danar. Dia benar benar tidak suka melihat pemandangan seperti ini.
Maira menghela nafasnya sejenak dan langsung berjalan mendekat kearah Erika. Dia juga ikut berlutut dihadapan gadis itu
"Ayo berdiri" ajak Maira
Erika mendongak dan memandang Maira dengan begitu hancur.
"Maafin gue Mai... maaf" ucap Erika. Bahkan dia langsung meraih tangan Maira dan menggenggam nya dengan erat.
Hingga Maira bisa merasakan jika genggaman tangan itu begitu terasa dingin dan bergetar.
"Gue tahu salah gue besar. Tapi gue cuma pengen berubah jadi lebih baik. Gue pengen berubah Mai" ucap Erika dengan tangisan nya yang semakin pilu.
"Udah, aku udah maafin kamu" ucap Maira.
Erika kembali memandang Maira
"Asal kamu berjanji untuk bisa berubah lebih baik" kata Maira lagi.
Erika semakin menangis mendengar itu. Dia mengangguk dengan cepat seraya menciumi punggung tangan Maira. Sepertinya gadis ini benar benar menyesal sekarang.
"Aku janji, aku pasti berubah lebih baik Mai. Aku janji. Terimakasih, terimakasih" jawab Erika yang langsung mengubah bahasanya.
Nindi yang sejak tadi mematung langsung mendekat kearah Maira dan Erika
"Sudah lah, kami sudah memaafkan kamu. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama" ucap Nindi.
Maira menarik Erika untuk berdiri. Dan Erika langsung memandang kearah Nindi.
"Maafin aku" ucap Erika.
Nindi tersenyum dan mengangguk. Meski ingatan nya belum kembali, tapi celaka begini adalah keinginan nya untuk menolong Maira. Dan Nindi tidak berhak menyimpan dendam pada Erika.
Sedangkan Maira juga sudah memaafkan Erika, meski rasa kesal dan benci cukup dalam dulunya. Tapi bukankah dia juga ingin berubah menjadi orang yang lebih baik. Jadi seharusnya, saling memaafkan adalah hal yang harus dilakukan.
Dan Putri...
__ADS_1
Karena Maira dan Nindi yang membujuk, akhirnya mau tidak mau dia juga memaafkan Erika. Meski didasar hatinya dia masih menyimpan kekesalan pada gadis ini.