Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Kedatangan Brian


__ADS_3

Minggu sore dirumah Nindi...


Nindi masih berjalan jalan disekitar halaman rumah nya untuk mencari angin segar. Dia ditemani Putri dan Maira seperti biasa.


Hijab pink nya melambai lembut terkena angin sore dan itu membuat nya merasa benar benar segar. Mereka berada didepan rumah seraya menunggu dokter Danar yang akan menjemput Maira.


"Apa dulu kita sering bersama sama seperti ini?" tanya Nindi seraya memetik bunga mawar yang tertanam di taman depan rumahnya.


"Sering banget, apalagi sebelum Maira nikah. Setiap hari bareng bareng terus. Mama kamu bahkan sampai bosan mungkin" jawab Putri


Maira langsung tertawa mendengar itu.


"Aku ingin pergi ke masjid tua yang pernah kamu bilang itu Mai" pinta Nindi pada Maira.


"Nanti kalau udah sehat kita kesana" jawab Maira.


"Aku sudah sehat kan" ucap Nindi lagi.


"Tapi kan masih sering pusing" sahut Maira.


Nindi menggeleng pelan dan menghela nafasnya perlahan.


"Aku rasa aku sudah lebih baik dan kuat" kata Nindi pula.


Maira dan Putri langsung saling pandang dengan bingung.


"Nanti aku tanya sama mas Danar dulu ya. Kalau dia mengizinkan kita pergi" ujar Maira.


Nindi langsung mengangguk dengan pelan.


Hingga tiba tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan sebuah mobil yang masuk kehalaman rumah Nindi.


"Mobil siapa?" gumam Maira. Bukan mobil dokter Danar. Namun Maira segera menoleh kearah Putri yang nampak terkejut.


"Mobil kak Brian" gumam Putri yang memang sudah tanda dengan mobil Brian.


Dan mendengar nama Brian yang disebut, Nindi yang nampak mematung. Entah kenapa, semakin hari setiap kali dia mendengar nama Brian semakin hatinya menjadi risau, tidak tenang, tapi juga rindu dan perasaan aneh lain nya.


Mereka bertiga langsung memandang mobil yang berhenti didepan rumah Nindi. Namun yang keluar malah berbeda orang.


"Kak Dika" ucap Maira dan Putri bersamaan.


"Hai..." sapa Dika yang langsung mendekat kearah mereka. Ditangan nya membawa sesuatu. Putri yang sedang duduk digazebo memandang Dika dengan heran. Dia kembali menoleh ke mobil dan memperhatikan mobil itu dengan lekat. Benar, itu mobil Brian, lalu kenapa Dika yang turun.


"Kak Dika kok kemari?" tanya Putri.


"Gak boleh ya?" tanya Dika dengan senyum ramah nya seperti biasa.


"Boleh kok, cuma kok tahu rumah Nindi? kan belum pernah kemari?" tanya Maira.


Dika langsung menoleh pada Nindi yang kini mulai duduk digazebo disamping Putri.


"Tahu aja." jawab Dika dengan santai, membuat Putri langsung mendengus


"Nindi gimana keadaan kamu. Sudah sehat kan. Nih ada oleh oleh sedikit dari luar kota" ucap Dika seraya menyerahkan sebuah paper bag yang dibawanya.


Putri memandang Dika dengan lekat.


"Untuk kamu udah aku sendiriin. Ngasih nya nanti kalau sudah dirumah ya" ucap Dika pada Putri.


Putri mendengus gerah mendengar nya. Dia memang sudah lama tidak bertemu dengan Dika karena lelaki ini yang pergi keluar kota mengurus showroom dokter Danar yang sedang bermasalah disana. Dan dia benar benar terkejut saat melihat Dika tiba tiba datang sore ini. Kerumah Nindi pula.


"Ini apa, dan siapa?" tanya Nindi memandang Dika dengan bingung.


"Pacar Putri" bisik Maira


"Mai... apaan sih" sahut Putri tidak suka, namun Maira malah tertawa melihat wajah kesal Putri yang kesal namun juga memerah.


"Pacar Putri?" tanya Nindi memandang Dika yang juga tertawa.


"Enggak kok, bukan pacar. Cuma calon suami" jawab Dika


"Kak Dika" seru Putri


"Kenapa sih, kan memang benar." jawab Dika dengan santai nya.


Nindi tersenyum dan menggeleng. Dia kembali menoleh kearah mobil dimana samar samar dia merasa jika ada orang didalam sana.


"Siapa didalam mobil, kenapa tidak turun?" tanya Nindi. Membuat semua orang yang ada disana langsung menoleh ke arah mobil.


Putri dan Maira langsung memandang Dika dengan lekat. Pandangan mata yang sama sama meminta penjelasan. Membuat Dika menghela nafasnya sejenak dan mengusap tengkuk nya dengan pelan.

__ADS_1


"Put... ada yang mau aku bicarakan. Yuk kita ngobrol disana aja" ajak Dika yang langsung menarik lengan Putri.


Putri terkejut, begitu pula dengan Maira.


"Mau kemana sih kak" tanya Putri yang ingin protes namun kedipan mata Dika membuat nya mengernyit bingung.


"Maira juga ya, ini menyangkut masa depan aku." ucap Dika pada Maira.


Namun setelah itu dia kembali memandang kearah Nindi yang terdiam bingung. Tangan nya masih memegang lengan Putri tanpa ingin melepas.


"Nindi pinjam teman kamu sebentar" seru Dika.


Dan setelah mengatakan itu dia Kembali menarik tangan Putri, dan Putri menarik tangan Maira. Hingga mereka berjalan sudah seperti orang aneh saja.


"Kenapa aku malah ditinggal" gumam Nindi yang memperhatikan kepergian teman teman nya ke taman samping rumah.


Nindi cemberut dan kembali menoleh kearah mobil. Entah siapa yang ada disana. Tapi sejak tadi, jantung nya memang terasa berdebar tidak menentu.


Nindi menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkan nya perlahan. Dia menunduk dan membuka paper bag yang sejak tadi dia pangku.


Bibir nya tersenyum lembut ketika melihat isi didalam nya.


"Ini kue?" gumam Nindi yang memperhatikan cake serupa Apple pie didalam kotak. Harum aroma nya benar benar membuat Nindi tergoda. Bahkan dia langsung membuka kotak itu tanpa menyadari jika seseorang kini sudah berjalan mendekat kearahnya.


"Assalamualaikum"


deg.


Tangan Nindi yang ingin meraih cake itu langsung mematung.


Kepala nya mendongak perlahan dan memandang Brian yang ternyata sudah berdiri dengan senyum tipis dihadapan Nindi.


Mata Nindi mengerjap perlahan, dia kembali meletakkan kue itu didalam kotak. Jantung nya lagi lagi bergemuruh dengan hebat.


Kenapa seperti ini?


Kenapa setiap ada Brian dia selalu merasakan hal ini?


Apalagi setelah dia mengetahui cerita tentang dia dan Brian dulunya.


Rasanya sungguh aneh dan canggung.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Brian seraya duduk disamping Nindi, namun masih memiliki jarak yang sangat jauh. Mereka duduk disisi gazebo.


Nindi masih diam dan memperhatikan cake yang ada dipangkuan nya.


"Atau kamu memang masih tidak suka melihat ku disini?" tanya Brian.


Nindi langsung menoleh pada Brian, dia menggeleng pelan.


"Tidak kak, bukan begitu. Hanya saja....." perkataan Nindi langsung terhenti, karena dia tidak tahu harus berkata apa.


"Maafkan aku. Aku hanya ingin melihat keadaan mu saja. Jika kamu tidak suka, maka aku...."


"Bisakah untuk tetap tinggal" pinta Nindi yang langsung menghentikan perkataan Brian.


Brian memandang Nindi dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


Nindi tertunduk dan mengusap wadah cake itu dengan lembut.


"Aku hanya tidak tahu bagaimana mengungkapkan nya kak. Setiap melihat kakak, aku selalu merasa aneh. Aku tidak benci, hanya saja ada sesuatu yang membuat hatiku sedih saat melihat kakak" ungkap Nindi dengan pandangan yang masih tertunduk. Tanpa dia tahu jika Brian terlihat menghela nafasnya dengan berat.


Ya, berat sekali...


Mungkin itu karena Nindi yang merasa jika dulu dia dibenci dan diabaikan, hingga sekarang disaat dia melupakan segalanya pun, dia masih bisa merasakan rasa sakit itu.


Dan...


Brian menyesali itu.


"Maafkan aku. Aku pernah berbuat salah padamu dulu." ucap Brian


Nindi menggeleng dan tersenyum tipis.


"Putri dan Maira sudah bilang jika ini adalah karena diriku sendiri. Jangan menyalahkan diri kakak. Aku senang, kakak masih mau datang dan menemui ku sekarang" ungkap Nindi.


"Terimakasih mukenah dan al Qur'an nya" ucap Nindi seraya memandang Brian yang nampak terkejut. Namun sedetik kemudian lelaki itu langsung tersenyum tipis dan mengangguk.


Ternyata Nindi sudah tahu.


"Ayo makan bersama sama" ajak Nindi seraya menyerahkan kotak cake itu ketengah tengah mereka.

__ADS_1


"Aku tidak begitu menyukai manis" jawab Brian


Nindi langsung tertunduk lesu.


"Tapi untuk yang satu ini, mungkin masih bisa aku makan" sahut Brian, seraya dengan cepat mengambil sepotong Apple pie itu. Apalagi ketika melihat wajah lesu Nindi, dia jadi tidak tega.


Nindi mendengus senyum dan menggeleng pelan.


"Apa itu sebuah alasan?" tanya Nindi yang juga mengambil cake nya.


Brian tersenyum dan menggeleng.


"Tidak, bukan alasan, melainkan penebusan" jawab Brian yang langsung melahap kue itu sekali suap.


Nindi juga mulai memakan kue nya sedikit demi sedikit.


"Enak?" gumam Nindi.


Brian mengangguk.


"Dan sangat manis" sahut Brian seraya mengusap mulutnya.


Nindi tersenyum dan kembali menikmati kue nya. Hingga kue itu habis, dia kembali memandang Brian.


"Kak" panggil Nindi


"Ya" jawab Brian


"Apa hubungan kita begitu dekat dulu?" tanya Nindi.


Brian terdiam, antara ingin berkata tidak dan juga iya.


"Kenapa diam?" tanya Nindi


"Aku hanya bingung harus menjawab apa" jawab Brian


"Dulu... aku selalu kesal setiap kali kamu datang dan mengganggu ku dengan semua sikap manja dan centil kamu" ungkap Brian, membuat Nindi memandang nya dengan lekat.


"Bahkan karena centil nya kamu, kamu selalu berteriak memanggil nama ku setiap kali kamu bertemu dengan ku" ucap Brian seraya tertawa kecil saat mengingat itu.


Nindi langsung menunduk malu, namun samar samar bayangan aneh langsung melintas dikepala nya.


"Awal nya aku kesal, tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Bahkan karena sudah terbiasa, aku merasa kehilangan saat kamu memutuskan untuk berhijrah" ungkap Brian.


Kini dia memandang Nindi, hingga pandangan mata mereka saling pandang untuk beberapa detik.


"Banyak orang yang menghujat kamu, dan berfikir jika keputusan kamu ini adalah karena aku. Dan aku tidak suka mendengar nya. Bukan aku tidak suka padamu, tapi aku tidak suka mereka merendahkan kamu" kata Brian lagi.


Nindi tertunduk. Kata kata hujatan itu kembali menghiasi kepala nya.


"Hingga akhirnya aku memilih menjauh. Bukan karena membenci, tapi karena aku ingin kamu menunjukkan pada mereka jika kamu berubah karena niat yang tulus, bukan karena aku" ucap Brian


Nindi masih terdiam seraya menahan beban dikepala nya yang mulai berputar lagi.


"Dan sepertinya aku menyesali keputusan ku itu saat melihat kamu celaka. Aku takut Nin, demi Allah aku benar benar takut waktu itu. Melihat kamu berdarah dan jatuh terguling dari atas tangga. Sungguh, rasanya jantung ku juga ikut terhempas saat itu"


ungkapan Brian kali ini membuat Nindi mengernyit dalam. Saat tiba tiba bayangan samar sebuah tubuh yang terguling dari atas dan darah yang begitu banyak langsung berseliweran di kepalanya.


Rasa sakit...


Rasa takut...


Dan juga rasa ingin mati kembali dia rasakan.


"Aku benar benar takut melihat kamu yang seperti itu" tambah Brian lagi.


"Uugh" lenguh Nindi.


Brian langsung menoleh pada Nindi dan begitu terkejut saat melihat wajah Nindi yang sudah pucat kembali.


"Nindi, kenapa?" tanya Brian dengan panik.


"Sakit... kak ... sakit" gumam Nindi seraya memegangi kepala nya yang terasa benar benar ingin pecah.


Brian panik dan bingung. Sementara orang orang yang sejak tadi mengintip dari sebalik tembok langsung berlari mendekati mereka.


"Nindi... tarik nafas kamu. Pelan pelan." ujar Brian seraya memegang pundak Nidni yang membungkuk


Nindi menggeleng pelan dan menggeram kesakitan.


"Nindi" panggil Brian lagi

__ADS_1


"Sakit..." ungkap Nindi begitu lirih. Hingga tiba tiba dia langsung jatuh terkulai dengan lemas dalam rangkulan Brian.


"Nindi!!!"


__ADS_2