Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Berkumpul Dengan Sahabat


__ADS_3

Siang ini Maira dan dokter Danar baru saja selesai melaksanakan shalat djuhur berjamaah dan makan siang bersama. Maira sudah bersiap siap dengan pakaian nya yang rapi namun tetap sederhana. Dia sedang merias dirinya didepan cermin saat ini. Hanya menggunakan kaos ketat bewarna putih dan juga celana jeans ketat bewarna biru. Rambutnya dia ikat asal dan hanya memakai make up seadanya karena Maira bukan tipe gadis feminim seperti Nindi, namun bukan juga gadis tomboy seperti Putri.


Hanya gaya sederhana, namun sudah cukup membuat mata yang memandang terpesona dengan kecantikkan alaminya.


Dokter Danar juga sudah terlihat rapi dengan pakaian santai yang dia padukan dengan jaket denim. Dia masuk kedalam kamar seraya memakai jam tangannya. Matanya tersenyum memandang Maira yang sedang memoleskan liptin dibibir ranum nya. Bibir yang belum bisa disentuh sama sekali.


"Akan lebih cantik jika kamu berhijab" ucap dokter Danar. Dia kini duduk disisi tempat tidur dan memperhatikan Maira


Maira hanya melirik nya sekilas dari dari pantulan cermin, wajah Maira masih terlihat kesal dengan dokter tampan ini.


"Berisik banget" gumam Maira dengan ketus. Dia beranjak dan mengambil sebuah jaket didalam lemarinya


"Kamu mau jalan kemana?" tanya dokter Danar lagi


"Mau tahu aja" sahut Maira begitu acuh


"Maira" panggil dokter Danar sedikit menekan nada bicara nya membuat Maira langsung menarik nafasnya dengan kesal


"Ke cafe" jawabnya begitu singkat


"Dengan siapa?" tanya dokter Danar


"Sama temen lah. Udah ah, saya mau pergi. Dokter banyak banget tanya nya" Maira langsung berjalan menuju pintu namun dokter Danar kembali menghentikan langkahnya


"Maira....salim dulu" panggil dokter Danar


Maira berdecak kesal, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali kearah dokter Danar. Benar benar sudah seperti ayahnya saja dokter ini. Kemana mana harus salim, apa apa harus tahu. Memang menjengkelkan


Maira memandang dokter Danar yang sudah menjulurkan tangan nya. Meski kesal namun Maira tetap meraih tangan itu dan menempelkan didahinya.


"Hati hati, jangan terlalu sore pulang nya"  ujar dokter Danar. Maira hanya melengos saja dan langsung berlalu pergi meninggalkan dokter Danar.


Dokter Danar hanya tersenyum tipis dan menggelengkan sedikit kepala nya. Setelah Maira pergi dia juga beranjak dari sana untuk pergi kesuatu tempat dan menemui seseorang.


...


Setelah mengendarai motornya hampir setengah jam lebih, Maira tiba didepan sebuah cafe tempat biasa dia berkumpul dengan kedua sahabatnya. Dapat Maira lihat jika mobil Nindi sudah terparkir rapi disana. Maira langsung membuka helm nya dan merapikan sedikit rambutnya yang berantakan. Setelah itu dia langsung bergegas masuk kedalam cafe itu, mencari dimana kedua sahabatnya berada.


Tidak susah mencari mereka, karena kedua gadis itu terlihat begitu dominan diantara pengunjung yang lainnya. Maira langsung berjalan dan mendekat kearah mereka yang sudah menunggunya sejak tadi. Maira langsung duduk disamping Nindi yang menatapnya dengan kesal.


"Lama banget sih Mai, capek tahu nungguin lo dari tadi. Udah setengah jam kita disini" ucap Nindi langsung


Maira tertawa kecil dan langsung menyambar air minum Nindi . Meminum nya dengan cepat karena tenggorokan nya benar benar haus setelah panas panasan dengan motornya disiang bolong ini


"Sorry guys, ada masalah sedikit dijalan" jawab Maira setelah dia merasa tenang


"Kenapa lo gak mau kita jemput kayak biasa?" tanya Putri membuat Maira hampir tersedak air minumnya


Maira langsung memandang Putri dengan senyum getir nya


"Deket kok, gue juga lagi pengen bawa motor sendiri" jawab Maira


"Udah seminggu lo Mai, tapi kita gak tahu dimana lo tinggal sekarang" ucap Putri lagi dan Nindi juga langsung mengangguk setuju


"Tahu nih. Lo mau main rahasia rahasiaan sama kita Mai?" tanya Nindi pula. Maira terlihat canggung dan salah tingkah sekarang. Kedua sahabatnya ini pasti tidak akan diam saja, dan dia juga tidak mungkin terus menerus mengelak. Tapi....jika dia berbicara jujur, bagaimana jadinya????


"Gu....gue,... gue tinggal bareng sepupu gue" jawab Maira dengan senyum getir nya. Jantung nya bergemuruh dan dia merasa begitu gugup sekarang. Dan tentu saja itu membuat Putri dan Nindi saling pandang curiga


"Sepupu..... Sepupu yang mana?" tanya Nindi


"Seinget gue dari dulu saudara lo gak ada yang tinggal di Jakarta kan" sahut Putri pula

__ADS_1


Maira langsung menggaruk pelipisnya dengan wajah yang semakin gugup. Apa yang harus dia katakan? Maira sungguh tidak bisa membohongi kedua sahabat nya ini. Tapi untuk berbicara jujur dia juga belum siap.


Putri dan Nindi memandang Maira dengan begitu serius dan penuh curiga. Sejak Maira kembali, mereka sudah menduga jika memang ada yang disembunyikan oleh sahabatnya ini.


"Dia baru pindah kesini, jadi dia minta gue buat tinggal sama dia. Alhamarhum ayah juga nitipin gue sama dia" ucap Maira berusaha setenang mungkin meski kini jantung nya berdetak tidak beraturan


"Udah dua tahun juga lo tinggal sendiri" kata Putri yang masih tidak percaya


"Iya, mustahil banget lo dititipin sama orang. Udah kayak anak kecil aja" sahut Nindi pula. Mereka berdua masih memandang Maira dengan lekat, dan itu membuat Maira semakin merasa bersalah dan canggung


"Besok besok gue pasti bawa kalian ketempat tinggal gue yang baru kok, hehe... Jangan gitu amat dong ngeliatin gue" kata Maira pada Putri dan Nindi


"Dimana alamatnya?" tanya Putri


"Enggak jauh kok" jawab Maira


"Iyaa.... tapi dimana Maira. Lo aneh banget deh, jangan sampek kita ngintilin lo sampek malam ya" ancam Nindi


Maira menghela nafasnya sejenak dan tersenyum pasrah. Susah sekali memang mengelabui kedua sahabatnya ini


"Di komplek perumahan Indah Sari" jawab Maira dengan ragu


"Gak jauh dari kampus. Gue tahu tuh, disana juga ada temen nyokap gue. Rumah nomor berapa?" tanya Nindi lagi. Maira langsung memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam dalam. Sementara Putri sejak tadi masih memperhatikan ekspresi Maira.


"Nanti gue kasih tahu. Gue lupa" jawab Maira


"Yaelah Mai, gue kan bisa langsung jemput lo kayak biasa. Searah juga kita" ucap Nindi


"I....itu...sepupu gue, dia...dia galak banget. Dia gak ngebolehin gue keluar lagi sekarang" kata Maira dengan senyum canggung nya


"Emang kenapa?" tanya Nindi begitu heran. Apa karena Maira yang cukup nakal selama ini?


"Gak tahu, tapi kayaknya kita gak bisa keluar malam lagi sekarang. Gue cuma bisa ngumpul bareng kalian kalau hari libur aja"jawab Maira


"Enggak kok, enggak" jawab Maira dengan melambaikan tangan nya


"Wajar sih Put. Maira kan nakal banget selama ini. Sering bolos kuliah, pulang malem, makanya mendiang ayahnya nitipin dia sama orang" ungkap Nindi membuat Maira langsung mengangguk dengan cepat


"Iya, itu bener. hehe..." sahut Maira


Namun sepertinya Putri tidak bisa percaya begitu saja. Dia yang lebih mengenal Maira selama ini. Dan suatu saat nanti dia pasti akan tahu apa yang telah disembunyikan oleh Maira. Saat ini dia hanya akan melihat dulu sampai mana Maira akan menyembunyikan hal itu dari mereka.


"Yaudah lah, sekarang kita nikmati aja hari ini. Udah lama kan kita gak jalan bareng" ujar Nindi. Maira dan Putri langsung mengangguk setuju


"Ervan gak lo ajak Mai?" tanya Nindi seraya memasukkan barang barang nya kedalam tas


"Gak bisa dihubungi dari tadi malem" jawab Maira


"Lagi sibuk kali" sahut Putri dan Maira langsung mengangguk setuju


"Mungkin deh" jawab Maira yang kini kembali memeriksa ponselnya


"Oh iya, ngemall yuk, shopping kita. Gue pengen beli yang baru baru nih" ajak Nindi lagi


"Yauda" jawab Putri namun Maira malah masih sibuk dengan ponselnya


"Mai!" panggil Nindi


"Iya, gue masih penasaran kemana si Ervan, gak biasanya dia ngilang" ucap Maira sembari menyimpan kembali ponselnya kedalam tas


"Mungkin dia lagi sibuk. Lo baru gak dapet kabar nya sehari aja udah panik. Gimana dia yang gak tahu kabar lo hampir sebulan coba?" sahut Putri. Maira langsung berdecak kesal mendengar nya

__ADS_1


"Kalian kan tahu, dihubungan gue sama Ervan tuh ada ulet bulu yang jadi benalu. Gimana gak panik" kata Maira dengan wajah kesal nya


"Emang sebulan kemarin lu gak panik?" tanya Putri dengan senyum sinis nya


Maira langsung terdiam mendengar nya. Dia jadi teringat dengan sebulan yang terasa begitu berat kemarin. Tapi dia sama sekali tidak mengingat tentang Ervan, dia hanya sedang terpuruk dengan kepergian ayahnya dan juga pernikahan nya dengan dokter Danar.


"Pasti gak inget itu" goda Nindi


Maira tertunduk dan menghela nafasnya dengan berat


"Gue cuma fokus sama ayah dan adik gue kemarin" jawab Maira dengan wajah yang berubah sendu


"Yaudah lah, kita juga gak lihat Ervan macem macem selama lo gak ada. Ya walaupun tuh ulet bulu terus aja kegatelan deketin Ervan" ungkap Putri


"He'em gak usah khawatir. Ervan cintanya cuma sama elo kok" sahut Nindi pula


Maira tersenyum dan mengangguk pelan. Dia tahu Ervan memang mencintainya, dan masalah nya dia yang sudah macam macam saat jauh dari Ervan. Bahkan bukan lagi mengkhianati, melainkan malah menikah dengan orang lain.


"Udah yuk ah pergi" ajak Nindi yang langsung beranjak dari duduk nya dan diikuti oleh Maira dan Putri.


Siang itu mereka memutuskan untuk pergi ke mall dan jalan jalan mengahabiskan waktu mereka disana. Sudah sangat lama mereka tidak berkumpul, sejak Maira tidak masuk kuliah.


Motor Maira ditinggalkan dicafe itu. Dia ikut bersama mobil yang dibawa Nindi


"Aaahhh akhirnya setelah sekian lama akhirnya bisa ngmall juga" seru Nindi yang sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Maira menoleh kearah Nindi dan tersenyum, dia juga sangat senang karena bisa keluar hari ini. Setelah sebulan dia merasa terkurung dalam kandang


"Emang selama gue gak ada kalian gak pernah ngemall?" tanya Maira


"Gak asik kalau cuma berdua Mai, tahu sendirilah si Putri gak bisa diajak bercanda" kata Nindi dengan bibir yang mengerucut kesal. Maira langsung tertawa dan menoleh pada Putri yang duduk dikursi belakang


"Lo ngomongin nya lakik terus, bosen gue" sahut Putri dengan jengah


"Yaelah Put, apalagi coba yang mau dibahas. Ngabahas pelajaran terus bisa keriting otak gue" ucap Nindi, membuat Maira semakin tertawa lucu melihat mereka


Sembari menghabiskan waktu diperjalanan, Nindi menghidupkan musik kesukaan mereka. Mereka menyanyi bebas tanpa beban, menghabiskan rasa jenuh mereka selama seminggu ini dipenuhi oleh angka dan huruf. Mereka bertiga bukan anak anak yang rajin dan pintar. Kuliah hanya sekedar tanggung jawab dan kewajiban karena tuntutan kehidupan. Sehingga saat saat liburan seperti ini benar benar mereka butuhkan.


Apalagi Maira, kehidupannya yang tidak mudah membuatnya harus bisa menikmati hidup agar otaknya bisa selalu waras.


Mobil berhenti didepan sebuah resto taman yang terletak dipinggir jalan, ada sedikit kemacetan didepan mereka.


"Haduuh.... kenapa gak udah udah sih perbaikan jalan ini" gerutu Nindi sembari mengecilkan suara musik nya


"Tahu nih, buat macet sepanjang jalan aja" sahut Putri pula


Sedangkan Maira hanya diam dan kembali melihat ponselnya, berharap ada kabar dari Ervan. Namun tiba tiba suara Nindi langsung membuat nya terkejut


"Waaah ada dokter ganteng tuh" kata Nindi yang matanya fokus keluar jendela mobil


Putri dan Maira langsung menoleh kearahnya


"Siapa?" tanya Maira


"Mata lo liat aja yang ganteng. Jauh disana juga" seru Putri yang tahu siapa yang dimaksud oleh Nindi. Seorang dokter tampan yang mereka kenali sedang duduk disalah satu kursi resto bersama dengan seorang wanita berhijab.


"Liat dong, gak bisa lupa gue sama wajah ganteng mempesona nya itu" gumam Nindi dengan wajah berbinar. Penikmat lelaki tampan itu benar benar menatap kagum kearah resto itu


"Siapa sih?" tanya Maira sekali lagi karena dia terus diacuhkan sejak tadi


"Itu lo Mai, dokter yang pernah ngerawat mendiang ayah lo dulu. Si dokter ganteng. Sama siapa ya? Pacarnya kah?" Nindi menunjuk kearah resto dengan tubuh yang sedikit bergeser.

__ADS_1


Maira langsung menoleh kearah yang ditunjuk oleh Nindi, dan matanya langsung memicing melihat orang yang sangat dia kenali berada disana dengan seorang wanita.


"Dokter Danar......


__ADS_2