Takdir Cinta Maira

Takdir Cinta Maira
Ujian Memperbaiki Diri


__ADS_3

Pagi ini Maira sudah berada didalam mobil bersama dokter Danar. Dia sudah akan masuk kuliah hari ini. Sudah berapa hari Maira tidak masuk, dan dia sudah tidak tahu bagaimana suasana kampus itu tanpa kehadiran nya. Apalagi sekarang Erika sudah kuliah seperti biasa. Semoga saja dia tidak membuat keributan lagi. Maira sudah berubah jadi gadis yang anggun sekarang.


"Kamu beneran udah gak pusing lagi kan sayang?" tanya dokter Danar. Untuk yang kesekian kalinya.


Maira menghela nafas jengah mendengar itu.


"Enggak mas. Maira udah gak pusing lagi kok. Lagian dikampus juga gak akan Nemu nasi. Jadi Maira gak akan mual." jawab Maira.


"Mas cuma khawatir kalau kamu tiba tiba mual dan pusing." ucap dokter Danar.


Maira tersenyum dan mengusap bahu dokter Danar sekilas.


Suami nya ini sudah terlalu posesif sekarang. Jika sebelum hamil dokter Danar begitu memanjakan nya, maka sekarang dia lebih lagi memanjakan Maira, bahkan terkesan begitu posesif. Tapi Maira tidak bosan, dia malah senang.


"Enggak akan. Kan Maira udah bawa ini" kata Maira seraya mengangkat botol jus kiwi nya.


Dokter Danar langsung tertawa melihat itu. Sekarang sepertinya Maira memang tidak bisa lepas dari jus kiwi itu. Dan beruntung nya dokter Kemala bilang jika jus itu tidak akan membuat magh Maira kambuh. Karena itu memang keinginan tubuhnya, bisa dibilang bawaan bayi. Jadi Maira aman mengkonsumsi nya sebanyak yang dia mau. Asalkan didampingi dengan asupan nutrisi dan vitamin yang lain.


"Nanti jangan capek capek dikampus" ujar dokter Danar.


"Iya" jawab Maira.


"Jangan lupa makan bekal nya" kata dokter Danar lagi. Yang tadi pagi sudah menyiapkan bekal salad buah untuk Maira, karena Maira yang tidak bisa memakan nasi.


"Siap sayang" jawab Maira lagi.


"Jangan pergi kemana mana. Kalau mau ngumpul, ajak saja Putri dan Nindi kerumah" ujar dokter Danar lagi


"Iya maaaass" jawab Maira dengan helaan nafas yang panjang.


"Jangan nakal juga"


"He'em"


"Jangan berantem lagi"


"Iya"


"Jangan terlalu banyak gerak"


"Ya ampun maaass... Iya Maira tahu. Ya Allah... banyak banget peraturan nya" gerutu Maira yang lama lama menjadi jengah mendengar itu.


Namun dokter Danar malah tertawa dan mengusap kepala Maira dengan lembut.


"Mas itu khawatir biarin kamu dalam keadaan masih lemas begini sayang" kata dokter Danar lagi.

__ADS_1


"Enggak, kan ada Putri sama Nindi. Mereka itu dari dulu udah jadi bodyguard Maira. Mas tenang aja" jawab Maira.


"Bener ya" kata dokter Danar lagi seraya membelokkan mobilnya memasuki area kampus.


"Iya" jawab Maira.


"Mas mau nganter Maira sampai masuk kelas?" tanya Maira pada dokter Danar. Saat dokter Danar malah memasukkan mobil nya hingga tepat didepan gedung fakultas Maira.


Dokter Danar tersenyum seraya membukakan sabuk pengaman Maira.


"Enggak muat mobilnya, tapi kalau mau mas antar juga gak apa apa" jawab dokter Danar.


Maira mendengus, dan memandang kedepan gedung dimana disana sudah ramai mahasiswi yang sudah datang.


Putri dan Nindi bahkan terlihat berlari mendekati mobil mereka.


"Maira gak suka mas dilihatin sama anak anak." ucap Maira.


"Cemburu" tanya Dokter Danar.


"Iyalah, nama nya juga punya maira" sahut Maira dengan cepat.


"Iya, mas gak turun. Disini aja. Kamu hati hati ya" ujar dokter Danar.


Maira tersenyum seraya mencium punggung tangan suami nya. Dan setelah itu dokter Danar langsung mencium dahi Maira dengan lembut.


"Iya, nanti siang mas jemput lagi" jawab dokter Danar.


"Oke, Maira turun dulu" kata Maira


Dokter Danar tersenyum dan mengangguk, seraya memperhatikan Maira yang langsung berjalan kearah teman teman nya.


Dan setelah itu dia langsung memutar mobilnya dan meninggalkan kampus Maira.


"Masha Allah.... cantik sekali sahabat aku" puji Maira saat melihat Nindi yang ternyata telah berhijab saat ini. Sudah beberapa hari sejak dia mengantarkan Nindi membeli pakaian panjang di mall waktu itu, dan baru sekarang mereka bertemu lagi.


"Huh... berasa ada dikehidupan baru gue Mai. Meski gak bisa syar'i tapi setidak nya udah menutup aurat ya kan" kata Nindi. Mereka bertiga kini berjalan menuju kelas.


"Gak apa apa. Namanya juga baru belajar. Kata lakik gue, yang penting niat kita, dan kayak gini aja udah bagus banget. Setidak nya kita udah nutup aurat kita. Jaga iman supaya stabil itu susah, dan memang harus bertahap" ucap Maira.


"Bener, gue aja masih ngumpulan niat buat ngikutin kalian berhijab. Sudah banget, mood down dikit langsung oleng" sahut Putri pula.


Putri dan Nindi langsung terbahak mendengar itu.


"Bener banget Put, gue untung nya ada mas Danar, kalau gak, gak tahu deh gue bisa sampai ke tahap ini atau enggak" jawab Maira.

__ADS_1


"Kalau gue gak tahu deh, mudah mudahan makin lama makin baik ya. Gue lagi ngejer hidayah ini" ucap Nindi.


"Asal jangan karena berharap kak Brian naksir lo aja ya" ujar Putri.


Nindi langsung berdecak dan menggeleng.


"Enggak kok. Malah udah gak pernah lagi gue gangguin dia" jawab Nindi. Wajah nya terlihat sedih, membuat Maira dan Putri memandang nya dengan aneh.


"Kenapa?" tanya Putri dan Maira bersamaan. Karena mereka yang paling tahu jika Nindi benar benar menggilai senior tampan nan dingin itu.


"Sejak gue berhijab, kayak nya kak Brian menghindar dari gue. Bahkan senyum juga udah gak mau lagi." jawab Nindi.


"Loh kok gitu? Biasanya dia mau aja tuh ngobrol sama Lo" tanya Maira tak percaya. Pasal nya sebulan ini hubungan Nindi dan Brian terlihat semakin dekat.


Nindi menggeleng sedih.


"Gak tahu, udah hampir seminggu ini. Tepat sehari pertama gue pakai hijab. Dia langsung berubah dan gak mau negur gue" jawab Nindi.


"Lo ada buat salah kali sama dia" ucap Putri.


"Gak ada, baik baik aja kayak biasa kok. Terakhir kali sewaktu gue nelpon dia, dia cuma bilang kalau dia gak mau diganggu lagi, setalah itu, dia langsung kayak gak mau kenal gue lagi" jawab Nindi.


Maira dan Putri saling pandang dengan bingung.


Mereka kini terdiam dan langsung masuk kedalam kelas.


Duduk bertiga berkumpul dimeja Nindi. Saat ini sepertinya sahabat mereka ini sedang patah hati.


"Nin... " panggil Maira.


Nindi yang tertunduk, langsung menoleh pada Maira yang duduk didepan nya.


"Gue emang gak lebih baik dari Lo. Tapi setelah lama hidup sama mas Danar, gue bisa belajar sedikit ilmu dari dia." ucapan Maira terhenti sejenak seraya dia yang menghela nafas perlahan.


"Kalau jodoh, udah ada yang ngatur. Secinta apapun Lo kalau dia bukan jodoh Lo, kalian gak akan bisa bersatu" kata Maira.


Nindi dan Putri langsung mengangguk setuju.


"Lagian ini masih permulaan. Lo bahkan baru belajar untuk memperbaiki diri kan. Kata dokter Danar, semakin kita berusaha untuk dekat sama Allah, semakin banyak ujian yang kita hadapi. Allah pengen tahu sejauh apa niat kita untuk memperbaiki diri. Dan kita harus bisa melewati itu. Anggap aja sekarang kak Brian yang menjauh memang untuk buat Lo lebih baik lagi. Buat Lo untuk lebih ingat sama Allah dari pada sama dia" ungkap Maira dengan begitu lembut dan memandang Nindi dengan lekat.


Nindi menghela nafasnya sejenak dan mengangguk pelan. Dia tersenyum memandang Maira.


"Lo bener Mai. Kayak nya dosa gue udah banyak banget, sehingga Allah jauhkan hal hal yang gak baik yang akan buat gue terlena lagi" jawab Nindi.


Mata Putri langsung berkaca kaca melihat kedua sahabatnya ini.

__ADS_1


"Sialan emang. Kalian buat gue pengen nangis" ucap Putri seraya mengusap mata nya yang berair.


__ADS_2