
Siang ini Maira dan kedua sahabatnya sudah berada dikantin kampus. Mereka sedang menikmati makan siang, setelah dari pagi berkutat dengan ribuan angka dan huruf yang membuat kepala pusing dan perut mual. Maira makan dengan begitu lahap, bakso super pedas yang selalu menjadi makanan favoritenya. Bahkan dia makan hingga bibirnya terlihat begitu merah dan membengkak.
"Lo kalau makan bakso suka berlebihan deh Mai, lihat bibir lo udah kayak pantat ayam begitu" Nindi langsung mengarahkan sendok garpunya kebibir Maira
"Berisik deh Nin, makan pedes gini adalah suatu kepuasan tersendiri buat gue" sahut Maira. Dia mengusap bibirnya dengan tisu yang sudah habis berapa puluh helai.
"Lo itu cewe nya Ervan, sipangeran kampus. Bisa bisanya gak ada manis manisnya dikit jadi cewe. Makan yang anggun gitu, ini kayak gak ada makan dua hari kalau udah ngadepin bakso. Mana isinya cabe semua lagi" Nindi langsung bergidik ngerih menatap mangkok bakso Maira yang penuh dengan biji cabe. Maira memang hantunya pedas, padahal dia mempunyai penyakit magh yang sudah cukup serius.
"Apa hubungan nya coba, cewe pangeran kampus sama makan bakso" dengus Maira. Dia masih begitu asik menikmati kuah bakso nya. Matanya sudah berkaca kaca namun dia masih menikmati rasa panas yang membakar lidahnya. Seolah itu adalah pelampiasan hatinya yang sedang kacau.
"Lo dari dulu kalau dibilangin gak pernah ngerti. Saingan lo Erika lo Mai. Lo gak liat gimana dia, anggun, lembut, gayanya juga elegan banget. Nah elo, urakan, ngasal aja jadi orang, gak ada manis manisnya. Lihat, makan aja begitu." tuding Nindi sembari menunjuk kaki Maira.
Maira terdiam, dia langsung menoleh kebawah dan melihat posisi duduk nya. Kaki nya yang terangkat sebelah, dan juga kuah bakso yang sudah sedikit tumpah disekitar meja nya.
Maira langsung tertawa canggung dan segera menurunkan kakinya kebawah. Putri yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan mereka terlihat mendengus gerah. Dia masih asik menikmati nasi goreng kesukaan nya. Jika sedang makan, dia paling tidak suka diganggu, ataupun berbicara hal hal yang aneh. Menikmati makanan adalah hal yang paling penting dalam kamusnya.
"Lagian Ervan juga gak pernah protes" gumam Maira, dia memandang Nindi yang menyambi memakan mie goreng kecapnya
"Dia gak pernah protes karena takut lo ngambek. Untuk sekarang iya dia gak protes. Tapi kalau Erika godain dia terus terusan gimana coba. Bisa oleng Ervan" jawab Nindi
"Gak mungkin lah. Dari dulu gue emang begini kok" sahut Maira. Kenapa memangnya, dia memang begini adanya. Dan sejak dulu Ervan tidak pernah mempermasalahkan tentang sikap Maira. Semua yang Maira lakukan Ervan tidak pernah ambil perduli. Maira tidak bisa seperti gadis lain yang bisa selalu menjaga image didepan pacarnya. Bersikap anggun dan sok manis. Itu bukan gayanya!
"Terserah elo aja deh Mai, dikasih tahu juga" gerutu Nindi yang lama lama menjadi kesal. Maira memang keras kepala
"Udah deh, berisik aja kalian. Noh, yang kalian ributin udah dateng" kata Putri yang baru saja selesai menghabiskan makan siang nya. Dia menunjuk kearah pintu kantin dimana Erika datang bersama teman teman nya.
Maira langsung mendengus dan memalingkan wajah nya dengan jengah. Bahkan dia langsung melahap pentol bakso terakhir nya dengan penuh nafsu.
"Hadeuh,,,, udah kayak setan aja, pantang diceritain dikit" gumam Nindi yang terlihat jengah
"Palingan mau cari masalah lagi" timpal Putri
Dan benar saja, Erika bersama teman temannya langsung berjalan mendekat kearah meja Maira dengan wajah yang terlihat angkuh dan sombong seperti biasa. Namun Maira hanya cuek saja seperti tidak pernah melihat penampakan makhluk itu. Sudah biasa baginya jika Erika yang selalu mencari gara gara sejak dulu.
Namun tiba tiba Maira terkesiap kaget saat Erika dengan sengaja menyenggol gelas minumannya hingga tumpah dan membasahi kakinya.
"Ups gak sengaja" ucap Erika dengan senyum sinis nya. Teman teman Erika langsung tertawa mengejek melihat wajah Maira yang mengeras dan marah
"Bisa gak sih jangan cari masalah" seru Putri begitu kesal
"Siapa juga yang cari masalah, kesenggol dikit doang" jawab Erika begitu angkuh.
Putri langsung berdiri dan memandang Erika dengan tajam. Gadis ini selalu saja mencari masalah. Entah ada dendam apa dia pada Maira, tapi sejak dulu, Erika memang sudah selalu merasa berkuasa, apalagi dengan dia yang tidak bisa mendapatkan Ervan.
"Apa" tantang Erika
"Lo....." perkataan Putri langsung terhenti saat Maira menarik lengan nya
"Udah Put, jangan diladeni ulet bulu kayak gini. Kita pergi aja" ajak Maira. Dia mulai melangkahkan kakinya diikuti oleh Putri dan Nindi yang juga terlihat kesal.
Namun sebelum pergi tangan Maira langsung meraih gelas capuccino milik Nindi dan langsung menyiramkan nya kewajah Erika dengan puas. Erika begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Maira.
"Maira!!!!" teriak Erika begitu marah dan terkejut. Bahkan bukan hanya dia yang terkejut, melainkan Putri dan Nindi, juga semua orang yang ada didalam kantin itu. Mereka benar benar tidak menyangka jika Maira ternyata sudah berani melawan Erika. Padahal selama ini, jika Erika mengusiknya, Maira hanya diam dan tidak membalas apapun. Tapi hari ini, Maira benar benar berani
"Biar otak lo waras. Kayak anak anak banget.Udah cukup ya, gue sabar ngadepi lo selama ini.Jangan kira lo anak pemilik kampus ini lo bisa seenaknya nginjek nginjek gue" ujar Maira dengan pandangan tajamnya. Apa Erika tidak tahu jika akhir akhir ini Maira selalu ingin memakan orang karena emosinya yang selalu memuncak.
Nindi memandang Maira dengan wajah yang terperangah dan mulutnya yang sedikit terbuka. Dia benar benar speeclhes melihat Maira yang sungguh hebat hari ini.
"Kurang ajar lo!!!" bentak Erika yang dengan cepat mendorong tubuh Maira dengan kuat hingga membuat Maira terhempas kebelakang dan menabrak meja
"Maira" teriak Nindi yang langsung menolong Maira. Maira terlihat meringis karena pinggang nya yang terhantam sudut meja
Putri menggeram, dia langsung membalas mendorong dada Erika, namun dengan sigap pula teman teman Erika menghalangi nya. Kantin yang semula aman dan damai kini berubah memanas karena dua musuh bebuyutan itu
__ADS_1
"Berani lo ngelawan gue" seru Erika mendekati Maira dan Putri. Tangan nya terangkat dan ingin memukul Maira, namun dengan sigap Maira menangkapnya dan mendorong Erika dengan kuat sehingga dia terhempas kebelakang dan langsung ditangkap oleh teman teman nya kembali.
"Dasar ulet bulu! Merasa paling hebat padahal cuma ngandelin nama bokap doang. Gak tahu malu memang lo" seru Maira benar benar kesal. Bahkan nafasnya terdengar bergemuruh sekarang. Emosi Maira benar benar sudah berada dipuncak nya
"Cari masalah dikantin, kayak gak punya harga diri" sahut Putri pula. Dia menghempas kasar tangan teman teman Erika yang memegangi nya sejak tadi
"Percuma cantik kalau cuma pengen ngerusak hubungan orang" timpal Nindi tidak kalah tajam
Dan tentu saja perkataan Maira dan kedua sahabatnya membuat Erika benar benar meradang. Kini mereka terbagi menjadi dua kubu berhadapan. Maira bersama kedua sahabatnya, dan Erika bersama ketiga temannya.
Pandangan mata mereka saling menatap dengan tajam dan penuh benci. Tidak lagi perduli ada dimana mereka sekarang. Yang ada hanya lah emosi masing masing yang sudah mulai tidak terkendali.
Banyak pasang mata yang melihat pertikaian mereka. Namun tidak ada satupun yang berani mendekat atau melerai, mereka tahu siapa Erika dan bagaimana pengaruhnya dikampus itu. Tersinggung sedikit maka nasib mereka tidak akan lagi menjadi baik.
Namun kini, Maira tidak lagi perduli siapa Erika. Dia sudah pasrah jika harus keluar dari kampus. Hidupnya sudah cukup berantakan dan rumit, dan kuliah bukan lagi tujuan nya. Tapi...Maira langsung melirik kedua sahabatnya dengan ragu. Bagaimana dengan mereka???
"Kita hadapin sama sama" ujar Putri begitu yakin, dia tahu arti tatapan Maira
"Satu keluar, semua keluar" sahut Nindi pula
Maira langsung mengangguk dengan begitu haru. Kedua sahabatnya ini memang paling mengerti. Maira berjanji, setelah ini dia bertekad untuk tidak menutupi apapun lagi dari mereka
Maira kembali menoleh pada Erika yang kini maju selangkah kedepan. Tatapan nya menghunus tajam pada Maira yang juga membalas nya tak kalah tajam. Maira juga maju selangkah menghadap ke Erika sementara Putri dan Nindi juga sudah tampak begitu waspada
Suasana kantin kampus yang tadinya begitu ramai dan penuh. Kini berubah senyap. Jantung semua orang yang ada disana tampak bergemuruh dan begitu tegang. Mereka benar benar takut terjadi sesuatu dengan kekasih pangeran kampus ini. Erika bukan lawan mereka sebenarnya. Tapi mereka juga tahu bagaimana kelakuan Erika yang selalu mencari masalah dan mendekati Ervan yang jelas jelas adalah milik Maira.
"Gue tahu gue cuma orang miskin yang beruntung bisa sekolah disini. Tapi asal lo tahu, gue juga masih punya harga diri yang gak bisa selamanya lo injek injek" ungkap Maira begitu geram
Erika langsung berdesih sinis mendengarnya
"Berapa harga diri lo biar gue beli" tanya Erika begitu meremeh membuat Putri langsung menghadapnya dengan kesal, namun Maira kembali mencegahnya
"Jangan kotori tangan lo sama manusia yang sok berkuasa ini Put. Merasa harga dirinya paling tinggi, padahal cuma cewe gak tahu malu yang doyan nya ganggu milik orang lain, gue rasa itu lebih gak punya harga diri" ucap Maira begitu sinis
"Berani mulut lo ya" geram Erika yang semakin mendekat kearah Maira. Wajahnya yang basah dan lengket karena air capuccino tadi mmebuat penampilan nya semakin mengerihkan, ditambah dengan wajah marah nya.
"Kenapa harus takut" tantang Maira pula
grep
Erika langsung meraih kerah baju Maira, begitu pula dengan Maira. Mata mereka melotot tajam satu sama lain. Seolah saling mengobarkan api permusuhan yang hari ini harus mereka tuntaskan.
Jantung semua orang yang memandang semakin bergemuruh tidak beraturan, namun meskipun begitu masih saja tidak ada yang berani melerai
"Lo berani sama gue ya. Jangan harap besok lo masih bisa kuliah disini" ancam Erika
Namun Maira hanya mendengus sinis mendengar itu
"Cih,,, gak kuliah gue juga masih bisa hidup" sahut Maira dengan remeh. Dia tidak lagi memperdulikan tentang pendidikan nya
"Oke, gue buat hidup lo menderita setelah ini" ancam Erika lagi
"Lo kira gue takut!!!!" seru Maira sembari mendorong tubuh Erika dengan kuat hingga mereka terhempas kelantai bersamaan. Teriakan lantang semua orang yang menyaksikan itu langsung menggema didalam kantin itu
Putri dan Nindi langsung menarik teman teman Erika yang ingin memisahkan Maira dari atas tubuh Erika. Mereka akan membiarkan Maira untuk melampiaskan kekesalan nya selama ini pada Erika si gadis angkuh ini. Sudah kepalang tanggung, maka selagi bisa melawan, maka akan mereka lawan. Tidak lagi perduli bagaimana nasib mereka besok.
Maira dan Erika berkelahi dengan saling jambak dan saling cakar. Kantin siang itu benar benar riuh karena pertengkaran Maira dan Erika. Sepertinya mereka lupa sedang berada dimana sekarang.
Maira menarik kuat rambut Erika yang mencakar wajahnya. Dan Erika langsung meringis kesakitan karena rambutnya benar benar hampir terlepas dibuat Maira
"Jangan karena lo anak pemilik kampus ini lo kira gue takut ya" geram Maira
"Aaaahhh brengsek lo!!!" teriak Erika. Dia juga langsung menarik rambut Maira dengan kuat membuat Maira semakin naik pitam. Mereka berguling guling dilantai kantin itu dengan masih saling menjambak dan mencakar.
__ADS_1
Begitu pula dengan Putri dan Nindi yang juga berkelahi dan beradu mulut dengan ketiga teman Erika. Tidak ada yang berani melerai, hingga seseorang datang dan berteriak dengan kencang
"Heiiii berhentiiiii!!!!!!!!!" teriak Evan begitu kuat. Dia baru tiba dikantin itu, dia diberi tahu oleh salah seorang temannya jika Maira dan Erika tengah bekelahi saat ini. Nafas Ervan masih tersengal karena dia berlari dari gedung kampus nya menuju kantin sangking panik nya dia.
Ervan langsung menarik Maira dari atas tubuh Erika , gadis itu terlihat seperti orang kesetanan sekarang.
"Maira stop!!" teriak Ervan yang masih berusaha menarik tubuh Maira. Namun terlalu sulit bahkan teriakan nya juga tidak diindahkan oleh Maira. Maira masih terus membalas serangan dari Erika meski dia sudah mengungkung tubuhnya, namun tenaga Erika memang cukup kuat
"Maira" panggil Ervan lagi. Namun dia hampir terjungkal saat Maira mendorong nya dengan kuat
Ervan benar benar frustasi sekarang
"Hei... kalian berhenti. Bukan nya misahin malah berantem juga. Berhenti kata gue!!!!" bentak Ervan pada Putri dan Nindi
Putri dan Nindi memandang Ervan dengan kesal, nafas mereka begitu tersengal dengan wajah yang acak acakan
"Ini gara gara elo yang lembek. Lihat! Begini jadinya kan" seru Putri pada Ervan.
Ervan mendengus dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia kembali memandang Maira yang kini sudah berada dibawah kungkungan Erika
"Erika stop!!!! Kalian gak malu apa ha" bentak Ivan seraya menarik tubuh Erika. Namun sama seperti Maira, Erika juga tidak mendengar nya dia langsung mendorong Ervan dan dibantu oleh Maira
"Jangan ikut campur!!!!!" teriak mereka berdua membuat Ervan terkesiap kaget mendengarnya
"Astaga....kalian memang gila!!!" seru Ervan begitu frustasi. Sepertinya menghadapi dua perempuan yang sedang bertengkar tidak mudah. Ervan menggeram, dia kembali menarik Erika dari atas tubuh Maira, namun yang ada dia yang terkena cakaran kuku Maira.
"Berhenti Maira, Erika" seru Ervan lagi. Namun rasanya percuma
Ervan menggeleng resah. Dia memandang semua orang yang kini sedang menonton mereka. Dan betapa malunya Ervan saat ini karena yang menjadi penyebab pertengkaran adalah dirinya.
"Coba bantuin gue dong, jangan malah nambahin" teriak Ervan lagi. Namun Nindi dan Putri masih saling maki dengan teman Erika membuat Ervan benar benar frustasi sekarang.
"Memalukan" gumam seorang mahasiswa yang tiba tiba datang dan mendekat kearah mereka. Seorang pemuda tampan dengan wajah dingin nya
"Brian" sebut Ervan dan Nindi bersamaan
Mahasiswa baru yang berada satu tingkat diatas Ervan itu hendak makan siang dikantin, namun karena ada keributan diapun ingin kembali keluar. Tapi ketika melihat Ervan yang kelihatan kesulitan untuk memisahkan kedua gadis itu, dia langsung datang untuk membantu melerainya.
"Kalian seperti orang yang tidak berpendidikan saja" dengus nya kesal. Dia langsung menarik Erika dengan kuat dan tidak perduli gadis itu yang meringis kesakitan akibat sentakan nya. Sedangkan Ervan langsung menarik Maira untuk berdiri dan menjauh dari Erika
Wajah dan penampilan kedua gadis itu benar benar berantakan. Nafas mereka terengah engah dengan tatapan yang saling pandang dengan tajam
"Kalau mau berantem jangan dikantin. Dilapangan sana, Mengganggu jam makan siang saja" dengus Brian yang langsung pergi meninggalkan tempat itu. Malas sekali melihat hal hal seperti ini.
Erika dan Maira hanya melirik nya sekilas dan kembali saling melemparkan tatapan kematian yang begitu tajam
"Aaaahhhh kak Brian memang cool" gumam Nindi dengan wajah yang begitu terpesona melihat idola nya itu. Bahkan untuk sejenak dia melupakan suasana disana. Hingga perkataan Erika dan Maira membuat kesenangan nya memudar lagi
"Lo memang cari mati" geram Erika memandang benci pada Maira
"Kalau gue mati, lo juga harus mati" balas Maira
"Udah dong, kalian gak malu apa dilihatin orang orang. Kayak anak kecil tahu gak" kata Ervan begitu kesal. Dia memandang Maira dan Erika bergantian
"Kamu nyalahin aku Van?" tanya Maira begitu kesal
"Aku gak nyalahin siapa siapa. Tapi tingkah kalian itu memalukan. Ini dikampus, kalian gak mikir apa akibatnya kalau kalian begini?" tanya Ervan pula
"Orang kampung mana tahu tempat" sinis Erika seraya mengusap kepala nya yang kotor
"Lo duluan yang cari masalah sama gue" geram Maira
Tiba tiba lautan manusia yang ada dikantin itu seketika menjadi terdiam dan begitu hening. Mereka tertunduk sembari memberikan jalan untuk beberapa orang yang datang kesana
__ADS_1
Mata Maira dan Erika langsung terbelalak lebar saat mengetahui siapa yang datang menuju kemereka
"Kalian berdua keruangan kepala rektor sekarang" seru mr Petro, menatap tajam Maira dan Erika bergantian